ENSIKLOPEDIA
Aṭṭhakavagga
| Aṭṭhakavagga–Pārāyanavagga | |
|---|---|
| Jenis | Teks kanonis |
| Induk | Suttanipāta |
| Atribusi | Bhāṇaka |
| Komentar | Niddesa |
| Bagian dari seri |
| Tipiṭaka |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
Aṭṭhakavagga (Pali; "Bab Oktet") dan Pārāyanavagga (Pali; "Bab Jalan Menuju Pantai Seberang") adalah dua koleksi kecil sutta di kitab Suttanipāta dalam Tripitaka Pali sebagaimana dilestarikan Buddhisme Theravāda.[note 1] Keduanya termasuk di antara literatur buddhis tertua yang masih ada, dan memberikan penekanan yang sangat besar pada pelepasan, atau ketidakmelekatan terhadap, segala jenis pandangan.
Kanonisitas
Posisi dalam Suttapiṭaka
Aṭṭhakavagga dan Pārāyanavagga adalah dua koleksi kecil sutta. Keduanya dimasukkan ke dalam Khuddakanikāya sebagai bagian dari kitab Suttanipāta, yaitu kumpulan sabda yang diucapkan oleh Sang Buddha. Kumpulan sutta menggambarkan Aṭṭhakavagga sebagai beberapa khotbah pertama Buddha Gotama; kitab Udāna menggambarkan permintaan Sang Buddha kepada seorang biku untuk melafalkan Dhamma, dan Sang Buddha merespons dengan penuh persetujuan ketika biku tersebut melafalkan syair-syair Aṭṭhakavagga.
Penanggalan
Beberapa cendekiawan menganggap komposisi Aṭṭhakavagga dan Pārāyanavagga jauh lebih awal daripada sebagian besar kanon lainnya, dan mengungkapkan bentuk Buddhisme yang lebih kuno.[1] Keduanya dianggap lebih awal karena elemen-elemen bahasa dan komposisinya, pencantumannya dalam komentar-komentar (kitab tafsir) yang sangat awal, dan juga karena beberapa pihak melihatnya sebagai ekspresi dari versi keyakinan buddhis tertentu yang berbeda—dan mungkin ada sebelum—versi-versi yang dikodifikasikan di kemudian hari.[2] Dalam pemikiran ini, Pārāyanavagga agak lebih dekat dengan tradisi yang muncul belakangan dibandingkan dengan Aṭṭhakavagga.[3] Khaggavisāṇa Sutta ("Khotbah Cula Badak"), yang juga terdapat di dalam Suttanipāta, tampaknya juga mengungkapkan mode Sangha awal yang menekankan pada para kaum monastik yang mengembara secara individual, lebih sesuai dengan tradisi pertapaan sannyāsin di India.
Paralel
Pada tahun 1994, sekelompok teks yang termasuk di antara manuskrip India tertua yang pernah ditemukan didapati di Gandhara. Teks-teks ini mencakup versi yang relatif lengkap dari Sutta Cula Badak serta materi tekstual dari Aṭṭhakavagga dan Pārāyanavagga.
Susunan
Aṭṭhakavagga
| No. sutta | Judul bahasa Pali | Judul bahasa Inggris |
|---|---|---|
| Snp 4.1 | Kāma Sutta | "Sensual Pleasures" |
| Snp 4.2 | Guhaṭṭhaka Sutta | "The Octad on the Cave" |
| Snp 4.3 | Duṭṭhaṭṭhaka Sutta | "The Octad on the Hostile" |
| Snp 4.4 | Suddhaṭṭhaka Sutta | "The Octad on the Pure" |
| Snp 4.5 | Paramaṭṭhaka Sutta | "The Octad on the Supreme" |
| Snp 4.6 | Jarā Sutta | "Old Age" |
| Snp 4.7 | Tissametteyya Sutta | "Discourse to Tissametteya" |
| Snp 4.8 | Pasūra Sutta | "Discourse to Pasura" |
| Snp 4.9 | Māgandiya Sutta | "Discourse to Magandiya" |
| Snp 4.10 | Purābheda Sutta | "Before the Breakup" |
| Snp 4.11 | Kalahavivāda Sutta | "Quarrels and Disputes" |
| Snp 4.12 | Cūlaviyūha Sutta | "The Smaller Discourse on Deployment" |
| Snp 4.13 | Mahāviyūha Sutta | "The Greater Discourse on Deployment" |
| Snp 4.14 | Tuvaṭaka Sutta | "Quickly" |
| Snp 4.15 | Attadaṇḍa Sutta | "One Who Has Taken Up the Rod" |
| Snp 4.16 | Sāriputta Sutta | "Discourse to Sariputta" |
Pārāyanavagga
| No. sutta | Judul bahasa Pali | Judul bahasa Inggris |
