Definisi lain menyebutkan bahwa beban kerja adalah representasi hipotetis dari “biaya” yang dikeluarkan operator manusia untuk mencapai tingkat kinerja tertentu, baik dari sisi mental maupun fisik[21][22].
Pengukuran dan Karakteristik Beban Kerja
Pengukuran beban kerja mencakup penilaian terhadap tuntutan kognitif dan fisik yang dihadapi pekerja selama menjalankan tugas, serta dampaknya terhadap kinerja dan kepercayaan operator[27]. Beban kerja dapat diukur secara kuantitatif melalui volume (jumlah tugas) dan kecepatan (tuntutan waktu) pekerjaan[28]. Selain itu, beban kerja juga dapat dikarakterisasi berdasarkan frekuensi, komposisi, intensitas, dan sumber daya yang dibutuhkan[29].
Praktik HRM yang efektif mencakup koordinasi tugas yang lebih terstruktur dan perluasan jumlah staf untuk mendistribusikan beban kerja, yang dapat membantu mengurangi stres karyawan dan risiko penularan penyakit[30]. dampak peningkatan beban kerja terhadap manajemen sumber daya manusia di apotek komunitas selama pandemi COVID-19 di Iran: (1) Organisasi menghadapi tantangan dengan tekanan psikologis staf, kelelahan, dan kurangnya jaminan pekerjaan akibat lonjakan kunjungan pelanggan dan jam kerja yang diperpanjang (2) Organisasi merespons dengan menyesuaikan tugas staf, memberikan deskripsi pekerjaan tertulis, membagi tugas berdasarkan tingkat stres, dan mengurangi jam kerja untuk meringankan tekanan beban kerja (3) Organisasi juga memberikan insentif keuangan, kenaikan gaji, dan pelatihan terkait pandemi untuk mendukung kesejahteraan staf (4) Rekomendasi diberikan mencakup memastikan kecukupan staf, mendistribusikan tanggung jawab secara tepat, serta menyediakan mekanisme dukungan psikososial dan keuangan untuk melindungi kesejahteraan apoteker selama krisis.
Manajer perlu menilai tingkat beban kerja relatif di antara para bawahan untuk melakukan penugasan ulang tugas, mengevaluasi kinerja dengan lebih baik, dan membuat keputusan MSDM yang tepat. Saran untuk meminimalkan kesalahan manusia mencakup mengintegrasikan empati dalam MSDM, menyediakan beban kerja yang dapat dikelola, pelatihan di tempat kerja (on-job training), dan memastikan ketersediaan staf cadangan untuk menjaga kualitas dan keselamatan[31]. Dalam lingkungan industri, MSDM harus mengelola beban kerja yang berkaitan dengan keputusan shift, alokasi tugas, dan kapasitas produksi, karena hal-hal tersebut merupakan sumber stres dan konflik[32]. Masalah Alokasi Sumber Daya Manusia (Human Resource Allocation Problem, HRAP) perlu diperbarui untuk beradaptasi dengan Industri 4.0 dan persyaratan baru yang dibawanya. Salah satu dampak utama Industri 4.0 pada MSDM adalah perlunya menyeimbangkan beban kerja di antara orang-orang.
Dalam konteks MSDM, beban kerja yang kompleks dan banyak, seperti pengelolaan absensi, penggajian, dan rekrutmen, dapat membuat staf hanya memiliki waktu terbatas untuk fokus pada manajemen strategis SDM, sehingga menghambat pencapaian tujuan strategis organisasi[33]. Departemen SDM bertanggung jawab atas berbagai tugas seperti kehadiran karyawan, perhitungan dan pembayaran gaji, serta rekrutmen personel. Beban kerja yang berat ini berarti staf SDM memiliki waktu yang terbatas untuk fokus pada tujuan strategis SDM, yang tidak kondusif bagi pengembangan keseluruhan perusahaan[32][33].