Sejarah PO Eka dan Mira tidak dapat dilepaskan dari keberadaan perusahaan otobus Flores yang lebih dahulu berdiri. Akar perusahaan ini bermula dari sebuah toko tekstil bernama Flores yang berlokasi di Jalan Mojopahit No. 188, Mojokerto. Pemilik toko tersebut, Fendi Harianto, melihat peluang usaha di sektor transportasi darat seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat Jawa Timur pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Dari latar belakang perdagangan tekstil inilah lahir gagasan untuk merintis usaha angkutan bus antarkota.[1] Saudara dari Harianto, Ratna Candrawati, memiliki PO Jaya Utama Indo yang memiliki spesialisasi trayek Surabaya–Semarang.[2]
Pada tahun 1971, Harianto resmi mendirikan perusahaan otobus dengan nama Flores, yang diambil dari nama toko tekstil miliknya. Nama tersebut kemudian juga diasosiasikan dengan nama Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur, meskipun tidak memiliki keterkaitan langsung secara geografis. Pada tahap awal, PO Flores melayani trayek Surabaya–Solo pergi-pulang serta membuka layanan bus pariwisata. Kehadiran Flores menjadi salah satu pemain baru yang cukup diperhitungkan dalam dunia transportasi bus di Jawa Timur pada masa itu.[1]
Selain mengoperasikan PO Flores, Harianto juga mendirikan perusahaan otobus lain bernama Surya Agung. Operator ini fokus melayani trayek antarkota dalam provinsi (AKDP), khususnya rute Malang–Surabaya–Ponorogo dan Malang–Surabaya–Magetan. Surya Agung dan Flores tumbuh pada era yang sama dengan sejumlah perusahaan otobus legendaris Jawa Timur seperti Maju Mapan, Sumber Kencono, Surya Jaya, Rukun Makmur, dan Adi Jaya, yang kala itu sama-sama bersaing ketat dalam merebut pasar penumpang.[3][4]
Karakter penumpang bus di Jawa Timur yang cenderung mengutamakan kelajuan perjalanan turut membentuk strategi operasional PO Flores. Bus Flores dikenal memiliki laju perjalanan yang relatif cepat dibandingkan pesaingnya, sebuah ciri khas yang justru membuatnya diminati penumpang meskipun memiliki risiko keselamatan yang lebih tinggi. Strategi ini sempat membawa Flores ke puncak kejayaan dan menjadikannya salah satu nama besar di jalur Surabaya–Solo dan sekitarnya.[1]
Namun, masa keemasan tersebut tercoreng oleh sebuah tragedi besar. Pada 7 Mei 1981, sebuah bus Flores yang membawa rombongan siswa SMP Katolik Wijana Jombang untuk kegiatan karyawisata menuju Kebumen mengalami kecelakaan fatal di perlintasan kereta api dekat Stasiun Purwosari, Solo. Bus tersebut tertabrak kereta api Cepat Solo relasi Pasar Senen–Solo Balapan akibat kelalaian pengemudi yang tidak memperhatikan keselamatan di perlintasan sebidang. Kecelakaan tersebut menewaskan 31 orang dan menyebabkan 22 orang lainnya harus dirawat di RSU Mangkubumen Solo. Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan bus paling tragis pada masanya dan berdampak besar terhadap reputasi PO Flores. Pihak PJKA mengalami kerugian materi sekitar Rp5 juta (nilai pada masa itu), dan PO Flores dinyatakan bersalah atas insiden tersebut, yang kemudian memicu sanksi berat dari pemerintah.[5][6]
Sebagai konsekuensi dari kecelakaan itu, Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (DLLAJR) Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan larangan bagi PO Flores untuk melayani trayek menuju wilayah Jawa Tengah. Akibatnya, trayek Flores dipangkas secara signifikan dan hanya diperbolehkan melayani rute Surabaya–Mantingan. Pembatasan ini membuat Flores kehilangan pasar utama dan semakin terpuruk secara operasional.[3]
Upaya regenerasi dan peluncuran Eka dan Mira
Salah satu bus ATB Mira kelas ekonomi
Pascaperistiwa 1981 tersebut, PO Flores memasuki masa sulit. Salah satu masalah terbesar adalah menurunnya kepercayaan penumpang, terutama karena kekhawatiran akan praktik transit atau operan penumpang di tengah perjalanan. Kondisi ini mendorong banyak pelanggan beralih ke perusahaan bus lain. Menghadapi situasi tersebut, Fendi Harianto mengambil langkah strategis dengan meluncurkan dua jenama baru, yaitu Eka dan Mira, yang masing-masing diambil dari nama anak kandungnya.[3][7]
