Awal pendirian
Muji Jaya awalnya didirikan sebagai sebuah entitas tunggal sejak 5 Agustus 1991. Amin Murdianto, pendiri perusahaan otobus ini, mulai merintis usaha angkutan darat yang kini dikenal sebagai salah satu bus antarkota antarprovinsi legendaris di Jepara, Jawa Tengah. Pada masa awalnya, bus ini menggunakan ejaan lama "Mudji Djaja" dan fokus awal operasionalnya adalah pada trayek Jepara–Kramat Jati (Jakarta). Latar belakang pendirian PO Muji Jaya sangat sederhana—berawal dari perusahaan truk yang berfokus pada perdagangan hasil bumi dari Jepara ke Jakarta, mengingat kebutuhan transportasi yang andal menjadi suatu kebutuhan penting bagi komunitas pebisnis kecil dan menengah di Jepara. Ide untuk memiliki bus sendiri ini muncul melalui pegawai yang melihat peluang, dan akhirnya disetujui oleh sang pendiri sebagai sebuah usaha formal. Dengan semangat itu, Murdianto meletakkan fondasi perusahaan yang sejak awal memiliki karakter khas sebagai perusahaan transportasi milik lokal.[1][2]
Dalam fase awal pengembangan, Murdianto bukan hanya sekadar mendirikan perusahaan otobus biasa—ia berani mengambil langkah besar dengan membawa uang ‘sekarung’ untuk membeli langsung enam unit bus Mercedes-Benz sekaligus, sebuah keputusan yang menunjukkan visi kuatnya terhadap masa depan transportasi antarkota di daerahnya. Kejadian menarik saat pembelian tersebut adalah saat ia sempat disangka pengemis oleh pihak dealer karena penampilannya yang sangat sederhana, padahal membawa sejumlah besar uang tunai untuk pembelian armada bus. Kejadian ini menggambarkan bagaimana perjuangan sang pendiri berangkat dari nol, tanpa dukungan modal besar, tetapi dengan keyakinan usaha yang kuat.[1]
Seiring waktu berjalan, PO Muji Jaya terus berkembang dan membuka beberapa trayek baru selain Jepara–Jakarta, seperti Jakarta–Ponorogo, Jakarta– Cepu, serta Jepara–Merak. Meskipun beberapa rute tersebut akhirnya ditutup karena biaya operasional yang tinggi, upaya ini menunjukkan bagaimana Muji Jaya mencoba berekspansi mengikuti permintaan pasar yang dinamis di sektor transportasi AKAP. Hingga kini, perusahaan tetap mempertahankan beberapa rute penting, seperti Jepara–Jakarta, Jepara–Kudus, Jepara–Semarang, dan Semarang–Denpasar via Jepara, dengan rencana membuka rute baru seperti Semarang–Denpasar via selatan dan Jepara–Bandung demi mengakomodasi kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat.[2]
Sepanjang lebih dari tiga dekade, PO Muji Jaya berhasil bertahan di tengah kompetisi yang semakin ketat dengan pemodal kuat di industri transportasi darat, tetap menjaga identitasnya sebagai angkutan legendaris asal Jepara yang dicintai oleh pelanggan setianya. Rute-rute yang dioperasikan serta warna khas armadanya menjadi simbol kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang profesional dan andal. Keberhasilan PO Muji Jaya mempertahankan eksistensinya menunjukkan bagaimana bisnis keluarga dengan manajemen yang tepat bisa kokoh menghadapi tantangan industri yang terus berubah, terutama di bidang transportasi darat.[3][1][2]
Pembagian perusahaan
Dalam perkembangannya, Muji Jaya dipecah menjadi beberapa perusahaan, di antaranya PT Muji Jaya Jepara (dikelola Annisa Nor Faizah),[4] PT Muji Jaya Citra Mandiri (didirikan tahun 2008, dikelola oleh Mohammad Yunus Anies dan Mohammad Arief Tamam[7]), PT Muji Jaya Gemilang (dikelolaAlifi Nanda Nandiasa),[8] PT Muji Jaya Pitoe (dikelola Yusuf Ashari[9] dan Muhammad Abizar Adanni[10]), dan PT Mujijaya Putra Mandiri (dikelola Fahresa Nizar Akbar).[11] Fahresa Nizar Akbar, biasa dipanggil Reza, adalah cucu dari Amin Murdianto, dipercaya mengelola Mujijaya Putra Mandiri (MJPM). Reza mengambil alih setelah sebelumnya dibimbing oleh ayahnya, Yusuf Ashari, anak Amin Murdianto yang mengelola Muji Jaya Pitoe. Sejak kecil Reza sudah menunjukkan ketertarikan terhadap dunia otomotif dan memiliki cita-cita untuk terlibat dalam perusahaan otobus sehingga setelah lulus SMA ia memilih untuk terjun langsung membantu operasional MJPM, meskipun sempat mempertimbangkan jalur pendidikan formal. Peralihan kepemimpinan ini menunjukkan semangat kesinambungan usaha keluarga yang kuat dari generasi ke generasi.[3][1][2]
Selain aspek bisnis, nama "Muji Jaya" juga mengandung makna filosofis yang menjadi doa dan harapan dari pendirinya. Menurut penuturan generasi penerus, nama tersebut dipilih sebagai sebuah doa agar perusahaan selalu memenangkan kejayaan dan mempertahankan semangat juang dalam menghadapi persaingan usaha. Filosofi ini secara tidak langsung menjadi panduan budaya kerja di perusahaan, dengan setiap anggota tim dan pengelola diajak untuk tidak memandang remeh siapa saja—baik pelanggan, pesaing, maupun tantangan yang akan datang—karena setiap elemen memiliki peran penting dalam keberlangsungan usaha yang telah dibangun sejak awal.[12]