Pada mulanya mereka merupakan dewi-dewi dari tujuh bintang di rasiPleiades yang sangat masyhur dipuja pada abad ke-7 Masehi, dan menjadi ciri khas kuil-kuil dewi Hindu sejak abad ke-9 Masehi.[6] Di India Selatan, pemujaan Saptamatrika lazim, sementara Astamatrika dipuja di Nepal.[7]
Matrika memiliki makna yang sangat penting dalam sekte Tantra yang berorientasi pada dewi dalam agama Hindu.[8] Dalam ajaran Sakta, mereka digambarkan membantu Durga dalam pertarungannya melawan para raksasa dan raksasi, serta membunuh mereka semua.[9] Cendekiawan lain mengatakan bahwa mereka adalah para dewi umat Saiwa.[10] Mereka juga dikaitkan dengan pemujaan dewa perang Kartikeya.[11] Dalam sebagian besar naskah-naskah kuno, Matrika dikaitkan dengan kehamilan, kelahiran, penyakit, dan perlindungan anak.[12] Mereka dianggap mengatur kemalangan[13]—sebagaimana sering menghadapi marabahaya—yang dipuja untuk menghindari musibah yang telah membunuh banyak anak yang belum beranjak dewasa.[12] Mereka kemudian memegang peran sebagai pengayom seiring perkembangan agama Hindu, meskipun beberapa karakteristik awal mereka yang identik dengan kemalangan dan kebengisan terus berlanjut dalam legenda.[13] Dengan demikian, mereka melambangkan sifat-sifat alam yang menyediakan kesuburan melimpah, demikian pula aspek sebaliknya yang bersifat destruktif dan fatal.[4]
Jain, Madhu; Handa, O. C. (1995). The Abode of Mahashiva: Cults and Symbology in Jaunsar-Bawar in the Mid– Himalayas. Indus Publishing. ISBN81-7387-030-6.