ENSIKLOPEDIA
Ekonomi Denmark
| Ekonomi Denmark | |
|---|---|
Kopenhagen merupakan pusat ekonomi Denmark | |
| Mata uang | Krone Denmark (DKK, kr) |
| Tahun fiskal | tahun kalender |
| Organisasi perdagangan | UE, WTO, OECD, dan organisasi lainnya |
| Statistik | |
| PDB | |
| Pertumbuhan PDB |
|
| PDB per kapita | |
| PDB per sektor |
|
| Inflasi (IHK) |
|
| Penduduk di bawah garis kemiskinan | |
| Koefisien gini | 28,6 rendah (2024)[6] |
| Angkatan kerja | |
| Angkatan kerja berdasarkan sektor |
|
| Pengangguran | |
| Gaji kotor rata-rata | DKK 51.675 / €6.919 per bulan (2024)[12] |
| Gaji bersih rata-rata | DKK 34.849 / €4.666 per bulan (2024) |
| Industri utama | Turbin angin, farmasi, peralatan medis, pembuatan dan perbaikan kapal, besi, baja, logam nonbesi, bahan kimia, pengolahan pangan, mesin dan peralatan transportasi, tekstil dan pakaian, elektronik, konstruksi, furnitur, serta produk kayu lainnya |
| Eksternal | |
| Ekspor | US$234,2 miliar (2021)[13] |
| Komoditas ekspor | Turbin angin, produk farmasi, mesin dan instrumen, daging dan produk olahannya, produk susu, ikan, furnitur, dan produk desain |
| Tujuan ekspor utama |
|
| Impor | US$208,1 miliar (perkiraan 2021)[13] |
| Komoditas impor | Mesin dan peralatan, bahan mentah dan barang setengah jadi untuk industri, bahan kimia, serealia dan bahan pangan, serta barang konsumsi |
| Negara asal impor utama |
|
| Modal investasi langsung asing | |
| Utang kotor luar negeri | US$484,8 miliar (2016)[13] |
| Pembiayaan publik | |
| Utang publik | |
| Pendapatan | 53,3% dari PDB (2019)[14] |
| Beban | 49,6% dari PDB (2019)[14] |
| Bantuan ekonomi |
|
| Peringkat utang |
|
| Cadangan mata uang asing | US$75,25 miliar (2017)[13] |
Ekonomi Denmark memiliki perekonomian pasar sosial modern yang maju dan berpendapatan tinggi. Sektor jasa mendominasi perekonomian dan menyerap sekitar 80% tenaga kerja, sedangkan sekitar 11% bekerja di sektor manufaktur dan 2% di bidang pertanian. Pendapatan nasional bruto nominal per kapita mencapai US$68.827 pada 2023, tertinggi kesembilan di dunia. Denmark menerapkan Model Nordik, yang ditandai oleh tingkat pajak yang tinggi menurut standar internasional dan layanan pemerintah yang luas, termasuk layanan kesehatan, pengasuhan anak, dan pendidikan. Pemerintah juga memberikan transfer pendapatan kepada berbagai kelompok, seperti pensiunan, penyandang disabilitas, penganggur, dan pelajar.
Setelah disesuaikan menurut keseimbangan kemampuan berbelanja, pendapatan per kapita Denmark mencapai Int$57.781, tertinggi ke-10 di dunia.[19] Distribusi pendapatannya relatif merata, meskipun ketimpangan meningkat selama beberapa dasawarsa terakhir.[20] Pada 2017, Denmark mencatat koefisien Gini ketujuh terendah di antara 28 negara anggota Uni Eropa saat itu.[21] Dengan jumlah penduduk 5.932.654 jiwa pada 1 Januari 2023,[22] Denmark memiliki perekonomian nasional terbesar ke-38 di dunia berdasarkan produk domestik bruto nominal dan terbesar ke-52 berdasarkan keseimbangan kemampuan berbelanja. Di antara negara anggota OECD, Denmark mempunyai sistem jaminan sosial yang kuat dan efisien. Belanja sosialnya mencapai sekitar 26,2% dari PDB.[23][24][25]
Denmark telah lama menerapkan sistem nilai tukar tetap dan masih mempertahankannya hingga kini. Denmark merupakan satu-satunya negara OECD yang menerapkan sistem tersebut sambil tetap menggunakan mata uang nasional tersendiri, yaitu krone Denmark, yang dipatok terhadap euro.[26] Meskipun memenuhi syarat untuk bergabung dengan Persatuan Ekonomi dan Moneter Uni Eropa, para pemilih Denmark menolak penggantian krone dengan euro dalam referendum tahun 2000. Negara-negara di sekitarnya, seperti Norwegia, Swedia, Polandia, dan Britania Raya, umumnya menerapkan penargetan inflasi dalam kebijakan moneternya. Sebaliknya, bank sentral Denmark memprioritaskan kestabilan nilai tukar sehingga tidak berperan dalam kebijakan stabilisasi domestik.
Dibandingkan negara lain, proporsi penduduk Denmark yang masuk angkatan kerja tergolong besar, terutama karena tingginya tingkat partisipasi perempuan. Pada 2017, sebanyak 78,8% penduduk berusia 15–64 tahun aktif di pasar tenaga kerja, angka tertinggi keenam di antara negara anggota OECD. Tingkat pengangguran sebesar 4,8% juga tergolong rendah dibandingkan negara-negara Eropa lainnya, yang rata-rata mencatat tingkat pengangguran 6,7%.[27] Pasar tenaga kerja Denmark secara tradisional ditandai oleh tingkat keanggotaan serikat pekerja yang tinggi dan cakupan perjanjian kerja bersama yang luas. Pemerintah mengalokasikan dana besar bagi kebijakan pasar tenaga kerja aktif, sementara konsep flexicurity, yaitu perpaduan fleksibilitas pasar tenaga kerja dan jaminan keamanan ekonomi, telah lama menjadi unsur penting dalam sistem ketenagakerjaan negara tersebut.
Sejarah

Perkembangan ekonomi Denmark dalam jangka panjang pada umumnya mengikuti pola yang serupa dengan negara-negara lain di Eropa Barat Laut. Sepanjang sebagian besar sejarahnya, Denmark merupakan negara agraris dengan mayoritas penduduk hidup pada tingkat subsistensi. Sejak abad ke-19, negara ini mengalami perkembangan teknologi dan kelembagaan yang pesat. Taraf hidup material meningkat dengan laju yang sebelumnya belum pernah terjadi, sementara Denmark berkembang menjadi negara industri dan kemudian masyarakat dengan ekonomi pasar modern.[28]
Hampir seluruh wilayah daratan Denmark dapat digunakan untuk pertanian. Tidak seperti sebagian besar negara tetangganya, Denmark tidak mempunyai cadangan mineral atau bahan bakar fosil yang dapat ditambang, kecuali minyak bumi dan gas alam di Laut Utara yang baru berperan dalam perekonomian sejak dasawarsa 1980-an. Di sisi lain, garis pantai yang panjang memberi Denmark keuntungan logistik. Tidak ada tempat di daratan Denmark yang berjarak lebih dari 50 kilometer dari laut. Kondisi ini sangat penting sebelum Revolusi Industri, ketika angkutan laut lebih murah daripada angkutan darat.[29] Oleh sebab itu, perdagangan luar negeri selalu berperan penting dalam perkembangan ekonomi Denmark.

Perdagangan dengan wilayah lain telah berlangsung sejak Zaman Batu.[30] Meskipun hingga abad ke-19 kontribusinya terhadap keseluruhan nilai tambah Denmark masih sangat kecil, perdagangan berpengaruh besar terhadap perkembangan ekonomi. Perdagangan memungkinkan Denmark memperoleh barang impor penting, seperti logam, serta membawa pengetahuan dan keterampilan teknologi baru melalui pertukaran barang dengan negara lain. Pertumbuhan perdagangan juga mendorong spesialisasi dan meningkatkan kebutuhan akan alat pembayaran. Koin Denmark tertua yang diketahui berasal dari masa pemerintahan Svend Tveskæg sekitar tahun 995.[31]

Kemajuan teknologi pelayaran memungkinkan para pedagang mengitari Jutlandia dan berlayar langsung menuju Laut Baltik. Kapal perang Denmark memungut Bea Øresund dari para pedagang yang sebagian besar berasal dari Belanda sebagai imbalan atas perlindungan. Sebelum pertengahan abad ke-17, para penguasa Nordik menyambut pedagang Belanda karena jasa pelayaran mereka yang efisien dan aliran investasi yang mendorong perkembangan industri.[32] Menurut sejarawan ekonomi Angus Maddison, sekitar tahun 1600 Denmark merupakan negara termakmur keenam di dunia. Jumlah penduduknya relatif kecil dibandingkan luas lahan pertanian yang dapat digarap sehingga para petani tergolong makmur. Sejak abad ke-16, Denmark juga terletak dekat dengan pusat-pusat ekonomi Eropa yang paling dinamis, yaitu Belanda, Jerman bagian utara, dan Britania. Meskipun demikian, sekitar 80–85% penduduk masih tinggal di desa-desa kecil dan hidup secara subsisten.[29]
Merkantilisme menjadi doktrin ekonomi utama Denmark pada abad ke-17 dan ke-18.[33] Kebijakan ini mendorong pembentukan monopoli seperti Asiatisk Kompagni, pembangunan infrastruktur fisik dan keuangan, pendirian bank pertama Denmark, Kurantbanken, pada 1736, serta pembentukan kreditforening, sejenis lembaga kredit perumahan, pada 1797. Pada masa yang sama, Denmark memperoleh sejumlah koloni kecil, termasuk Tranquebar.[34]
Pada akhir abad ke-18, Denmark melaksanakan reformasi pertanian besar yang membawa perubahan struktural mendasar.[29][35] Namun, Perang Napoleon menyebabkan Kopenhagen kehilangan kedudukannya sebagai pusat perdagangan dan keuangan internasional.[36] Dalam bidang politik, pemikiran liberal secara bertahap menggantikan merkantilisme di kalangan elite penguasa. Setelah reformasi moneter pasca-Perang Napoleon, bank sentral Denmark saat ini, Danmarks Nationalbank, didirikan pada 1818.
