PO Primajasa didirikan pada 6 September 1991 dan pada awalnya bergerak di bidang layanan bus pariwisata dengan modal awal sebanyak 50 unit bus. Perusahaan ini didirikan oleh Amir Mahpud, putra keempat dari Engkud Mahpud, pendiri PT Mayasari Bakti. Dengan latar belakang tersebut, Primajasa menjadi bagian dari Mayasari Group. Sejak awal, Amir dipersiapkan untuk mengelola Primajasa secara mandiri di bawah arahan dan pengawasan langsung dari sang ayah.[1]
Perkembangan Primajasa terbilang sangat pesat. Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun sejak beroperasi, tepatnya pada awal 1993, jumlah armada bus meningkat drastis menjadi sekitar 250 unit. Selain melayani bus pariwisata, Primajasa mulai merambah layanan angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP) dengan trayek perdana Bogor–Jakarta–Tangerang. Ekspansi ini menandai langkah serius perusahaan dalam industri transportasi umum.[2][1]
Tidak hanya berhenti pada layanan bus, Primajasa juga memperluas bisnisnya ke sektor transportasi lain. Pada periode awal pengembangan, perusahaan menyiapkan sekitar 100 unit taksi untuk dioperasikan. Langkah diversifikasi ini menunjukkan visi jangka panjang Amir Mahpud dalam membangun perusahaan transportasi darat yang terintegrasi dan berkelanjutan.[1]
Pada masa awal pengembangan Primajasa, Amir Mahpud masih aktif sebagai pembalap mobil profesional. Ia dikenal sebagai pembalap di kelas Formula 3000 Internasional dan harus bersaing dengan pembalap ternama seperti Tommy Soeharto dan Tinton Soeprapto. Saat Grand Prix Indonesia Formula 3000 digelar di Sirkuit Internasional Sentul pada musim 1993, Primajasa tampil sebagai sponsor bagi Amir. Amir sendiri menyelesaikan delapan putaran dan finis di posisi ke-15, sementara dua pesaingnya gagal finis akibat kerusakan mesin.[3][4]
Keberhasilan Primajasa tidak terlepas dari filosofi manajemen Amir yang memadukan kedisiplinan dunia balap dengan profesionalisme bisnis. Ia menekankan bahwa bisnis transportasidarat memiliki tingkat risiko tinggi sehingga membutuhkan tanggung jawab besar dari seluruh jajaran manajemen dan awak operasional. Fokus utama perusahaan adalah menjaga kepercayaan masyarakat melalui pelayanan yang konsisten, perilaku awak bus yang sederhana, serta berpegang teguh pada prinsip keselamatan dan integritas.[1]
Memasuki tahun 1996, Primajasa kembali merancang ekspansi dengan membuka trayek bus eksekutif Lebak Bulus–Bandung yang direncanakan mulai beroperasi pada September atau Oktober. Pada periode ini, Primajasa telah didukung sekitar 400 armada bus yang melayani 14 trayek perintis di wilayah Jabotabek dan Jawa Barat. Strategi pengembangan trayek dilakukan dengan cermat untuk menghindari persaingan langsung dengan perusahaan otobus lain. Selain fokus pada pengembangan transportasi bus antarkota seperti rute Jakarta–Merak, PO ini juga berencana melakukan ekspansi di sektor transportasi darat lainnya dengan menambah jumlah armada taksi hingga 300 unit.[5]
Bus Primajasa saat menembus kemacetan Jakarta.