Pada tahap awal, bus Eka dan Mira melayani rute yang sama dengan Flores, tetapi dengan pembagian jadwal yang jelas. Bus Eka diberangkatkan dari Surabaya pada pagi hingga sore hari, sedangkan bus Mira beroperasi dari sore hingga pagi hari. Sementara itu, PO Flores sendiri mengalami perubahan peran dan hanya melayani trayek AKDP Surabaya–Ponorogo pergi-pulang, menandai kemunduran signifikan dari kejayaannya sebelumnya.[4]
Memasuki tahun 1990, Eka dan Mira memperluas jangkauan operasional dengan membuka trayek Surabaya–Yogyakarta pergi-pulang. Ekspansi ini menunjukkan kebangkitan perusahaan setelah masa krisis pasca kecelakaan Flores.[1] Pada tahun 1992, Harianto mengambil keputusan besar dengan menjual armada lama milik PO Flores dan Surya Agung beserta jenamanya. Langkah ini dilakukan untuk meremajakan armada Eka dan Mira agar mampu bersaing secara kualitas dan kenyamanan.[4] Untuk menggantikan peran Flores, perusahaan kemudian meluncurkan jenama baru bernama Ita pada tahun 1993. Bus Ita melayani trayek Surabaya–Ponorogo, tetapi tidak bertahan lama akibat krisis moneter akhir 1990-an, sehingga trayeknya dijual ke PO Restu.[8]
Memasuki era modern, sekitar tahun 2007, manajemen Eka dan Mira melakukan restrukturisasi layanan. Armada bus Eka kelas ekonomi dihapuskan, dan Eka difokuskan sebagai layanan patas non-ekonomi, sementara layanan ekonomi sepenuhnya dijalankan di bawah jenama Mira. Pembagian ini memudahkan penumpang dalam membedakan segmen layanan.[9] Puncak pengakuan publik terhadap Eka terjadi pada 15 November 2025, ketika redBus menganugerahkan People’s Choice Award kategori AKAP Besar Jawa Terfavorit kepada PO Eka, menandai keberhasilan panjang transformasi dari Flores menuju Eka dan Mira.[10] Saat ini, kepemimpinan Eka dan Mira dipegang oleh anak dari Harianto, Eka Hermawan.[11]
Armada
Bus Eka rute Surabaya—Bumiayu melintas di Pertigaan Terminal Lama Jombang, menggunakan karoseri Jetbus3+ Facelift
Dalam hal armada dan sasis bus, Eka dan Mira dikenal luas sebagai perusahaan otobus yang sejak lama mengandalkan produk Hino dari berbagai generasi. Pilihan ini didasarkan pada sejumlah pertimbangan operasional, mulai dari efisiensi bahan bakar, daya tahan kendaraan, hingga biaya perawatan yang relatif ekonomis. Sasis Hino dinilai mampu menunjang kebutuhan operasional bus antarkota yang menuntut keandalan tinggi di berbagai kondisi jalan. Generasi terbaru yang digunakan adalah Hino RM 280, yang menjadi tulang punggung armada modern mereka.[12] Selain itu, pemilihan tipe sasis juga disesuaikan dengan segmen layanan: untuk layanan AC Tarif Biasa yang dioperasikan dengan jenama Mira, digunakan bus besar bermesin depan, sementara untuk layanan Patas atau Cepat dengan jenama Eka, digunakan bus bermesin belakang yang dinilai lebih nyaman dan bertenaga untuk perjalanan jarak jauh. Pendekatan ini menunjukkan pemahaman perusahaan terhadap kebutuhan pasar dan strategi memaksimalkan efisiensi serta keuntungan operasional.[11][7]
Sementara itu, dalam urusan karoseri, PO Eka dan Mira dikenal sebagai perusahaan yang fleksibel dan tidak terpaku pada satu produsen tertentu. Keduanya kerap menggunakan karoseri dari berbagai perusahaan karoseri nasional ternama, seperti Laksana, Morodadi Prima, Tentrem, dan Adi Putro, sesuai dengan tren desain, kebutuhan armada, serta preferensi pasar pada masanya. Fleksibilitas ini membuat tampilan armada Eka dan Mira cukup beragam dari waktu ke waktu.[7] Pada era 1990-an, kedua PO tersebut juga dikenal banyak memesan karoseri buatan Malindo, yang saat itu tengah populer dan dianggap merepresentasikan perkembangan desain bus modern di Indonesia. Keberagaman pilihan karoseri ini menjadi salah satu ciri khas PO Eka dan Mira, sekaligus mencerminkan kemampuan mereka beradaptasi dengan dinamika industri transportasi darat nasional.[1]
Trayek
Bus antarkota
Bus Cepat Eka kelas non-ekonomi yang melayani trayek Surabaya–Magelang.