|---|---|---|
| Snp 5.1 | Vatthugāthā | "Introductory Verses" |
| Snp 5.2 | Ajitamāṇavapucchā | "The Questions of Ajita" |
| Snp 5.3 | Tissametteyyamāṇavapucchā | "The Questions of Tissa Metteyya" |
| Snp 5.4 | Puṇṇakamāṇavapucchā | "The Questions of Puṇṇaka" |
| Snp 5.5 | Mettagūmāṇavapucchā | "The Questions of Mettagū" |
| Snp 5.6 | Dhotakamāṇavapucchā | "The Questions of Dhotaka" |
| Snp 5.7 | Upasīvamāṇavapucchā | "The Questions of Upasīva" |
| Snp 5.8 | Nandamāṇavapucchā | "The Questions of Nanda" |
| Snp 5.9 | Hemakamāṇavapucchā | "The Questions of Hemaka" |
| Snp 5.10 | Todeyyamāṇavapucchā | "The Questions of Todeyya" |
| Snp 5.11 | Kappamāṇavapucchā | "The Questions of Kappa" |
| Snp 5.12 | Jatukaṇṇīmāṇavapucchā | "The Questions of Jatukaṇṇī" |
| Snp 5.13 | Bhadrāvudhamāṇavapucchā | "The Questions of Bhadrāvudha" |
| Snp 5.14 | Udayamāṇavapucchā | "The Questions of Udaya" |
| Snp 5.15 | Posālamāṇavapucchā | "The Questions of Posāla" |
| Snp 5.16 | Mogharājamāṇavapucchā | "The Questions of Magharāja" |
| Snp 5.17 | Piṅgiyamāṇavapucchā | "The Questions of Piṅgiya" |
| Snp 5.18 | Pārāyanatthutigāthā | "Homage to the Way to the Far Shore" |
| Snp 5.19 | Pārāyanānugītigāthā | "Preserving the Way to the Far Shore" |
Penafsiran
Secara umum, Aṭṭhakavagga dan Pārāyanavagga cenderung lebih kuat menekankan sisi penyangkalan (yakni penahanan diri) dari kepertapaan,[note 2] dan menunjukkan perhatian yang kuat untuk melepaskan pandangan-pandangan, serta mengatur aktivitas tubuh sehari-hari dan hasrat seksual.[4] Tidak seperti Pārāyanavagga yang secara eksplisit mengusung metafora menuju "pantai seberang" (Pali: pārāyana), Aṭṭhakavagga tidak memberikan rumusan "tujuan yang pasti" seperti Nirwana, melainkan mendeskripsikan "sosok yang ideal".[5] Sosok ideal ini terutama dicirikan oleh suddhi (kemurnian) dan santi (ketenangan).[5] Aṭṭhakavagga juga memberikan penekanan besar pada pelepasan, atau ketidakmelekatan terhadap, segala pandangan; dan enggan mengemukakan posisinya sendiri mengenai isu-isu metafisik mendasar.[1][5][6][7]
Penafsiran Theravāda
Tradisi Theravāda mengambil pandangan bahwa pernyataan-pernyataan di dalam teks tersebut, termasuk banyak hal yang jelas-jelas dimaksudkan untuk menjadi paradoks, memang sengaja dibuat untuk direnungkan dan dijelaskan. Sebuah kitab tafsir ekstensif yang diatribusikan kepada Sāriputta, berjudul Mahāniddesa, turut dijadikan sebagai bagian dari Tripitaka Pali. Kitab tafsir (komentar) tersebut berupaya menyelaraskan isi syair-syair terkait dengan ajaran-ajaran di dalam sutta-sutta lainnya.[web 1] Dalam beberapa kasus, kitab-kitab tafsir Theravāda menumpulkan atau meniadakan penolakan terhadap "segala pandangan" dengan menyatakan bahwa pandangan-pandangan yang ditolak tersebut adalah pandangan nonbuddhis (pandangan-salah; micchā-diṭṭhi), sembari menegaskan pentingnya pandangan-pandangan dari Jalan Utama Berunsur Delapan (pandangan-benar; sammā-diṭṭhi).[1]
Penafsiran kontemporer
Penafsiran sebagai heterodoks
Gomez membandingkan teks-teks ini dengan filosofi Madhyamaka yang berkembang kemudian. Filsafat ini, khususnya dalam bentuk tradisi Prasaṅgika, menjadikan penolakan terhadap pandangan pihak lain sebagai metode utamanya, alih-alih mengajukan pandangan sendiri.[1] Dengan demikian, menurut Gomez, sutta-sutta dalam bab ini mengarahkan untuk menolak semua jenis pandangan tanpa kecuali (sebagaimana dalam filosofi Madhyamaka).[note 3]
