ENSIKLOPEDIA
Ekonomi Norwegia
| Ekonomi Norwegia | |
|---|---|
| Mata uang | Krona Norwegia (NOK • KR) |
| Tahun fiskal | Tahun kalender |
| Organisasi perdagangan | EFTA, OECD, WTO, EEA, dan lainnya |
| Statistik | |
| PDB | |
| Pertumbuhan PDB | 1,5% (2024)[1] |
| PDB per kapita | |
| PDB per sektor | |
| Inflasi (IHK) | 3,3% (perk. 2024)[1] |
| Penduduk di bawah garis kemiskinan | |
| Koefisien gini | 24,4 rendah (2024)[4] |
| Angkatan kerja | |
| Angkatan kerja berdasarkan sektor | |
| Pengangguran | |
| Gaji kotor rata-rata | 63.644 kr/€5.401 per bulan[9][10] (2024) |
| Gaji bersih rata-rata | 45.772 kr/€3.882 per bulan[11][12] (2024) |
| Industri utama | |
| Eksternal | |
| Ekspor | US$102,8 miliar (perk. 2017)[2] |
| Komoditas ekspor | Minyak bumi dan produk minyak bumi, mesin dan peralatan, logam, bahan kimia, kapal, ikan |
| Tujuan ekspor utama | |
| Impor | US$95,06 miliar (perk. 2017)[2] |
| Komoditas impor | Mesin dan peralatan, bahan kimia, logam, bahan pangan |
| Negara asal impor utama | |
| Modal investasi langsung asing | |
| Utang kotor luar negeri |
|
| Pembiayaan publik | |
| Utang publik | 36,5% dari PDB (perk. 2017)[2][note 1] |
| Pendapatan | 217,1 miliar (perk. 2017)[2] |
| Beban | 199,5 miliar (perk. 2017)[2] |
| Bantuan ekonomi | US$4,0 miliar (donor), 1,1% dari PDB (2017) |
| Peringkat utang | |
| Cadangan mata uang asing | US$65,92 miliar (perk. 31 Desember 2017)[2] |


Norwegia memiliki perekonomian yang sangat maju dan berbentuk ekonomi campuran, dengan kepemilikan negara pada sektor-sektor strategis. Meskipun peka terhadap siklus bisnis global, ekonomi Norwegia tumbuh kuat sejak dimulainya era industri. Standar hidup negara ini sangat tinggi dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Industri manufaktur modern dan sistem kesejahteraan Norwegia ditopang oleh cadangan keuangan yang bersumber dari eksploitasi sumber daya alam, terutama minyak Laut Utara.[17][18][19][20][21] Di antara negara-negara OECD, Norwegia memiliki sistem jaminan sosial yang relatif efisien dan kuat. Belanja sosial pada 2022 berada di bawah rata-rata OECD, yakni sekitar 20,7% dari PDB.[22]
Sejarah
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Ekonomi Norwegia" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR (Maret 2025) |
Sebelum Revolusi Industri
Pada Zaman Viking, Norwegia merupakan negara termiskin di antara tiga kerajaan Skandinavia, selain Denmark dan Swedia.[23]
Sebelum Revolusi Industri, ekonomi Norwegia terutama bertumpu pada pertanian, kayu, dan perikanan. Penduduknya umumnya hidup dalam kekurangan yang cukup berat, meskipun kelaparan jarang terjadi. Di luar beberapa wilayah subur di Hedemarken dan Østfold, tanaman pangan terbatas pada serealia tahan cuaca seperti haver, gandum hitam, dan barli. Hewan ternak yang dipelihara meliputi domba, kambing, sapi, babi, serta sejumlah unggas, dan di beberapa tempat kebutuhan pangan juga dipenuhi melalui perburuan. Di Norwegia Tengah dan Norwegia Utara, Sámi menggantungkan hidup pada penggembalaan rusa kutub secara nomaden. Penangkapan ikan di sepanjang pesisir merupakan pekerjaan berbahaya, tetapi ikan seperti haring, kod, halibut, dan berbagai spesies perairan dingin tersedia melimpah. Kentang diperkenalkan ke Norwegia pada abad ke-18 atas dorongan para pendeta yang berpikiran praktis dan raja di Kopenhagen. Tanaman ini banyak membantu mengatasi kekurangan pangan dan kemudian menjadi makanan umum masyarakat Norwegia.
Di sepanjang pesisir, penangkapan ikan, termasuk kod, haring, halibut, dan spesies perairan dingin lainnya, menjadi pelengkap penting bagi pertanian. Di banyak wilayah utara dan barat, kegiatan tersebut bahkan merupakan sumber penghidupan utama rumah tangga. Penangkapan ikan biasanya disertai penanaman tanaman pangan dan peternakan di lahan pertanian kecil.