Data neraca nasional Denmark tersedia sejak 1820 berkat karya perintis sejarawan ekonomi Denmark Svend Aage Hansen.[37] Data tersebut menunjukkan bahwa sejak 1820 Denmark mengalami pertumbuhan ekonomi yang besar dan berkelanjutan, meskipun lajunya berfluktuasi. Selama 1822–1894, pendapatan faktor produksi rata-rata tumbuh 2% per tahun atau 0,9% per kapita. Sejak sekitar 1830, sektor pertanian mengalami masa pertumbuhan pesat selama beberapa dasawarsa melalui produksi dan ekspor biji-bijian. Britania menjadi salah satu pasar terpenting setelah negara itu menghapus bea impor biji-bijian pada 1846. Ketika produksi biji-bijian semakin kurang menguntungkan pada paruh kedua abad tersebut, petani Denmark berhasil mengalihkan kegiatan mereka dari produksi tanaman ke peternakan. Peralihan ini memicu periode pertumbuhan baru.[29] Industrialisasi mulai berkembang secara bersamaan sejak dasawarsa 1870-an. Pada pergantian abad, sektor industri, termasuk kerajinan, menjadi sumber penghidupan bagi hampir 30% penduduk.[38]
Sepanjang abad ke-20, arti penting pertanian secara bertahap menurun dibandingkan industri.[35] Namun, jumlah pekerja industri baru melampaui pekerja pertanian pada dasawarsa 1950-an. Paruh pertama abad tersebut ditandai oleh dua perang dunia dan Depresi Besar pada dasawarsa 1930-an. Seusai Perang Dunia II, Denmark semakin terlibat dalam kerja sama internasional dengan bergabung bersama OECD, IMF, WTO, dan sejak 1972 Masyarakat Ekonomi Eropa, yang kemudian menjadi Uni Eropa. Perdagangan luar negeri meningkat pesat dibandingkan PDB. Peran ekonomi sektor publik juga bertambah besar, sementara struktur ekonomi secara bertahap beralih dari industri menuju sektor jasa. Periode 1958–1973 mencatat pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dasawarsa 1960-an menjadi periode dengan pertumbuhan PDB riil per kapita tertinggi yang pernah tercatat, yakni rata-rata 4,5% per tahun.[39]

Denmark mengalami krisis pada dasawarsa 1970-an yang bermula dari krisis minyak 1973 dan menimbulkan fenomena stagflasi, yang sebelumnya belum pernah dialami. Selama beberapa dasawarsa berikutnya, perekonomian Denmark menghadapi sejumlah persoalan keseimbangan, yaitu pengangguran tinggi, defisit transaksi berjalan, inflasi, dan utang pemerintah. Sejak dasawarsa 1980-an, kebijakan ekonomi semakin berorientasi jangka panjang. Berbagai reformasi struktural kemudian secara bertahap mengatasi permasalahan tersebut. Pada 1994, pemerintah memperkenalkan kebijakan pasar tenaga kerja aktif. Kebijakan ini, bersama serangkaian reformasi pasar tenaga kerja, membantu menurunkan pengangguran struktural secara signifikan.[40] Serangkaian reformasi pajak sejak 1987 mengurangi pengurangan pajak atas pembayaran bunga. Selain itu, sejak dasawarsa 1990-an, program pensiun wajib berbasis pasar tenaga kerja dengan pendanaan sendiri semakin penting. Kedua perubahan ini secara nyata meningkatkan tabungan swasta dan mengubah defisit transaksi berjalan yang berkepanjangan menjadi surplus. Penetapan kebijakan nilai tukar tetap yang konsisten dan lebih kredibel pada 1982 juga membantu menurunkan inflasi.
Pada dasawarsa pertama abad ke-21, muncul sejumlah persoalan baru dalam kebijakan ekonomi. Kesadaran bahwa perubahan demografi, terutama meningkatnya harapan hidup, dapat mengancam keberlanjutan fiskal dan menimbulkan defisit besar pada dasawarsa mendatang mendorong tercapainya kesepakatan politik penting pada 2006 dan 2011. Kedua kesepakatan tersebut secara bertahap menaikkan usia kelayakan untuk menerima pensiun hari tua publik. Berkat perubahan ini, masalah keberlanjutan fiskal Denmark secara umum dianggap telah teratasi sejak 2012.[41] Perhatian dalam perdebatan publik kemudian beralih kepada melambatnya pertumbuhan produktivitas serta meningkatnya ketimpangan dalam distribusi pendapatan dan kemampuan konsumsi.
Resesi Besar global pada akhir dasawarsa 2000-an, disusul krisis utang kawasan euro, memengaruhi perekonomian Denmark selama beberapa tahun. Hingga 2017, tingkat pengangguran secara umum dianggap masih berada di atas tingkat strukturalnya sehingga perekonomian relatif mengalami stagnasi apabila ditinjau dari siklus bisnis. Sejak 2017–2018, keadaan tersebut tidak lagi dianggap berlaku dan perhatian beralih kepada upaya mencegah kemungkinan terjadinya pemanasan ekonomi.
Pada 2022, kepopuleran obat penurun berat badan Ozempic dan Wegovy produksi Novo Nordisk mulai berpengaruh besar terhadap perekonomian Denmark. Industri farmasi menyumbang dua pertiga pertumbuhan ekonomi pada tahun tersebut serta 1,7 poin persentase dari pertumbuhan tahunan sebesar 1,9% pada kuartal pertama 2023. Hingga Agustus 2023[update], kapitalisasi pasar Novo Nordisk, terbesar kedua di Eropa setelah LVMH, telah melampaui nilai seluruh perekonomian nasional Denmark. Perusahaan tersebut juga menjadi pembayar pajak perusahaan terbesar kepada negara. Para ekonom memperdebatkan perlunya pemerintah menerbitkan data ekonomi yang memasukkan dan mengecualikan Novo Nordisk. Karena pertumbuhan ekonomi yang besar tidak disertai peningkatan lapangan kerja dalam skala serupa, data yang memasukkan perusahaan itu dinilai menyesatkan dalam menggambarkan siklus bisnis Denmark. Sejumlah pihak juga mengkhawatirkan ketergantungan berlebihan terhadap Novo Nordisk, serupa dengan ketergantungan Finlandia terhadap Nokia, atau kemungkinan keberhasilan perusahaan tersebut menimbulkan penyakit Belanda.[42]
Pendapatan, kekayaan, dan distribusi pendapatan
Pendapatan per kapita Denmark tergolong tinggi dibandingkan negara-negara lain. Menurut Bank Dunia, pendapatan nasional bruto per kapita Denmark pada 2017 mencapai US$55.220, tertinggi kesepuluh di dunia. Setelah disesuaikan berdasarkan keseimbangan kemampuan berbelanja, pendapatan per kapita mencapai Int$52.390 dan menempati peringkat ke-16 di antara 187 negara.[19]
Tingkat tabungan rumah tangga Denmark meningkat pesat selama tiga dasawarsa terakhir. Perubahan ini sebagian besar dipengaruhi oleh dua perkembangan kelembagaan. Pertama, serangkaian reformasi pajak sepanjang 1987–2009 secara signifikan mengurangi subsidi efektif terhadap utang swasta yang terkandung dalam ketentuan pengurangan pajak atas pembayaran bunga rumah tangga. Kedua, skema pensiun wajib dengan pendanaan mulai diberlakukan bagi sebagian besar pekerja sejak 1990-an.[43] Kekayaan yang dikelola dana pensiun Denmark terus bertambah hingga mencapai dua kali lipat PDB pada 2016.[44] Kekayaan pensiun pun berperan penting dalam siklus kehidupan rumah tangga Denmark maupun perekonomian nasional. Sebagian besar dana tersebut diinvestasikan di luar negeri sehingga menghasilkan pendapatan modal asing yang cukup besar.
Pada 2015, rata-rata aset rumah tangga bernilai lebih dari 600% pendapatan siap dibelanjakan. Di antara negara-negara OECD, proporsi ini hanya lebih rendah daripada Belanda. Pada saat yang sama, rata-rata utang bruto rumah tangga mencapai hampir 300% dari pendapatan siap dibelanjakan, juga termasuk yang tertinggi di OECD. Dengan demikian, neraca rumah tangga Denmark jauh lebih besar dibandingkan sebagian besar negara lain. Danmarks Nationalbank, bank sentral Denmark, mengaitkan keadaan ini dengan sistem keuangan yang telah berkembang dengan baik.[45]
Ketimpangan pendapatan
Ketimpangan pendapatan di Denmark secara tradisional tergolong rendah. Menurut data OECD, Denmark memiliki koefisien Gini terendah di dunia pada 2000.[46] Meskipun demikian, ketimpangan meningkat selama beberapa dasawarsa terakhir. Data Statistics Denmark menunjukkan bahwa koefisien Gini untuk pendapatan siap dibelanjakan naik dari 22,1 pada 1987 menjadi 29,3 pada 2017.[47]
Analisis Dewan Ekonomi Denmark pada 2016 mengaitkan peningkatan ketimpangan dengan sejumlah faktor. Pendapatan tenaga kerja sebelum pajak kini terbagi lebih timpang daripada sebelumnya. Pendapatan modal, yang secara umum lebih timpang daripada pendapatan tenaga kerja, juga mencakup bagian yang semakin besar dari jumlah pendapatan. Selain itu, kebijakan ekonomi semakin lemah dalam melakukan redistribusi karena transfer pendapatan publik kini berperan lebih kecil dan sistem perpajakan menjadi kurang progresif.[20]
Dalam perbandingan internasional, distribusi pendapatan Denmark relatif merata. Menurut CIA World Factbook, koefisien Gini Denmark sebesar 29,0 pada 2016 merupakan yang terendah ke-20 di antara 158 negara.[48] Data Eurostat menunjukkan bahwa Denmark memiliki koefisien Gini terendah ketujuh di Uni Eropa pada 2017. Koefisien Gini atas pendapatan siap dibelanjakan di Slowakia, Slovenia, Ceko, Finlandia, Belgia, dan Belanda lebih rendah daripada Denmark.[21]
Pasar tenaga kerja dan ketenagakerjaan
Pasar tenaga kerja Denmark ditandai oleh tingginya tingkat keanggotaan serikat pekerja dan cakupan perjanjian kerja bersama. Keadaan ini berawal dari Septemberforliget (Kesepakatan September) pada 1899, ketika Konfederasi Serikat Buruh Denmark dan Konfederasi Pengusaha Denmark saling mengakui hak untuk berserikat dan berunding. Pasar tenaga kerja negara ini juga dikenal dengan tingkat flexicurity yang tinggi, yakni perpaduan antara fleksibilitas pasar tenaga kerja dan jaminan ekonomi bagi pekerja.[49] Fleksibilitas tersebut antara lain dipertahankan melalui kebijakan pasar tenaga kerja aktif. Denmark mulai menerapkan kebijakan ini pada 1990-an setelah mengalami resesi ekonomi yang menyebabkan tingginya pengangguran.[50] Kebijakan pasar tenaga kerja ditetapkan melalui kerja sama tripartit antara pengusaha, pekerja, dan pemerintah.[51] Pengeluaran Denmark untuk kebijakan pasar tenaga kerja aktif termasuk yang tertinggi. Pada 2005, pengeluaran tersebut mencapai sekitar 1,7% dari PDB, tertinggi di antara negara-negara OECD.[52] Pada 2010, Denmark juga menempati peringkat pertama di antara negara-negara Nordik dalam pengeluaran untuk kebijakan tersebut.[53]
Kebijakan pasar tenaga kerja aktif Denmark terutama diarahkan untuk mengatasi pengangguran muda. Sejak 1996, pemerintah menjalankan “inisiatif pemuda” atau Program Pengangguran Pemuda Denmark.[54] Program ini mewajibkan penganggur berusia di bawah 30 tahun mengikuti kegiatan aktivasi. Tunjangan pengangguran tetap diberikan, tetapi kebijakannya dirancang untuk mendorong penerima mencari pekerjaan. Sebagai contoh, jumlah tunjangan berkurang 50% setelah enam bulan.[55] Langkah tersebut dipadukan dengan pendidikan, pengembangan keterampilan, dan pelatihan kerja. Program Building Bridge to Education, misalnya, diluncurkan pada 2014 untuk menyediakan pendampingan dan pelatihan keterampilan bagi kaum muda yang berisiko menganggur.[56]
Kebijakan tersebut berhasil dalam jangka pendek maupun panjang. Sebanyak 80% peserta Building Bridge to Education menilai bahwa program itu membantu mereka bergerak menuju penyelesaian pendidikan.[56] Dalam lingkup yang lebih luas, penelitian mengenai dampak kebijakan pasar tenaga kerja aktif di Denmark selama 1995–2005 menunjukkan pengaruh positif terhadap ketenagakerjaan dan pendapatan.[51] Meskipun demikian, tingkat kompensasi efektif bagi penganggur terus menurun selama beberapa dasawarsa terakhir. Berbeda dengan sebagian besar negara Barat, Denmark tidak menetapkan upah minimum secara hukum.
