Perumpamaan kain
Sutta ini membahas konsep kemurnian batin melalui perumpamaan kain kotor dan kain bersih. Dalam perumpamaan tersebut dijelaskan bahwa kain yang kotor, apabila dicelupkan ke dalam pewarna, akan menghasilkan warna yang tidak baik dan tidak murni. Sebaliknya, kain yang bersih akan menghasilkan warna yang jernih dan sempurna. Analogi ini digunakan untuk menggambarkan kondisi batin manusia akan menentukan kualitas hidup.
Sutta ini menguraikan berbagai bentuk "kotoran batin" yang diibaratkan seperti kain kotor, yaitu:
- Ketamakan dan keserakahan (abhijjhāvisamalobha)
- Kebencian atau niat jahat (byāpāda)
- Kemarahan atau kegusaran (kodha)
- Dendam (upanāha)
- Sikap meremehkan orang lain (makkha)
- Persaingan yang tidak patut (paḷāsa)
- Iri hati (issā)
- Kekikiran (macchariya)
- Kemunafikan (māyā)
- Tipu muslihat atau kelicikan (sāṭheyya)
- Sifat keras kepala (thambha)
- Keangkuhan atau konfrontatif (sārambha)
- Kesombongan (māna)
- Merasa diri jauh lebih tinggi (atimāna)
- Keterlenaan atau kemabukan pada diri (mada)
- Kelengahan atau ketidawaspadaan (pamāda)
Ketika seseorang mulai meninggalkan kotoran-kotoran batin tersebut, dan dilengkapi dengan keyakinan yang kokoh terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha yang disertai pemahaman dan pengalaman langsung, akan lahir rasa gembira, lalu ketenangan, kemudian suka cita, dan akhirnya batin menjadi terkonsentrasi dengan baik. Seorang biku yang menjalankan sila, memiliki konsentrasi dan kebijaksanaan seperti itu tidak akan terhalang oleh kenikmatan indrawi seperti makanan lezat yang didermakan (diibaratkan seperti kain yang bersih),[8] dan kemudian mengembangkan sikap batin yang luhur kepada semua makhluk: cinta kasih, belas kasih, turut berbahagia, dan keseimbangan batin yang tanpa batas dan tanpa kebencian. Dari pemahaman ini, akhirnya batinnya terbebas dari tiga akar utama penderitaan: nafsu indria, keinginan untuk terus ada (penjelmaan), dan ketidaktahuan. Ketika kebebasan itu tercapai, ia mengetahui dengan pasti bahwa siklus kelahiran kembali telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani dengan tuntas, dan tidak ada lagi kelahiran baru.
Pandangan mengenai mandi air suci
Seorang pendeta Brahmana bernama Sundarika Bharadvaja bertanya apakah Sang Buddha juga pergi mandi ke sungai suci Bāhukā, seperti kebiasaan banyak orang pada masa itu untuk membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan jahat mereka. Sang Buddha kemudian menjawab bahwa mandi di sungai-sungai yang dianggap suci seperti Bāhukā, Adhikakkā, Gayā, Sundarikā, Payāga atau Saraswati,[a] bahkan jika dilakukan terus-menerus, tidak akan benar-benar membersihkan kejahatan batin seseorang. Sebaliknya, Sang Buddha menekankan bahwa "pembersihan" yang sejati bukan karena mandi di tempat suci, tetapi karena tidak berbohong, tidak menyakiti makhluk hidup dan tidak mengambil yang tidak diberikan. Jika seseorang hidup dengan cara seperti itu, maka setiap sumur atau air di mana pun akan menjadi suci baginya.
Setelah mendengar penjelasan itu, Sundarika Bhāradvāja sangat terkesan dan menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha, lalu memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi biku. Tidak lama setelah ditahbiskan, ia berlatih dengan sungguh-sungguh dalam kesendirian dan menjadi seorang Arahat.