ENSIKLOPEDIA
Ekonomi Selandia Baru
| Ekonomi Selandia Baru | |
|---|---|
| Mata uang | Dolar Selandia Baru (NZD, NZ$) |
| Tahun fiskal | 1 Juli – 30 Juni[1] |
| Organisasi perdagangan | APEC, CPTPP, RCEP, WTO dan OECD |
| Statistik | |
| PDB | |
| Pertumbuhan PDB | |
| PDB per kapita | |
| PDB per sektor |
|
| Inflasi (IHK) | 2,2% (kuartal September 2024)[4] |
| Penduduk di bawah garis kemiskinan | 11,0% (relatif, 2014)[5] |
| Koefisien gini | 33,9 sedang (2019)[6] |
| Angkatan kerja | |
| Angkatan kerja berdasarkan sektor | |
| Pengangguran | |
| Gaji kotor rata-rata | NZ$6.668 / $3.934 per bulan[9] (2024) |
| Gaji bersih rata-rata | NZ$5.283 / $3.116 per bulan[10][11] (2024) |
| Industri utama | Pengolahan makanan, pertanian, kehutanan, wol, pariwisata, jasa keuangan |
| Eksternal | |
| Ekspor | $72,8 miliar (TA 2022/23)[12] |
| Komoditas ekspor | Produk susu, daging, kayu gelondongan dan produk kayu, buah-buahan, anggur, mesin dan peralatan, ikan, serta makanan laut |
| Tujuan ekspor utama | |
| Impor | $88,8 miliar (TA 2022/23)[12] |
| Komoditas impor | Minyak bumi, kendaraan, mesin dan peralatan, barang elektronik, tekstil, serta plastik |
| Negara asal impor utama |
|
| Modal investasi langsung asing | |
| Utang kotor luar negeri | NZ$156,181 miliar (53% dari PDB) (Desember 2018)[13] NZ$86,342 miliar (30,5% dari PDB) (Februari 2018)[14] |
| Pembiayaan publik | |
| Utang publik | |
| Pendapatan | 74,11 miliar (perkiraan 2017)[8] |
| Beban | 70,97 miliar (perkiraan 2017)[8] |
| Bantuan ekonomi | Sebagai donor: $99,7 juta (TA 1999/2000) |
| Peringkat utang | |
| Cadangan mata uang asing | |
Selandia Baru memiliki ekonomi pasar bebas yang sangat maju.[18] Pada 2025, PDB nominal Selandia Baru mencapai US$248 miliar.[19] Dalam pemeringkatan Dana Moneter Internasional tahun 2025, Selandia Baru merupakan ekonomi nasional terbesar ke-52 di dunia berdasarkan produk domestik bruto nominal (PDB) dan terbesar ke-63 berdasarkan Keseimbangan kemampuan berbelanja (KKB). Perekonomiannya termasuk salah satu yang paling terintegrasi secara global dan sangat bergantung pada perdagangan internasional, terutama dengan Tiongkok, Australia, Uni Eropa, Britania Raya, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. Perjanjian Hubungan Ekonomi Lebih Erat dengan Australia pada 1983 membuat perekonomian Selandia Baru sangat selaras dengan ekonomi Australia. Di antara negara-negara OECD, Selandia Baru mempunyai sistem jaminan sosial yang kuat dan sangat efisien. Pengeluaran sosialnya mencapai sekitar 19,4% dari PDB.[20][21][22]

Perekonomian Selandia Baru terdiri atas beragam organisasi formal dan informal yang terbagi antara sektor publik dan swasta. Sektor jasanya cukup besar dan menyumbang 73% dari seluruh kegiatan PDB pada 2024.[23] Sebagai negara kepulauan besar, Selandia Baru memiliki sumber daya alam dan kekayaan mineral yang melimpah.[24] Industri manufaktur utamanya mencakup produksi aluminium, pengolahan makanan, fabrikasi logam, serta produk kayu dan kertas. Industri penghasil barang menyumbang 20% dari PDB pada 2024.[23] Sektor primer tetap mendominasi ekspor Selandia Baru meskipun hanya menyumbang 7% dari PDB pada 2024.[23] Sektor teknologi informasi berkembang pesat.[25]
Pasar modal utama negara tersebut adalah Bursa Efek Selandia Baru (NZX). Pada Februari 2023, NZX mencatat 338 efek yang terdaftar, meliputi saham, utang, dan dana, dengan kapitalisasi pasar gabungan sebesar NZ$226 miliar.[26] Mata uang Selandia Baru, dolar Selandia Baru, juga beredar di empat wilayah Kepulauan Pasifik. Dolar Selandia Baru merupakan mata uang ke-10 yang paling banyak diperdagangkan di dunia.[27]
Sejarah


Selama bertahun-tahun, perekonomian Selandia Baru bertumpu pada sejumlah kecil produk pertanian, seperti wol, daging, dan produk susu. Sejak dasawarsa 1850-an hingga 1970-an, komoditas ini menjadi ekspor utama dan paling bernilai serta menopang keberhasilan perekonomian negara tersebut.[28] Sebagai contoh, antara 1920 dan akhir dasawarsa 1930-an, produk susu biasanya menyumbang sekitar 35% dari seluruh ekspor Selandia Baru, bahkan hampir mencapai 45% pada beberapa tahun.[29] Tingginya permintaan atas komoditas primer tersebut, yang antara lain tercermin dalam ledakan wol Selandia Baru pada 1951, membuat Selandia Baru menikmati salah satu standar hidup tertinggi di dunia selama 70 tahun.[30]
Harga komoditas ekspor tradisional mulai menurun pada dasawarsa 1960-an. Pada 1973, Selandia Baru kehilangan kedudukan perdagangan preferensialnya dengan Britania Raya setelah negara tersebut bergabung dengan Masyarakat Ekonomi Eropa. Sebagian akibat perubahan ini, PDB per kapita relatif Selandia Baru yang disesuaikan menurut keseimbangan kemampuan berbelanja merosot dari sekitar 115% rata-rata OECD pada 1970 menjadi 80% pada 1990.[31]
Antara 1984 dan 1993, Selandia Baru beralih dari perekonomian yang relatif tertutup dan dikendalikan secara terpusat menjadi salah satu perekonomian paling terbuka di OECD.[32] Dalam proses yang dikenal di Selandia Baru sebagai Rogernomics, beberapa pemerintahan berturut-turut menerapkan kebijakan yang meliberalisasi perekonomian secara drastis.