Proporsi penduduk yang aktif di pasar tenaga kerja tergolong besar, antara lain karena tingkat partisipasi perempuan yang sangat tinggi. Pada 2017, tingkat partisipasi penduduk berusia 15–64 tahun mencapai 78,8%. Angka ini merupakan yang keenam tertinggi di antara negara-negara OECD, setelah Islandia, Swiss, Swedia, Selandia Baru, dan Belanda. Rata-rata OECD pada tahun yang sama adalah 72,1%.[57]
Menurut Eurostat, tingkat pengangguran Denmark pada 2017 adalah 5,7%, lebih rendah daripada rata-rata Uni Eropa sebesar 7,6%. Sepuluh negara anggota Uni Eropa mencatat tingkat pengangguran yang lebih rendah daripada Denmark pada tahun tersebut.[58] Statistics Denmark mencatat jumlah penduduk yang bekerja pada 2017 sebanyak 2.919.000 orang.[59]
Sekitar 30% karyawan sektor swasta meninggalkan pekerjaannya setiap tahun untuk berpindah kerja, pensiun, atau menganggur.[60] Tingkat serupa juga ditemukan di Britania Raya dan Amerika Serikat, tetapi jauh lebih tinggi daripada di daratan Eropa yang angkanya sekitar 10%, serta di Swedia. Pergantian karyawan dapat menimbulkan biaya besar karena dibutuhkan sekitar setengah tahun untuk memulihkan tingkat produktivitas sebelumnya. Namun, pergantian ini juga mengurangi jumlah pekerja yang harus diberhentikan.[61]
Perdagangan luar negeri
Sebagai perekonomian terbuka kecil, Denmark sangat bergantung pada perdagangan luar negeri. Pada 2017, nilai ekspor barang dan jasa setara dengan 55% PDB, sedangkan impor mencapai 47%. Perdagangan barang menyumbang sedikit lebih dari 60% terhadap ekspor maupun impor, sementara perdagangan jasa mencakup hampir 40% sisanya.[62]
Mesin, bahan kimia dan produk terkait seperti obat-obatan, serta hasil pertanian merupakan kelompok komoditas ekspor terbesar pada 2017.[63] Ekspor jasa didominasi angkutan laut barang yang disediakan oleh armada niaga Denmark.[64] Sebagian besar mitra dagang utama Denmark merupakan negara tetangga. Jerman, Swedia, Britania Raya, Amerika Serikat, dan Norwegia menjadi lima pengimpor terbesar barang dan jasa Denmark pada 2017. Pada tahun yang sama, sumber impor utama Denmark adalah Jerman, Swedia, Belanda, Tiongkok, dan Britania Raya.[65]
Setelah hampir selalu mengalami defisit neraca transaksi berjalan dalam neraca pembayaran sejak awal 1960-an, Denmark mencatat surplus transaksi berjalan setiap tahun sejak 1990, kecuali pada 1998. Surplus tersebut mencapai sekitar 8% PDB pada 2017.[66] Denmark pun beralih dari negara debitur neto menjadi kreditur neto. Pada 1 Juli 2018, kekayaan luar negeri neto atau posisi investasi internasional neto Denmark setara dengan 64,6% PDB. Proporsi ini merupakan yang tertinggi di antara negara-negara Uni Eropa.[67]
Karena transaksi berjalan tahunan setara dengan tabungan domestik dikurangi jumlah investasi domestik, peralihan dari defisit struktural menjadi surplus struktural mencerminkan perubahan pada kedua komponen neraca nasional tersebut. Sepanjang 1980–2015, tingkat tabungan nasional Denmark dalam bentuk aset keuangan meningkat sebesar 11% PDB. Perubahan besar dalam pola tabungan domestik ini terutama didorong oleh semakin pentingnya skema pensiun wajib berskala besar dan sejumlah reformasi fiskal. Reformasi tersebut secara signifikan mengurangi pengurangan pajak atas beban bunga rumah tangga, sehingga menekan subsidi pajak terhadap utang swasta.[43]
Mata uang dan kebijakan moneter

Mata uang Denmark adalah krone Denmark, yang terbagi menjadi 100 øre. Krone dan øre mulai digunakan pada 1875 untuk menggantikan rigsdaler dan skilling.[68] Denmark memiliki tradisi panjang dalam mempertahankan sistem nilai tukar tetap, sejak masa standar emas ketika Uni Moneter Skandinavia beroperasi pada 1873–1914. Setelah runtuhnya sistem Bretton Woods internasional pada 1971, Denmark berulang kali mendevaluasi krone sepanjang 1970-an hingga awal 1980-an. Kebijakan yang diterapkan pada masa itu pada dasarnya berupa nilai tukar “tetap, tetapi dapat disesuaikan”. Kenaikan inflasi kemudian mendorong pemerintah menerapkan kebijakan nilai tukar tetap yang lebih konsisten pada 1982. Krone mula-mula dipatok terhadap Unit Mata Uang Eropa (ECU), kemudian terhadap mark Jerman sejak 1987, dan euro sejak 1999.[69]
Meskipun memenuhi persyaratan, Denmark memilih tidak bergabung dengan Persatuan Ekonomi dan Moneter Uni Eropa ketika persatuan tersebut dibentuk. Pada 2000, pemerintah mendukung keanggotaan Denmark dan mengadakan referendum untuk menentukan keputusan. Dengan tingkat partisipasi 87,6%, sebanyak 53% pemilih menolak keanggotaan. Gagasan untuk mengadakan referendum kembali sesekali dibahas, tetapi sejak krisis keuangan 2008, jajak pendapat menunjukkan mayoritas yang jelas menentang keanggotaan Denmark.[70] Persoalan tersebut kini tidak menjadi agenda utama politik Denmark.
Danmarks Nationalbank bertanggung jawab mempertahankan nilai tukar tetap. Kebijakan ini mengharuskan bank sentral menyesuaikan suku bunga untuk menjaga kestabilan nilai tukar, sehingga pada saat yang sama tidak dapat menjalankan kebijakan moneter guna menstabilkan inflasi domestik atau tingkat pengangguran. Oleh karena itu, pelaksanaan kebijakan stabilisasi Denmark berbeda secara mendasar dari negara-negara tetangganya, seperti Norwegia, Swedia, Polandia, dan Britania Raya, yang menempatkan bank sentral sebagai penggerak utama stabilisasi. Denmark merupakan satu-satunya negara anggota OECD yang mempertahankan mata uang sendiri dengan nilai tukar tetap. Krone Denmark juga merupakan satu-satunya mata uang dalam Mekanisme Nilai Tukar Eropa II (ERM II),[71] sebelum Bulgaria dan Kroasia bergabung pada 2020. Kroasia kemudian mulai menggunakan euro pada 2023.[72]
Pada awal 2015, besarnya arus masuk modal menimbulkan tekanan terkuat terhadap nilai tukar tetap Denmark selama bertahun-tahun dan mendorong kecenderungan penguatan krone.[71] Danmarks Nationalbank menanggapinya melalui berbagai langkah, terutama dengan memangkas suku bunga hingga mencapai rekor terendah. Pada 6 Februari 2015, suku bunga sertifikat deposito, salah satu dari empat suku bunga resmi bank sentral, diturunkan menjadi −0,75%. Suku bunga tersebut dinaikkan menjadi −0,65% pada Januari 2016 dan dipertahankan pada tingkat itu sejak saat tersebut.[73]
Inflasi yang diukur melalui indeks harga konsumen resmi Statistics Denmark tercatat sebesar 1,1% pada 2017.[74] Secara umum, inflasi tetap rendah dan stabil selama beberapa dasawarsa terakhir. Inflasi tahunan mencapai lebih dari 12% pada 1980, sedangkan rata-ratanya sepanjang 2000–2017 hanya 1,8%.[74]
Pemerintah
Susunan pemerintahan
Sejak reformasi pemerintahan daerah pada 2007, pemerintahan umum Denmark diselenggarakan pada tiga tingkat administratif, yaitu pemerintah pusat, region, dan munisipalitas. Pemerintah region terutama mengelola layanan kesehatan, sedangkan munisipalitas menangani pendidikan dasar dan layanan sosial. Pada prinsipnya, munisipalitas dapat memungut pajak penghasilan dan pajak properti secara mandiri. Namun, jumlah keseluruhan pajak dan pengeluaran munisipalitas diatur secara ketat melalui perundingan tahunan antara munisipalitas dan Menteri Keuangan Denmark. Pada tingkat pusat, Kementerian Keuangan mengoordinasikan pelaksanaan kebijakan ekonomi. Pada 2012, parlemen Denmark mengesahkan Undang-Undang Anggaran yang mulai berlaku pada Januari 2014. Undang-undang ini mengatur kerangka fiskal secara keseluruhan dan menetapkan, antara lain, bahwa defisit struktural tidak boleh melebihi 0,5% PDB[75] serta kebijakan fiskal Denmark harus berkelanjutan,[76] yakni memiliki indikator keberlanjutan fiskal yang tidak negatif. Undang-undang itu juga menyerahkan fungsi lembaga fiskal independen kepada badan penasihat independen yang telah berdiri, yaitu Dewan Ekonomi Denmark. Lembaga ini secara tidak resmi disebut sebagai “pengawas fiskal”.[77][75]
Anggaran dan posisi fiskal
Kebijakan fiskal Denmark umumnya dianggap sehat. Pada akhir 2017, utang neto pemerintah mendekati nol, yakni sebesar 27,3 miliar DKK atau 1,3% PDB.[78][79] Karena sektor pemerintah mempunyai aset sekaligus kewajiban keuangan dalam jumlah besar, utang bruto pemerintah pada saat yang sama mencapai 36,1% PDB.[80] Rasio utang bruto pemerintah menurut definisi EMU terhadap PDB merupakan yang keenam terendah di antara 28 negara anggota Uni Eropa. Hanya Estonia, Luksemburg, Bulgaria, Ceko, dan Rumania yang memiliki utang bruto lebih rendah.[81] Pada 2017, anggaran pemerintah Denmark mencatat surplus sebesar 1,1% PDB.[81]
Proyeksi fiskal tahunan jangka panjang yang disusun pemerintah dan Dewan Ekonomi Denmark memperhitungkan kemungkinan perubahan fiskal akibat perkembangan demografi, termasuk penuaan penduduk yang dipicu oleh peningkatan harapan hidup. Berdasarkan proyeksi tersebut, kebijakan fiskal Denmark dinilai lebih dari cukup berkelanjutan dalam jangka panjang. Pada musim semi 2018, pemerintah dan Dewan Ekonomi Denmark masing-masing menghitung Indikator Keberlanjutan Fiskal sebesar 1,2% dan 0,9% PDB.[82][83] Dengan asumsi yang digunakan dalam proyeksi, kebijakan fiskal dapat dilonggarkan secara permanen melalui peningkatan pengeluaran publik atau penurunan pajak sebesar sekitar 1% PDB tanpa mengganggu kestabilan rasio utang pemerintah terhadap PDB dalam jangka panjang.
