Sebagian besar negara berkembang merupakan negara yang pernah mengalami penjajahan. Kondisi ini menyebabkan sistem perekonomian di negara berkembang umumnya masih menerapkan sistem perekonomian kolonial atau ekonomi tradisional. Pola perdagangan internasional di negara berkembang masih mengutamakan kegiatabn ekspor dalam sektor primer. Barang hasil produksi umumnya meliputi hasil usaha tani, pertambangan, dan kehutanan. Selain itu, bentuk barang umumnya masih berupa bahan baku yang masih perlu diolah sebelum digunakan.[4]
Penghambat
Revolusi industri
Perkembangan sektor primer umumnya dihambat oleh adanya revolusi industri di suatu negara. Terjadinya revolusi industri menimbulkan kegiatan-kegiatan pembangunan yang berubah-ubah seiring dengan perkembangan pembangunan. Kegiatan pembangunan yang berubah-ubah kemudian meningkatkan jumlah investasi yang diperlukan dalam pembangunan. Perkembangan pembangunan sebaliknya mengurangi atau menghambat pengembangan sektor primer khususnya sektor pertanian. Selain itu, sektor pertanian juga mengalami tekanan kerja yang tinggi guna memenuhi kebutuhan pembangunan.[5]
Transformasi struktural
Peran sektor primer umumnya berkurang pada masa peralihan sistem perekonomian dari ekonomi tradisional menjadi ekonomi modern. Peralihan ini deikenal sebagai fenomena transformasi struktural. Kegiatan ekonomi beralih dari sektor primer menuju ke sektor sekunder hingga ke sektor tersier. Pengurangan peran ditandai dengan beralihnya tenaga kerja dan investasi dari sektor primer menuju ke sektor sekunder atau tersier. Pengurangan peran pada sektor primer merupakan salah satu metode pencapaian pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan transformasi struktural. Tenaga kerja dialihkan dari sektor dengan produktivitas rendah ke sektor dengan produktivitas tinggi.[6]
↑Digdowiseiso, Kumba (2019). Sugiyanto, Eko (ed.). Teori Pembangunan(PDF). Jakarta Selatan: Lembaga Penerbitan Universitas Nasional. hlm.44–45. ISBN978-623-7376-40-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)