Pada 2005, Grup Bank Dunia memuji Selandia Baru sebagai negara yang paling ramah terhadap kegiatan usaha di dunia.[33][34] Perekonomiannya kemudian semakin beragam dan pada 2008, pariwisata telah menjadi sumber devisa terbesar.[35]
Masa awal
Sebelum permukiman dan kolonisasi Eropa di Selandia Baru, Māori menjalankan perekonomian subsisten. Satuan ekonomi dasarnya adalah kelompok subsuku atau hapū, yang menerapkan pembagian kerja.[36] Sejak dasawarsa 1790-an, perairan sekitar Selandia Baru didatangi kapal pemburu paus Britania, Prancis, dan Amerika, kapal pemburu anjing laut, serta kapal dagang. Para awak kapal menukarkan barang-barang Eropa, termasuk senjata api dan perkakas logam, dengan makanan, air, kayu, serat rami, dan hubungan seksual dari Māori.[37] Meningkatnya pelanggaran hukum dan rencana pembentukan permukiman resmi oleh New Zealand Company merupakan dua faktor yang mendorong penandatanganan Perjanjian Waitangi pada 1840. Perjanjian ini menetapkan Selandia Baru sebagai koloni. Para pemukim masih bergantung pada Māori untuk memperoleh makanan hingga dasawarsa 1860-an.[36][37] Setelah itu, para imigran mampu memenuhi kebutuhan pertaniannya sendiri dan mulai menambang berbagai mineral, termasuk emas. Penemuan emas di Gabriel's Gully, Otago Tengah, memicu demam emas Otago pada 1861. Permukiman berkembang pesat di daerah-daerah pertambangan tersebut. Pada dasawarsa 1880-an, Dunedin menjadi kota terkaya di Selandia Baru, terutama berkat investasi yang berasal dari demam emas.[38]
Peternakan domba bermula di Wairarapa, lalu menyebar di sepanjang pesisir timur dari Southland hingga East Cape setelah jalan sederhana dan sarana transportasi tersedia. Sebagian besar lahan pertanian diambil atau disewa dari Māori. Populasi domba bertambah pesat. Pada pertengahan dasawarsa 1850-an, Selandia Baru telah memiliki satu juta ekor domba dan jumlahnya mencapai sepuluh juta pada awal dasawarsa 1870-an.[28] Wol menjadi komoditas ekspor utama pertama. Produk ini mula-mula diekspor dari permukiman Wellington pada akhir dasawarsa 1850-an, sementara daging tanpa pendingin dan produk susu bahkan telah diekspor hingga Australia.[28]
Pada dasawarsa 1870-an, Julius Vogel beberapa kali menjabat sebagai bendahara kolonial dan perdana menteri. Ia memandang Selandia Baru sebagai “Britania di Laut Selatan”[39] dan memulai pembangunan infrastruktur dengan menggelontorkan investasi besar pada jalan raya, jalur kereta api, telegraf, dan jembatan yang dibiayai melalui pinjaman pemerintah.[40] Pembangunan melambat setelah City of Glasgow Bank bangkrut pada 1878. Peristiwa tersebut menyebabkan penyusutan kredit dari London, yang saat itu merupakan pusat sistem keuangan dunia. Kegiatan ekonomi mengalami kelesuan selama beberapa tahun hingga teknologi pendinginan diperkenalkan pada 1882.[30] Teknologi ini memungkinkan Selandia Baru mulai mengekspor daging dan produk beku lainnya ke Britania Raya. Pendinginan mengubah dan membentuk perkembangan perekonomian, tetapi sekaligus menciptakan ketergantungan ekonomi Selandia Baru pada Britania.
