Pada Januari 2025, kereta api Matarmaja relasi Malang–Pasar Senen menjadi kereta api antarkota dengan volume penumpang tertinggi mencapai 32.844 penumpang, melebihi 100% dari kapasitas maksimal. Sementara itu, untuk relasi sebaliknya, Pasar Senen–Malang, Matarmaja menempati peringkat keempat sebagai kereta api antarkota dengan volume penumpang tertinggi, mencapai 27.001 penumpang.[1]
Asal-usul nama
Nama Matarmaja merupakan singkatan dari nama kota yang dilalui kereta api ini, yakni Malang, Blitar, Madiun, dan Jakarta.
Sejarah
Kereta api Tatarmaja (1976–1983)
Sejarah pengoperasian Kereta api Matarmaja dimulai dari peluncuran kereta api Maja pada tahun 1976 yang melayani lintas Madiun–Jakarta melalui Yogyakarta.[2] Untuk memenuhi permintaan pelanggan, PJKA meluncurkan kereta api Tatar, sebuah kereta api pengumpan dari Stasiun Madiun menuju Stasiun Blitar dengan rangkaian kereta yang terdiri dari 1 kereta BW dan 3 CW—pada kemudian hari dilakukan penambahan satu kereta BW. Sesampai di Madiun, rangkaian kereta api Tatar disambung dengan rangkaian kereta api Maja untuk melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Rangkaian Kereta api Tatarmaja saat itu terdiri dari layanan kelas ekonomi dan bisnis hingga dilakukan penghapusan layanan kelas bisnis pada tahun 2002.[2]
Rute kereta api Tatar-Maja diperpanjang hingga Stasiun Malang pada 28 September 1983 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA, sekarang PT Kereta Api Indonesia) ke-38 tahun, yang mengakibatkan adanya penyesuaian nama kereta api menjadi Matarmaja.[2] Pada awalnya, kereta api tersebut dilakukan penggantian lokomotif penarik di Stasiun Madiun dari lokomotif CC201 menjadi BB301 sebelum melanjutkan perjalanan menuju Malang karena jalur lintas Kertosono–Malang memiliki tekanan gandar lintas yang kecil. Selain penggantian lokomotif, sebagian rangkaian keretanya juga dipisah.[2]
Pada tahun 1990-an, rutenya sempat diubah sehingga kereta api Matarmaja beroperasi melewati jalur utara (via Semarang) walaupun sempat dikembalikan seperti semula hingga peluncuran kereta api Gajayana pada tahun 1999.[2][3]
Walaupun rangkaian kereta api Matarmaja berpindah kedudukan, operasionalnya tetap dikelola oleh Daerah Operasi VIII Surabaya, tetapi menggunakan rangkaian yang tidak berkedudukan di depo kereta yang berada di daerah operasi tersebut.
Sejak pencabutan subsidi kewajiban pelayanan publik pada 1 Januari 2019 hingga berlakunya Gapeka 2025, kereta api Matarmaja belum mendapatkan peremajaan dan masih menggunakan rangkaian kereta ekonomi AC split dengan 106 tempat duduk.[4]
Kereta Api Matarmaja menggunakan rangkaian kereta ekonomi generasi terbaru modifikasi Balai Yasa Manggarai
Mulai 28 September 2025, bertepatan dengan hari ulang tahun ke 80 Tahun PT Kereta Api Indonesia, kereta api ini menggunakan rangkaian kereta kelas ekonomi generasi terbaru berjenis modifikasi Balai Yasa, dengan kapasitas 72 tempat duduk. Rangkaian kereta tersebut awalnya merupakan kereta ekonomi Kementrian Perhubungan dengan kapasitas 80 tempat duduk yang kemudian dimodifikasi oleh Balai Yasa Manggarai. Dengan demikian, kereta api Matarmaja kini sudah tidak lagi saling bertukar rangkaian dengan kereta api Bengawan, sehingga rangkaian kereta lamanya dialihkan untuk pengoperasian kereta api Bengawan untuk kedua rangkaian bekas satu rangkaian bekas Kereta Api Matarmaja/Bengawan akan dimutasi ke Depo lain.
Rangkaian kereta api Matarmaja terdiri dari delapan unit kereta ekonomi new generation modifikasi (K3), satu unit kereta makan (M1), dan satu unit kereta pembangkit (P).
Dalam budaya populer
Kereta api Matarmaja pernah digunakan sebagai latar tempat salah satu adegan pada film 5 cm yang diadaptasi dari novelberjudul sama karya Donny Dhirgantoro. Dalam cerita tersebut diceritakan bahwa para tokoh melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Malang untuk mendaki Gunung Semeru.[5][6]
Stasiun pemberhentian
Peta rute geografis Kereta api Matarmaja berdasarkan Gapeka 2025
Mulai 1 Februari 2026, kereta api Matarmaja melayani pemberhentian penumpang di stasiun-stasiun berikut.[7]
Pada 12 Juli 2015 - Kereta api Matarmaja dari arah Pasar Senen menuju Malang mengalami anjlok di Klemunan, Wlingi, Blitar. Anjlokan ini disebabkan rel yang retak setelah perbaikan yang tidak sempurna. Penumpang berhasil dievakuasi dengan bus menuju Malang.[10]
Pada 22 Oktober 2016 - Kereta api Matarmaja menabrak sebuah angkutan kota di Sukorejo, Blitar pada pagi hari sekitar pukul 05.30 WIB. Kejadian itu menyebabkan empat orang yang berada di angkot tewas termasuk sopir angkot. Diduga penyebab kecelakaan tersebut karena sopir angkot tidak memperhatikan kondisi sekitar.[11]
Pada 4 Desember 2024 - Kereta api Matarmaja dari arah Malang menuju Pasar Senen menabrak sebuah Ambulans di Nyawangan, Kras, Kediri pada pukul 13.00 WIB. Peristiwa itu bermula saat ambulans tidak waspada ketika melintasi perlintasan tanpa palang pintu. Dalam kejadian itu sopir ambulans, Mohamad Ali Mustopa yang berusia 29 tahun meninggal usai mengalai luka serius di tangan kanan dan kepala.[12]
Hanya berisi layanan kereta api yang dioperasikan oleh induk perusahaan. Untuk layanan yang dioperasikan oleh anak perusahaan, lihat Templat:KAI Commuter untuk layanan KAI Commuter, Templat:KAI Bandara untuk layanan KAI Bandara dan Templat:KCIC untuk layanan KCIC/Whoosh