Kondisi ekonomi Norwegia tidak mendukung pembentukan sistem feodal, meskipun beberapa raja memberikan tanah kepada pengikut setia yang kemudian menjadi kesatria. Petani pemilik lahan merupakan, dan hingga kini tetap menjadi, tulang punggung pertanian Norwegia. Namun, menjelang abad ke-19, lahan pertanian yang tersedia mulai habis. Banyak keluarga petani jatuh miskin dan menjadi petani penyewa, sehingga mendorong emigrasi ke Amerika Utara. Setelah Irlandia, Norwegia menjadi negara dengan persentase penduduk yang hilang akibat emigrasi tersebut paling besar dibandingkan jumlah penduduknya.
Revolusi Industri
Selain kegiatan pertambangan di Kongsberg, Røros, dan Løkken, industrialisasi dimulai melalui pembangunan pabrik-pabrik tekstil pertama pada pertengahan abad ke-19. Perusahaan industri besar baru terbentuk setelah kebijakan para pengusaha mendorong pendirian bank untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Industri juga menyediakan pekerjaan bagi banyak orang yang tersingkir dari sektor pertanian. Karena upah industri melampaui upah pertanian, peralihan tenaga kerja ini mengawali tren jangka panjang berupa berkurangnya lahan garapan dan penduduk perdesaan. Kelas pekerja kemudian berkembang menjadi kelompok tersendiri di Norwegia, lengkap dengan lingkungan tempat tinggal, kebudayaan, dan politiknya.
Reformasi sosial demokrat
Setelah Perang Dunia II, Partai Buruh Norwegia di bawah Perdana Menteri Einar Gerhardsen menjalankan serangkaian reformasi sosial demokrat. Kebijakan tersebut bertujuan meratakan distribusi pendapatan, menghapus kemiskinan, menyediakan layanan sosial bagi seluruh penduduk, seperti pensiun, layanan kesehatan, dan tunjangan disabilitas, serta menempatkan lebih banyak modal nasional di bawah pengelolaan publik.
Pajak penghasilan yang sangat berat, pemberlakuan pajak pertambahan nilai, dan beragam pungutan serta pajak khusus menjadikan Norwegia salah satu perekonomian dengan beban pajak tertinggi di dunia. Pemerintah terutama mengenakan pajak atas pengeluaran diskresioner, termasuk pajak khusus terhadap mobil, tembakau, alkohol, kosmetik, dan barang lainnya.
Kebijakan sosial demokrat jangka panjang, pencatatan informasi yang luas oleh pemerintah, dan homogenitas penduduk Norwegia sangat mendukung kajian ekonomi. Penelitian akademis dari negara tersebut memberi sumbangan penting bagi bidang makroekonomi pada masa ini. Setelah Norwegia menjadi negara pengekspor minyak bumi, dampak ekonominya juga diteliti lebih lanjut.
Minyak bumi dan pascaindustrialisme
Negara pengekspor minyak
Pada Mei 1963, Norwegia menegaskan hak berdaulat atas sumber daya alam di wilayahnya di Laut Utara. Eksplorasi dimulai pada 19 Juli 1966 ketika Ocean Traveler mengebor sumur pertamanya.[24] Minyak pertama kali ditemukan pada 1967 di ladang minyak Balder, di sisi Utsira High, sekitar 190 km di sebelah barat Stavanger.[25] Eksplorasi awal tidak membuahkan hasil hingga Ocean Viking menemukan minyak pada 21 Agustus 1969.[24] Pada akhir 1969, keberadaan cadangan minyak dan gas yang besar di Laut Utara telah dipastikan.
Seusai referendum mengenai penolakan Norwegia untuk bergabung dengan Uni Eropa, Kementerian Perindustrian Norwegia di bawah pimpinan Ola Skjåk Bræk segera menyusun kebijakan energi nasional. Norwegia memutuskan tidak bergabung dengan OPEC, mempertahankan harga energi dalam negeri agar sejalan dengan pasar dunia, serta menggunakan pendapatan yang dijuluki "anugerah devisa" secara bijaksana. Pemerintah Norwegia mendirikan perusahaan minyak sendiri, Statoil (kini bernama Equinor), serta memberikan hak pengeboran dan produksi kepada Norsk Hydro dan Saga Petroleum yang baru dibentuk. Ekspor minyak bumi dikenai tarif marginal sebesar 78%, yang terdiri atas pajak perusahaan standar sebesar 24% dan pajak khusus minyak bumi sebesar 54%.[26]
Laut Utara menghadirkan banyak tantangan teknologi dalam produksi dan eksplorasi. Perusahaan-perusahaan Norwegia pun berinvestasi untuk membangun kemampuan yang diperlukan guna mengatasinya. Sejumlah perusahaan rekayasa dan konstruksi tumbuh dari sisa-sisa industri pembuatan kapal yang sebagian besar telah lenyap, lalu membentuk pusat-pusat keahlian di Stavanger dan kawasan pinggiran barat Oslo. Stavanger juga menjadi pangkalan darat bagi industri pengeboran lepas pantai. Produksi minyak Laut Utara kini telah melewati puncaknya. Ladang minyak dan gas baru ditemukan dan dikembangkan di wilayah Norwegia yang luas di Laut Norwegia dan Laut Barents, termasuk Snøhvit.