Keberhasilan teknologi pendinginan berkaitan langsung dengan pertumbuhan dan perkembangan pertanian. Pada abad ke-19, sebagian besar kegiatan ekonomi Selandia Baru berlangsung di Pulau Selatan. Sejak sekitar 1900, peternakan sapi perah semakin layak dijalankan di wilayah yang kurang sesuai untuk domba, terutama di Northland, Waikato, dan Taranaki. Seiring berkembangnya peternakan sapi perah, Pulau Utara perlahan menjadi semakin penting bagi perekonomian.[41] Britania menjadi satu-satunya pasar bagi daging dan produk peternakan Selandia Baru seiring meluasnya pembukaan lahan dan kegiatan pertanian. Perkembangan peternakan sapi perah dapat dipandang sebagai tanggapan terhadap kuatnya permintaan pasar Eropa. Perubahan ini tidak hanya membentuk bentang perdesaan, perekonomian, dan teknik produksi Selandia Baru, tetapi juga mendorong migrasi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja sektor tersebut.[42]
Abad ke-20
Reserve Bank of New Zealand didirikan sebagai bank sentral Selandia Baru pada 1 Agustus 1934. Sebelumnya, kebijakan moneter Selandia Baru ditetapkan di Britania Raya, sedangkan Pound Selandia Baru diterbitkan oleh bank-bank swasta. Pembentukan bank sentral tersendiri untuk pertama kalinya memberi pemerintah Selandia Baru kendali atas kebijakan moneter.[43] Meskipun demikian, Selandia Baru tetap menjadi bagian dari wilayah sterling dengan menambatkan mata uangnya terhadap pound sterling Britania hingga dolar Selandia Baru diperkenalkan pada 1967. Dolar tersebut kemudian ditambatkan terhadap dolar Amerika Serikat,[44] sebelum dibiarkan mengambang pada 1985.[45]
Pada pertengahan abad ke-20, hasil peternakan menyumbang lebih dari 90% ekspor Selandia Baru.[41] Pada dasawarsa 1950-an, sekitar 65% dari ekspor tersebut dikirim ke Britania. Sebagai bekas koloni, Selandia Baru memperoleh kuota perdagangan preferensial dari Britania Raya.[46] Pengaturan ini juga memungkinkan Selandia Baru mengenakan tarif tinggi atas barang impor dari negara lain. Pembatasan impor yang ketat membuat produsen lokal mampu menghasilkan barang sejenis, memperluas lapangan kerja, dan tetap bersaing dengan produk impor yang lebih mahal.
Kemakmuran tersebut bertahan hingga 1955, ketika Britania mulai menghapus kuota preferensial secara bertahap.[46][47] Sejak itu, harga yang diterima Selandia Baru ditentukan oleh pasar bebas. Akibatnya, standar hidup negara tersebut mulai menurun pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an karena sektor ekspornya tidak lagi mampu membiayai impor yang diperlukan untuk memenuhi peningkatan konsumsi masyarakat.

Britania mengajukan permohonan untuk bergabung dengan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) pada 1961, tetapi diveto oleh Prancis. Pemerintahan Keith Holyoake menanggapinya dengan berupaya mendiversifikasi pasar ekspor Selandia Baru. Pada 1965, pemerintah menandatangani perjanjian perdagangan bebas pertamanya, yaitu Perjanjian Perdagangan Bebas Australia–Selandia Baru,[48] serta membuka perwakilan diplomatik baru di Hong Kong, Jakarta, Saigon, Los Angeles, dan San Francisco.[29] Britania kembali mengajukan keanggotaan MEE pada 1967 dan memulai perundingan pada 1970. Wakil sekaligus penerus Holyoake, Jack Marshall, yang sempat menjadi perdana menteri pada 1972, merundingkan kelanjutan akses ekspor Selandia Baru ke Britania Raya berdasarkan “Perjanjian Luksemburg”.[49]
Britania resmi menjadi anggota penuh MEE pada 1 Januari 1973. Seluruh perjanjian dagangnya dengan Selandia Baru berakhir, kecuali Perjanjian Luksemburg.[49] Pada akhir tahun tersebut, hanya 26,8% ekspor Selandia Baru yang dikirim ke Britania.[50] Perubahan ini sangat memengaruhi standar hidup. Pada 1953, Selandia Baru menempati urutan ketiga dunia dalam standar hidup, tetapi merosot ke posisi ke-22 pada 1978.[47]
Setelah kehilangan akses tanpa batas ke pasar tradisionalnya, Selandia Baru terus mencari pasar ekspor alternatif dan mendiversifikasi perekonomian. Pemerintahan Norman Kirk, yang menggantikan Marshall, lebih menekankan perluasan perdagangan, terutama dengan Asia Tenggara. Seusai Perang Yom Kippur pada Oktober 1973, negara-negara pengekspor minyak Timur Tengah memberlakukan embargo yang memicu krisis minyak 1973. Peristiwa ini semakin memperburuk keadaan ekonomi Selandia Baru. Inflasi melonjak karena biaya transportasi dan barang impor meningkat tajam sehingga standar hidup menurun.[51]
Think Big
Setelah krisis energi 1979 yang dipicu oleh Revolusi Iran pada tahun tersebut, Robert Muldoon, perdana menteri pada 1975–1984, menerapkan strategi ekonomi bernama Think Big. Sejumlah pabrik industri berskala besar dibangun dengan memanfaatkan cadangan gas alam Selandia Baru yang melimpah. Berbagai produk ekspor baru, seperti amonia, pupuk urea, metanol, dan bensin mulai diproduksi. Pemakaian listrik juga ditingkatkan, termasuk melalui elektrifikasi jalur kereta api North Island Main Trunk, dengan tujuan mengurangi ketergantungan Selandia Baru pada impor minyak.[35]
Proyek lainnya mencakup Bendungan Clyde di Sungai Clutha, yang dibangun untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik, serta perluasan pabrik New Zealand Steel di Glenbrook.[52]
Tiwai Point Aluminium Smelter, yang dibuka pada 1971, juga ditingkatkan sebagai bagian dari strategi Think Big dan kini menghasilkan pendapatan ekspor sekitar NZ$1 miliar setiap tahun.[53]
Sebagian besar proyek tersebut mulai beroperasi pada waktu yang tidak tepat, bertepatan dengan jatuhnya harga minyak selama banjir minyak dasawarsa 1980-an. Harga minyak mentah turun dari lebih dari US$90 per barel pada 1980 menjadi sekitar US$30 beberapa tahun kemudian. Proyek-proyek Think Big memerlukan pinjaman dalam jumlah besar sehingga utang pemerintah melonjak dari $4,2 miliar ketika Muldoon menjadi perdana menteri pada 1975 menjadi $21,9 miliar saat ia meninggalkan jabatan sembilan tahun kemudian. Inflasi tetap tidak terkendali dan rata-rata mencapai 11% sepanjang dasawarsa 1980-an.[51] Setelah Partai Buruh berkuasa pada 1984, banyak proyek tersebut dijual kepada perusahaan swasta sebagai bagian dari penjualan aset negara dalam skala yang lebih luas.[52]
Meskipun demikian, pemerintahan Muldoon juga mengambil beberapa langkah deregulasi. Pada 1982, misalnya, pemerintah mencabut pembatasan perizinan angkutan bagi perusahaan angkutan jalan yang membawa barang sejauh lebih dari 150 km dan mengubah Departemen Perkeretaapian Selandia Baru menjadi Perusahaan Kereta Api Selandia Baru.
