Gumarang Jaya didirikan pada tahun 1974 oleh Alizar Datuk Bagindo, seorang perantau Minangkabauyang menetap dan berusaha di Lampung.[1] Pada masa itu, kebutuhan masyarakat terhadap moda transportasi darat terus meningkat seiring mobilitas ekonomi dan sosial antardaerah, sementara infrastruktur dan akses transportasi di Pulau Sumatra masih sangat terbatas. Kondisi geografis yang berat, minimnya jalan penghubung, serta belum meratanya sarana transportasi membuat perjalanan jarak jauh menjadi tantangan besar, tetapi justru membuka peluang bagi para perintis angkutan darat seperti Datuk Bagindo untuk menghadirkan layanan transportasi yang dibutuhkan masyarakat.[2]
Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube PerpalZ TV bersama Kurnia Lesani Adnan, pimpinan Siliwangi Antar Nusa, Datuk Bagindo mengungkapkan bahwa dirinya terpanggil "untuk membuat mobil yang bagus" demi melayani masyarakat. Dengan modal awal yang sangat sederhana, Gumarang Jaya hanya mengoperasikan satu unit mobil Chevrolet C50 untuk mengangkut penumpang dari Lampung menuju Bukittinggi dan sebaliknya. Perjalanan tersebut pada masa awal memakan waktu sekitar lima hingga enam hari, mencerminkan betapa beratnya kondisi transportasi darat Sumatra pada dekade 1970-an.[2]
Dalam operasional perdananya, perjalanan Lampung–Bukittinggi harus ditempuh dengan menyeberangi sejumlah sungai besar karena belum tersedianya jembatan permanen. Penyeberangan dilakukan menggunakan rakit dan harus dilalui sebanyak tujuh kali, yakni di Sarolangun, Rantau Panjang, dua kali penyeberangan di wilayah antara Bangko, Sinamar, Muara Tebo, Pulau Musang, dan Sungai Dareh. Setiap penyeberangan menuntut ketelitian dan keberanian, baik dari pengemudi maupun penumpang, sekaligus menjadi gambaran nyata perjuangan awal Gumarang Jaya dalam membuka jalur transportasi antardaerah.[2][1]
Pengalaman bersejarah tersebut bahkan turut melibatkan tokoh nasional. Datuk Bagindo pernah memiliki pengalaman bersama Roesmin Noerjadin, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Perhubungan Republik Indonesia, untuk mencoba langsung trayek Gumarang Jaya. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan Gumarang Jaya sejak awal mendapat perhatian dan pengakuan, sekaligus menjadi bagian dari upaya memahami dan mengembangkan transportasi darat di wilayah Sumatra yang kala itu masih sangat tertinggal.[2][1]
Nama Gumarang sendiri memiliki makna historis dan kultural yang kuat. Datuk Bagindo menjelaskan bahwa nama tersebut diambil dari nama kuda milik Raja Pagaruyung yang legendaris, Cindua Mato. Pemilihan nama ini mencerminkan identitas Minangkabau sang pendiri sekaligus harapan agar perusahaan angkutan ini memiliki semangat ketangguhan, kecepatan, dan keberanian layaknya kuda Gumarang dalam kisah-kisah adat Minangkabau.[2][1]
Atas dedikasinya yang panjang dalam dunia transportasi darat, pada 16 Maret 2011, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memberikan penghargaan loyalitas 30 tahun berkarya dalam sejarah transportasi bus kepada Gumarang Jaya.[3] Kini, tongkat estafet kepemimpinan berada di tangan generasi kedua, Yulianto. Di bawah kepemimpinannya, Gumarang Jaya menghadapi tantangan besar, termasuk saat pandemi Covid-19 yang memaksa perusahaan merombak seluruh jadwal perjalanan demi efisiensi operasional, bahkan membuat unit bus pariwisata harus terparkir lama di garasi.[4]
Armada
Bus Gumarang Jaya saat berhenti di depan agen bus yang terletak satu kompleks dengan rumah makan Bundo Kanduang
Berbeda dengan perusahaan otobus lain yang menggunakan peristilahan kelas "eksekutif/bisnis/non-ekonomi" dan "ekonomi", Gumarang Jaya memiliki kelas dengan nama yang unik, yakni Maunjua. Kata ini, dalam bahasa Minang, berarti "selonjoran/rebahan". Pemilihan nama ini sesuai dengan kualitas layanan PO Gumarang Jaya di kelas ini, karena menyediakan 30 kursi penumpang buatan Rimba Kencana dengan konfigurasi 2-2 dengan leg rest.[5]
Gumarang Jaya mengoperasikan armada bus yang menggunakan sasis dari Hino dan Mercedes-Benz, serta karoseri dari Laksana. Pada Januari 2023, Gumarang Jaya merilis langsung 10 unit bus dengan sasis Mercedes-Benz OH 1626 dan karoseri Legacy SR-3 Ultimate. Karoseri tersebut diperkenalkan dalam acara Gaikindo Indonesia International Auto Show 2022. Pada Agustus 2024, Gumarang Jaya juga mengoperasikan bus dengan karoseri yang sama, tetapi menggunakan sasis Hino RK 280 ABS Euro 4.[6][7] Pada kelas Maunjua, Gumarang Jaya juga mengoperasikan bus dengan karoseri Jetbus3 produksi Adi Putro.[8]
Pada masa jaya angkutan penumpang bus jarak jauh dari akhir dekade 1970-an hingga awal dekade 2000-an, beberapa perusahaan otobus di Sumatra berkembang menjadi besar. Beberapa ratusan perusahaan otobus tersebut adalah Gumarang Jaya (Lampung) bersama PMTOH (Aceh), ALS (Sumatera Utara), serta ANS dan NPM (Sumatera Barat) yang telah mendominasi Jalan Raya Lintas Sumatra, baik lintas tengah maupun lintas timur.[10]
Bisnis nontrayek
Bus pariwisata Vido Trans Nusa, dengan karoseri Legacy SR-3 Panorama produksi Laksana
Gumarang Jaya memiliki bisnis nontrayek berupa bus pariwisata yang dikelola sendiri. Kemudian, pada tanggal 17 Juli 2023, Gumarang Jaya mendirikan sebuah anak usaha baru yang juga dikhususkan untuk menyelenggarakan bus pariwisata. Anak usaha itu diberi nama PT Vido Trans Nusa. Secara tampilan, bus-bus milik Vido Trans Nusa juga menggunakan pola pengecatan yang mirip dengan bus Gumarang Jaya reguler, yakni kelir putih dengan garis-garis kuning dan merah, tetapi menggunakan pola garis patah-patah, berbeda dengan Gumarang Jaya reguler yang berombak. Pola pengecatan Gumarang Jaya dan Vido Trans Nusa mengadopsi Marawa, bendera etnis Minangkabau. Pada awal debutnya, Vido Trans Nusa mengandalkan karoseri Laksana Legacy SR-3 Panorama Ultimate Single-Glass.[11]