Meskipun secara garis besar setuju dengan pengamatan Gomez, Tillman Vetter mengajukan beberapa penyesuaian berdasarkan tinjauan historis dan doktrinal.[8] Pertama, ia mencatat bahwa kedua koleksi kecil sutta ini memiliki corak yang beragam sehingga tidak semuanya selaras dengan kesimpulan Gomez. Dengan mengajukan argumen mengenai adanya lapisan-lapisan waktu penulisan (stratifikasi kronologis), Vetter berpendapat bahwa sutta-sutta yang mendukung gagasan Gomez kemungkinan besar berasal dari kelompok petapa heterodoks[butuh klarifikasi] yang telah ada sebelum masa Buddha Gotama. Kelompok ini kemudian terintegrasi ke dalam Saṅgha pada masa-masa awal dengan membawa naskah-naskah mereka sendiri, lalu menyusun sutta-sutta tambahan guna memadukan ajaran mereka dengan ajaran Sang Buddha.[8][note 4]
Penafsiran sebagai ortodoks
Paul Fuller menolak argumen dari Gomez dan Vetter.[7] Ia mengemukakan bahwa
... Nikāya dan Aṭṭhakavagga menyajikan sikap kognitif yang sama[note 5] terhadap pandangan-pandangan, baik yang salah maupun yang benar.[9]
Fuller menyatakan bahwa di dalam Nikāya, "pandangan benar" mencakup sikap tidak bergantung pada pengetahuan (ñāṇa) maupun pandangan (diṭṭhi). Ia juga menyinggung perumpamaan Buddha yang menyebut Dhamma-Nya sebagai sebuah rakit yang pada akhirnya harus ditinggalkan. Ia melihat bahwa cara Aṭṭhakavagga menyikapi masalah pengetahuan (ñāṇa) dan kebijaksanaan (paññā) sejalan dengan kitab Paṭṭhāna, sebuah kitab dalam Abhidhammapiṭaka, di masa selanjutnya, yang seolah-olah memberikan kritik terhadap praktik berdana, penjagaan sila, kewajiban peribadatan, dan praktik jhāna. Menurut Fuller, pendekatan khusus dalam kedua teks tersebut bukanlah sebuah serangan terhadap praktik maupun kebijaksanaan, melainkan untuk menegaskan bahwa kemelekatan pada jalan spiritual itu sendiri bersifat destruktif.[9] Begitu pula halnya dengan cara teks ini membahas meditasi konsentrasi (samatha-bhāvanā). Tujuannya adalah untuk memperingatkan bahaya kemelekatan pada pandangan terang, sekaligus menyampaikan pesan bahwa pandangan terang mengenai hakikat segala sesuatu niscaya membutuhkan pikiran yang tenang.[9]
Alexander Wynne turut menolak dua klaim Vetter mengenai Pārāyanavagga. Pertama, Wynne menyanggah argumen Vetter yang menyatakan bahwa teks tersebut memiliki lapisan-lapisan waktu penulisan. Kedua, ia juga menolak anggapan bahwa Pārāyanavagga mengajarkan sikap yang berbeda mengenai praktik perhatian penuh serta pandangan terang dibandingkan teks-teks buddhis lainnya.[10][note 6]
Lihat pula
Catatan
- ↑ Dalam Kanon Pali, bab-bab ini masing-masing adalah bab keempat dan kelima dari Suttanipāta di dalam Khuddakanikāya.
- ↑ Kepertapaan sebagai proses penyangkalan (meniadakan) hasrat sensual.
- ↑ Penafsiran ini tidak sejalan dengan penafsiran tradisional Theravāda yang menyatakan bahwa pandangan-pandangan yang ditolak tersebut adalah pandangan nonbuddhis (pandangan-salah; micchā-diṭṭhi), sembari menegaskan pentingnya pandangan-pandangan dari Jalan Utama Berunsur Delapan (pandangan-benar; sammā-diṭṭhi).
- ↑ Dengan demikian, Vetter menganggap bahwa bagian teks yang berisi tentang "penolakan segala pandangan" bukanlah ajaran asli Buddha, melainkan ajaran kelompok petapa aliran lain (heterodoks) yang teksnya masuk dan tercampur ke dalam Kanon Pali pada masa-masa awal. Penafsiran ini juga tidak sejalan dengan penafsiran tradisional Theravāda.