Perpajakan
Tingkat pajak dan pengeluaran pemerintah Denmark termasuk yang tertinggi di dunia. Keadaan ini umumnya dikaitkan dengan model Nordik yang diterapkan Denmark, termasuk asas negara kesejahteraan yang berkembang sepanjang abad ke-20. Pada 2022, tingkat pajak resmi Denmark mencapai 42,2% PDB.[84] Rekor tertingginya tercatat sebesar 49,8% PDB pada 2014,[84] akibat penerimaan pajak luar biasa yang hanya terjadi sekali setelah penataan ulang sistem pensiun berbasis pendanaan di Denmark. Rasio pajak terhadap PDB sebesar 42% pada 2022 merupakan yang ketujuh tertinggi di antara negara-negara OECD, setelah Prancis, Norwegia, Austria, Finlandia, Italia, dan Belgia.[85] Rata-rata OECD adalah 34%.[86]
Struktur pajak Denmark juga berbeda dari rata-rata OECD. Pada 2015, penerimaan dari pajak penghasilan pribadi jauh lebih tinggi, sementara iuran jaminan sosial tidak menghasilkan penerimaan sama sekali. Proporsi pendapatan dari pajak penghasilan dan keuntungan perusahaan serta pajak properti lebih rendah daripada rata-rata OECD. Sebaliknya, sumbangan pajak gaji, pajak pertambahan nilai, dan pajak lain atas barang dan jasa kurang lebih sama dengan rata-rata OECD.[86]
Pada 2016, rata-rata tarif pajak marjinal atas pendapatan tenaga kerja bagi seluruh wajib pajak Denmark adalah 38,9%. Rata-rata tarif marjinal atas pendapatan modal pribadi mencapai 30,7%.[87]
Profesor ekonomi Universitas Princeton, Henrik Kleven, berpendapat bahwa tiga kebijakan di Denmark dan negara-negara Skandinavia lainnya membuat tingginya tarif pajak hanya menimbulkan penyimpangan ekonomi yang relatif kecil:
- penggunaan pelaporan informasi oleh pihak ketiga secara luas untuk keperluan pemungutan pajak, sehingga tingkat penggelapan pajak tetap rendah;
- basis pajak yang luas, sehingga tingkat penghindaran pajak tetap rendah; dan
- subsidi besar bagi barang dan layanan yang mendukung kegiatan bekerja, sehingga tingkat partisipasi angkatan kerja tetap tinggi.[88]
Pada 2023, Denmark mempertimbangkan sejumlah cara untuk menaikkan pajak terhadap pedagang energi.[89]
Pengeluaran pemerintah
Sejalan dengan tingginya tingkat pajak, pengeluaran pemerintah mencakup sebagian besar PDB dan sektor pemerintah menjalankan beragam tugas. Pada September 2018, sektor pemerintahan umum mempekerjakan 831.000 orang atau 29,9% dari seluruh pekerja.[90] Pada 2017, jumlah pengeluaran pemerintah mencapai 50,9% PDB. Konsumsi pemerintah, termasuk pengeluaran untuk pendidikan dan layanan kesehatan, mencapai tepat 25% PDB. Investasi pemerintah dalam bidang seperti infrastruktur menyumbang 3,4% PDB, sedangkan transfer pendapatan pribadi kepada kelompok seperti lansia dan penganggur mencapai 16,8%.[82]
Denmark memiliki sistem asuransi pengangguran bernama A-kasse (arbejdsløshedskasse). Peserta diwajibkan membayar iuran ke dana pengangguran yang diakui negara. Sebagian besar dana ini dikelola oleh serikat pekerja dan sebagian pengeluarannya dibiayai melalui sistem perpajakan. Peserta A-kasse tidak diwajibkan menjadi anggota serikat pekerja.[91] Tidak semua warga negara atau pekerja Denmark memenuhi syarat untuk menjadi peserta. Hak peserta atas tunjangan juga berakhir setelah dua tahun menganggur.[92] Orang yang tidak menjadi peserta A-kasse tidak dapat menerima tunjangan pengangguran.[93]
Dana pengangguran tidak membayarkan tunjangan kepada peserta yang sakit. Mereka dialihkan ke sistem bantuan sosial munisipalitas. Denmark memiliki sistem bantuan sosial nasional untuk menanggulangi kemiskinan yang dikelola oleh munisipalitas dan menjamin pendapatan hidup minimum bagi warga yang memenuhi syarat. Warga Denmark berusia lebih dari 18 tahun dapat mengajukan bantuan keuangan apabila tidak mampu menghidupi diri sendiri atau keluarganya. Persetujuan tidak diberikan secara otomatis dan cakupan sistem ini secara umum telah dikurangi sejak 1980-an. Orang yang sakit dapat menerima bantuan keuangan selama masa sakit. Setelah lima bulan, munisipalitas akan menilai kembali kemampuan mereka untuk bekerja.[94][95]
Sejak akhir 1990-an, sistem kesejahteraan yang berkaitan dengan pasar tenaga kerja telah mengalami sejumlah reformasi dan pemotongan anggaran akibat agenda politik untuk meningkatkan penawaran tenaga kerja. Hak-hak penganggur juga direformasi, sebagian dengan mengikuti saran Dewan Ekonomi Denmark.[96] Pada 2010, misalnya, masa penerimaan tunjangan pengangguran dipangkas dari empat menjadi dua tahun, sedangkan persyaratan untuk memperoleh kembali hak itu diperketat hingga dua kali lipat.
Penyandang disabilitas dapat mengajukan pensiun sosial permanen. Besarnya bantuan bergantung pada kemampuan bekerja. Orang berusia di bawah 40 tahun tidak memenuhi syarat, kecuali dinilai tidak mampu melakukan pekerjaan apa pun.[97]
Industri
Pertanian

Pertanian pernah menjadi industri terpenting di Denmark, tetapi kini hanya menyumbang sebagian kecil terhadap perekonomian. Pada 2016, sektor pertanian dan hortikultura mempekerjakan 62.000 orang atau 2,5% dari seluruh pekerja. Sebanyak 2.000 orang lainnya bekerja di sektor perikanan.[9] Karena nilai tambah per pekerja relatif rendah, sumbangannya terhadap nilai tambah nasional lebih kecil lagi. Pada 2017, nilai tambah bruto sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai 1,6% dari jumlah keluaran Denmark.[3]
Denmark tetap menghasilkan beragam produk pertanian. Peternakan mencakup sapi perah dan sapi potong, babi, unggas, serta hewan penghasil bulu yang sebagian besar produksinya ditujukan untuk ekspor. Dalam produksi tanaman, Denmark merupakan salah satu produsen utama benih rumput, semanggi, dan tanaman hortikultura. Secara keseluruhan, sektor pertanian dan pangan menyumbang 25% dari ekspor barang Denmark pada 2015.[98]
Sekitar 63% wilayah daratan Denmark digunakan untuk kegiatan pertanian. Menurut laporan Universitas Kopenhagen pada 2017, proporsi tersebut merupakan yang tertinggi di dunia.[99] Pertanian Denmark secara historis dicirikan oleh kepemilikan lahan secara penuh dan pertanian keluarga. Perubahan struktur kemudian mengurangi jumlah usaha tani sekaligus memperbesar skalanya. Pada 2020, terdapat sekitar 33.000 usaha tani,[100] sekitar 10.000 di antaranya dimiliki oleh petani purnawaktu.[101]
Produksi ternak
Berkurangnya jumlah usaha tani yang diiringi oleh perluasan skala turut meningkatkan produksi ternak, dengan penggunaan sumber daya yang lebih sedikit untuk setiap unit hasil produksi.
Jumlah peternak sapi perah berkurang menjadi sekitar 3.800 orang, dengan rata-rata 150 ekor sapi per peternakan. Kuota susu mencapai 1.142 ton. Lebih dari separuh sapi ditempatkan dalam sistem kandang lepas yang baru. Produk susu menyumbang lebih dari 20% ekspor pertanian Denmark. Pada 2011, populasi sapi mencapai sekitar 1,5 juta ekor, yang terdiri atas 565.000 sapi perah dan 99.000 sapi indukan pedaging. Sekitar 550.000 sapi potong disembelih setiap tahun.
Produksi babi dan daging babi menjadi salah satu sumber pendapatan utama Denmark selama lebih dari satu abad. Sekitar 90% produksinya diekspor, setara dengan hampir separuh ekspor pertanian dan sekitar 5% dari seluruh ekspor Denmark. Sekitar 4.200 peternak menghasilkan 28 juta ekor babi per tahun, dengan 20,9 juta ekor di antaranya disembelih di Denmark.
Peternakan hewan berbulu berskala industri dimulai di Denmark pada 1930-an. Sebelum pemusnahan ternak yang diwajibkan pemerintah selama pandemi Covid-19 di Denmark, negara ini merupakan produsen bulu cerpelai terbesar di dunia. Sebanyak 1.400 peternak memelihara 17,2 juta cerpelai dan menghasilkan sekitar 14 juta kulit bulu berkualitas tinggi setiap tahun (lihat industri cerpelai di Denmark).[102] Sekitar 98% kulit yang dijual melalui Kopenhagen Fur Auction diekspor. Dengan nilai lebih dari 7 miliar DKK per tahun, bulu merupakan komoditas ekspor pertanian terbesar ketiga Denmark. Jumlah peternakan mencapai puncaknya pada akhir 1980-an dengan lebih dari 5.000 peternakan, tetapi terus berkurang seiring bertambahnya skala setiap peternakan.[102]
Peternak cerpelai Denmark menyatakan bahwa kegiatan mereka merupakan usaha berkelanjutan. Cerpelai diberi pakan dari limbah industri pangan, sedangkan seluruh bagian bangkainya dimanfaatkan sebagai daging, tepung tulang, dan bahan bakar hayati. Kesejahteraan cerpelai mendapat perhatian khusus dan kegiatan “Peternakan Terbuka” rutin diadakan bagi masyarakat.[103] Cerpelai dapat berkembang dengan baik di Denmark, tetapi bukan satwa asli negara tersebut dan dianggap sebagai spesies invasif. Cerpelai cokelat Amerika kini tersebar luas dan terus menimbulkan masalah bagi satwa liar asli, terutama unggas air.[104] Denmark juga menghasilkan bulu rubah, cincila, dan kelinci dalam jumlah kecil.[103]
Sebanyak 200 produsen profesional menghasilkan telur Denmark yang produksinya mencapai 66 juta kg pada 2011. Ayam pedaging umumnya dipelihara dalam unit berkapasitas 40.000 ekor. Pada 2012, sekitar 100 juta ayam disembelih. Produksi unggas lain pada tahun yang sama mencakup 13 juta bebek, 1,4 juta angsa, dan 5,0 juta kalkun.
