Bandung Express memulai perjalanan usahanya pada tahun 1973, awalnya menggunakan nama Bandung Cepat. Pada masa itu, Kota Bandung sudah dikenal sebagai kota dengan daya tarik wisata: banyak orang menjadikannya tujuan liburan akhir pekan karena suasananya yang sejuk dengan iklim pegunungan. Dengan demikian, kehadiran perusahaan bus seperti Bandung Cepat menjadi penting sebagai moda transportasi darat untuk memenuhi mobilitas dari dan ke Bandung.[1][2]
Belum diketahui siapa pemilik pertama Bandung Cepat. Namun, ketika pemilik pertama tersebut tidak dapat melanjutkan usaha, seorang pria bernama A.J. Bagyo Pratomo mengambil alih perusahaan otobus tersebut. Berbekal pengalamannya dalam bekerja di Remaja Express, yang sudah eksis di era 1970-an, aktiva perusahaan dijual kepada A.J. Bagyo. Berkat "tangan dinginnya" inilah, perusahaan yang semula bernama Bandung Cepat diganti namanya menjadi Bandung Express. Perusahaan otobus ini berkembang signifikan, tak hanya di layanan penumpang, tetapi juga merambah ke layanan paket/kargo, bengkel, dan pabrik karoseri.[1]
Seiring waktu, pasar transportasi darat di Bandung dan sekitarnya mulai mengalami kompetisi—munculnya PO lain seperti Kramat Djati dan Rajawali misalnya. Meskipun demikian, Bandung Express berhasil bertahan dan tetap diminati masyarakat sebagai alternatif yang sangat diandalkan. Kemampuan bertahan ini menunjukkan bahwa reputasi lama dan loyalitas pelanggan menjadi kekuatan penting bagi perusahaan. Perkembangan Bandung Express terus meluas—tidak hanya melayani bus AKAP malam, tetapi juga menyediakan layanan bus pariwisata, bus karyawan, serta layanan kurir dan kargo. Saat musim mudik atau libur panjang, layanan bus dari Bandung Express menjadi pilihan populer bagi masyarakat.[1]
Salah satu aspek menarik dari Bandung Express adalah sosok salah satu pimpinan saat ini, seorang perempuan bernama Jennifer (dikenal dengan nama panggilannya Miss Jeny), yang dijuluki "Ratu Mesin" oleh para penggemar bus Indonesia. Selain mengelola Bandung Express, ia dikenal mahir di bidang teknik mesin—tak jarang Jeny turun tangan memperbaiki bus ketika ada kerusakan, bahkan pernah memperbaiki bus selama 24 jam saat armadanya bermasalah di Bali. Di garasi Bandung Express, ia juga mengoleksi mobil-mobil antik dan melakukan modifikasi dengan mengganti mesin, memoles bodi, hingga merakit ulang kendaraan termasuk menggunakan mesin balap untuk mobil Volkswagen koleksinya. Karena dedikasinya terhadap mekanik dan bengkel, Bandung Express disebut-sebut telah melahirkan banyak montir handal melalui pelatihan dan pengalaman langsung di lapangan.[2]
Pada akhir dekade 1980-an hingga memasuki era 2000-an, Bandung Express dikenal sebagai perusahaan otobus yang konsisten mengikuti perkembangan tren bus Mercedes-Benz, khususnya yang menggunakan sasis seri OH (mesin belakang). Pada periode akhir 1980-an, perusahaan ini sempat mengoperasikan bus dengan bodi "Banteng", sebuah bodi yang dirakit oleh German Motor Manufacturing (GMM). Perusahaan tersebut merupakan anak usaha dari PT Star Motors Indonesia, selaku agen tunggal pemegang merek Mercedes-Benz Truck di Indonesia. Kehadiran bodi Banteng pada armada Bandung Express kala itu dianggap sangat maju, karena kualitas pembuatannya dinilai setara dengan standar produksi Mercedes-Benz Truck & Bus di Jerman, baik dari segi material, presisi perakitan, maupun ketahanan konstruksi, sehingga mencerminkan citra bus modern dan berkelas pada masanya.[3][1]