- ↑ Maksud dari "sikap kognitif yang sama" bukanlah menyamakan nilai atau fungsi dari pandangan salah dan pandangan benar, melainkan menyamakan sikap mental tertinggi terhadap keduanya, yakni ketidakmelekatan. Dalam kerangka ortodoksi Theravāda, pandangan benar (sammā-diṭṭhi) mutlak diperlukan sebagai instrumen (ibarat rakit) untuk menyeberang menuju pencerahan. Namun, pada pencapaian akhirnya, rakit pandangan benar tersebut tidak boleh terus dilekati atau dijadikan alat identifikasi diri (diṭṭhupādāna).
- ↑ Wynne mendedikasikan sebuah bab khusus yang menjelaskan tentang Pārāyanavagga.
Referensi
- 1 2 3 4 Gomez 1976.
- ↑ Salomon 2000, hlm. 15-16.
- ↑ Burford 1996, hlm. 316.
- ↑ Fronsdal 2016, hlm. 10.
- 1 2 3 Burford 1994.
- ↑ Burford 1996.
- 1 2 Fuller 2005.
- 1 2 Vetter 1988.
- 1 2 3 Fuller 2005, hlm. 151.
- ↑ Wynne 2007, hlm. 75.
Daftar isi
Sumber cetak
- Burford, Grace G. (1994), "Theravada Soteriology and the Paradox of Desire", dalam Buswell, Robert E. JR; Gimello, Robert M. (ed.), Paths to Liberation. The Marga and its Transformations in Buddhist Thought, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers
- Burford, Grace G. (1996), "Culaniddesa", dalam Potter, Karl H. (ed.), Encyclopedia of Indian philosophies: Abhidharma Buddhism to 150 A. D., Motilal Banarsidass Publ.
- Fronsdal, Gil (2016), The Buddha before Buddhism: Wisdom from the Early Teachings, Shambhala Publications
- Fuller, Paul (2005), The Notion of Diṭṭhi in Theravāda Buddhism: The Point of View (PDF), Routledge, diarsipkan dari versi asli pada 2014-12-02
- Gomez, Luis O. (1976), "Proto-Mādhyamika in the Pāli canon", Philosophy East and West, 26 (2): 137–165, doi:10.2307/1398186, JSTOR 1398186, diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-03, diakses tanggal 2004-04-06
- Salomon, Richard (2000), A Gāndhārī Version of the Rhinoceros Sutra: British Library Kharoṣṭhi Fragment 5B, University of Washington Press, ISBN 0-295-98035-4
- Vetter, Tilmann (1988), The Ideas and Meditative Practices of Early Buddhism (PDF), BRILL, ISBN 90-04-08959-4
- Wynne, Alexander (2007), The Origin of Buddhist Meditation, Routledge
Sumber web
- ↑ Thanissaro Bhikkhu, The Atthaka Vagga (The Octet Chapter): An Introduction. .
Bacaan lanjutan
- Lindtner, Christian (1997), "The Problem of Precanonical Buddhism", Buddhist Studies Review, 14 (2): 2, doi:10.1558/bsrv.v14i2.14851
- Lindtner, Christian (1999), "From Brahmanism to Buddhism", Asian Philosophy, 9 (1): 5–37, doi:10.1080/09552369908575487
Pranala luar
Terjemahan
Aṭṭhakavagga
- Terjemahan bahasa Inggris oleh Paññobhāsa Bhikkhu (1999)
- Terjemahan bahasa Inggris oleh Paññobhāsa Bhikkhu (2012)
- Terjemahan bahasa Inggris oleh Thanissaro Bhikkhu (1997)
- Terjemahan bahasa Inggris oleh Bhikkhu Varado (2005)
- Terjemahan bahasa Inggris oleh V. Fausböll (1881)
Parāyaṇavagga
- Terjemahan bahasa Inggris oleh Thanissaro Bhikkhu (1997)
- Terjemahan bahasa Inggris oleh V. Fausböll (1881)
Khaggavisāṇasutta
Pengantar
- Pengantar untuk Atthakavagga oleh Thanissaro Bhikkhu
- Pengantar untuk Parayanavagga oleh Thanissaro Bhikkhu
- "Introduction to the Sutta Nipata" (1881) oleh V. Fausböll
- Proto-Madhyamaka dalam Kanon Pali
|
| ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| ||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
|
| ||||||||||||