Rogernomics
Antara 1984 dan 1993, Selandia Baru menjalani reformasi ekonomi radikal. Negara tersebut beralih dari sistem yang mungkin paling protektif, teregulasi, dan didominasi negara di antara seluruh negara demokrasi kapitalis menuju posisi ekstrem pada ujung spektrum ekonomi terbuka, kompetitif, dan berpasar bebas.[54]
Pemerintahan Partai Buruh Keempat, yang terpilih pada Juli 1984, mengurangi campur tangan pemerintah dalam perekonomian dan membiarkan mekanisme pasar bebas menjadi dominan. Reformasi ini dikenal sebagai “Rogernomics”, diambil dari nama Roger Douglas, menteri keuangan pada 1984–1988. Perubahannya mencakup pemberian independensi kepada Reserve Bank dari keputusan politik, kontrak kinerja bagi pegawai negeri senior, reformasi keuangan sektor publik berdasarkan akuntansi akrual, netralitas pajak, penghapusan subsidi pertanian, dan regulasi persaingan yang netral terhadap industri. Subsidi pemerintah, termasuk subsidi pertanian, dihapus; peraturan impor dilonggarkan; nilai tukar dibiarkan mengambang; kendali atas suku bunga, upah, dan harga dicabut; serta tarif pajak penghasilan pribadi diturunkan. Kebijakan moneter yang ketat dan upaya besar untuk mengurangi defisit anggaran pemerintah menurunkan inflasi dari tingkat tahunan lebih dari 18% pada 1987. Deregulasi badan usaha milik pemerintah pada dasawarsa 1980-an dan 1990-an mengurangi peran pemerintah dalam perekonomian serta memungkinkan pelunasan sebagian utang pemerintah.


Pemerintahan baru langsung menghadapi krisis nilai tukar sehari setelah terpilih. Para spekulan memperkirakan pergantian pemerintahan akan menyebabkan devaluasi dolar Selandia Baru sebesar 20%. Penolakan Muldoon untuk mendevaluasi mata uang tersebut memicu krisis konstitusional Selandia Baru 1984 dan semakin memperburuk krisis mata uang. Dolar akhirnya dibiarkan mengambang pada 4 Maret 1985 sehingga nilainya dapat berubah mengikuti pasar.[55] Sebelumnya, dolar ditambatkan terhadap sekeranjang mata uang berdasarkan sistem nilai tukar tetap.[55]
Pasar keuangan dideregulasi, sedangkan tarif barang impor diturunkan dan kemudian dihapus secara bertahap. Pada saat yang sama, subsidi bagi berbagai industri, terutama pertanian, dihapus atau dikurangi secara besar-besaran. Pajak penghasilan dan pajak perusahaan diturunkan, sementara tarif pajak marginal tertinggi dipangkas dari 66% menjadi 33%. Pengurangan pajak tersebut diimbangi dengan pemberlakuan pajak barang dan jasa yang luas (GST), yang mula-mula ditetapkan sebesar 10%, lalu dinaikkan menjadi 12,5% pada 1989 dan 15% pada 2010. Pemerintah juga memberlakukan pajak tambahan atas dana pensiun universal.[37] Sejumlah departemen pemerintah dikorporatisasi dan sejak 1 April 1987 menjadi badan usaha milik negara yang diwajibkan memperoleh laba. Perusahaan-perusahaan baru tersebut memangkas ribuan pekerjaan sehingga menambah pengangguran, yakni 3.000 pekerja di Electricity Corporation, 4.000 di Coal Corporation, 5.000 di Forestry Corporation, dan 8.000 di New Zealand Post.[56]
Pembekuan upah dan harga pada awal dasawarsa 1980-an, penghapusan pembatasan keuangan, dan terbatasnya peluang investasi memicu gelembung spekulatif di pasar saham Selandia Baru. Gelembung ini berakhir dengan keruntuhan pasar saham 1987, ketika nilai pasar saham Selandia Baru anjlok 60% dari puncaknya pada 1987 dan memerlukan beberapa tahun untuk pulih.[57][58]

Inflasi tetap menjadi masalah besar bagi perekonomian Selandia Baru. Antara 1985 dan 1992, inflasi rata-rata mencapai 9% per tahun dan perekonomian berada dalam resesi.[59] Tingkat pengangguran meningkat dari 3,6% menjadi 11%,[60] peringkat kredit Selandia Baru diturunkan dua kali, dan utang luar negeri meningkat empat kali lipat.[59] Pada 1989, Undang-Undang Reserve Bank of New Zealand 1989 disahkan dan menciptakan kebijakan moneter yang ketat di bawah kendali tunggal Gubernur Reserve Bank. Sejak itu, Reserve Bank berfokus menjaga inflasi tetap rendah dan stabil dengan menggunakan Official Cash Rate (OCR), yakni biaya peminjaman uang di Selandia Baru, sebagai instrumen utamanya. Hasilnya, inflasi rata-rata turun menjadi 2,5% pada dasawarsa 1990-an, dibandingkan dengan 12% pada dasawarsa 1970-an.[51] Namun, pengetatan kebijakan moneter turut meningkatkan pengangguran pada awal dasawarsa 1990-an.[61]
Partai Buruh mengalami perpecahan besar akibat Rogernomics, terutama setelah keruntuhan pasar saham 1987 dan dampaknya terhadap perekonomian. Bersama negara-negara lain, Selandia Baru kemudian memasuki resesi pada awal dasawarsa 1990-an. Partai Nasional kembali berkuasa setelah pemilihan umum 1990, sementara Ruth Richardson menjadi menteri keuangan di bawah Perdana Menteri Jim Bolger. Pemerintahan baru kembali menghadapi persoalan ekonomi besar karena Bank Selandia Baru, yang saat itu masih dimiliki negara, memerlukan dana talangan agar tetap beroperasi.