Keraguan terhadap keanggotaan Uni Eropa
Pada September 1972, Parlemen Norwegia mengadakan referendum untuk menentukan apakah Norwegia akan bergabung dengan Masyarakat Ekonomi Eropa. Usulan tersebut ditolak dengan selisih suara tipis. Pemerintah kemudian merundingkan perjanjian perdagangan dengan MEE agar perusahaan Norwegia memperoleh akses ke pasar Eropa. Seiring waktu, perjanjian itu dirundingkan kembali dan disempurnakan hingga Norwegia akhirnya bergabung dengan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa dan Wilayah Ekonomi Eropa.
Kebijakan perdagangan Norwegia telah lama diarahkan untuk menyelaraskan kebijakan industri dan perdagangannya dengan Uni Eropa. Namun, referendum baru pada 1994 menghasilkan keputusan yang sama seperti pada 1972. Norwegia tetap menjadi salah satu dari hanya dua negara Nordik di luar Uni Eropa, bersama Islandia.
Walaupun perdebatan publik mengenai keanggotaan Uni Eropa sangat memecah belah dan lebih banyak berpusat pada persoalan politik daripada ekonomi, perdebatan tersebut membentuk kebijakan ekonomi dalam beberapa hal penting:
- Politikus dan masyarakat menerima bahwa pembangunan ekonomi Norwegia bergantung pada pemanfaatan keunggulan komparatif melalui spesialisasi pada bidang-bidang ekspor tertentu dan impor untuk kebutuhan lainnya. Kenyataan ini sangat memengaruhi kebijakan pertanian Norwegia, yang kemudian diubah untuk mempertahankan pola persebaran penduduk alih-alih mencapai swasembada.
- Pendapatan minyak tidak dapat digunakan untuk membiayai konsumsi swasta maupun publik apabila Norwegia hendak mempertahankan kemakmurannya setelah cadangan minyak habis.
- Untuk berpartisipasi dalam pasar Eropa, Norwegia harus membuka pasar domestiknya bagi impor dari Eropa. Walaupun beberapa persoalan harga dan distribusi, misalnya alkohol dan mobil, belum terselesaikan, pasar konsumen, modal, dan tenaga kerja Norwegia semakin mendekati keadaan pasar Eropa secara umum.[butuh rujukan][butuh klarifikasi Harga di Norwegia sangat tinggi!]
Norwegia mengupayakan kelonggaran dalam sejumlah persoalan khusus, seperti produk budi daya ikan, hasil pertanian, dan standar emisi. Namun, tuntutan tersebut tampaknya tidak banyak berbeda dari yang diajukan anggota penuh Uni Eropa. Persoalan keanggotaan diperkirakan akan kembali diajukan melalui referendum pada masa mendatang.
Perkembangan ekonomi pascaindustri
Sejumlah persoalan mendominasi perdebatan mengenai ekonomi Norwegia sejak dasawarsa 1970-an:
- Biaya hidup. Norwegia termasuk negara termahal di dunia, sebagaimana tercermin dalam Indeks Big Mac dan berbagai indeks lainnya. Secara historis, kesenjangan harga disebabkan oleh biaya transportasi dan hambatan perdagangan bebas. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan Norwegia di bidang hubungan tenaga kerja, perpajakan, dan bidang lain juga memberi pengaruh besar.
- Daya saing industri "daratan". Biaya tenaga kerja yang tinggi dan ciri struktural lain dalam perekonomian Norwegia menimbulkan kekhawatiran mengenai kemampuan negara tersebut mempertahankan standar hidup pada era pascaminyak bumi. Terdapat kecenderungan nyata untuk menghentikan praktik "melindungi" industri tertentu (vernede industrier) dan semakin "membuka industri terhadap persaingan" (konkurranseutsettelse). Selain meningkatnya minat terhadap teknologi informasi, sejumlah perusahaan kecil dan menengah didirikan untuk mengembangkan serta memasarkan solusi teknologi yang sangat terspesialisasi.
