Sejarah
PO Mulyo didirikan pada Agustus 1947, hanya dua tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sehingga termasuk salah satu perusahaan otobus yang lahir pada masa awal republik. Dari sisi usia, Mulyo tercatat sekitar sepuluh tahun lebih muda dibandingkan NPM, delapan bulan lebih muda dari DAMRI, serta kira-kira dua tahun lebih tua dibandingkan Hiba Utama. Perusahaan otobus ini didirikan sekaligus dimiliki oleh Soenarman Mangoen Sardjono, yang sejak awal memegang peranan penting dalam pengelolaan dan arah perkembangan usaha. Keberadaan Mulyo pada masa awal kemerdekaan mencerminkan semangat wirausaha pribumi yang tumbuh seiring dengan kebutuhan transportasi masyarakat lokal di Jawa.[1][2]
Menurut sebuah memoar yang ditulis oleh Yan Lubis pada tahun 2018, keluarga Sunarman yang menjadi pemilik PO Mulyo disebut berasal dari kelompok "Wong Kalang". Kelompok ini dikenal luas dalam masyarakat Jawa sebagai komunitas dengan keterampilan berdagang, etos kerja tinggi, serta jiwa kewirausahaan yang kuat. Latar belakang tersebut diyakini turut memengaruhi karakter PO Mulyo sebagai perusahaan otobus yang bertahan lama meskipun dikelola dengan pendekatan yang relatif tradisional. Nilai kerja keras dan kemandirian yang melekat pada keluarga Soenarman Mangoen Sardjono menjadi fondasi penting dalam perjalanan panjang perusahaan ini.
Pada masa awal operasionalnya, Mulyo mengandalkan bus bermerek Dodge sebagai armada utama. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman operasional, perusahaan ini mulai memperluas jangkauan layanannya. Ketika memasuki usia sekitar 26 tahun, Mulyo telah memiliki trayek penting yang menghubungkan Gombong dan Solo. Namun, perjalanan sejarahnya tidak selalu berjalan mulus. Pada Maret 1973, PO Mulyo menjadi sorotan publik akibat kecelakaan tragis dengan kereta api pengangkut ketel Pertamina di sebelah barat Stasiun Soka. Peristiwa tersebut mengakibatkan lima orang meninggal dunia di tempat, termasuk pengemudi bus, dan menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah perusahaan.[4]
Dalam perkembangannya, PO Mulyo tetap dikenal sebagai perusahaan otobus yang mempertahankan sistem kerja klasik, yaitu sistem setoran bagi para pengemudi bus. Sistem ini memang mendorong persaingan antarpengemudi untuk memperoleh penumpang sebanyak mungkin, tetapi di sisi lain kerap menimbulkan tekanan kerja yang tinggi. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi kualitas pelayanan, tingkat kenyamanan, serta waktu istirahat pengemudi dan kru bus. Bahkan, sebuah penelitian mahasiswa UIN Sunan Kalijaga menunjukkan bahwa sistem kerja klasik yang diterapkan Mulyo sering kali berdampak pada keterbatasan waktu karyawan untuk menjalankan ibadah. Meski demikian, dedikasi keluarga Soenarman dalam dunia transportasi bus akhirnya diakui secara nasional, ketika pada 21 Maret 2012 Kementerian Perhubungan Republik Indonesia menganugerahkan penghargaan Lifetime Achievement kepada keluarga tersebut.[2]