Teks bahasa Pali
Sāvatthinidānaṃ. Tena kho pana samayena candimā devaputto rāhunā asurindena gahito hoti. Atha kho candimā devaputto bhagavantaṃ anussaramāno tāyaṃ velāyaṃ imaṃ gāthaṃ abhāsi:
“Namo te buddha vīratthu, vippamuttosi sabbadhi;
Sambādhapaṭipannosmi, tassa me saraṇaṃ bhavā”ti.
Atha kho bhagavā candimaṃ devaputtaṃ ārabbha rāhuṃ asurindaṃ gāthāya ajjhabhāsi:
“Tathāgataṃ arahantaṃ, candimā saraṇaṃ gato;
Rāhu candaṃ pamuñcassu, buddhā lokānukampakā”ti.
Atha kho rāhu asurindo candimaṃ devaputtaṃ muñcitvā taramānarūpo yena vepacitti asurindo tenupasaṅkami; upasaṅkamitvā saṃviggo lomahaṭṭhajāto ekamantaṃ aṭṭhāsi. Ekamantaṃ ṭhitaṃ kho rāhuṃ asurindaṃ vepacitti asurindo gāthāya ajjhabhāsi:
“Kiṃ nu santaramānova, rāhu candaṃ pamuñcasi;
Saṃviggarūpo āgamma, kiṃ nu bhītova tiṭṭhasī”ti.
“Sattadhā me phale muddhā, jīvanto na sukhaṃ labhe;
Buddhagāthābhigītomhi, no ce muñceyya candiman”ti.[1]
Terjemahan bahasa Indonesia
Di Sāvatthī. Pada saat itu dewa muda Candimā telah ditangkap oleh Rāhu, raja para asura. Kemudian, dengan mengingat Sang Buddha, dewa muda Candimā pada kesempatan itu mengucapkan syair ini:
“Hormat kepada-Mu, Sang Buddha! Wahai Pahlawan, Engkau telah terbebaskan di mana pun juga.
Aku telah jatuh menjadi tawanan, karena itu mohon jadilah perlindungan bagiku.”
Kemudian, dengan merujuk pada dewa muda Candimā, Sang Bhagavā berkata kepada Rāhu, raja para asura, dalam syair:
“Candimā telah menyatakan berlindung kepada Sang Tathāgata, Sang Arahanta.
Bebaskan Candimā, Wahai Rāhu, Para Buddha berbelas kasih terhadap dunia.”
Kemudian Rāhu, raja para asura, membebaskan dewa muda Candimā dan bergegas mendatangi Vepacitti, raja para asura. Setelah mendekat, dengan terguncang dan ketakutan, ia berdiri di satu sisi. Kemudian, sambil berdiri di sana, Vepacitti, raja para asura, berkata kepadanya dalam syair:
“Mengapa, Rāhu, engkau datang bergegas? Mengapa engkau membebaskan Candimā?
Setelah datang dengan terguncang, Mengapa engkau berdiri di sana ketakutan?”
“Kepalaku akan pecah menjadi tujuh keping, Selagi hidup aku tidak akan merasa nyaman,
Jika setelah disabdakan oleh syair Sang Buddha, Aku tidak membebaskan Candimā.”[3]