Anggaran pertama Richardson pada 1991, yang dijuluki “Induk Segala Anggaran”,[62] berupaya mengatasi defisit fiskal dan pinjaman yang terus-menerus dengan memangkas pengeluaran negara. Tunjangan pengangguran dan kesejahteraan sosial dikurangi, sedangkan “sewa pasar” diterapkan pada perumahan negara. Dalam beberapa kasus, kebijakan ini meningkatkan sewa rumah masyarakat berpenghasilan rendah hingga tiga kali lipat.[63] Richardson juga memberlakukan ketentuan user pays (kebijakan berdasarkan prinsip pengguna membayar) di rumah sakit dan sekolah.[62] Para pengkritik menyebut reformasi tersebut sebagai Ruthanasia.
Pada masa ini, perekonomian Selandia Baru menghadapi persoalan sosial yang serius. Perkiraan jumlah warga Selandia Baru yang hidup dalam kemiskinan meningkat sekurang-kurangnya 35% antara 1989 dan 1992,[59] sedangkan manfaat ekonomi privatisasi dipertanyakan.[64] PDB per kapita mengalami stagnasi antara tahun fiskal 1986–1987 dan 1993–1994. Pada Maret 1992, tingkat pengangguran mencapai 11,1%.[65] Perekonomian Selandia Baru hanya tumbuh 4,7% antara 1985 dan 1992, sedangkan rata-rata negara OECD tumbuh 28,2% selama periode yang sama.[66] Antara 1984 dan 1993, inflasi rata-rata mencapai 9% per tahun, peringkat kredit Selandia Baru diturunkan dua kali, dan utang luar negeri meningkat empat kali lipat.[59] Tingkat pengangguran juga meningkat dari 3,6% pada 1986 menjadi 11% pada 1993.[67]

Deregulasi juga menghasilkan kerangka regulasi yang ramah terhadap dunia usaha dan menguntungkan pihak-pihak yang mampu memanfaatkannya. Sebuah survei pada 2008 oleh Heritage Foundation dan The Wall Street Journal memberi Selandia Baru nilai 99,9% dalam “kebebasan berusaha” dan 80% dalam “kebebasan ekonomi”. Survei tersebut mencatat bahwa pendirian perusahaan di Selandia Baru rata-rata hanya memerlukan 12 hari, dibandingkan dengan rata-rata dunia selama 43 hari.[68]
Deregulasi juga dianggap menyebabkan sejumlah dampak negatif besar. Salah satunya ialah krisis rumah bocor, ketika pelonggaran standar bangunan, yang didasarkan pada anggapan bahwa kekuatan pasar akan menjamin mutu, mengakibatkan pembangunan ribuan bangunan yang sangat bermasalah selama sekitar satu dasawarsa. Sebagian besar bangunan tersebut merupakan rumah tinggal dan apartemen. Biaya perbaikannya diperkirakan melebihi NZ$11 miliar (per 2009[update]).[69]
Abad ke-21

Tingkat pengangguran terus menurun sepanjang tahun fiskal 1993–1994, hingga krisis finansial Asia 1997 kembali mendorongnya naik.[70] Pada 2016, tingkat pengangguran turun menjadi 5,3%, angka terendah dalam tujuh tahun.[71]
Antara 2000 dan 2007, perekonomian Selandia Baru tumbuh rata-rata 3,5% per tahun, terutama didorong oleh konsumsi swasta dan pasar perumahan yang berkembang pesat. Dalam periode ini, inflasi rata-rata hanya mencapai 2,6% per tahun, masih dalam sasaran Reserve Bank sebesar 1–3%.[72] Namun, perekonomian memasuki resesi pada awal 2008, sebelum dampak Resesi Besar mulai terasa pada akhir tahun tersebut. Kekeringan selama musim panas 2007–2008 menurunkan produksi produk susu pada paruh pertama 2008. Kegiatan ekonomi domestik melambat tajam sepanjang tahun akibat kenaikan harga bahan bakar dan pangan yang menekan konsumsi. Suku bunga tinggi dan penurunan harga rumah juga menyebabkan investasi perumahan merosot dengan cepat.[72]
Ketidakstabilan sektor keuangan mulai merebak di berbagai negara. Keadaan ini mencapai puncaknya pada September 2008 ketika kebangkrutan Lehman Brothers memicu krisis keuangan 2008.[73]
Keruntuhan perusahaan pembiayaan (2006–2012)

Kurva imbal hasil terbalik pada 1994–1998 dan 2004–2008