- Peran sektor publik. Perbedaan ideologis antara pandangan sosialis dan nonsosialis mengenai kepemilikan publik semakin berkurang. Pemerintah Norwegia berupaya mengurangi kepemilikannya atas perusahaan yang memerlukan akses ke pasar modal swasta. Peran pemerintah juga semakin ditekankan pada fasilitasi kewirausahaan, bukan pengendalian atau pembatasan pembentukan modal. Ketidakpercayaan yang tersisa terhadap "motif keuntungan" tetap ada, sementara perusahaan Norwegia diatur secara ketat, terutama dalam hubungan tenaga kerja.
- Masa depan negara kesejahteraan. Sejak Perang Dunia II, pemerintah Norwegia silih berganti memperluas tunjangan publik bagi warga negara, termasuk tunjangan sakit dan disabilitas, jaminan pensiun minimum, layanan kesehatan universal yang disubsidi besar-besaran atau gratis, serta asuransi pengangguran. Kebijakan publik masih mendukung penyediaan tunjangan tersebut, tetapi perdebatan mengenai penyediaan yang lebih adil dan berbasis kebutuhan semakin menguat.
- Urbanisasi. Selama beberapa dasawarsa, kebijakan pertanian Norwegia didasarkan pada prinsip swasembada minimum. Belakangan, perhatian lebih besar diberikan pada upaya mempertahankan pola persebaran penduduk di luar kawasan perkotaan utama. Istilah "kebijakan distrik" (distriktspolitikk) kemudian merujuk pada tuntutan agar corak lama Norwegia yang sebagian besar bersifat perdesaan tetap dipertahankan, idealnya dengan menyediakan landasan ekonomi yang berkelanjutan bagi wilayah tersebut.
- Perpajakan. Artikel utama: Perpajakan di NorwegiaTujuan utama sistem perpajakan Norwegia ialah memperoleh pendapatan untuk membiayai pengeluaran publik. Sistem tersebut juga dipandang sebagai sarana mencapai tujuan sosial, seperti redistribusi pendapatan, pengurangan konsumsi alkohol dan tembakau, serta pemberian disinsentif terhadap perilaku tertentu. Tiga unsur sistem perpajakan paling banyak diperdebatkan:
- Pajak progresif. Tarif marginal tertinggi atas penghasilan pernah menjadi salah satu yang paling tinggi di dunia, tetapi kemudian diturunkan secara bertahap. Selain itu, penduduk Norwegia dikenai pajak atas kekayaan bersih yang dilaporkan, yang menurut sebagian pihak menghambat tabungan.
- Pajak pertambahan nilai. Pajak ini merupakan sumber pendapatan pemerintah terbesar. Tarif standar saat ini sebesar 25%, sedangkan makanan dan minuman dikenai tarif 15%, serta tiket bioskop dan angkutan umum 12%.
- Pungutan dan pajak khusus. Pemerintah mengenakan sejumlah pajak atas pembelian tertentu, termasuk mobil, alkohol, tembakau, dan berbagai jenis tunjangan.
- Svalbard. Penduduk Svalbard (Spitsbergen) membayar pajak lebih rendah berdasarkan Traktat Svalbard.
- Persoalan lingkungan. Sejumlah persoalan politik berawal dari kekhawatiran ekologis, termasuk kilang minyak di Mongstad dan pembangkit listrik tenaga air di Alta.
