Buddhābhiseka (Pali; Sanskerta: buddhābhiṣeka), juga dikenal sebagai Abhiseka Buddharūpa,[1][2][3] mengacu pada berbagai ritual Buddhis yang digunakan untuk mengukuhkan atau menyakralkanrupang Buddha dan perwujudan figur Buddhis lainnya, seperti Bodhisatwa,[4] yang akan digunakan sebagai sarana pemujaan.[5]
Istilah
Buddhābhiseka dikenal dengan sejumlah istilah berbeda dalam berbagai bahasa.[4] Istilah kaiyan (開眼; 'membuka mata'), kaiguang (開光; 'membuka cahaya'), dan dianyan (點眼; 'menghiasi mata') dan bentuk turunannya digunakan dalam bahasa Tionghoa, Korea (dikenal sebagai jeom-an atau 점안), Jepang (dikenal sebagai kaigen), dan Vietnam (dikenal sebagai khai quang điểm nhãn),[4] sementara buddhābhiseka (Burma: ဗုဒ္ဓါဘိသေက; Khmer: ពុទ្ធាភិសេក; Thai: พุทธาภิเษก) digunakan di negara-negara yang mayoritas beragama Buddhisme Theravāda.
*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Umat Buddha Burma melakukan ritual pengukuhan untuk rupang Buddha yang digunakan untuk pemujaan baik di rumah maupun di tempat ibadah umum, seperti wihara dan pagoda. Sebelum rupang Buddha digunakan untuk pemujaan, rupang tersebut harus disucikan secara resmi dalam ritual buddhābhisekamaṅgala. Istilah kata kerja bahasa Burma untuk pengukuhan rupang Buddha adalah anegaza tin (အနေကဇာတင်ခြင်းcode: my is deprecated ).[5] Ritual pengukuhan ini dipimpin oleh seorang biku, yang membaca parittaaneka jāti saṃsāraṃ (diterjemahkan sebagai 'melalui beraneka kelahiran dalam samsara, aku berkelana'), ayat ke-153 dari kitab Dhammapada (ditemukan dalam bab ke-11),[6][7] yang diyakini sebagai kata-kata pertama yang diucapkan oleh Sang Buddha setelah mencapai Kebuddhaan.[8] Ritual pengukuhan, yang berlangsung selama beberapa jam, umumnya diadakan di pagi hari dan terdiri dari empat bagian utama:[9]
Persembahan (lilin, bunga, dupa, bendera) yang dipersembahkan kepada Sang Buddha
Ritual pengukuhan ini diyakini dapat menyakralkan rupang Buddha sehingga dapat melindungi rumah dan lingkungan sekitar dari kemalangan, dan secara simbolis mewujudkan kekuatan Sang Buddha.[10]
Mahāyāna
Ritual Tionghoa
Kaiguang (Hanzi sederhana:开光; Hanzi tradisional:開光; Pinyin:kāiguāng) adalah istilah Tionghoa untuk pengukuhan patung sosok yang dihormati. Dalam bahasa Tionghoa, arti harfiah dari Kaiguang adalah "pembukaan cahaya". Meskipun sering dipraktikkan dalam konteks kepercayaan Buddhis dan Tao Tionghoa, istilah ini juga digunakan untuk mengacu pada upacara pengukuhan kostum barongsai baru yang digunakan untuk tarian barongsai tradisional.
Ritual Kaiguang bervariasi di antara tradisi keagamaan Tionghoa, tetapi pada hakikatnya merupakan tindakan pengukuhan formal agar dapat digunakan dengan benar dengan cara menaburkan kuas kaligrafi pada mata patung suatu sosok yang dihormati, yang secara tradisional dilapisi dengan bubuk sinabar. Ritual ini dilakukan oleh daoshi (dalam Taoisme), biksu (dalam Buddhisme Tionghoa), atau dengan mengundang dewa tertentu melalui medium makhluk yang ditunjuk (dalam kepercayaan tradisional Tionghoa). Untuk kostum barongsai, seorang pejabat sekuler senior juga dapat diundang untuk melakukan tugas tersebut. Tujuan umumnya adalah untuk mengundang dewa untuk menyakralkan patung diri mereka yang "kosong" dan mengisinya dengan kekuatan ilahi. Penggunaan cermin (untuk memantulkan sinar matahari) dan handuk kering (untuk secara simbolis menyucikan patung dari segala kotoran) juga digunakan.
Dipercayai bahwa jika patung atau kostum barongsai belum disucikan, maka patung tersebut tidak dapat dipuja atau digunakan untuk pertunjukan, karena matanya masih "tertutup".
123Buswell, Robert E. Jr.; Lopez, Donald S. Jr. (2013-11-24). The Princeton Dictionary of Buddhism (dalam bahasa Inggris). Princeton University Press. ISBN9781400848058.
↑Schober, Juliane (2002). Sacred biography in the Buddhist traditions of South and Southeast Asia. Motilal Banarsidass. hlm.275–276. ISBN978-81-208-1812-5.