PT Nusantara Transindo, PT Perusahaan Otobis Nusantara, dan PT Harmoni Wisata Nusantara adalah tiga perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ketiga perusahaan otobus ini melayani bus antarkota, bus pariwisata, dan kurir, dengan jenama Nusantara. Didirikan pada tahun 1968, PO Nusantara merupakan perintis bus antarkota antarprovinsi kelas non-ekonomi di trayek Muria Raya. Nusantara pernah memimpin bus kelas mewah di Indonesia, menggunakan sasis bus yang ternama dan juga mengeklaim sebagai operator bus yang menggunakan sasis bus Scania terbanyak di Indonesia. Garasi utama PO Nusantara terletak di Getaspejaten.
Sejarah
PO Nusantara didirikan oleh Jonatan Budianto di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada tahun 1968. Pada masa awal berdirinya, kondisi industri transportasidarat masih sangat terbatas, sehingga langkah Jonatan mendirikan perusahaan otobus dapat dikatakan cukup visioner. Nusantara memulai operasionalnya dengan hanya dua unit bus bekas milik TNI Angkatan Laut, bermerek GAZ buatan Uni Soviet tahun 1965. Kendaraan tersebut menjadi fondasi awal perjalanan panjang PO Nusantara dalam melayani mobilitas masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Tengah.[1]
Empat tahun setelah beroperasi, tepatnya pada awal 1970-an, PO Nusantara mulai menunjukkan perkembangan dengan menambah armada. Perusahaan ini mendatangkan lima unit bus bekas dari TNI Angkatan Udara dengan merek ZIEL buatan tahun 1962. Penambahan armada ini menandai meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan Nusantara. Pada periode yang sama, ketersediaan bus baru di Indonesia masih sangat terbatas, sehingga penggunaan kendaraan eks-militer menjadi solusi umum bagi perusahaan otobus. Langkah ini memperkuat posisi Nusantara sebagai penyedia jasa transportasi yang terus beradaptasi dengan keterbatasan zaman.[1]
Pada tahun 1970, Nusantara mulai merakit bus secara mandiri dengan memanfaatkan sasis bermerek Thames dari Britania Raya dan bodi yang masih terbuat dari kayu. Praktik ini mencerminkan kreativitas serta kemampuan teknis yang berkembang di internal perusahaan. Bodi kayu pada masa itu merupakan hal lazim, mengingat teknologi karoseri logam belum berkembang luas di Indonesia. Namun, kondisi ini berubah pada tahun 1975, ketika baja mulai diperkenalkan sebagai standar baru dalam pembuatan bodi bus. Nusantara pun mendatangkan unit bus bermerek Ford dari Amerika Serikat yang telah menggunakan bodi baja, menandai lompatan signifikan dalam aspek keselamatan dan kenyamanan armada mereka.[1]
Memasuki akhir dekade 1970-an, perkembangan dunia otomotif di Indonesia mulai menunjukkan kemajuan pesat. Menanggapi hal tersebut, PO Nusantara memperkenalkan penggunaan bus Mercedes-Benz bermesin depan seri OF pada tahun 1977. Armada ini digunakan secara konsisten hingga tahun 1984 dan menjadi tulang punggung operasional perusahaan selama hampir satu dekade. Seiring meningkatnya tuntutan efisiensi dan kenyamanan, Nusantara kemudian beralih menggunakan bus Mercedes-Benz bermesin belakang seri OH. Pergantian ini mencerminkan komitmen perusahaan untuk terus mengikuti perkembangan teknologi kendaraan niaga.[1]
Dalam hal rute pelayanan, PO Nusantara pada awalnya berkonsentrasi melayani jalur-jalur pendek di wilayah Jawa Tengah. Rute utama yang dilayani meliputi Semarang, Kudus, Pati, Rembang, hingga Lasem. Fokus pada jalur regional ini memungkinkan perusahaan membangun basis pelanggan yang kuat dan memahami karakteristik kebutuhan penumpang lokal. Layanan yang konsisten dan terjangkau membuat Nusantara dikenal luas sebagai salah satu moda transportasi andalan masyarakat pesisir utara Jawa Tengah.[2]