Pada tahun 2001, jaringan trayek Primajasa semakin meluas. Rute-rute yang dilayani mencakup berbagai kota dan wilayah di Jawa Barat, Banten, dan Jabodetabek hingga berbagai terminal utama di Jakarta. Primajasa juga melakukan terobosan dengan menyediakan titik penjemputan di luar terminal, seperti garasi bus, bandara, pelabuhan, pusat perbelanjaan, dan kawasan perumahan. Seiring berjalannya waktu, Primajasa berkembang menjadi grup transportasi besar dengan total armada mencapai sekitar 1.000 unit, termasuk bus, taksi, dan layanan logistik.[2]
PO Primajasa adalah perusahaan otobus yang juga menjadi salah satu operator armada Transjakarta pada periode 2009–2016, saat sistem BRT ini menggunakan sejumlah bus milik operator swasta untuk melayani jalur Transjakarta termasuk koridor-koridor tertentu. Primajasa mengoperasikan Koridor 8 Transjakarta bersama dengan Lorena.[6] Namun memasuki tahun 2016, hubungan kerja antara Transjakarta dan Primajasa berakhir secara tiba-tiba ketika Transjakarta memutus kontrak operasi dengan Primajasa, yang menurut pihak Primajasa masih dapat diperpanjang hingga 2017 sesuai kontrak asli dan addendum yang pernah ditandatangani. Pemutusan kontrak itu memicu kekecewaan dari pihak Primajasa, yang menyatakan akan mengupayakan langkah hukum karena merasa dirugikan dan terkesan diperlakukan sepihak oleh Transjakarta. Setelah keluar dari layanan Transjakarta, armada bus Primajasa yang sempat dipakai untuk Transjakarta kemudian diparkir atau dikonversi untuk keperluan lain. Sepanjang kerja sama, Primajasa menjadi bagian dari sejumlah operator yang membantu Transjakarta mengoperasikan layanan bus raya terpadu di Jakarta tersebut.[7]
Meski sempat mengalami masa sulit saat pandemi Covid-19 yang menyebabkan operasional berhenti selama sebulan dan kerugian mencapai Rp45 miliar, Primajasa tetap berkomitmen untuk tidak memberhentikan karyawan. Hingga kini, Primajasa tetap menjadi bagian dari Mayasari Group, dengan Amir Mahpud—yang akrab disapa Haji Aming—menjabat sebagai Presiden Direktur perusahaan. Amir juga dikenal aktif berpolitik serta menjabat sebagai Dewan Pembina DPP Partai Gerindra.[2]
Armada
Bus-bus Primajasa di garasinya.
Primajasa dikenal memiliki armada yang terus diperbarui dan disesuaikan dengan kebutuhan layanan bus antarkota dan bus pariwisata. Primajasa setia menggunakan sasisHino, mengandalkan sasis RK Turbo, RG1JN, RK8 JSKA-NHJ R260, RM 280 ABS, dan RK 280 ABS, yang dibeli langsung dari PT Hino Motors Sales Indonesia untuk memperkuat operasional AKAP dan layanan wisata mereka. Sasis ini dilengkapi dengan fitur seperti suspensi udara, sistem rem antiterkunci, dan sasis space frame khususnya pada model RM 280 untuk kenyamanan, keselamatan, dan efisiensi operasional.[8]
Dari sisi karoseri, Primajasa sering bekerja sama dengan perusahaan karoseri Tentrem untuk bodi busnya. Beberapa unit baru yang dirilis menggunakan karoseri Tentrem, seperti seri Avante H7 atau modifikasi Avante HDD pada beberapa unit yang lebih lama. Tentrem juga memungkinkan kustomisasi bentuk bodi sesuai permintaan PO jika pemesanan dalam jumlah besar, dan sebelum Avante, Primajasa pernah memakai bodi Tentrem seperti Galaxy dan Scorpion X.[9]
Selain memiliki bodi Tentrem, PO ini juga menggunakan karoseri in-house dari Mayasari Group, Mayasari Utama, bersama keluarga Mayasari Group lainnya. Bodi bus tersebut dibuat menyerupai Travego dan ditopang menggunakan sasis RK Turbo.[10] Bahkan, Primajasa juga memiliki koleksi bodi bus Rahayu Santosa, misalnya Ecoline.[11] Bersama dengan PO lainnya dalam Mayasari Group, Primajasa menjadi salah satu dari sedikit perusahaan otobus Indonesia yang sepanjang hayatnya tidak pernah menggunakan bus-bus buatan perusahaan karoseri Adi Putro, bersama dengan Anas Nasional Sejahtera (ANS), Arimbi/Bima Suci, Borlindo, Sumber Alam, dan Tentrem.[12]
Trayek
Bus antarkota