Pada masa krisis keuangan 2008, kepercayaan pelaku usaha dan konsumen di Selandia Baru merosot tajam ketika puluhan perusahaan pembiayaan bangkrut.[74] Untuk mencegah perpindahan dana dari lembaga keuangan Selandia Baru ke Australia, pemerintah membentuk Skema Jaminan Simpanan Ritel Pemerintah guna melindungi dana nasabah apabila bank atau perusahaan pembiayaan bangkrut.[75] Skema tersebut melindungi sebagian investor, tetapi sedikitnya 67 perusahaan pembiayaan tetap bangkrut dalam waktu singkat.[76] Kasus terbesar menimpa South Canterbury Finance. Kebangkrutan perusahaan ini pada Agustus 2010 membebani pembayar pajak sebesar NZ$1,58 miliar.[77] Para direktur dari banyak perusahaan tersebut kemudian diselidiki atas dugaan penipuan dan beberapa direktur terkemuka dijatuhi hukuman penjara.[78][79][80][81][82]
Untuk merangsang perekonomian, Reserve Bank memangkas Official Cash Rate (OCR) dari puncaknya sebesar 8,25% pada Juli 2008 menjadi 2,5% pada akhir April 2009, tingkat terendah sepanjang sejarah.[72]
Dibandingkan dengan banyak negara OECD lainnya, resesi di Selandia Baru relatif ringan. Dari 34 negara anggota, Selandia Baru menjadi negara keenam yang paling sedikit terdampak, dengan penurunan PDB riil secara keseluruhan sebesar 3,5%.[72] Perekonomian mulai pulih pada 2009, didorong oleh kuatnya permintaan dari mitra dagang utama, Australia dan Tiongkok, serta harga ekspor produk susu dan kayu gelondongan Selandia Baru yang mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah. PDB tumbuh moderat sebesar 1,6% pada 2010. Kegiatan ekonomi terus membaik selama beberapa tahun berikutnya, ditopang pembangunan kembali Canterbury setelah gempa bumi Christchurch dan pemulihan permintaan domestik.[72] Sepanjang 2011, keadaan global memburuk dan nilai tukar perdagangan turun dari puncaknya pada tahun tersebut, kemudian terus melemah hingga September 2012.
Ekonomi "rock star"
Perekonomian tumbuh sebesar 3,3% pada 2013. Kepala ekonom HSBC untuk Australia dan Selandia Baru, Paul Bloxham, memperkirakan pertumbuhan Selandia Baru akan melampaui sebagian besar negara sebanding dan menyebutnya sebagai “ekonomi rock star 2014”.[83] Seorang komentator keuangan lain menyebut dolar Selandia Baru sebagai mata uang “terpanas” pada 2014.[84] Hanya tiga bulan kemudian, Komisi Produktivitas Selandia Baru menyampaikan kekhawatiran mengenai rendahnya standar hidup dan berbagai masalah yang memengaruhi pendorong pertumbuhan jangka panjang. Paul Conway, Direktur Ekonomi dan Penelitian di Komisi Produktivitas Selandia Baru, menulis: “Kebijakan umum Selandia Baru seharusnya menghasilkan PDB per kapita 20 persen di atas rata-rata OECD, tetapi hasil sebenarnya lebih dari 20 persen di bawah rata-rata. Kita mungkin bertanding di atas kelas kita, tetapi itu hanya karena kita berada dalam divisi berat yang salah!”[85] Pada Agustus, Bloxham mengakui bahwa “penurunan tajam harga produk susu selama enam bulan terakhir telah membuat prospek agak suram”.[86] Namun, pada Desember ia menyatakan bahwa perekonomian Selandia Baru diperkirakan tetap tumbuh kuat.[87]
Kesenjangan yang semakin lebar antara golongan kaya dan miskin mendapat perhatian lebih besar pada 2014. Dalam The Guardian, Max Rashbrook mengatakan bahwa kebijakan pemerintahan Partai Buruh dan Partai Nasional telah memperbesar ketimpangan. Menurutnya, kemarahan masyarakat “teredam” selama dua puluh tahun, tetapi “tanda bahaya akhirnya mulai terdengar. Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa tiga perempat warga Selandia Baru menganggap negaranya tidak lagi egaliter”.[88]
Pandemi COVID-19 dan resesi (2020–2022)
Selandia Baru mencatat kasus COVID-19 pertamanya pada 28 Februari 2020. Sebagai tanggapan terhadap pandemi, pemerintah menutup perbatasan negara bagi semua orang selain warga negara dan penduduk Selandia Baru pada 19 Maret. Karantina wilayah penuh diberlakukan dari 26 Maret hingga 27 April, diikuti karantina wilayah sebagian dari 28 April hingga 13 Mei.