Produksi organik
Pertanian organik dan produksi pangan organik tumbuh secara pesat dan berkelanjutan sejak peraturan resmi pertama mengenai metode pertanian ini mulai berlaku pada 1987. Pada 2017, nilai ekspor produk organik mencapai 2,95 miliar DKK, meningkat 153% dibandingkan 2012 dan 21% dibandingkan 2016. Impor produk organik selalu lebih tinggi daripada ekspor dan mencapai 3,86 miliar DKK pada 2017. Setelah mengalami stagnasi selama beberapa tahun, hampir 10% lahan pertanian digolongkan sebagai lahan organik. Pada industri susu, proporsinya mencapai 13,6% pada 2017.[105]
Denmark memiliki pangsa konsumsi eceran produk organik tertinggi di dunia. Pada 2017, proporsinya mencapai 13,3% dengan nilai keseluruhan 12,1 miliar DKK.[106]
Ekstraksi sumber daya alam
Denmark memiliki cadangan terbukti minyak bumi dan gas alam dalam jumlah besar di Laut Utara. Esbjerg menjadi kota utama bagi industri minyak dan gas, meskipun produksinya menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2006, keluaran industri pertambangan dan penggalian yang diukur berdasarkan nilai tambah bruto mencapai lebih dari 4% dari jumlah nilai tambah bruto Denmark. Angkanya turun menjadi 1,1% pada 2023.[3] Karena sektor ini sangat padat modal, sumbangannya terhadap ketenagakerjaan jauh lebih kecil. Pada 2022, sekitar 1.000 orang bekerja di sektor ekstraksi minyak dan gas, sedangkan 1.000 orang lainnya bekerja dalam penggalian kerikil dan batu. Jumlah keseluruhannya kurang dari 0,1% tenaga kerja Denmark.[107]
Teknik dan teknologi tinggi
Denmark menjadi tempat berdirinya sejumlah perusahaan teknik dan teknologi tinggi terkemuka dalam bidang peralatan industri, kedirgantaraan, robotika, farmasi, dan elektronika. Industri bioteknologinya termasuk yang paling cepat berkembang di dunia. Investasi modal ventura pada sektor ini meningkat 11,8 kali lipat sepanjang 2016–2021.[108] Industri farmasi berkembang pesat sejak Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menyetujui semaglutida, bahan aktif Ozempic, untuk pengelolaan berat badan pada 2021. Nilai ekspor farmasi Denmark meningkat dari sekitar 136,8 miliar DKK pada 2021 menjadi 157,7 miliar DKK pada 2022.[109] Industri farmasi tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Denmark. Pada kuartal kedua 2025, sektor ini menyumbang 70% dari pertumbuhan ekonomi.[110] Peningkatan permintaan juga mendorong investasi besar dalam penelitian, kapasitas manufaktur, dan tenaga kerja berketerampilan tinggi. Danske Bank melaporkan bahwa investasi modal ventura dalam bioteknologi Denmark meningkat lebih dari dua kali lipat sepanjang 2020–2021.[111]
Elektronika dan peralatan industri
Danfoss, yang berkantor pusat di Nordborg, merancang dan memproduksi perangkat elektronika industri, peralatan pemanas dan pendingin, sistem penggerak, serta solusi tenaga.[112]
Denmark juga merupakan pengekspor pompa besar. Grundfos, yang memproduksi pompa sirkulasi, menguasai 50% pangsa pasar.[113]
Manufaktur
Pada 2017, nilai tambah bruto industri manufaktur mencapai 14,4% dari jumlah keluaran Denmark.[3] Pada 2016, sektor manufaktur, termasuk utilitas, pertambangan, dan penggalian, mempekerjakan 325.000 orang atau sedikit kurang dari 12% seluruh pekerja.[9] Subsektor utamanya meliputi produksi obat-obatan, mesin, dan produk makanan.[114]
Industri jasa
Industri jasa menyumbang 75,2% dari jumlah keluaran Denmark pada 2017,[3] sedangkan 79,9% dari seluruh pekerja bekerja di sektor ini pada 2016.[9] Selain administrasi publik, pendidikan, dan layanan kesehatan, subsektor jasa utama mencakup perdagangan, transportasi, dan layanan usaha.[9]
Transportasi

Investasi besar telah dilakukan untuk membangun jaringan jalan dan kereta api antara Kopenhagen dan Malmö di Swedia melalui Jembatan Øresund, serta antara Selandia dan Fyn melalui Jalur Tetap Sabuk Besar. Pelabuhan Kopenhagen Malmö dibentuk sebagai pelabuhan bersama bagi kedua kota di Denmark dan Swedia.
Operator utama kereta penumpang adalah Danske Statsbaner, sedangkan kereta barang dioperasikan oleh DB Schenker Rail.[115] Jalur kereta api dipelihara oleh Banedanmark. Kopenhagen memiliki sistem metro, yaitu Metro Kopenhagen, sedangkan wilayah metropolitan Kopenhagen dilayani jaringan kereta komuter listrik yang luas, yaitu Kereta S.
Kendaraan pribadi semakin banyak digunakan sebagai moda transportasi. Mobil baru dikenai pajak pendaftaran sebesar 85–150% dan pajak pertambahan nilai sebesar 25%. Jaringan jalan motor Denmark membentang sepanjang 1.300 km.[116]
Denmark menjadi salah satu negara terkemuka dalam mengintegrasikan sumber energi terbarukan berselang, terutama tenaga angin, ke jaringan listrik nasional. Keahlian ini kemudian mendukung perluasan strategi dekarbonisasi sektor transportasi. Unsur utamanya adalah integrasi kendaraan listrik colok masuk dalam skala besar serta penerapan teknologi kendaraan-ke-jaringan (V2G). Teknologi ini memanfaatkan sistem baterai cerdas untuk meningkatkan kestabilan jaringan dan kapasitas penyimpanan energi.[117]
Energi


Pada 1972, konsumsi energi Denmark terdiri atas 99% bahan bakar fosil, yaitu 92% minyak bumi yang seluruhnya diimpor dan 7% batu bara, serta 1% bahan bakar hayati. Pada 2015, komposisinya berubah menjadi 73% bahan bakar fosil, yang terdiri atas 37% minyak bumi domestik, 18% batu bara, dan 18% gas alam domestik, serta 27% energi terbarukan yang sebagian besar berupa bahan bakar hayati. Denmark menargetkan sepenuhnya bebas dari ketergantungan pada bahan bakar fosil pada 2050. Perubahan besar ini awalnya didorong oleh penemuan cadangan minyak dan gas Denmark di Laut Utara pada 1972 serta krisis minyak 1973.[118] Peralihan tersebut maju pesat pada 1984 ketika ladang minyak Laut Utara dan gas Denmark mulai berproduksi dalam skala besar. Ladang ini dikembangkan oleh industri dalam negeri melalui kerja sama erat dengan pemerintah.[119] Denmark mencapai swasembada energi pada 1997,[120] sedangkan jumlah emisi CO2 dari sektor energi mulai menurun pada 1996.[121] Sumbangan tenaga angin terhadap konsumsi energi meningkat dari 1% pada 1997 menjadi 5% pada 2015.[122]
Sejak 2000, PDB Denmark terus meningkat sementara konsumsi energinya menurun.[123] Konsumsi energi secara keseluruhan turun 6% sejak 1972, meskipun PDB meningkat dua kali lipat pada periode yang sama.[122] Pada 2014, keamanan energi Denmark menempati peringkat keenam terbaik di dunia.[124]
Sejak krisis minyak pada 1970-an, Denmark mengenakan pajak energi yang relatif tinggi untuk mendorong penggunaan energi secara hemat. Industri Denmark berhasil menyesuaikan diri dan memperoleh keunggulan kompetitif.[125] “Pajak hijau” ini banyak dikritik karena lebih tinggi daripada di negara lain dan dinilai lebih berfungsi sebagai sumber pendapatan pemerintah daripada sarana untuk mendorong perilaku yang lebih ramah lingkungan.[126][127]
| Minyak bumi | Bensin | Gas alam | Batu bara | Listrik | |
|---|---|---|---|---|---|
| Cukai dan pajak pertambahan nilai | 9,3 | 7,3 | 3,3 | 2,5 | 11,7 |
Denmark memiliki biaya pembangkitan listrik, termasuk biaya energi bersih, yang rendah dibandingkan negara-negara Uni Eropa.[129] Namun, pajak umum sebesar 11,7 miliar DKK pada 2015[128] membuat harga listrik rumah tangga menjadi yang tertinggi di Eropa.[130] Hingga 2015[update], Denmark tidak mengenakan pajak lingkungan atas listrik.[131]
Denmark telah lama menjadi negara terkemuka dalam tenaga angin sekaligus pengekspor utama turbin angin buatan Vestas dan Siemens. Pada 2019, ekspor teknologi dan layanan turbin angin Denmark mencapai €8,9 miliar.[132] Denmark telah mengintegrasikan sumber energi yang berfluktuasi dan sulit diperkirakan, seperti tenaga angin, ke jaringan listrik. Pada 2017, tenaga angin menghasilkan listrik yang setara dengan 43% konsumsi listrik negara tersebut.[133][134] Namun, sumbangannya terhadap produksi energi secara keseluruhan lebih kecil. Pada 2015, tenaga angin hanya menyumbang 5% dari jumlah produksi energi Denmark.[122]
Energinet.dk merupakan operator sistem transmisi nasional untuk listrik dan gas alam. Jaringan listrik Denmark bagian barat dan timur baru terhubung pada 2010 setelah jaringan Great Belt Power Link berkapasitas 600 MW mulai beroperasi.
Pembangkit kogenerasi lazim digunakan di Denmark dan umumnya dipadukan dengan pemanasan distrik. Pada 1 Januari 2025, sistem ini melayani hampir 1,9 juta atau 68% rumah tangga.
Fasilitas pembakaran sampah menjadi energi terutama menghasilkan panas dan air panas. Vestforbrænding di Munisipalitas Glostrup mengoperasikan fasilitas pembakaran terbesar Denmark. Pembangkit kogenerasi ini memasok listrik kepada 80.000 rumah tangga dan panas yang setara dengan konsumsi 63.000 rumah tangga pada 2016. Amager Bakke merupakan salah satu contoh fasilitas pembakaran baru.
Greenland dan Kepulauan Faroe
Selain wilayah utama Denmark, Kerajaan Denmark mencakup dua negara konstituen otonom di Atlantik Utara, yaitu Greenland dan Kepulauan Faroe. Keduanya menggunakan krone Denmark, tetapi membentuk perekonomian yang terpisah dan memiliki neraca nasional masing-masing. Denmark memberikan subsidi fiskal tahunan yang setara dengan sekitar 25% PDB Greenland dan 11% PDB Kepulauan Faroe.[135][136] Industri perikanan menjadi salah satu kegiatan ekonomi utama di kedua wilayah.
