Catatan keilmuan
Aliran Theravāda di Sri Lanka dan Asia Tenggara telah mengidentifikasi dirinya secara eksklusif dengan Sthavira, karena kata thera dalam bahasa Pali setara dengan sthavira dalam bahasa Sanskerta. Hal Ini telah menyebabkan para sejarawan Barat awal mengasumsikan bahwa kedua aliran ini identik. Namun, meskipun istilah sthavira diklaim secara khusus sebagai thera-vāda secara tradisional, beberapa cendekiawan menganggap bahwa hal ini kurang tepat karena pada masa Asoka, aliran Sthavira telah pecah menjadi aliran-aliran Sammitīya Pudgalavāda, Sarvāstivāda, dan Vibhajyavāda (leluhur Theravāda).
Aliran Vibhajyavāda diyakini telah pecah menjadi aliran-aliran lainnya juga, seperti aliran Mahīśāsaka dan leluhur dari aliran Theravāda. Menurut Damien Keown, berdasarkan analisis terhadap istilah-istilah dalam catatan-catatan sejarah Buddhis, tidak ada bukti sejarah bahwa "Theravāda" muncul sampai sekitar dua abad setelah Perpecahan Besar yang terjadi pada Sidang Ketiga.
Catatan Theravādin
Dimulai dengan kronik Dīpavaṃsa pada abad ke-4, Theravādin dari tradisi Mahāvihāra di Sri Lanka mencoba mengidentifikasi diri mereka dengan Sthavira asli, dengan mengabaikan pecahan-pecahan lainnya. Dīpavaṃsa Theravādin menjelaskan bahwa nama Theravāda merujuk pada ajaran-ajaran "tua", tanpa memberikan indikasi bahwa nama tersebut merujuk pada Sidang Kedua. Demikian pula, nama Mahāsāṃghika merujuk pada mereka yang mengikuti Vinaya asli dari Saṅgha yang tidak terbagi. Kronik Dīpavaṃsa memuji Theravāda sebagai "pohon beringin besar" dan meremehkan aliran-aliran Buddhis awal lainnya sebagai duri (kaṇṭaka). Dīpavaṃsa 5.51–52 (atau 4.90–91 dalam penomoran lain) mencatat:
- Ke-17 aliran ini adalah bhinnavādā (ajaran yang bhinna),
hanya satu abhinna (tidak bhinna).
Dengan aliran yang abhinna,
maka totalnya ada delapan belas.
Seperti pohon beringin besar,
Theravāda adalah yang terunggul,
Ajaran Sang Penakluk,
lengkap, tanpa kekurangan atau kelebihan.
Pecahan-pecahan lainnya muncul
seperti duri di pohon.
- — Dīpavaṃsa, 5.51–52[11]
Terkadang, istilah bhinna diterjemahkan sebagai "sesat" (heretical),[11] meskipun penerjemah lain menerjemahkannya sebagai "skismatis".
Menurut Mahāvaṃsa, sumber Theravādin, setelah Sidang Kedua ditutup, mereka yang berpihak pada biksu-biksu muda tidak menerima putusan tersebut, tetapi mengadakan pertemuan mereka sendiri yang dihadiri oleh sepuluh ribu orang dan menyebutnya sebagai Mahāsaṅgīti (Pertemuan Besar) yang darinya aliran tersebut memperoleh nama Mahāsāṃghika. Akan tetapi, penjelasan populer tentang Sthavira dan Mahāsāṃghika tersebut umumnya dianggap sebagai etimologi rakyat.
Bhikkhu Sujato menjelaskan hubungan antara Sthavira dan Theravāda:
Istilah sthavira (yang berarti "sesepuh") adalah versi bahasa Sanskerta dari istilah yang lebih dikenal saat ini dalam versi bahasa Pali thera, seperti dalam Theravāda, "Ajaran Sesepuh." Akan tetapi, aliran Sthavira yang asli sama sekali tidak identik dengan aliran modern yang disebut Theravāda. Sebaliknya, aliran Sthavira adalah nenek moyang dari sekelompok aliran terkait, salah satunya adalah Theravāda.[13]