Penutupan perbatasan dan karantina wilayah mengakibatkan kemerosotan besar di sektor ritel, akomodasi, perhotelan, dan transportasi. Pada 17 September 2020, Selandia Baru secara resmi memasuki resesi setelah produk domestik bruto menyusut 12,2% pada kuartal Juni.[89][90][91] PDB kemudian melonjak 14% pada kuartal September sehingga kontraksi tahunan menyusut menjadi 2,2%.[92]
Setelah berhasil mengendalikan virus, perekonomian Selandia Baru tumbuh pesat dalam pemulihan berbentuk V dan menutup tahun dengan pertumbuhan keseluruhan sebesar 0,4%, lebih baik daripada perkiraan kontraksi 1,7%.[93] Tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,9% pada Desember 2020 dari puncaknya sebesar 5,3% pada September akibat COVID-19.[94]
Pembatasan kembali diberlakukan pada akhir 2021[95] setelah COVID-19 kembali menyebar di Selandia Baru dan tetap berlaku hingga akhir 2023.[96]
Pada 23 September 2021, kepala eksekutif Restaurant Association, Marisa Bidois, memperkirakan bahwa sekitar 1.000 usaha hospitalitas di seluruh Selandia Baru terpaksa ditutup akibat pandemi COVID-19 sehingga 13.000 pekerjaan hilang. Sebagai tanggapan, asosiasi tersebut melobi pemerintah agar melanjutkan subsidi upah dan memberikan insentif untuk meningkatkan jumlah pelanggan.[97] Pada 13 November 2021, Bay of Plenty Times melaporkan bahwa 26.774 perusahaan telah dilikuidasi selama delapan bulan pertama tahun tersebut.[98]
Pada 27 Januari 2022, tingkat inflasi Selandia Baru pada akhir 2021 mencapai 5,9%, tertinggi dalam 30 tahun. Menurut data Statistics New Zealand, kenaikan biaya konstruksi, bensin, dan sewa mendorong indeks harga konsumen naik 1,4% antara Oktober dan Desember 2021. Statistics NZ juga mencatat kenaikan pengeluaran utilitas rumah tangga sebesar 2%, yang didorong oleh peningkatan biaya hunian baru sebesar 16% dibandingkan dengan 2020 dan lonjakan harga bahan bakar sebesar 30%, dari NZ$1,87 menjadi NZ$2,45 per liter. Perdana Menteri Jacinda Ardern mengaitkan tingginya inflasi dengan kenaikan harga minyak mentah di luar negeri. Sebaliknya, pemimpin oposisi Partai Nasional Christopher Luxon dan juru bicara keuangan Simon Bridges menyalahkan pengeluaran pemerintah yang mereka sebut “boros”.[99]
Pada 1 Februari 2022, laporan tahunan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyebut pembatasan perbatasan dan penurunan harga rumah sebagai risiko utama yang dihadapi perekonomian Selandia Baru pada tahun tersebut. Laporan itu menilai strategi eliminasi dan stimulus ekonomi makro, seperti subsidi upah dan sosial-ekonomi, telah membantu perekonomian kembali ke tingkat sebelum pandemi. Namun, OECD juga memperingatkan bahwa pengeluaran pemerintah yang berlebihan menyebabkan perekonomian terlalu panas serta meningkatkan utang rumah tangga dan pemerintah secara tajam. OECD menyambut keputusan Reserve Bank untuk menaikkan suku bunga, tetapi juga mendesak pemerintah agar menaikkan usia pensiun, menghapus hambatan pembangunan rumah, dan mengurangi pengeluaran. Organisasi tersebut turut mendukung penerapan skema asuransi sosial bagi pekerja yang menganggur.[100]
Pascapandemi COVID-19 (2023–sekarang)
Setelah pembatasan terakhir terkait COVID-19 dicabut pada 2023,[96] Selandia Baru memasuki masa stagnasi ekonomi dan resesi.[101] Inflasi yang berlanjut, kenaikan suku bunga, dan rendahnya belanja konsumen mengakibatkan pertumbuhan ekonomi rendah hingga negatif sepanjang 2022–2024.[102]
Gambaran umum

Pada 2015, Indeks Kemajuan Sosial, yang mencakup bidang seperti kebutuhan dasar manusia, landasan kesejahteraan, dan tingkat peluang yang tersedia bagi warga, menempatkan perekonomian Selandia Baru pada urutan kelima dunia.[103] Meski demikian, prospeknya masih menghadapi sejumlah tantangan. Sebelum krisis dasawarsa 1970-an, tingkat pendapatan Selandia Baru melampaui banyak negara Eropa Barat. Kedudukannya kemudian merosot secara relatif dan tidak pernah pulih. Akibatnya, jumlah warga Selandia Baru yang hidup dalam kemiskinan bertambah dan ketimpangan pendapatan meningkat tajam.
Selandia Baru juga mengalami defisit neraca transaksi berjalan yang terus-menerus sejak awal dasawarsa 1970-an. Defisit tersebut mencapai puncak sebesar −7,8% dari PDB pada 2006, lalu turun menjadi −2,6% pada tahun fiskal 2014.[104] CIA World Fact Book memperkirakan utang pemerintah Selandia Baru pada 2017 sebesar 31,7% dari PDB.[105] Antara 1984 dan 2006, utang luar negeri bersih meningkat sebelas kali lipat menjadi NZ$182 miliar.[33] Pada Juni 2018, utang bruto pemerintah pusat tercatat sebesar NZ$84.524 juta atau 29,5% dari PDB, sedangkan utang bersihnya mencapai NZ$62.114 juta atau 21,7% dari PDB.[14]


Meskipun terus mengalami defisit neraca transaksi berjalan, neraca perdagangan barang dan jasa luar negeri Selandia Baru umumnya mencatat surplus. Pada tahun fiskal 2014, penerimaan ekspor melampaui impor sebesar NZ$3,9 miliar.[104] Negara tersebut juga mengalami ketidakseimbangan pendapatan investasi atau arus keluar bersih untuk membayar utang luar negeri. Pada tahun fiskal 2014, pendapatan investasi Selandia Baru dari seluruh dunia mencapai NZ$7 miliar, sedangkan pengeluarannya sebesar NZ$16,3 miliar, sehingga menghasilkan defisit NZ$9,3 miliar.[104] Bagian defisit neraca transaksi berjalan yang berasal dari ketidakseimbangan pendapatan investasi, berupa arus keluar bersih ke sektor perbankan milik Australia, meningkat dari sepertiga pada 1997 menjadi sekitar 70% pada 2008.[106]
Perpajakan
Pada tingkat nasional, Inland Revenue Department (IRD) memungut pajak atas nama Pemerintah Selandia Baru. Warga Selandia Baru membayar pajak nasional atas pendapatan pribadi dan usaha, serta atas penyediaan barang dan jasa melalui pajak barang dan jasa (GST). Selandia Baru tidak mengenakan pajak keuntungan modal, meskipun beberapa jenis “keuntungan”, seperti laba dari penjualan hak paten, dianggap sebagai pendapatan. Pajak penghasilan berlaku atas transaksi properti dalam keadaan tertentu, terutama yang bersifat spekulatif. Pemerintah daerah mengelola dan memungut pajak properti daerah. Sejumlah barang dan jasa dikenai pajak khusus berupa cukai atau bea, seperti cukai minuman beralkohol dan bea perjudian. Pajak tersebut dipungut oleh berbagai lembaga pemerintah, termasuk Bea Cukai Selandia Baru. Selandia Baru tidak mengenakan pajak jaminan sosial atau penggajian maupun pajak tanah.