Greenland maupun Kepulauan Faroe bukan anggota Uni Eropa. Greenland meninggalkan Masyarakat Ekonomi Eropa pada 1986, sedangkan Kepulauan Faroe menolak bergabung pada 1973 ketika Denmark menjadi anggota.[137][138]
Data
Tabel berikut menyajikan indikator ekonomi utama Denmark sepanjang 1980–2023. Tingkat inflasi di bawah 2% ditandai dengan warna hijau.[139]
| Tahun | PDB (miliar US$ KKB) |
PDB per kapita (US$ KKB) |
PDB nominal (miliar US$) |
Pertumbuhan PDB (riil) |
Tingkat inflasi (persen) |
Pengangguran (persen) |
Utang pemerintah (persen PDB) |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1980 | 60.8 | 11,870 | 71.1 | ▲11.3% | 5.3% | t/a | |
| 1981 | ▲11.7% | ▲7.1% | t/a | ||||
| 1982 | ▲10.1% | ▲7.6% | t/a | ||||
| 1983 | ▲6.8% | t/a | |||||
| 1984 | ▲6.3% | t/a | |||||
| 1985 | ▲4.7% | t/a | |||||
| 1986 | ▲3.7% | t/a | |||||
| 1987 | ▲4.0% | ▲5.0% | t/a | ||||
| 1988 | ▲4.5% | ▲5.7% | t/a | ||||
| 1989 | ▲4.8% | ▲6.8% | t/a | ||||
| 1990 | ▲2.6% | ▲7.2% | t/a | ||||
| 1991 | ▲2.4% | ▲7.9% | t/a | ||||
| 1992 | ▲2.1% | ▲8.6% | 66.8 | ||||
| 1993 | ▲9.5% | ▲78.6% | |||||
| 1994 | |||||||
| 1995 | ▲2.0% | ||||||
| 1996 | ▲2.2% | ||||||
| 1997 | ▲2.2% | ||||||
| 1998 | |||||||
| 1999 | ▲2.5% | ▲5.1% | |||||
| 2000 | ▲2.9% | ||||||
| 2001 | ▲2.4% | ▲4.5% | |||||
| 2002 | ▲2.4% | ▲4.6% | ▲49.1% | ||||
| 2003 | ▲2.1% | ▲5.4% | |||||
| 2004 | ▲5.5% | ||||||
| 2005 | |||||||
| 2006 | |||||||
| 2007 | |||||||
| 2008 | ▲3.4% | ▲33.3% | |||||
| 2009 | ▲6.0% | ▲40.2% | |||||
| 2010 | ▲2.3% | ▲7.5% | ▲42.6% | ||||
| 2011 | ▲7.6% | ▲46.1% | |||||
| 2012 | ▲2.4% | ||||||
| 2013 | |||||||
| 2014 | |||||||
| 2015 | |||||||
| 2016 | |||||||
| 2017 | |||||||
| 2018 | |||||||
| 2019 | |||||||
| 2020 | ▲5.6% | ▲42.3% | |||||
| 2021 | |||||||
| 2022 | ▲8.5% | ||||||
| 2023 | ▲4.1% | ▲5.0% | ▲30.1% |
Perusahaan besar
Denmark telah mengembangkan dan menjadi tempat berdirinya berbagai perusahaan multinasional. Banyak perusahaan terbesarnya bergerak secara lintas bidang, baik dalam kegiatan usaha maupun penelitian. Perusahaan-perusahaan terkemuka meliputi:
- Agrobisnis
- Arla Foods (produk susu)
- Dansk Landbrugs Grovvareselskab (DLG) (koperasi pertanian Denmark berbentuk a.m.b.a. yang terutama bergerak dalam pasokan dan perdagangan pertanian)
- Danish Crown (produk daging)
- Perbankan
- Danske Bank (perbankan komersial dan kredit pemilikan rumah)
- Nordea
- Nykredit
- Jyske Bank
- Saxo Bank
- Sydbank
- Pakaian
- ECCO (produsen dan pengecer sepatu serta aksesori kulit)
- Bestseller
- Konstruksi
- FLSmidth (pemasok global peralatan dan layanan bagi industri semen dan mineral)
- Rockwool (produsen wol mineral yang beroperasi di 28 negara)
- Velux (produsen jendela dan jendela atap, dimiliki oleh Villum Foundation)
- Rambøll
- COWI
- Teknologi energi
- Vestas (turbin angin)
- Siemens Wind Power (turbin angin)
- Danfoss (iklim dan energi)
- Grundfos (produsen pompa terbesar di dunia)
- NKT A/S (kabel tenaga dan kabel umbilikal bawah laut)
- Ørsted (sebelumnya bernama DONG Energy)
- Elektronika
- Makanan dan minuman
- Carlsberg (pabrik bir)
- Royal Unibrew
- Novonesis (bahan makanan dan enzim)
- Danisco (pemasok enzim, produk bioteknologi, dan farmasi)
- Asuransi
- Farmasi dan bioteknologi
Sejumlah produsen pangan besar juga bergerak dalam bidang bioteknologi dan penelitian. Perusahaan terkemuka yang berfokus pada sektor farmasi dan bioteknologi meliputi:
- H. Lundbeck
- Novo Nordisk
- LEO Pharma
- Coloplast
- Dansac (dimiliki Hollister Inc.)
- Novozymes
- Pharma Nord
- Pharmacosmos
- ALK-Abelló
- Genmab
- RosePharma
- Santaris Pharma A/S
- Veloxis Pharmaceuticals
- Zealand Pharma
- Perdagangan eceran
- Salling Group (usaha perdagangan eceran)
- Coop Danmark (bagian dari koperasi lintas sektor Coop amba, sebelumnya bernama FDB hingga 2013)
- Dagrofa
- Transportasi
- A. P. Moller-Maersk Group (Maersk, konglomerat pelayaran)
- Blue Water Shipping
- DFDS
- DSV
- Scan Global Logistics
- USTC (konglomerat pelayaran dan perdagangan)
- Lain-lain
- ISS (layanan fasilitas)
- The Lego Group, produsen mainan terbesar di dunia berdasarkan penjualan pada 2014; penjualannya mencapai US$2,1 miliar pada paruh pertama 2015
- Terma A/S, perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan
Koperasi
Denmark memiliki tradisi panjang dalam produksi dan perdagangan berskala besar melalui koperasi. Koperasi terkemuka mencakup koperasi pertanian Dansk Landbrugs Grovvareselskab (DLG), produsen susu Arla Foods, dan koperasi perdagangan eceran Coop Danmark. Coop Danmark bermula sebagai Fællesforeningen for Danmarks Brugsforeninger (FDB) pada 1896. Pada 2017, koperasi ini memiliki sekitar 1,4 juta anggota di Denmark.[140] Coop Danmark merupakan bagian dari koperasi lintas sektor Coop amba yang memiliki 1,7 juta anggota pada tahun yang sama.
Struktur koperasi juga berkembang dalam sektor perumahan dan perbankan. Arbejdernes Landsbank, yang didirikan pada 1919, merupakan bank koperasi terbesar dan menjadi bank terbesar keenam di Denmark pada 2018.[141] Munisipalitas Kopenhagen memiliki 153 koperasi perumahan. Sementara itu, Arbejdernes Andelsboligforening Århus (AAB Århus) merupakan koperasi perumahan tunggal terbesar di Denmark dengan 23.000 rumah di Aarhus.[142]
Statistik
Pada 2022, keuangan, asuransi, dan lahan yasan merupakan sektor dengan jumlah perusahaan terdaftar terbanyak di Denmark, yakni 204.853 perusahaan. Sektor jasa menempati urutan berikutnya dengan 204.050 perusahaan, disusul perdagangan eceran dengan 30.563 perusahaan.[143]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 4 5 "Report for Selected Countries and Subjects: April 2024". imf.org. Dana Moneter Internasional.
- ↑ "NAN1: Forsyningsbalance, bruttonationalprodukt (BNP),økonomisk vækst, beskæftigelse mv. efter transaktion og prisenhed". Statistics Denmark. B.1*g Bruttonationalprodukt, BNP → Bidrag til realvækst i BNP, (procentpoint) → 2023. Diakses 13 Januari 2025.
- 1 2 3 4 5 "Table NABP10: 1–2.1.1 Production and generation of income (10a3-grouping) by transaction, industry and price unit". StatBank Denmark. Diakses tanggal 17 September 2024.
- ↑ "Poverty rate". data.oecd.org. OECD. Diakses tanggal 29 November 2019.
- ↑ "People at risk of poverty or social exclusion". ec.europa.eu/eurostat. Eurostat.
- ↑ "Gini coefficient of equivalised disposable income – EU-SILC survey". ec.europa.eu/eurostat. Eurostat.
- ↑ "Labor force, total – Denmark". data.worldbank.org. Bank Dunia. Diakses tanggal 24 November 2023.
- ↑ "Employment rate by sex, age group 20-64". ec.europa.eu/eurostat. Eurostat. Diakses tanggal 20 Juli 2024.
- 1 2 3 4 5 "Table RAS300: EMPLOYED (END NOVEMBER) BY INDUSTRY (DB07), SOCIOECONOMIC STATUS, AGE AND SEX". StatBank Denmark. Diakses tanggal 26 November 2018.
- ↑ "Unemployment by sex and age – monthly average". appsso.eurostat.ec.europa.eu/eurostat. Eurostat. Diakses tanggal 4 Oktober 2020.
- ↑ "Unemployment rate by age group". data.oecd.org. OECD. Diakses tanggal 7 September 2020.
- ↑ "The average Dane". dst.dk. Statistics Denmark. Diakses tanggal 19 November 2024.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 "The World Factbook". CIA.gov. Badan Intelijen Pusat. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Januari 2026. Diakses tanggal 12 Maret 2024.
- 1 2 3 4 "Euro area and EU27 government deficit both at 0.6% of GDP" (PDF). ec.europa.eu/eurostat. Eurostat. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 4 Juni 2020. Diakses tanggal 28 April 2020.
- ↑ "Archived copy" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 Desember 2017. Diakses tanggal 25 Desember 2017. Pemeliharaan CS1: Salinan terarsip sebagai judul (link)
- ↑ "Sovereigns rating list". Standard & Poor's. Diakses tanggal 26 Mei 2011.
- ↑ Monaghan, A. (15 Oktober 2014). "The AAA-rated club: which countries still make the grade?". The Guardian. Diakses tanggal 10 Juni 2018.
- ↑ "Scope affirms the Kingdom of Denmark's AAA rating with Stable Outlook". Scope Ratings. Diakses tanggal 1 Agustus 2025.
- 1 2 "Gross national income per capita 2017, Atlas method and PPP" (PDF). World Bank. 21 September 2018. Diakses tanggal 28 November 2018.
- 1 2 "Danish Economic Council: Danish Economy Fall 2016. English Summary, hlm. 335 dst". 4 Oktober 2016.
- 1 2 "Gini coefficient of equivalised disposable income – EU-SILC survey. Eurostat, last data update 20 November 2018". Diakses tanggal 28 November 2018.