Peran kepemilikan negara
Negara Norwegia memiliki porsi kepemilikan yang besar pada sejumlah sektor industri utama, terutama yang berkaitan dengan sumber daya alam dan industri strategis. Kepemilikan tersebut mencakup sektor minyak bumi melalui Equinor, pembangkitan listrik tenaga air melalui Statkraft, produksi aluminium melalui Norsk Hydro, bank terbesar di Norwegia, DNB, serta penyedia telekomunikasi Telenor. Pemerintah menguasai sekitar 35% dari total nilai perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Oslo. Lima dari tujuh perusahaan tercatat terbesar di bursa itu sebagian sahamnya dimiliki negara.[27] Jika perusahaan yang tidak tercatat turut diperhitungkan, porsi kepemilikan negara menjadi lebih besar, terutama karena kepemilikan langsung atas lisensi minyak. Badan usaha milik negara menyerap 9,6% dari seluruh tenaga kerja di luar sektor pertanian. Angka ini meningkat menjadi hampir 13% apabila perusahaan dengan kepemilikan minoritas oleh negara turut dihitung, proporsi tertinggi di antara negara-negara OECD.[28] Baik perusahaan tercatat maupun tidak tercatat yang sebagian sahamnya dimiliki negara berorientasi pasar dan beroperasi dalam ekonomi pasar yang sangat terliberalisasi.[29]
Industri minyak dan gas berperan dominan dalam ekonomi Norwegia serta menjadi sumber pembiayaan bagi negara kesejahteraan melalui kepemilikan langsung atas ladang minyak, dividen dari saham Equinor, biaya lisensi, dan pajak. Industri ini merupakan penyumbang pendapatan pemerintah dan nilai tambah terbesar di Norwegia. Pengelolaan sektor tersebut dirancang agar eksplorasi, pengembangan, dan ekstraksi sumber daya minyak bumi menghasilkan nilai bagi seluruh masyarakat melalui perpajakan, perizinan, dan kepemilikan langsung oleh negara dalam sistem Kepentingan Keuangan Langsung Negara (SDFI). SDFI dibentuk pada 1985 dan mewakili kepemilikan negara pada sejumlah ladang minyak dan gas, jaringan pipa, fasilitas darat, serta 67% saham Equinor. Pendapatan pemerintah dari industri minyak bumi dialihkan ke Dana Pensiun Pemerintah Norwegia Global. Pemerintah tidak diperbolehkan menggunakan pokok dana tersebut untuk belanja publik dan hanya dapat membelanjakan pendapatan yang dihasilkan oleh modal dana itu.[30]
Tingginya kepemilikan negara didorong oleh berbagai alasan, terutama keinginan untuk mempertahankan kendali nasional atas pemanfaatan sumber daya alam. Keterlibatan langsung negara bermula sebelum abad ke-20 melalui penyediaan infrastruktur publik. Setelah Perang Dunia II, keterlibatan ini meluas pesat ke sektor industri dan usaha komersial setelah negara mengambil alih aset Jerman di sejumlah perusahaan manufaktur. Perluasan kepemilikan negara terbesar terjadi ketika Statoil didirikan pada 1972. Perusahaan industri dan komersial yang sebagian sahamnya dimiliki negara berorientasi pasar. Penerapan mekanisme pasar juga mencakup penyedia pelayanan publik, tidak hanya sektor industri.[29]
Data

Tabel berikut memuat indikator ekonomi utama pada 1980–2021, disertai perkiraan staf IMF untuk 2022–2027. Tingkat inflasi di bawah 5% ditandai dengan warna hijau.[31]
| Tahun | PDB
(miliar US$ KKB) |
PDB per kapita
(US$ KKB) |
PDB
(miliar US$ nominal) |
PDB per kapita
(US$ nominal) |
Pertumbuhan PDB
(riil) |
Tingkat inflasi
(persen) |
Pengangguran
(persen) |
Utang pemerintah
(% PDB) |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1980 | 60,6 | 14.799,8 | 64,4 | 15.746,3 | ▲10,9% | 1,7% | 47,7% | |
| 1981 | ▲13,6% | ▲2,0% | ||||||
| 1982 | ▲11,3% | ▲2,6% | ||||||
| 1983 | ▲8,5% | ▲3,4% | ||||||
| 1984 | ▲6,2% | |||||||
| 1985 | ▲5,7% | ▲36,9% | ||||||
| 1986 | ▲7,2% | ▲46,0% | ||||||
| 1987 | ▲8,7% | ▲2,1% | ||||||
| 1988 | ▲6,7% | ▲3,1% | ||||||
| 1989 | ▲4,9% | |||||||
| 1990 | ▲5,2% | |||||||
| 1991 | ▲5,5% | ▲39,2% | ||||||
| 1992 | ▲5,9% | ▲45,0% | ||||||
| 1993 | ▲53,7% | |||||||
| 1994 | ||||||||
| 1995 | ||||||||
| 1996 | ||||||||
| 1997 | ||||||||
| 1998 | ||||||||
| 1999 | ▲25,0% | |||||||
| 2000 | ▲3,4% | ▲28,7% | ||||||
| 2001 | ▲3,5% | |||||||
| 2002 | ▲3,9% | ▲34,0% | ||||||
