Halte Taman Sari sempat ditutup untuk dilakukan pemeliharaan dan perbaikan mulai 31 Oktober2022, hingga kemudian dibuka kembali pada 14 Maret2023.[1]
Penamaan
Halte Taman Sari awalnya bernama Olimo, yang berasal dari sebuah perusahaan pengecer barang-barang impor untuk kebutuhan mobil pada masa penjajahan Belanda, yakni N.V. Olimo. Perusahaan itu menjual aksesoris, suku cadang, pelumas, cat bodi, dan vernis impor. Olimo didirikan pada tahun 1914, dan berkantor di tempat yang kini berada di sisi timur laut dari persimpangan Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Mangga Dua, yang terletak di sebelah selatan halte. Olimo juga pernah memiliki kantor cabang di Bandung, Surabaya, dan Medan. Kantor pusat Olimo dirubuhkan sekitar tahun 1990-an, dan namanya kemudian menjadi nama yang populer untuk menyebut daerah sekitar halte.[2]
Meski Olimo telah lama bangkrut dan menjadi nama untuk penyebutan suatu daerah, Transjakarta menganggap nama tersebut sebagai nama korporat. Hal ini akhirnya membuat halte Olimo diubah namanya menjadi Taman Sari, sebagai rangkaian dari netralisasi nama-nama halte Transjakarta untuk mendapatkan hak penamaan resmi.[3][4]
Pada 26 Januari2020, seorang penumpang wanita Transjakarta diserang oleh orang tak dikenal saat turun tangga JPO selepas keluar dari Halte Olimo. Akibatnya, korban dilarikan ke rumah sakit lantaran mengalami luka sayatan yang cukup dalam dan panjang di kepala bagian belakang.[5]
Pada 1 April2024, Jalan Raya yang berada di sekitar Halte Taman Sari ambles dan memakan lajur hingga tak lebih dari 1 mobil dapat lewat bersamaan. Imbas dari kerusakan ini, layanan Transjakarta dari Halte Harmoni hingga Halte Glodok terhenti dan mengalami pengalihan.[6]MRT Jakarta membantah kerusakan ini diakibatkan oleh proyek pembangunan MRT Fase 2, yang justru karena proyek relokasi utilitas oleh perusahaan lain yang bertanggung jawab.[7]
Galeri
Suasana pada bagian dalam Halte Taman Sari arah Kota, 2022.
Akses penghubung antarsisi peron halte, 2022.
Gerbang untuk akses masuk dan keluar halte, dengan tampilan gerbang yang lama, 2015.