PO Primajasa merupakan perusahaan otobus dengan lini bisnis utama adalah bus antarkota antarprovinsi (AKAP), terutama di wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, dan Banten. Sejak awal berdirinya pada tahun 1991, Primajasa memulai dengan rute pertama Bogor–Tangerang via Jakarta dan kemudian memperluas jaringan trayek AKAP ke kota-kota penting seperti Bandung, Tasikmalaya, dan Garut, serta sejumlah rute lain di luar Jawa Barat seiring pertumbuhan perusahaan. Strategi Primajasa adalah menggarap trayek-trayek pendek dan menengah yang sering diminati masyarakat, yang membuatnya menjadi angkutan pilihan bagi penumpang yang ingin bepergian antarkota tanpa terlalu jauh dan tetap nyaman.[13]
Sebagai upaya memperluas layanan dan menjawab kebutuhan transportasi antarkota yang dinamis, pada November 2025, Primajasa meluncurkan rute baru antara Kalideres (Jakarta Barat) dan Kuningan (Jawa Barat) menggunakan bus kelas ekonomi ber-AC dengan konfigurasi kursi nyaman. Rute ini dirancang untuk menghubungkan kedua wilayah dengan jadwal keberangkatan reguler dan harga tiket yang ekonomis, serta fasilitas yang menunjang kenyamanan perjalanan seperti portUSB untuk penumpang. Dengan adanya layanan baru ini, Primajasa memperkuat kehadirannya di jalur antarkota yang sering dilalui pekerja perantauan dan penumpang umum, sekaligus memberikan pilihan transportasi darat yang lebih nyaman dan terjangkau bagi masyarakat.[14]
RedWhite Star
Bus Primajasa saat disewakan untuk bus pariwisata di Yogyakarta.
RedWhite Star merupakan jenama Primajasa yang beroperasi di segmen angkutan umum dalam trayek maupun nontrayek seperti bus pariwisata, bus antar-jemput, dan bus bandar udara kelas eksekutif yang menghubungkan berbagai titik strategis di wilayah Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat, termasuk rute populer seperti Bandung–Jakarta, Bandung–Bandara Soekarno-Hatta, serta Bandung–Cirebon, dengan armada modern seperti Toyota HiAce yang dirancang untuk kenyamanan dan keandalan perjalanan penumpang. Armadanya dilengkapi dengan fasilitas standar seperti AC, kursi model captain seat, portUSB, dan air minum gratis.[15][16][17]
Selain bus bandara dan antar-jemput, RedWhite Star juga dikenal sebagai divisi bus pariwisata yang menawarkan armada bus berkapasitas besar untuk kebutuhan perjalanan wisata, rombongan, atau kegiatan khusus. Armada pariwisata ini biasanya berupa bus besar dengan fasilitas standar yang mendukung kenyamanan perjalanan jauh, yang membuatnya menjadi pilihan populer untuk perjalanan bersama keluarga atau rombongan. Layanan ini menunjukkan bagaimana Primajasa memposisikan RedWhite Star tidak hanya sebagai solusi transportasi antarregional dan bandara tetapi juga sebagai pilihan layanan wisata darat yang nyaman dan profesional dalam satu perusahaan yang sama.[18]
Taksi
Selain berbisnis bus, PO Primajasa memiliki bisnis sekunder yakni taksi. Pada tahun 1993, Primajasa terjun ke bisnis taksi setelah izin penyelenggaraannya disetujui pada akhir 1992. Perusahaan otobus ini harus bersaing dengan perusahaan taksi lain, seperti Citra Kabaraja, Luhur Satria, Master Taxi, dan Sentral Metro; serta dengan taksi lain yang sudah mapan, termasuk Blue Bird (termasuk Silver Bird), Dian Taksi, Express, Kosti Jaya, Kotas, Liberty, dan President Taxi.[19] Saat ini, taksi Primajasa dan juga taksi legal lainnya, menghadapi bermacam pesaing, termasuk taksi berbasis ride-hailing dan taksi ilegal yang banyak mencari penumpang di sekitar Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta. Saat ini, layanan taksi Primajasa di Bandara Soekarno-Hatta dilayani di Terminal 1, 2, dan 3 dari bandara tersebut.[20]
↑Sadat, Raden Jihad Akbar, Anwar (2 Juli 2016). "Primajasa Bakal Tuntut TransJakarta". www.viva.co.id. Diakses tanggal 7 Januari 2026. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)