| 2003 | ▲4,5% | ▲43,2% | ||||||
| 2004 | ▲44,0% | |||||||
| 2005 | ▲4,6% | |||||||
| 2006 | ▲52,8% | |||||||
| 2007 | ||||||||
| 2008 | ▲2,7% | |||||||
| 2009 | ▲3,3% | |||||||
| 2010 | ▲3,8% | ▲43,2% | ||||||
| 2011 | ||||||||
| 2012 | ▲31,1% | |||||||
| 2013 | ▲3,8% | ▲31,6% | ||||||
| 2014 | ||||||||
| 2015 | ▲4,5% | ▲34,5% | ||||||
| 2016 | ▲4,7% | ▲38,1% | ||||||
| 2017 | ▲38,6% | |||||||
| 2018 | ▲39,7% | |||||||
| 2019 | ▲40,9% | |||||||
| 2020 | ▲4,6% | ▲46,8% | ||||||
| 2021 | ||||||||
| 2022 | ||||||||
| 2023 | ||||||||
| 2024 | ||||||||
| 2025 | ||||||||
| 2026 | ||||||||
| 2027 |
Perusahaan
Pada 2022, jasa merupakan sektor dengan jumlah perusahaan terdaftar terbanyak di Norwegia, yakni 296.849 perusahaan. Posisi berikutnya ditempati sektor keuangan, asuransi, dan real estat dengan 118.411 perusahaan.[32]
Struktur ekonomi dan pertumbuhan berkelanjutan
Kemunculan Norwegia sebagai negara pengekspor minyak menimbulkan sejumlah persoalan dalam kebijakan ekonominya. Salah satu kekhawatiran ialah sebagian besar investasi modal manusia Norwegia terpusat pada industri terkait minyak bumi. Para pengkritik menilai struktur ekonomi Norwegia sangat bergantung pada sumber daya alam yang tidak memerlukan tenaga kerja terampil. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi rentan terhadap perubahan permintaan dan harga sumber daya tersebut. Dana Pensiun Pemerintah Norwegia merupakan salah satu dari sejumlah upaya untuk mengurangi risiko ketergantungan pada pendapatan minyak bumi.
Sejak ledakan minyak pada 1970-an, pemerintah hanya memiliki sedikit dorongan untuk membantu pengembangan industri baru di sektor swasta, berbeda dengan negara-negara Nordik lain seperti Swedia dan terutama Finlandia. Namun, dalam beberapa dasawarsa terakhir, pemerintah pusat dan daerah mulai memberikan insentif bagi pembentukan industri "daratan utama" baru yang mampu bersaing secara internasional. Selain bercita-cita mengembangkan industri teknologi tinggi, pemerintah semakin berminat mendorong pertumbuhan usaha kecil sebagai sumber lapangan kerja pada masa mendatang. Pada 2006, pemerintah Norwegia membentuk sembilan "pusat keahlian" untuk mendukung pertumbuhan usaha tersebut.[33] Pada Juni 2007, pemerintah turut mendirikan Oslo Cancer Cluster (OCC) sebagai pusat keahlian. Langkah ini memanfaatkan kenyataan bahwa 80% penelitian kanker di Norwegia dilakukan di sekitar Oslo dan sebagian besar perusahaan bioteknologi Norwegia berfokus pada kanker.[33]
Pertanian
Pengendalian hama
Informasi penggunaan pestisida di seluruh Norwegia tersedia dari Statistisk sentralbyrå.[34]
Resistensi antimikroba
Secara keseluruhan, risiko resistensi antimikroba dalam rantai pasok pangan dinilai "dapat diabaikan". Secara khusus, risiko yang berkaitan dengan sapi, susu dan produk susu, ikan, makanan laut, air minum, serta daging babi dianggap dapat diabaikan. Sebaliknya, kontak dengan babi hidup, termasuk selama pemeliharaan dan pengolahannya, unggas hidup, serta daging unggas menimbulkan risiko yang lebih dari sekadar dapat diabaikan.[35]
Dampak ekonomi perubahan iklim
Bagian ini kosong. Anda bisa membantu dengan melengkapinya. (Juli 2026) |
Variasi regional
| Wilayah | PDB per kapita 2015 | ||
|---|---|---|---|
| dalam euro | % dari rata-rata EU-28 | ||
| 29.000 | 100% | ||
| 46.300 | 160% | ||
| Terkaya | Oslo dan Akershus | 51.800 | 178% |
| Agder dan Rogaland | 40.600 | 140% | |
| Vestlandet | 39.400 | 136% | |
| Trøndelag | 35.500 | 122% | |
| Nord-Norge | 33.500 | 115% | |
| Sør-Østlandet | 30.000 | 103% | |
| Termiskin | Hedmark dan Oppland | 29.100 | 100% |
Sumber: Eurostat[36]
Lihat pula
Catatan
- 1 2 3 4 5 6 "World Economic Outlook (October 2024)". imf.org. Dana Moneter Internasional.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 "The World Factbook". CIA.gov. Badan Intelijen Pusat. Diarsipkan dari asli tanggal 14 Januari 2026. Diakses tanggal 29 Juni 2019.
- ↑ "People at risk of poverty or social exclusion". ec.europa.eu/eurostat (dalam bahasa Inggris). Eurostat.