- ↑ Statistikbanken.dk/10021:Befolkning og valg/(table)FOLK1AM
- ↑ Kenworthy, Lane (1999). "Do Social-Welfare Policies Reduce Poverty? A Cross-National Assessment" (PDF). Social Forces. 77 (3): 1119–1139. doi:10.2307/3005973. JSTOR 3005973. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 10 Agustus 2013.
- ↑ Moller, Stephanie; Huber, Evelyne; Stephens, John D.; Bradley, David; Nielsen, François (2003). "Determinants of Relative Poverty in Advanced Capitalist Democracies". American Sociological Review. 68 (1): 22–51. doi:10.2307/3088901. JSTOR 3088901.
- ↑ "Social Expenditure – Aggregated data". Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi.
- ↑ Eichengreen, Barry (2023). "The Danish problem". Economia Politica. 40 (3): 781–794. doi:10.1007/s40888-023-00313-y. ISSN 1973-820X.
- ↑ "Harmonised unemployment rate by gender". Eurostat. Diakses tanggal 1 Desember 2018.
- ↑ Kirkegaard Sløk-Madsen, Stefan; Mogensen Nielsen, Henrik (2024). "Denmark: The epitome of 'innovism'?". Economic Affairs. 44 (2): 394–401. doi:10.1111/ecaf.12652.
- 1 2 3 4 "Ingrid Henriksen: An Economic History of Denmark. EH.Net Encyclopedia, edited by Robert Whaples". 6 Oktober 2006.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Steen Busck: Udenrigshandel før 1848. Dari danmarkshistorien.dk, Universitas Aarhus. 6 Juli 2012. Diarsipkan 21 Desember 2018 di Wayback Machine.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) 650 f. kr.-1020 – Etablering af møntvæsen. Situs web Danmarks Nationalbank, 14 Juni 2016.
- ↑ Hanno Brand, Leos Müller (2007). The Dynamics of Economic Culture in the North Sea and Baltic Region In the Late Middle Ages and Early Modern Period. Verloren. hlm. 19–21. ISBN 9789065508829.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Steen Busck: Merkantilisme. Dari danmarkshistorien.dk, Universitas Aarhus. 9 Februari 2015.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Peter Bejder dan Benjamin Kristensen: Merkantilisme og danske tropekolonier, ca. 1600–1917. Dari danmarkshistorien.dk, Universitas Aarhus. 2 November 2015. Diarsipkan 4 Oktober 2018 di Wayback Machine.
- 1 2 Kærgård, Niels (2022), "The Economic History of Denmark, 1784–2019", Oxford Research Encyclopedia of Economics and Finance, doi:10.1093/acrefore/9780190625979.013.681, ISBN 978-0-19-062597-9
- ↑ The New Encyclopaedia Britannica (Edisi ke-15). Encyclopaedia Britannica. 1983. hlm. 324. ISBN 9780852294000.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Hansen, Sv. Aa. (1976): Økonomisk vækst i Danmark. Jilid I: 1720–1914, jilid II: 1914–70. Akademisk Forlag.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Erik Strange Petersen: Det unge demokrati, 1848–1901: Fremstillingserhverv og industrialisering. Dari danmarkshistorien.dk, Universitas Aarhus. Tanpa tanggal, diakses 23 Oktober 2017. Diarsipkan 29 September 2018 di Wayback Machine.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Johansen, H.C. (2005): Gyldendal og Politikens Danmarkshistorie, jilid 17. Statistik og register. hlm. 157. Gyldendal dan Politikens Forlag.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Jacob Isaksen, Uffe Mikkelsen, dan Peter Beck Nellemann (2012): Arbejdsmarkedsreformer i Danmark og Tyskland. Kvartalsoversigt, kuartal ke-3 2012, bagian 1. Danmarks Nationalbank.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Finanspolitisk holdbarhed. Bab III dalam De Økonomiske Råds Formandskab: Dansk Økonomi, efterår 2016. De Økonomiske Råds Sekretariat. hlm. 146.
- ↑ Nelson, Eshe (30 Agustus 2023). "Novo Nordisk Tilts G.D.P. In Denmark". The New York Times. hlm. B1. ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 5 Oktober 2023.
- 1 2 "Danish Economic Council: Economy and the Environment 2017. English Summary, hlm. 341". 23 Februari 2017.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Danskernes pensionsformue er massiv. Analisis dari “Dansk Metal”, 6 November 2017. Diakses 28 November 2018.
- ↑ "Household wealth and debt. Website of Danmarks Nationalbank, published 21 February 2014 with updates April 2017". Diakses tanggal 28 November 2018.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Indkomstudvikling og -fordeling i Danmark 1983–2005. Situs web Kementerian Keuangan Denmark. Januari 2008, diakses 1 Desember 2018. Diarsipkan 2 Desember 2018 di Wayback Machine.
- ↑ "Table IFOR41: Inequality indicators on equivalised disposable income by indicator and municipality". StatBank Denmark. Diakses tanggal 28 November 2018.
- ↑ "Country Comparison: Distribution of family income – Gini index". The World Factbook – Central Intelligence Agency. Diarsipkan dari asli tanggal 28 November 2018. Diakses tanggal 28 November 2018.
- ↑ "Flexicurity". The Danish Agency for Labour Market and Recruitment. Diakses tanggal 23 November 2018.
- ↑ "An Economic History of Denmark". eh.net. Diakses tanggal 2 Agustus 2019.
- 1 2 Jespersen, Svend T.; Munch, Jakob R.; Skipper, Lars (2008). "Costs and benefits of Danish active labour market programmes" (PDF). Labour Economics. 15 (5): 859–884. doi:10.1016/j.labeco.2007.07.005. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2 Agustus 2019.
- ↑ Hendeliowitz, Jan (Februari 2008). "Danish Employment Policy" (PDF). Employment Region Copenhagen & Zealand The Danish National Labour Market Authority. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 16 Juni 2015.
- ↑ Greve, Bent (2012). "Denmark a Nordic Welfare State – Are the Active Labour Market Policy Withering Away?". The Open Social Science Journal. 5: 15–23. doi:10.2174/1874945301205010015. S2CID 14300043.
- ↑ "Youth unemployment policies: Review of the Danish Youth Unemployment Programme and the British New Deal for Young People" (PDF). Mutual Learning Employment. S2CID 8717167. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 16 Desember 2011.
- ↑ "Tackling youth unemployment in Denmark". Danish Agency for Labour Market and Recruitment. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Agustus 2019. Diakses tanggal 2 Agustus 2019.
- 1 2 "Building Bridge to Education". Danish Agency for Labour Market and Recruitment. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Agustus 2019. Diakses tanggal 2 Agustus 2019.
- ↑ "LFS by sex and age – indicators: Labour force participation rate. OECD statistics". Diakses tanggal 23 November 2018.
- ↑ "Eurostat Employment and Unemployment Database, Table une_rt_a. Unemployment by sex and age – annual average. Last update 31 October 2018".
- ↑ "Table NAN1: Demand and supply by price unit, transaction and time". StatBank Denmark. Diakses tanggal 23 November 2018.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) "Personaleomsætning 2017: Flere skifter job – især i serviceerhverv". Confederation of Danish Industry, 18 Juni 2018. Diarsipkan 16 November 2018 di Wayback Machine.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Hyppige jobskift koster milliarder Diarsipkan 30 Juli 2008 di Wayback Machine.
- ↑ "Table NAN1: Demand and supply by transaction and price unit". StatBank Denmark. Diakses tanggal 26 November 2018.
- ↑ "Table UHV4: Total external trade by imports and exports, main SITC groups and country". StatBank Denmark. Diakses tanggal 26 November 2018.
- ↑ "Table UHTP: International trade in services, quarterly by imports and exports, items and time". StatBank Denmark. Diakses tanggal 26 November 2018.
- ↑ "Table UHV2: Total external trade by imports and exports, seasonal adjustment and country". StatBank Denmark. Diakses tanggal 26 November 2018.
- ↑ "Balance of payments, current account, quarterly data – % of GDP". Eurostat. Diakses tanggal 26 November 2018.
- ↑ "Net international investment position – quarterly data, % of GDP". Eurostat. 24 Oktober 2018. Diakses tanggal 26 November 2018.
- ↑ "History of Danish coinage". Danmarks Nationalbank. Diarsipkan dari asli tanggal 30 Juli 2012. Diakses tanggal 12 April 2012.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) P. U. Johansen dan M. Trier (2012): Danmarks økonomi siden 1980 – en oversigt. Handelshøjskolens forlag. hlm. 144.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) "Nej"-sidens forspring skrumpet en smule. Brief from Danske Bank, diterbitkan 24 Maret 2014. Diakses 25 November 2018. Diarsipkan 23 September 2015 di Wayback Machine.
- 1 2 London, Charles Duxbury in Stockholm And Josie Cox in (30 Januari 2015). "Denmark Suspends Bond Issuance to Protect Krone's Peg". Wall Street Journal. ISSN 0099-9660. Diakses tanggal 31 Desember 2016.
- ↑ Dorrucci, Ettore; Fidora, Michael; Gartner, Christine; Zumer, Tina (5 Januari 2021). "The European exchange rate mechanism (ERM II) as a preparatory phase on the path towards euro adoption – the cases of Bulgaria and Croatia". European Central Bank. Diakses tanggal 25 Januari 2024.
- ↑ "Official interest rates. Website of Danmarks Nationalbank". Diakses tanggal 25 November 2018.
- 1 2 "Table PRIS112: CONSUMER PRICE INDEX (2015=100) BY MAIN FIGURES". StatBank Denmark. Diakses tanggal 25 November 2018.
- 1 2 "Denmark. OECD Journal on Budgeting, Volume 2015/2, OECD 2016" (PDF).
- ↑ "Danish Economic Council: Danish Economy, Spring 2017. English Summary". 24 Mei 2017. hlm. 297.
- ↑ "Danish Economic Councils. Information in English on website of Danish Economic Councils". 30 September 2014. Diakses tanggal 24 November 2018.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Nyt fra Danmarks Statistik nr. 126, 23 Maret 2018. Offentligt kvartalsregnskab 4. kvt. 2017: Fortsat fald i den offentlige finansielle nettogæld.
- ↑ "General government financial wealth". OECDiLibrary. 2018. doi:10.1787/325ddad1-en.
- ↑ "Table EDP3: Denmark's EMU-debt and EMU-deficit by function (% of GDP)". StatBank Denmark. Diakses tanggal 24 November 2018.
- 1 2 "Table EDP2: EU-countries, public finances by country and function (in % of GDP)". StatBank Denmark. Diakses tanggal 24 November 2018.
- 1 2 "Denmarks Convergence Programme 2018. Website of Danish Ministry of Finance". 16 Mei 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 25 November 2018. Diakses tanggal 24 November 2018.
- ↑ "Danish Economic Council: Danish Economy, Spring 2018. English Summary". 14 Mei 2018. hlm. 242.
- 1 2 "SKTRYK: Tax level by national account groups". StatBank Denmark. Diakses tanggal 18 Desember 2022.
- ↑ Revenue Statistics 2023. OECD.org, diakses 18 Desember 2023.
- 1 2 "OECD Revenue Statistics 2023 – Denmark" (PDF). OECD. Diakses tanggal 18 Desember 2023.
- ↑ "Marginal tax for all taxpayers". Danish Ministry of Taxation. 8 April 2016. Diakses tanggal 24 November 2018.