Sejak era 1990-an, seiring meningkatnya mobilitas penduduk serta pertumbuhan internal perusahaan, PO Nusantara mulai memperluas jangkauan layanannya. Perusahaan ini tidak lagi terbatas pada rute-rute regional, tetapi mulai merambah kota-kota besar di Jawa. Nusantara mulai melayani trayek antarkota menuju DKI Jakarta; Kota Bandung, Jawa Barat; Kota Semarang, Jawa Tengah; serta Kota Surabaya dan Kota Malang, Jawa Timur. Ekspansi ini menandai transformasi Nusantara dari perusahaan otobus regional menjadi pemain bus antarkota yang diperhitungkan di Pulau Jawa. Selain itu, PO ini juga mengembangkan bisnis bus pariwisata.[2] Tidak hanya berfokus pada bus, Nusantara juga mengembangkan fasilitas penunjang bagi penumpang dengan membuka rumah makan bernama So Tasty, yang berfungsi sebagai titik singgah sekaligus peningkat kenyamanan perjalanan.[3]
Salah satu inovasi paling fenomenal dalam sejarah PO Nusantara terjadi pada tahun 2008 dengan diluncurkannya proyek bus pariwisata mewah bernama Omah Mlaku dan Omah Mlayu, yang berarti "rumah berjalan" dan "rumah berlari" dalam bahasa Jawa. Bus ini dirancang untuk merevolusi standar transportasi pariwisata di Indonesia dengan menghadirkan konsep kenyamanan layaknya ruang tamu hotel bintang lima. Interiornya dilengkapi sofa kulit, kursi pijat elektronik, televisi LCD 32 inci, serta mini pantry lengkap dengan berbagai peralatan rumah tangga. Fasilitas hiburan seperti karaoke dan Wi-Fi turut disematkan, sementara sistem suspensi khusus dikembangkan agar perjalanan tetap nyaman meski melewati jalan bergelombang. Dengan investasi sekitar Rp3 miliar, Omah Mlaku dan Omah Mlayu diposisikan sebagai pengalaman perjalanan premium, bukan sekadar alat transportasi.[4][5][6]
Dalam perkembangannya, PO Nusantara kini terbagi ke dalam tiga badan hukum, yaitu PT Nusantara Transindo dan PT Perusahaan Otobis Nusantara yang dikelola oleh dua anak Jonatan Budianto: Handojo Jonatan Budianto[4] dan Christian Nathanael Budianto, serta PT Harmoni Wisata Nusantara yang dipimpin oleh Harrijanto Gumuljo. Pada tahun 2011, Nusantara juga mendirikan perusahaan karoseri sendiri bernama PT Nusantara Gemilang, hasil kerja sama dengan Gemilang Coachworks dari Malaysia, dengan Christian Nathanael sebagai pimpinan.[3] Perusahaan karoseri ini dikenal luas setelah memperkenalkan bus tingkat pariwisata di Jakarta pada 2014 dan mendapat apresiasi dari Wakil Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama. Meski kemudian diakuisisi oleh PT Mobil Anak Bangsa pada 2019, jejak Nusantara dalam dunia transportasi bus nasional tetap melekat sebagai pionir inovasi dan keberlanjutan.[7][8]
Armada
Bus Nusantara (Nusantara Transindo) dengan pola pengecatan Die 9. Symphonie saat berjalan di Jalan Ring Road Selatan, Yogyakarta
Per 2023, PO Nusantara diketahui mengoperasikan sekitar 75 unit bus yang beroperasi setiap hari di berbagai trayek.[9] Dari sisi sasis, PO Nusantara dikenal memiliki koleksi sasis yang sangat beragam, termasuk sasis-sasis yang tergolong langka dan jarang digunakan oleh PO lain di Indonesia. Anggota Forum Bismania Indonesia, Dimas Raditya, bercerita bahwa Nusantara sempat menjadi perusahaan otobus dengan penggunaan sasis Scania terbanyak, meskipun tidak ada catatan resmi mengenai jumlah unitnya. Salah satu yang menarik perhatian adalah kehadiran Scania F250, yang digunakan sebagai contoh uji coba bus bermesin depan dari Scania. Selain Scania, Nusantara juga mengoperasikan sasis MAN R37 dan RR4, Mercedes-Benz, serta Volvo B12M dan B7R, yang menegaskan karakter Nusantara sebagai PO yang berani bereksperimen dengan berbagai platform teknis.[3] Sasis tersebut kemudian ditopang dengan ban produksi Michelin dan Bridgestone, serta unit bus yang diperlengkapi dengan GPS.[10]
Keunikan lain yang menonjol adalah klaim Nusantara sebagai satu-satunya PO di Indonesia yang mengoperasikan sasis Volvo B12M. Sasis ini memiliki konfigurasi mesin di posisi tengah (mid-engine), yang berbeda dari bus konvensional bermesin depan atau belakang. Tata letak tersebut memungkinkan pengembangan interior yang lebih luas dan nyaman, sehingga bus yang dirakit di atas sasis Volvo B12M ini dikonsep menyerupai kabin mobile home. Konsep tersebut memberikan pengalaman perjalanan yang eksklusif dan berbeda bagi penumpang, sekaligus menunjukkan orientasi Nusantara terhadap inovasi dan kenyamanan tingkat tinggi.[3]