- ↑ "Gini coefficient of equivalised disposable income – EU-SILC survey". ec.europa.eu/eurostat. Eurostat.
- 1 2 "Labor Force Survey". ssb.no. Statistisk sentralbyrå. Diakses tanggal 29 September 2020.
- ↑ "Employment rate by sex, age group 20-64". ec.europa.eu/eurostat. Eurostat. Diakses tanggal 20 Juli 2024.
- ↑ "Arbeidsledighet i Norge".
- ↑ "Unemployment rate by age group". data.oecd.org. OECD. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Maret 2023. Diakses tanggal 8 September 2020.
- ↑ Taxing Wages 2024: Tax and Gender through the Lens of the Second Earner | Baca daring.
- ↑ Taxing Wages 2024: Tax and Gender through the Lens of the Second Earner | OECD iLibrary.
- ↑ Taxing Wages 2024: Tax and Gender through the Lens of the Second Earner | Baca daring.
- ↑ Taxing Wages 2024: Tax and Gender through the Lens of the Second Earner | OECD iLibrary.
- 1 2 SSB, https://www.ssb.no/utenriksokonomi/utenrikshandel/statistikk/utenrikshandel-med-varer/artikler/norges-viktigste-handelspartnere, 2023
- ↑ "Sovereigns rating list". Standard & Poor's. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 September 2011. Diakses tanggal 26 Mei 2011.
- 1 2 3 Rogers, Simon; Sedghi, Ami (15 April 2011). "How Fitch, Moody's and S&P rate each country's credit rating". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Agustus 2013. Diakses tanggal 31 Mei 2011.
- ↑ "Scope affirms the Kingdom of Norway's AAA rating with Stable Outlook". Scope Ratings. Diakses tanggal 1 Agustus 2025.
- ↑ The economic effects of north sea oil on the manufacturing sector Diarsipkan 2 Februari 2014 di Wayback Machine. Hilde Christiane Bjørnland
- ↑ Overview of the Norwegian oil and gas sector Diarsipkan 23 Mei 2013 di Wayback Machine. Embassy of Denmark, Oslo
- ↑ "Salinan arsip" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 20 Juni 2013. Diakses tanggal 28 Desember 2012.
- ↑ The Oil Industry and Government Strategy in the North Sea Øystein Noreng
- ↑ "The rich cousin". The Economist. 1 Februari 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Februari 2013. Diakses tanggal 1 Februari 2013.
- ↑ "Social Expenditure – Aggregated data". Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi.
- ↑ Bagge, Sverre (2010). From Viking Stronghold to Christian Kingdom: State Formation in Norway, c. 900-1350 (dalam bahasa Inggris). Museum Tusculanum Press. hlm. 70. ISBN 978-87-635-0791-2.
- 1 2 "Norway's petroleum history". www.norskoljeoggass.no (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 27 Juli 2022. Diakses tanggal 12 April 2022.
- ↑ Riber, Lars; Dypvik, Henning; Sørlie, Ronald (2015). "Altered basement rocks on the Utsira High and its surroundings, Norwegian North Sea" (PDF). Norwegian Journal of Geology. 95 (1): 57–89. Diakses tanggal 3 Februari 2018.
- ↑ "Norway – Corporate – Taxes on corporate income". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Januari 2018. Diakses tanggal 14 Januari 2018.
- ↑ Lie, Einar (6 April 2016). "Context and Contingency: Explaining State Ownership in Norway". Enterprise & Society. 17 (4): 904–930. doi:10.1017/eso.2016.18. S2CID 157325276.
- ↑ Korin Kane (17 September 2018). "The Size and Sectoral Distribution of State-Owned Enterprises" (PDF). oecd.org. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.
- 1 2 "Norway – Marketisation of Government Services State-Owned Enterprises" (PDF). oecd.org. 2003. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.
- ↑ "The Government's Revenues". Norwegian Petroleum. 15 Mei 2019. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.
- ↑ "Report for Selected Countries and Subjects".
- ↑ "Industry Breakdown of Companies in Norway". HitHorizons.
- 1 2 Aldridge 2008
- ↑ "Pesticide use". Statistisk sentralbyrå. 27 September 2016. Diakses tanggal 22 Juli 2021.
- ↑ Yazdankhah, Siamak; Grahek-Ogden, Danica; Hjeltnes, Brit; Langsrud, Solveig; Lassen, Jørgen; Norström, Madelaine; Sunde, Marianne; Eckner, Karl; Kapperud, Georg; Narvhus, Judith; Nesbakken, Truls; Robertson, Lucy; Rosnes, Jan Thomas; Skjerdal, Olaug Taran; Skjerve, Eystein; Vold, Line; Wasteson, Yngvild; Komite Ilmiah Norwegia untuk Keamanan Pangan (3 November 2014). Assessment of Antimicrobial Resistance in the Food Chains in Norway (Rep. No. 2015:29). Norwegian Scientific Committee for Food and Environment [Vitenskapskomiteen for mat og miljø]. ISBN 978-82-8259-184-3.