PO Eka dan Mira merupakan perusahaan otobus yang beroperasi setiap hari dan memiliki peran penting dalam layanan angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP), khususnya di Pulau Jawa. Keduanya bersaing secara langsung dalam pola duopoli dengan Sumber Group untuk melayani rute-rute strategis yang menghubungkan wilayah Jawa Barat[a], Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Konsistensi operasional harian ini membuat Eka dan Mira menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang membutuhkan transportasi darat jarak jauh dengan jadwal keberangkatan yang relatif padat dan merata. Kehadiran dua jenama dalam satu grup juga memungkinkan segmentasi pasar yang lebih jelas, sehingga masing-masing layanan dapat menjangkau karakter penumpang yang berbeda tetapi tetap berada dalam koridor trayek yang sama.[7]
Dalam operasional trayek AKAP, Eka memosisikan diri sebagai penyedia layanan kelas non-ekonomi, seperti Cepat, Patas, hingga Eksekutif, dengan fokus pada kenyamanan dan fasilitas yang lengkap. Armada bus Eka dilengkapi dengan penyejuk udara (AC), televisi, sistem audio, kursi reclining dengan konfigurasi 2-2, bantal, layanan Wi-Fi, serta toilet di dalam bus.[7][13] Untuk menambah kenyamanan perjalanan jarak jauh, seluruh penumpang juga mendapatkan air minum gratis dan fasilitas berhenti makan di Rumah Makan Duta Ngawi atau di rest area km 575 Jalan Tol Solo–Ngawi.[14] Di sisi lain, Mira melayani segmen ekonomi AC tarif biasa (ATB) sejak tahun 2007, dengan fasilitas yang lebih sederhana tetapi tetap mengedepankan kenyamanan dasar, seperti AC, sistem audio, serta konfigurasi kursi 3-2, sehingga mampu menjangkau penumpang dengan kebutuhan transportasi yang lebih terjangkau.[7][14]
Pada 21 Maret 2025, PO Eka secara resmi memperluas jangkauan operasionalnya dengan membuka rute baru yang menghubungkan Kabupaten Jember, Jawa Timur, menuju Kota Tasikmalaya, Jawa Barat dengan pelayanan kelas Prime.[15] Layanan ini menghubungkan wilayah ujung timur Pulau Jawa hingga ke wilayah Priangan Timur melalui lintas selatan. Kota-kota yang dilintasi antara lain Probolinggo, Surabaya, Surakarta, Yogyakarta, dan Banjar. Perjalanan dari kedua arah sudah menggunakan akses Jalan Tol Trans Jawa. Sebagai layanan kelas tertinggi (Prime Class), penumpang mendapatkan berbagai fasilitas penunjang kenyamanan jarak jauh, di antaranya:
Konfigurasi Kursi: Menggunakan format kursi 2-2 dengan jarak antar kursi yang lebar (legroom).
Kenyamanan: Kursi yang dapat direbahkan (reclining seat), sandaran kaki (leg rest), serta penyediaan bantal dan selimut.
Konsumsi: Fasilitas service makan (isoma) yang berlokasi di Rumah Makan Duta Resto, rest area KM 575 Jalan Tol Solo-Ngawi (Jalur A dan B). Selain itu, penumpang juga mendapatkan kotak makanan ringan (snack box).
Teknologi: Pengisian daya gawai (USB Charger) di setiap kursi dan sistem hiburan audio-visual.
Lainnya: Fasilitas toilet yang tersedia di dalam armada khusus untuk penggunaan selama bus berjalan.
Selain fokus pada layanan trayek AKAP, Eka juga mengembangkan bisnis nontrayek melalui pengoperasian bus pariwisata. Divisi ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan perjalanan wisata, baik untuk rombongan maupun wisata tematik di dalam kota. Salah satu layanan unggulan yang ditawarkan adalah paket wisata "Jelajah Surabaya", yang dirancang untuk membawa wisatawan menikmati berbagai ikon dan destinasi unggulan Kota Surabaya, seperti Jembatan Suramadu, Tugu Pahlawan, serta sejumlah objek wisata penting lainnya. Kehadiran layanan bus pariwisata ini menunjukkan upaya diversifikasi bisnis PO Eka, sekaligus memperluas perannya tidak hanya sebagai penyedia transportasi antarkota, tetapi juga sebagai bagian dari industri pariwisata regional.