- ↑ Kleven, Henrik Jacobsen (November 2014). "How Can Scandinavians Tax So Much?". Journal of Economic Perspectives. 28 (4): 77–98. doi:10.1257/jep.28.4.77. S2CID 54184316.
- ↑ "Denmark mulls higher taxes for energy traders". 4 Mei 2023.
- ↑ "LBESK02: EMPLOYEES (MONTH) BY SECTOR (2-GRP)". StatBank Denmark. Diakses tanggal 24 November 2018.
- ↑ "What is an A-kasse?". akasse.com (dalam bahasa Dansk). CA a-kasse. 16 Maret 2011. Diakses tanggal 16 Mei 2015.
- ↑ "Introducing Masters Unemployment Insurance Fund". Magistrenes A-kasse (MA). Diarsipkan dari asli tanggal 23 Januari 2015. Diakses tanggal 23 Januari 2015.
- ↑ "A-kasse vs. kontanthjælp". a-kasse.com (dalam bahasa Dansk). CA a-kasse. 21 Maret 2011. Diakses tanggal 16 Mei 2015.
- ↑ "Økonomisk tilskud fra kommunen [financial support from the municipality]". Borger.dk (dalam bahasa Dansk). The Danish State, Kommunernes Landsforening (Pemerintah Daerah Denmark) and Danske Regioner (Region Denmark). Diakses tanggal 23 Januari 2015.
- ↑ "Sygedagpenge [Social benefits for the sick]" (dalam bahasa Dansk). Ministry of Employment. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Januari 2015. Diakses tanggal 24 Januari 2015.
- ↑ "Få overblikket over dagpengereformen [Get an overview of the unemployment benefit reform]" (dalam bahasa Dansk). AK-Samvirket. 13 Maret 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Januari 2015. Diakses tanggal 24 Januari 2015. AK-Samvirket merupakan organisasi payung dana pengangguran Denmark.
- ↑ "Førtidspension". Diarsipkan dari asli tanggal 18 April 2018. Diakses tanggal 17 April 2018.
- ↑ "Products exported by Denmark (2015)". The Observatory of Economic Complexity. Diakses tanggal 26 April 2018.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) Udviklingen af landbrugslandet gennem seks årtier fra 1954 til 2025, Miljø- og Fødevareudvalget 2016–17 MOF Alm.del Bilag 230, Folketinget.dk 2017
- ↑ "Table BDF11: Farms by region, unit, type of farms and area". StatBank Denmark. Diakses tanggal 28 November 2018.
- ↑ (dalam bahasa Denmark) "Færre end 10.000 heltids-landbrug tilbage i Danmark". Landbrugsavisen.dk. 12 Juli 2017. Diakses tanggal 28 November 2018.
- 1 2 "Mink" (dalam bahasa Dansk). Landbrug & Fødevarer. Diakses tanggal 25 Januari 2016. “Landbrug & Fødevarer” merupakan organisasi kepentingan terbesar bagi industri pertanian dan pangan Denmark.
- 1 2 "Danske minkfarmere [Danish Mink Farmers]" (dalam bahasa Dansk). Danske Minkavlere. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Mei 2019. Diakses tanggal 25 Januari 2016. “Danske Minkavlere” merupakan organisasi usaha industri peternakan cerpelai Denmark.
- ↑ "Mink" (dalam bahasa Dansk). Diarsipkan dari asli tanggal 31 Januari 2016. Diakses tanggal 25 Januari 2016.
- ↑ "Organic production and trade". Statistics Denmark. Diakses tanggal 6 Januari 2019.
- ↑ "World leading organic nation". Organic Denmark. 10 Agustus 2018. Diakses tanggal 6 Januari 2019.
- ↑ "Table RAS300: EMPLOYED (END NOVEMBER) BY INDUSTRY (DB07), SOCIOECONOMIC STATUS, AGE AND SEX". StatBank Denmark. Diakses tanggal 17 September 2024.
- ↑ "Danish Biotech: a rapid rise". 25 Februari 2022.
- ↑ "Export value of medicinal and pharmaceutical products in Denmark from 2010 to 2023".
- ↑ "The pharmaceutical sector drives the Danish economy".
- ↑ "Danish Biotech: a rapid rise". 25 Februari 2022.
- ↑ "Danfoss – Rejsen mod Engineering Tomorrow".
- ↑ "Danish Grundfos the world's largest pump group". 13 Juli 2007.
- ↑ "Table NABP69: 1–2.1.1 Production and generation of income (69-grouping) by transaction, industry and price unit". StatBank Denmark. Diakses tanggal 28 November 2018.
- ↑ "Virksomheden". DSB.dk (dalam bahasa Dansk). DSB. Diakses tanggal 18 Desember 2016.
- ↑ "Table VEJ11: Road network 1 January by part of the country and type of road". StatBank Denmark. Diakses tanggal 28 November 2018.
- ↑ "Plug-in and Electrical Vehicles". EnergyMap.dk. Diarsipkan dari asli tanggal 19 Juli 2011. Diakses tanggal 15 Juni 2012.
- ↑ "Energiomstilling 2050: 1972". Badan Energi Denmark. 31 Oktober 2021.
- ↑ "Energiomstilling 2050: 1984". Badan Energi Denmark. 31 Oktober 2021.
- ↑ Dalam konteks ini, “swasembada” berarti produksi energi domestik setara dengan konsumsi energi jika dihitung dalam satuan joule.
- ↑ "Energiomstilling 2050: 1997". Badan Energi Denmark. 31 Oktober 2021.
- 1 2 3 "Energiomstilling 2050: 2015". Badan Energi Denmark. 31 Oktober 2021.
- ↑ Rasmus Tengvad. Det danske energiforbrug på rekordlavt niveau Diarsipkan 19 Januari 2016 di Wayback Machine. Dansk Energi, 30 Januari 2015.
- ↑ “Global Rankings”, diakses 24 Januari 2016.
- ↑ "Grønne afgifter gavner konkurrenceevne". Dagbladet Information. 12 Desember 2011.
Danish industry has gained on the use of green taxes (dansk erhvervsliv har vundet på brugen af grønne afgifter)
- ↑ "Dansk Industri til angreb på regeringens grønne afgifter". Dagbladet Information. 19 Januari 2013.
We have a tax system that goes beyond environment reasons to also fill up the state coffers (idag er vi imidlertid endt med et afgiftssystem, der går ud over den rent miljømæssige begrundelse og også er blevet en måde at fylde statskassen op.)
- ↑ "EL: Grønne afgifter spænder ben for grøn omstilling". Dagbladet Information. 19 Januari 2013.
But in reality they also help pay for schools, hospitals and police (Men i virkeligheden er de også med til at betale for skoler, sygehuse og politi)
- 1 2 Afgifter – provenuet af afgifter og moms 2009–2016, Kementerian Perpajakan Denmark, 2015.
- ↑ Forbedring af den nationale elprisstatistik for erhverv hlm. 7. Badan Energi Denmark.
- ↑ "Electricity prices for household consumers (taxes included), first half 2018 (EUR per kWh). Eurostat". Diakses tanggal 28 November 2018.
- ↑ Energy Prices and Taxes, Country Notes, 3rd Quarter 2015, hlm. 26–27. Badan Energi Internasional, 2015. Arsip
- ↑ "Danish exports of green technology increased by billions in 2019". State of Green. 5 Mei 2020. Diakses tanggal 5 Januari 2023.
- ↑ Henriettej (15 Januari 2016). "Denmark breaks its own world record in wind energy". EurActiv – EU News & policy debates, across languages.
- ↑ "2017 var rekordår for dansk vindenergi" (dalam bahasa Dansk). Ingeniøren.dk. 3 Januari 2018.
- ↑ "Greenland Economy – overview. The World Factbook, CIA, retrieved 7 December 2018". 12 Juli 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Januari 2021.
- ↑ "Faroe Islands Economy – overview. The World Factbook, CIA, retrieved 7 December 2018". Juli 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 10 Januari 2021.
- ↑ "The Faroe Islands and the European Union". www.government.fo. The Government of the Faroe Islands. Diakses tanggal 23 Januari 2017.
- ↑ "What is Greenland's relationship with the EU?". english.eu.dk. The Danish Parliament EU Information Centre. Diarsipkan dari asli tanggal 8 Februari 2017. Diakses tanggal 23 Januari 2017.
- ↑ "World Economic Outlook Database". IMF.
- ↑ "Coop Danmark A/S". Hoovers. Diakses tanggal 15 April 2017.
- ↑ Pengeinstitutternes størrelsesgruppering (dalam bahasa Denmark)
- ↑ "Statistik for registrede andelsboligforeninger på andelsboligforeninger.com [Statistics for registered housing cooperatives at andelsboligforeninger.com]" (dalam bahasa Dansk). Andelsboligforeninger.com. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Mei 2016. Diakses tanggal 19 Mei 2016.
- ↑ "Industry Breakdown of Companies in Denmark". HitHorizons.
Bacaan lebih lanjut
- Lampe, Markus, dan Paul Sharp. A Land of Milk and Butter: How Elites Created the Modern Danish Dairy Industry (University of Chicago Press, 2018) ulasan daring
- Boberg-Fazlic, Nina; Jensen, Peter Sandholt; Lampe, Markus; Sharp, Paul; Skovsgaard, Christian Volmar (2023). “Getting to Denmark: the role of agricultural elites for development”. Journal of Economic Growth. 28 (4): 525–569.
- Kærgård, Niels (2023). “The Danish Economy, 1973–2009: From National Welfare State to International Market Economy”. Scandinavian Journal of History.
Pranala luar
- Ekonomi Denmark
- Statistics Denmark
- Danmarks Nationalbank, bank sentral Denmark
- Situs OECD untuk Denmark dan Survei Ekonomi OECD untuk Denmark
- Gambaran umum Denmark dari Biro Urusan Publik Departemen Luar Negeri Amerika Serikat
- Ringkasan statistik perdagangan Denmark dari Bank Dunia
- Dansk Arbejdsgiverforening, Konfederasi Pengusaha Denmark
- Landsorganisationen i Danmark, Konfederasi Serikat Buruh Denmark
- Anvendt Kommunal Forskning, Institut Penelitian Pemerintahan Denmark
- Pusat Penelitian Sosial Nasional Denmark
- De økonomiske Råds sekretariat, Dewan Ekonomi Denmark Diarsipkan 17 Maret 2015 di Wayback Machine.
- Dewan Ekonomi Gerakan Buruh
- CEPOS, lembaga pemikir ekonomi liberal dan pemerintahan terbatas
- Pusat Analisis Sosial Alternatif
- Economic History Services Encyclopedia: Denmark
- Seribu perusahaan terbesar Denmark
- The World Factbook: Ekonomi Denmark
| Anggota | |
|---|---|
| Calon | |
| Calon potensial | |
Ekonomi Eropa | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Negara berdaulat |
| ||||||||||||
| Negara dengan pengakuan terbatas | |||||||||||||
| Dependensi dan wilayah lain | |||||||||||||
Daftar negara menurut peringkat keuangan | |
|---|---|
| Perdagangan | |
| Pemasukan dan pajak | |
| Lainnya | |