Banai (Marathi: बाणाई Bāṇāi),[a] juga dikenal sebagai Banu (बानू Bānu) dan Banu-bai (बानूबाई Bānubāī), adalah dewi Hindu dan istri kedua Dewa Khandoba. Khandoba adalah wujud dewa Siwa yang disembah di Dekkan—terutama di negara bagian Maharashtra dan Karnataka, India—dan digambarkan sebagai raja Jejuri, tempat kuil utamanya berdiri. Beberapa tradisi tidak memberikan Banai status sebagai istri sah dan memperlakukannya sebagai selir Khandoba.[3] Banai disamakan sebagaimana Dewi Gangga menjadi permaisuri Siwa.[4]
Meskipun sastra Hindu yang berkaitan dengan Khandoba tidak menyebutkan Banai, tapi dia merupakan subjek utama dalam lagu-lagu rakyat. Banai dianggap memiliki latar belakang sebagai seorang Dhangar (kasta penggembaladomba),[5] dan terkadang dianggap berasal dari swarga. Tradisi lisan terutama membahas kisah pernikahannya dengan Khandoba dan konfliknya dengan istri pertama Khandoba, Mhalsa. Banai adalah antitesis dari Mhalsa; bersama-sama mereka melengkapi dewa tersebut. Banai umumnya digambarkan bersama Khandoba dan sering kali juga ditemani oleh Mhalsa.[6]
Banai tidak dipuja sebagai dewi tersendiri, tetapi dipuja sebagai pendamping Khandoba di sebagian besar kuilnya. Dia adalah dewi pelindung komunitas Dhangar dan dipuja sebagai pelindung kawanan ternak mereka.[5]
↑Sontheimer, Günther-Dietz (2004). "Forest and Pastoral Goddesses: Independence and Assimilation". Dalam Subhadra Channa (ed.). Encyclopaedia of Women Studies: Women and religion. Cosmo Publications. ISBN978-81-7755-834-0.
↑Sontheimer, Günther-Dietz (1989). "Between Ghost and God: Folk Deity of the Deccan". Dalam Alf Hiltebeitel (ed.). Criminal Gods and Demon Devotees: Essays on the Guardians of Popular Hinduism. SUNY Press. ISBN0-88706-981-9.
↑Sontheimer, Günther-Dietz (1996). "All the God's wives". Dalam Anne Feldhaus (ed.). Images of Women in Maharashtrian Literature and Religion. SUNY Press. ISBN0-7914-2837-0.