Wamana (Dewanagari: वामन;,IAST:Vāmana, वामन ) adalah salah satu awatara (penjelmaan) Dewa Wisnu dalam agama Hindu, yang berwujud pendeta kerdil, lahir pada masa Tretayuga sebagai putra Dewi Aditi dan ResiKasyapa.[1] Wamana dilukiskan sebagai brahmana dengan raga anak kecil yang membawa kamandalu dan payung. Wamana kadang-kadang dikenal juga dengan sebutan Upendra (Dewanagari: उपेन्द्र;,IAST:Upendra,उपेन्द्र) yang berarti "adik Indra".[2][3] Dia memiliki julukan Triwikrama (Dewanagari: त्रिविक्रम;,IAST:Trivikrama,;arti: "tiga langkah") karena langkah kakinya dapat memijak bumi, patala (dunia bawah), dan swarga (kahyangan) sekaligus.[4]
Menurut keyakinan Hindu, Wisnu turun ke dunia pada zaman Tretayuga untuk menegakkan kebenaran dan memberi pelajaran kepada Raja Bali (Mahabali), seorang asura, cucu dari Prahlada. Dalam sastra Hindu dikisahkan bahwa Raja Bali (Mahabali) telah merebut swarga dari kekuasaan Dewa Indra sehingga itu Wisnu selaku dewa pemelihara semesta turun tangan dan menjelma ke dunia, memberi hukuman pada Raja Bali.[5]
Kisah
Kisah Wamana dimuat dalam kitab Bhagawatapurana, Brahmapurana, Padmapurana, Wamanapurana, dan berbagai kitab Mahapurana lainnya. Menurut cerita dalam kitab, Wamana sebagai brahmana cilik datang ke istana Raja Bali karena pada saat itu Raja Bali mengundang seluruh brahmana untuk diberikan hadiah. Ia sudah dinasihati oleh Sukracarya (Guru Sukra) agar tidak memberikan hadiah apapun kepada brahmana yang aneh dan lain daripada biasanya.
Pada waktu pemberian hadiah secara bergilir, seorang brahmana kecil turut mengantre bersama para brahmana yang sudah tua. Saat tiba kesempatannya untuk meminta hadiah kepada Bali, brahmana kecil itu meminta tanah seluas tiga jengkal yang diukur dengan langkah kakinya. Raja Bali pun takabur dan melupakan nasihat Sukracarya, dan menyuruh brahmana kecil itu melangkah.
Pada waktu itu juga, brahmana tersebut membesar dan terus membesar. Dengan ukurannya yang sangat besar, ia mampu melangkah di surga dan bumi sekaligus.[6] Pada langkah yang pertama, ia menginjak swarga. Pada langkah yang kedua, ia menginjak bumi. Pada langkah yang ketiga, karena tidak ada lahan untuknya berpijak, maka Bali menyerahkan kepalanya.[7][8] Sejak itu, tamatlah kekuasaan Bali.
Karena terkesan dengan kedermawanan Bali, Wamana memberinya gelar "Mahabali". Ia juga berjanji bahwa kelak Bali akan menjabat sebagai Indra (pemimpin para dewa) pada Manwantara berikutnya.[9][10][11]
Tradisi dan pemujaan
Kisah Wamana Awatara dan Raja Bali diperingati setiap tahun pada perayaan Onam di Kerala (India).[12] Di sana juga terdapat kuil yang khusus memuja dia (Wamana). Selain di sana, beberapa kuil Wamana tersebar di India, salah satunya di Kanchipuram, dekat kuil Kamakshi.
Galeri
Lukisan India menggambarkan Wamana (digambarkan berkulit biru) meminta sedekah kepada Raja Bali.
Ilustrasi Mahabali dan Wamana dalam buku The Ten Principal Avataras of the Hindus oleh Sourindo Mohun Tagore (1880).
Ilustrasi Raja Bali memberi sedekah kepada Wamana. Gambar produksi Calcutta Art Studio, Kolkata (1880-an).
Lukisan Wamana menginjak kepala Mahabali, karya Raja Ravi Varma.
Ilustrasi Wamana sebagai "Triwikrama" digambarkan memiliki tiga kaki, satu berada di bumi, kaki yang terangkat berada di surga, dan yang ketiga di kepala Mahabali.
↑Gopal, Madan (1990). K.S. Gautam (ed.). India through the ages. Publication Division, Ministry of Information and Broadcasting, Government of India. hlm.74.
*Urutan awatara Wisnu kedelapan dan kesembilan tergantung tradisi. Beberapa aliran Hindu memasukkan Buddha, sedangkan yang lain memasukkan Baladewa dan menghilangkan Kresna.