Selain bodi Banteng, Bandung Express juga pernah menggunakan karoseri Neoplan, yang merupakan karoseri bus pertama yang diproduksi oleh perusahaan karoseri Adi Putro. Penggunaan bodi Neoplan ini menempatkan Bandung Express sejajar dengan perusahaan otobus besar lainnya, seperti Kramat Djati dan Safari Dharma Raya, yang juga pernah mengoperasikan tipe serupa. Karoseri Neoplan dikenal menggunakan konstruksi monokok, berbeda dengan konstruksi konvensional berbasis rangka, serta telah dilengkapi dengan fitur suspensi udara. Pada masanya, teknologi tersebut masih tergolong langka dan menjadi simbol bus "premium", karena mampu memberikan kenyamanan berkendara yang lebih baik, terutama untuk perjalanan jarak jauh. Armada dengan bodi ini umumnya digunakan Bandung Express untuk melayani rute-rute panjang, salah satunya trayek Bandung–Denpasar.[1][4]
Memasuki era 2000-an dan seterusnya, komposisi armada Bandung Express mulai didominasi oleh bus-bus dengan bodi yang dirakit secara mandiri melalui divisi karoseri internal mereka, yaitu Bandung Express Carrosserie (BEC).[5] Divisi ini mengembangkan desain bodi yang banyak meniru gaya bus-bus produksi Adi Putro yang populer di Indonesia, seperti Setra, Travego, hingga Jetbus. Pendekatan ini memungkinkan Bandung Express untuk menyesuaikan desain, spesifikasi, dan kebutuhan operasional armadanya secara lebih fleksibel, sekaligus menjaga kesinambungan identitas visual bus yang modern dan mengikuti selera pasar pada masanya. Ciri khas bus Bandung Express dapat dilihat dari pola pengecatan eksteriornya dengan warna dasar putih, disertai permainan bidang tak beraturan berwarna merah, hijau, dan biru.[6]
Trayek
Bus antarkota
Bandung Express memfokuskan kegiatan usahanya pada layanan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dengan Kota Bandung sebagai titik awal pemberangkatan utama. Perusahaan otobus ini melayani berbagai trayek menuju kota-kota besar di Pulau Jawa, antara lain Kota Semarang serta Surakarta, Jawa Tengah;[7]Kota Yogyakarta;[5] dan Kota Surabaya, Jawa Timur.[5] Selain trayek-trayek tersebut, Bandung Express juga mengoperasikan rute jarak jauh lintas pulau, dengan trayek terjauhnya adalah Bandung–Denpasar, Bali, yang menjadi salah satu layanan andalan dan mencerminkan peran perusahaan ini dalam menghubungkan Bandung dengan berbagai pusat kegiatan ekonomi dan pariwisata di Indonesia.[2]
Bandung Express melayani kelas eksekutif dengan konfigurasi tempat duduk 2-2.[8] Pada 2009, Bandung Express masih mengadopsi sistem pemesanan tiket yang tradisional, yakni melalui agen bus. Studi yang dibuat oleh seorang mahasiswa Institut Teknologi Telkom menganjurkan agar Bandung Express mengadopsi pemesanan tiket berbasis Wireless Application Protocol (WAP) menggunakan basis data MySQL dan ditulis dengan bahasa pemrograman WML dan PHP. Hal ini memungkinkan calon penumpang untuk memesan tiket bus melalui ponsel tanpa harus datang ke agen.[9] Dengan hadirnya pemesanan melalui sejumlah situs web, tiket Bandung Express dapat dipesan secara daring, bersama dengan perusahaan otobus lainnya.[10]
Kurir
Selain melayani bus antarkota, Bandung Express juga melayani kurir.[6] Dengan meningkatnya permintaan pengiriman paket dan kemudahan akses jalan tol, layanan titipan paket melalui bus antarkota antarprovinsi Bandung Express menjadi diminati karena lebih fleksibel: bisa dijemput di jalan tanpa harus ke agen atau kantor pusat. Studi yang dibuat oleh mahasiswa magister di Universitas Logistik dan Bisnis Internasional terhadap Bandung Express menunjukkan bahwa tarif berdasarkan willingness to pay dengan pengembalian investasi tinggi dan titik pulang pokok rendah adalah yang ideal.[11]