*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Anuruddha (Sanskerta: अनुरुद्धcode: sa is deprecated ; Pali: Anuruddhacode: pi is deprecated ), juga dieja sebagai Aniruddha, adalah salah satu dari sepuluh murid utama dan sepupu dari Buddha Gotama.
Kehidupan awal
Anuruddha adalah putra Amitodana dan saudara laki-laki dari Mahānāma serta putri Rohiṇī. Oleh karena Amitodana adalah saudara laki-laki dari Suddhodana, raja suku Sakya di Kapilavatthu, Anuruddha merupakan sepupu dari Siddhattha Gotama, sang calon Buddha. Ia adalah seorang dari kasta kesatria (khattiya) sejak lahir, yang membuatnya dibesarkan dalam kemewahan. Sang Buddha kembali ke kampung halamannya dua tahun setelah pencerahan-Nya, mengajarkan ajaran-Nya ke kerajaan Sakya. Bersama dengan tiga sepupunya, yaitu Bhaddiya, Ānanda, dan Devadatta, serta pelayan mereka Upāli, Anuruddha ditahbiskan oleh Sang Buddha di Hutan Mangga Anupiya.[1]
Kehidupan religius
Anuruddha memperoleh "mata dewa" (dibba-cakkhu) dan ditempatkan sebagai yang paling unggul di antara mereka yang memiliki kemampuan tersebut. Sāriputta menugaskan delapan pemikiran orang besar kepada Anuruddha untuk digunakan sebagai objek meditasi. Ia melakukan perjalanan ke Pacinavamsadaya di negara Ceti untuk berlatih. Ia mampu menguasai tujuh di antaranya, tetapi tidak dapat mempelajari yang kedelapan, yang kemudian diajarkan oleh Sang Buddha kepadanya. Anuruddha mengembangkan pandangan terang (vipassanā) dan kemudian mencapai tingkat arahatta.
Penggambaran
Anuruddha digambarkan di dalam Tripitaka Pali sebagai seorang bhikkhu yang penuh kasih sayang dan setia, serta selalu berdiri di dekat Sang Buddha dalam pertemuan majelis. Pada satu waktu, ketika Sang Buddha merasa kecewa dengan perdebatan para biku di Kosambi, Beliau menyendiri ke Pacinavamsadaya untuk tinggal bersama Anuruddha. Dalam banyak teks, bahkan ketika banyak biku terkemuka hadir, Anuruddha sering kali menjadi penerima pertanyaan-pertanyaan dari Sang Buddha, dan menjawab atas nama Saṅgha.
Setelah kemangkatan Buddha
Anuruddha hadir ketika Sang Buddha mangkat di Kusinārā. Ia adalah orang yang paling depan dalam menghibur para biku dan menasihati mereka tentang tindakan yang harus dilakukan di masa depan, mengingatkan mereka akan ketetapan Sang Buddha untuk mengikuti Dhamma. Ketika Sang Buddha sedang berbaring dan melalui tingkat-tingkat jhāna, Ānanda berkata kepada Anuruddha: "Yang Mulia telah mencapai Nibbāna akhir, Bhante." Anuruddha, yang memiliki kemampuan mata dewa, menyatakan bahwa Sang Buddha sedang terserap dalam kondisi "pelenyapan" (nirodha-samāpatti), tetapi belum mangkat. Anuruddha juga dimintai nasihat oleh suku Malla dari Kusinārā mengenai upacara pemakaman terakhir Sang Buddha.
Kemudian, pada Konsili Buddhis Pertama, ia memainkan peran penting dan dipercaya sebagai penjaga bagian Aṅguttara Nikāya. Anuruddha meninggal dunia di Veluvagama di wilayah Liga Vajjika di bawah naungan semak bambu. Ia berusia seratus lima puluh tahun pada saat kematiannya.
Penggambaran di dalam Jātaka
Anuruddha sering digambarkan di dalam Jātaka, yang menceritakan kelahiran-kelahiran lampau dari tokoh-tokoh Buddhis. Pada zaman Buddha Padumuttara, ia adalah seorang perumah tangga yang kaya raya. Mendengar salah satu biku dinyatakan sebagai yang terbaik di antara para pemilik mata dewa, ia mendambakan kehormatan yang sama. Ia lantas melakukan tindakan-tindakan kebajikan, termasuk mengadakan perayaan cahaya yang besar di depan stupa Sang Buddha. Pada era Buddha Kassapa, ia terlahir kembali di Varanasi; suatu hari ia menempatkan mangkuk-mangkuk berisi minyak samin di sekeliling stupa Sang Buddha dan menyalakannya, lalu mengelilingi stupa tersebut sepanjang malam seraya membawa sebuah mangkuk yang menyala di atas kepalanya.
Ia kemudian terlahir kembali di sebuah keluarga miskin di Varanasi dan diberi nama Annabhāra. Suatu hari, saat bekerja untuk majikannya, seorang hartawan bernama Sumana, ia memberikan makanannya kepada seorang paccekabuddha bernama Upariṭṭha. Sang hartawan, setelah mendengar perbuatan saleh Annabhāra, memberinya hadiah dengan membantunya mendirikan sebuah usaha. Sang raja yang terkesan memberinya sebidang tanah untuk dibangun rumah, dan ketika tanah di bawahnya digali, ditemukan banyak harta karun yang terpendam.