PT Maju Lancar Prima adalah sebuah perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Kantor pusat dan garasi bus ini berada di Jalan Wonosari–Yogyakarta km 2,3, Padukuhan Siyono, Kalurahan Logandeng, Kapanéwon Playen, Kabupaten Gunungkidul. Bus ini merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Gunungkidul, karena mengeklaim sebagai satu-satunya kelompok perusahaan otobus dengan spesialisasi antarkota antarprovinsi yang didirikan di kabupaten ini.
Sejarah
Maju Lancar pertama kali didirikan pada tahun 1986 oleh pasangan suami istri, Soetrisno dan Sri Hartati. Keputusan untuk terjun ke ranah transportasi darat ini didasari oleh pengamatan mereka terhadap perkembangan bisnis transportasi yang kian menjanjikan dari tahun ke tahun. Selain melihat peluang bisnis yang terbuka lebar, kegemaran dan ketertarikan yang mendalam dari pasangan tersebut dalam dunia otomotif dan transportasi turut menjadi motivasi kuat yang mendorong mereka untuk membangun fondasi perusahaan ini sejak awal.[1]
Pada masa awal berdirinya, skala operasional Maju Lancar masih sangat terbatas karena hanya mengandalkan dua unit armada bus. Dua armada perdana tersebut dialokasikan untuk melayani trayek lokal pendek, yaitu jalur bus antarkota dalam provinsi (AKDP) dengan rute Wonosari, Gunungkidul menuju Kota Yogyakarta. Meski memulai bisnis dari skala yang sangat kecil dan rute yang terbatas, konsistensi mereka dalam mengelola angkutan tersebut menjadi modal penting bagi perkembangan perusahaan di masa-masa berikutnya.[1]
Memasuki tahun 1991, Maju Lancar mengambil langkah ekspansi yang besar dengan berhasil membuka trayek bus antarkota antarprovinsi (AKAP) perdana, yang menghubungkan Wonosari langsung menuju DKI Jakarta. Pembukaan rute ini didorong oleh analisis pasar yang jeli mengenai besarnya potensi transportasi pada koridor tersebut, mengingat banyaknya warga asli Kabupaten Gunungkidul yang merantau dan menetap di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Peluang emas ini makin diperkuat oleh kondisi lapangan pada masa itu, ketika belum banyak penyedia jasa angkutan antarkota yang melayani trayek langsung dari ibu kota menuju Gunungkidul.[1]
Perjalanan bisnis PO Maju Lancar tidak selalu berjalan mulus, terutama ketika badai krisis finansial Asia melanda pada tahun 1997 yang sempat membuat perusahaan mengalami keterpurukan hebat. Lonjakan biaya perawatan armada yang melambung tinggi ditambah dengan penurunan jumlah penumpang secara drastis menjadi ujian berat bagi kelangsungan bisnis mereka. Namun, berkat kepemimpinan yang tangguh dari Soetrisno, masa-masa sulit tersebut berhasil dilewati, bahkan di rentang tahun 1998 hingga awal dekade 2000-an, Maju Lancar mampu bangkit secara luar biasa hingga menambah jumlah armadanya menjadi 64 unit serta memperluas jaringan pasar ke kota-kota lain seperti Kota Bandung, Jawa Barat dan Kota Palembang, Sumatera Selatan, sekaligus meluncurkan layanan bus patas Citra Adi Lancar serta bus pariwisata Rahma Wisata.[1][2]
Di samping kesuksesannya dalam membangun imperium bisnis transportasi, Soetrisno juga mengabdi di dunia politik dan tercatat pernah menjabat sebagai Bupati Pacitan untuk masa bakti periode tahun 2000 hingga 2005, yang menjadikannya sebagai bupati pertama di daerah tersebut yang berasal dari kalangan masyarakat sipil. Kiprah dan dedikasi pendiri Maju Lancar ini akhirnya resmi berakhir ketika Soetrisno dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 4 November 2021 di Rumah Sakit "JIH". Kepergian sang pendiri meninggalkan warisan bisnis yang besar, yang kini tongkat estafet kepemimpinan dan pengelolaan PO Maju Lancar diteruskan secara mandiri oleh keempat anak mereka.[2]
Armada
Rahma Wisata
Maju Lancar mudah dikenali dari pola pengecatannya, yakni putih dengan guratan-guratan hijau. Maju Lancar dikenal sering menggunakan berbagai macam sasis dan karoseri lawas, dan sangat suka merombaknya (facelift dan rebody) agar dapat "meremajakan" armadanya.[3]
Kelas termewah dari Maju Lancar adalah Maju Lancar Home. Karoseri yang digunakan adalah Adi PutroJetbus3+ HDD Voyager dan ditopang sasis Mercedes-Benz OH 1526. Pola pengecatan bus ini berbeda dengan Maju Lancar reguler, dengan warna dasar dominan hitam. Interior bus ini dipasangi lampu LED yang memberikan kesan meriah, dan memiliki fasilitas mewah layaknya rumah berjalan, termasuk tempat duduk lega dengan konfigurasi 2+1, sofa kulit, TV, kursi pijat, mini pantry, toilet, dan kamar tidur.[4]
Semua bus dalam kelompok usaha Maju Lancar diregistrasi menggunakan pelat nomor AB 7xxx D*. Kelompok usaha Maju Lancar (termasuk Citra Adi Lancar dan Rahma Wisata) mengeklaim sebagai satu-satunya perusahaan otobus antarkota antarprovinsi yang berasal dari Kabupaten Gunungkidul. Lebih lanjut, Prasetyo menambahkan, bahwa Maju Lancar didirikan tidak hanya menyediakan transportasi terjangkau bagi masyarakat Gunungkidul, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam pembangunan Kabupaten Gunungkidul. Menurutnya, pajak kendaraan bermotor yang dibayarkan setiap tahun akan mengalir ke pendapatan asli daerah Kabupaten Gunungkidul.[1]
Penyanyi-penulis lagucampursari asal Gunungkidul, Manthous, pernah menciptakan sebuah lagu yang berjudul "Sinom Maju Lancar". Lagu tersebut mengisahkan tentang bus Maju Lancar sebagai kebanggaan masyarakat Gunungkidul. Lagu ini juga ditulis atas permintaan Soetrisno, sehingga lagu ini sering kali didapuk sebagai corporate jingle dari perusahaan otobus ini. Soetrisno, diketahui turut berkontribusi dalam mendirikan grup musik Manthous yang juga diberi nama Maju Lancar.[9][2]