Awal pendirian
PO Sindoro Satriamas lahir dari perjalanan hidup penuh kerja keras dan keberanian bermimpi seorang anak petani bernama Soediro Atmo Prawiro. Lahir pada tahun 1948 di Banyumas, Jawa Tengah, Atmo Prawiro tumbuh dalam keluarga sederhana yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Kondisi ekonomi yang terbatas mendorongnya untuk merantau ke Kota Semarang sejak usia muda dengan harapan dapat memperbaiki taraf hidup keluarga. Keputusan merantau tersebut menjadi titik balik penting dalam hidupnya, karena di kota inilah ia mulai mengenal dunia usaha dan perlahan membangun fondasi yang kelak mengantarkannya menjadi pengusaha sukses di bidang transportasi darat.[1][2]
Pada masa awal perjalanannya sebagai pengusaha, usaha yang digagas Atmo Prawiro ini belum dikenal sebagai perusahaan otobus seperti saat ini. Usaha yang dirintis Atmo Prawiro justru bergerak di bidang jasa penyewaan dump truck dan trailer. Melalui bisnis ini, ia memperoleh pengalaman praktis mengenai operasional transportasi, perawatan kendaraan, manajemen armada, hingga dinamika logistik darat. Pengalaman tersebut menjadi modal berharga yang tidak hanya membentuk naluri bisnisnya, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang kebutuhan pasar transportasi, efisiensi operasional, dan pentingnya keandalan layanan.[1][2]
Mendirikan perusahaan otobus
Pada tanggal 21 September 1994, Atmo Prawiro mendirikan Sindoro Satriamas dan membuka jasa layanan bus pariwisata. Langkah ini menandai fase baru dari usaha milik Atmo Prawiro sebagai penyedia layanan angkutan penumpang. Fokus pada layanan pariwisata membuat perusahaan ini melayani berbagai rute perjalanan wisata ke sejumlah daerah di Indonesia, terutama Pulau Jawa, Bali, Sumatra, hingga Lombok, dengan menekankan kualitas pelayanan, kenyamanan armada, serta profesionalisme kru.[2]
Seiring meningkatnya permintaan dan bertambahnya pengalaman di sektor pariwisata, Sindoro Satriamas mengambil langkah strategis berikutnya. Sekitar satu dekade setelah menggeluti bisnis bus wisata, perusahaan ini resmi membuka layanan bus antarkota antarprovinsi (AKAP). Rute perdana yang dilayani adalah Wonogiri–Jakarta–Tangerang, sebuah jalur yang memiliki potensi penumpang tinggi. Kehadiran layanan AKAP ini menandai transformasi besar Sindoro Satriamas dari perusahaan transportasi pariwisata menjadi salah satu pemain penting dalam industri bus jarak jauh di Indonesia.[1]
Keberhasilan Sindoro Satriamas tidak dapat dilepaskan dari sosok Atmo Prawiro sebagai pendirinya. Selain dikenal sebagai pengusaha transportasi, ia juga sempat tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Jawa Tengah pada pertengahan dekade 2000-an dengan kekayaan mencapai puluhan miliar rupiah. Di luar dunia bisnis, Atmo Prawiro aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan publik, termasuk menjabat sebagai Ketua KONI Jawa Tengah serta terlibat dalam dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai Wali Kota Semarang. Kiprah ini semakin mengukuhkan namanya sebagai figur berpengaruh di tingkat regional.[1]
Memasuki generasi kedua, pengelolaan perusahaan mulai melibatkan putra Atmo Prawiro, Dede Indra Permana. Di bawah peran generasi penerus ini, Sindoro Satriamas terus melakukan pembaruan armada dengan menggunakan karoseri dari produsen ternama serta sasis berkualitas dari Eropa dan Jepang. Perusahaan juga menunjukkan kepedulian sosial dan olahraga dengan menjadi mitra resmi klub sepak bola PSIS Semarang dan PSIP Pemalang pada tahun 2017. Langkah-langkah tersebut mencerminkan upaya menjaga citra perusahaan sekaligus mempertahankan relevansinya di tengah persaingan industri transportasi yang semakin ketat.[4]
Namun, perubahan dinamika dan tuntutan industri membuat perusahaan harus beradaptasi. Sejak 2016, Permana mulai disibukkan dengan aktivitas lain sehingga tidak lagi dapat fokus mengelola operasional bus AKAP.[5] Per 2019, Sindoro Satriamas mengoperasikan 24 unit bus pariwisata yang siap operasi. Keluarga pun mengambil keputusan strategis untuk menghentikan layanan AKAP pada pertengahan 2024 dan menjual sebagian armada, sembari kembali memusatkan perhatian pada bisnis bus pariwisata yang masih berjalan. Meski layanan AKAP Sindoro Satriamas berhenti, semangat dan warisan perusahaan tetap berlanjut melalui lahirnya PO Sindoro Sejahtera Mulya (SSM) pada akhir 2024, sebuah perusahaan patungan yang dibentuk oleh Permana, bekerja sama dengan pimpinan PO San, Kurnia Lesani Adnan. SSM hadir sebagai harapan baru agar nama besar Sindoro dapat kembali berjaya di masa depan.[5][6][7]