Dari sisi karoseri, PO Nusantara mengandalkan dua jenis karoseri bus, yakni produksi Adi Putro dan Nusantara Gemilang (sekarang Mobil Anak Bangsa). Nusantara banyak mengoleksi bodi lawas Adi Putro Royal Coach dan Jetbus dari generasi ke generasi, hingga unit yang termuda menggunakan karoseri Jetbus3+ sasis Mercedes-Benz. Sementara itu, dari Nusantara Gemilang, PO Nusantara menggunakan bus berkaroseri Cityliner. Bodi Nusantara Gemilang menggunakan bahan baku aluminium; tidak seperti kebanyakan perusahaan karoseri bus yang menggunakan bodi baja. Basis bodi bus ini adalah Neoplan Starliner, sehingga menghasilkan nuansa bus Eropa yang khas. Armada bus berkaroseri Nusantara Gemilang menggunakan sasis yang sangat langka untuk bus Indonesia, yakni Scania K124iB produksi 2004.[11]
PO Nusantara juga dikenal memiliki desain yang tidak umum dan dibuat secara khusus. Beberapa armadanya menggunakan karoseri Irizar yang dirakit oleh Adi Putro, serta karoseri MTrans Malaysia, yang keduanya jarang dipakai oleh PO lain karena sifatnya yang custom.[3] Keistimewaan karoseri Nusantara semakin terlihat saat peringatan ulang tahun ke-50 perusahaan, ketika mereka meluncurkan bus tingkat dengan jenama Conqueror buatan Nusantara Gemilang pada tahun 2019. Pada 2021, satu unit tambahan Conqueror kembali dihadirkan. Kedua bus tingkat tersebut menggunakan sasis produksi MAN, sekaligus menegaskan konsistensi Nusantara dalam memadukan sasis premium dengan karoseri eksklusif sebagai ciri khas armadanya.[12]
Trayek
Bus antarkota
Bus Patas Nusantara warna kuning
Sejak awal dirintis, PO Nusantara menjadikan bus antarkota kelas non-ekonomi sebagai lini bisnis utama. Perusahaan otobus ini melayani trayek dari dan menuju kota-kota besar seperti DKI Jakarta, Kota Bandung, Jawa Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah, dan Kota Surabaya, Jawa Timur. PO ini dikenal melayani rute jarak jauh yang banyak diminati penumpang, misalnya rute Jepara–Bandung yang tersedia dari Terminal Jepara menuju agen di Bandung dengan kelas eksekutif lengkap fasilitas AC, TV, dan layanan makan siang dan malam dalam perjalanan.[13][11][14]
Dalam pelayanannya, PO Nusantara menawarkan beragam kelas tiket seperti Eksekutif dan Super Eksekutif dengan konfigurasi tempat duduk 2-2 atau 2-1, sehingga penumpang dapat memilih kenyamanan sesuai kebutuhan. Armada busnya menggunakan berbagai sasis seperti Mercedes-Benz dan Scania, serta dilengkapi fasilitas seperti toilet, TV, colokan pengisi daya, bantal dan selimut untuk perjalanan panjang. Seiring musim liburan atau mudik Lebaran, tarif dan jadwalnya bisa berubah, tetapi Nusantara tetap menjadi pilihan populer bagi yang bepergian antar kota besar di Jawa.[11][15]
Secara historis, PO Nusantara telah berkembang melayani lintas kota di Jawa sejak 1990-an, termasuk jalur-jalur long haul seperti Bandung–Jepara, Kudus–DKI Jakarta, dan rute ke kota-kota luar Jawa Tengah lainnya, menunjukkan jaringan trayek yang luas dan fleksibilitas dalam melayani kebutuhan transportasi darat jarak jauh. Selain rute utama ini, Nusantara juga membuka layanan di kota lain yang beragam, menandakan bahwa trayeknya tidak hanya terfokus pada satu koridor saja tetapi mencakup banyak hub antarkota di Pulau Jawa.[11][16]
Bisnis nontrayek
Selain mengoperasikan bus AKAP, PO Nusantara juga mengembangkan layanan bus pariwisata dan carteran yang dikelola melalui dua entitas, yaitu PT Nusantara Transindo dengan jenama Die 9. Symphonie serta PT Harmoni Wisata Nusantara yang armadanya menggunakan bodi bus buatan Nusantara Gemilang. Layanan bus pariwisata ini melayani beragam kebutuhan perjalanan, mulai dari wisata keluarga, kegiatan perusahaan, hingga karyawisata sekolah, dengan armada yang dirancang untuk kenyamanan perjalanan jarak dekat maupun jarak jauh. Di luar layanan pariwisata reguler, PO Nusantara juga menyediakan jasa carter bus untuk berbagai kegiatan khusus, seperti acara korporasi dan operasional tertentu. Berkat kualitas layanan dan armadanya, bus-bus PO Nusantara banyak dipercaya dan dicarter oleh sejumlah klien serta mitra besar, antara lain Pertamina, Astra International, Lautan Motor, dan berbagai korporasi dan institusi lainnya.[17][10]