- ↑ Gross domestic product (GDP) at current market prices by NUTS 2 regions Diarsipkan 24 Oktober 2017 di Wayback Machine. Eurostat
- ↑ data mencakup utang pemerintah umum dan instrumen utang yang diterbitkan (atau dimiliki) oleh badan pemerintah selain perbendaharaan; data tidak mencakup utang perbendaharaan yang dimiliki badan asing; data juga tidak mencakup utang yang diterbitkan badan pemerintahan subnasional maupun utang antarbadan pemerintah; utang antarbadan pemerintah terdiri atas pinjaman perbendaharaan dari surplus dana sosial, seperti dana pensiun, layanan kesehatan, dan pengangguran; instrumen utang bagi dana sosial tidak dijual melalui lelang umum
Referensi dan bacaan lebih lanjut
- Aldridge, Susan (1 Juni 2008), "Norway's Oncology Efforts are Coalescing", Genetic Engineering & Biotechnology News, Clinical Research & Diagnostics, vol. 28, no. 11, Mary Ann Liebert, Inc., hlm. 58, 60, ISSN 1935-472X, OCLC 77706455, diarsipkan dari asli tanggal 26 April 2012, diakses tanggal 3 Januari 2010
- Dackling, Martin. "Traditional or modern peasants? odelsrett and bördsrätt in parliamentary debates, 1810–1860" Scandinavian Journal of History 46.1 (2021): 63-83. daring
- Eitrheim, Øyvind, Jan Tore Klovland, dan Lars Fredrik Øksendal. A monetary history of Norway, 1816–2016 (Cambridge University Press, 2016).
- Grytten, Ola. "Revising growth history: new estimates of GDP for Norway, 1816–2019" Economic History Review (Februari 2022, 75#hlm. 181–20 kutipan
- Grytten, Ola Honningdal. "Revising price history: consumer price index for Norway 1492–2018." Scandinavian Economic History Review 68.2 (2020): 129-144. daring
- Hutchison, Ragnhild. "Exploring an early cross-border trade system: Norwegian copper in the 18th century." Scandinavian Journal of History 44.3 (2019): 261-286.
- Ikonomou, Haakon A., dan Christos Tsakas. "Crisis, capitalism and common policies: Greek and Norwegian responses to common shipping policy efforts in the 1960s and 1970s." European Review of History: Revue européenne d'histoire 26.4 (2019): 636-657. daring Diarsipkan 6 Agustus 2022 di Wayback Machine.
- Loftsgarden, Kjetil. "Mass Production and Mountain Marketplaces in Norway in the Viking and Middle Ages." Medieval Archaeology 64.1 (2020): 94-115 daring.
- Nelsen, Brent F. "Explaining Petroleum Policy in Britain and Norway, 1962‐90." Scandinavian political studies 15.4 (1992): 307-328. daring
- Stenersen, Øivind dan Ivar Libæk. History of Norway from the Ice Age to the Oil Age (edisi ke-3, Dinamo Forlag 2007), ISBN 9788250418523
- Vinje, Victor Condorcet. The Versatile Farmers of the North; The Struggle of Norwegian Yeomen for Economic Reforms and Political Power, 1750–1814 (Nisus Publications, 2014) ).
Pranala luar
- Sejarah ekonomi Norwegia Diarsipkan 28 Oktober 2013 di Wayback Machine., EH.Net Encyclopedia of Economic and Business History, artikel 16 Maret 2008 oleh sejarawan bisnis Ola Honningdal Grytten, profesor di Sekolah Ekonomi dan Administrasi Bisnis Norwegia
- Sebagian yang cukup besar dari artikel ini disalin dari Biro Urusan Publik Amerika Serikat, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, ikhtisar negara Norwegia.
- Norwegia dalam CIA World Factbook
- Statistisk sentralbyrå
- Situs web OECD untuk Norwegia
- Survei Ekonomi OECD untuk Norwegia
- Ringkasan Statistik Perdagangan Norwegia oleh Bank Dunia
- Tarif yang diberlakukan Norwegia sebagaimana dicantumkan dalam Akses Pasar ITC milik ITC Diarsipkan 1 Desember 2024 di Wayback Machine., sebuah basis data daring mengenai tarif bea cukai dan persyaratan pasar