Anggaran Selandia Baru 2010 mengumumkan pemangkasan tarif pajak penghasilan pribadi, dengan tarif tertinggi diturunkan dari 38% menjadi 33%.[107] Pemangkasan tersebut menjadikan beban pajak pribadi Selandia Baru terendah kedua di antara negara-negara OECD. Hanya warga Meksiko yang membawa pulang persentase gaji bersih lebih besar.[108]
Pemangkasan pajak penghasilan diperkirakan mengurangi pendapatan negara sebesar $2,46 miliar.[109] Sebagai kompensasi, pemerintahan Partai Nasional menaikkan GST dari 12,5% menjadi 15%.[110] Data Departemen Keuangan menunjukkan bahwa penduduk berpendapatan tertinggi membelanjakan 6–8% pendapatannya untuk membayar GST. Sementara itu, penduduk berpenghasilan kurang dari $356 per minggu membelanjakan 11–14% pendapatannya untuk pajak tersebut. Berdasarkan data ini, The New Zealand Herald memperkirakan bahwa kenaikan GST menjadi 15% akan meningkatkan biaya hidup kelompok miskin lebih dari dua kali lipat dibandingkan kelompok kaya.[111]
Korupsi
Selandia Baru menempati peringkat pertama dalam Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Transparency International tahun 2017 dengan skor 89 dari 100.[112] Pada 2018, negara tersebut berada di peringkat kedua dengan skor 87 dari 100.[113] Selandia Baru kembali menduduki peringkat pertama pada 2019 dengan skor 87 dari 100.[114] Meskipun termasuk salah satu negara dengan tingkat korupsi terendah di dunia, praktik korupsi masih ditemukan di Selandia Baru.[115]
Perekonomian regional

Pada Maret 2026, Statistics New Zealand menerbitkan rincian produk domestik bruto setiap region di Selandia Baru untuk tahun yang berakhir pada Maret 2025:[116]
| Region (nomor peta) | PDB 2025 (juta NZ$) |
Bagian dari PDB nasional |
PDB per kapita 2025 (NZ$) |
Pertumbuhan PDB 2024–2025 |
|---|---|---|---|---|
| Northland (1) | 11.645 | 2,7% | 57.992 | |
| Auckland (2) | 161.800 | 37,5% | 89.521 | |
| Waikato (3) | 38.306 | 8,9% | 72.330 | |
| Bay of Plenty (4) | 25.041 | 5,8% | 71.343 | |
| Gisborne (5) | 3.093 | 0,7% | 58.588 | |
| Hawke's Bay (6) | 12.580 | 2,9% | 69.966 | |
| Taranaki (7) | 11.088 | 2,6% | 85.095 | |
| Manawatū-Whanganui (8) | 17.146 | 4,0% | 65.844 | |
| Wellington (9) | 51.317 | 11,9% | 94.438 | |
| Pulau Utara | 332.016 | 77,0% | 81.868 | |
| Tasman / Nelson (10 / 11)[* 1] | 7.788 | 1,8% | 68.194 | |
| Marlborough (12) | 4.249 | 1,0% | 83.484 | |
| West Coast (13) | 2.687 | 0,6% | 77.650 | |
| Canterbury (14)[* 2] | 55.505 | 12,9% | 79.852 | |
| Otago (15) | 19.269 | 4,5% | 76.101 | |
| Southland (16) | 9.943 | 2,3% | 95.061 | |
| Pulau Selatan | 99.441 | 23,0% | 79.388 | |
| Selandia Baru | 431.457 | 100,0% | 81.283 |
- ↑ Nelson dan Tasman digabungkan oleh Statistics New Zealand, tetapi merupakan region yang terpisah.
- ↑ Mencakup Kepulauan Chatham.
Pengangguran
Sebelum guncangan ekonomi akibat keputusan Britania bergabung dengan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) pada 1973, yang mengakhiri kedudukan Britania Raya sebagai pasar ekspor utama Selandia Baru,[117] tingkat pengangguran di Selandia Baru sangat rendah. Resesi dan keruntuhan harga wol pada 1966 menyebabkan jumlah pengangguran meningkat 131%, tetapi kenaikan tingkat penganggurannya hanya sebesar 0,7 poin persentase.[118]
Setelah 1973, pengangguran menjadi persoalan ekonomi dan sosial yang berkepanjangan. Resesi pada 1976–1978 dan 1982–1983 kembali meningkatkan pengangguran secara tajam.[118] Antara 1985 dan 2012, tingkat pengangguran rata-rata mencapai 6,29%. Seusai keruntuhan pasar saham 1987, jumlah pengangguran melonjak 170%[118] dan mencapai rekor 11,20% pada September 1991.[119] Krisis finansial Asia 1997 kembali meningkatkan pengangguran sebesar 28%.[118] Pada Desember 2007, tingkatnya telah turun menjadi 3,5%, terendah sejak metode survei saat ini mulai digunakan pada 1986. Capaian tersebut menempatkan Selandia Baru pada urutan kelima terbaik di OECD, yang rata-ratanya saat itu mencapai 5,5%. Rendahnya pengangguran berkaitan dengan kuatnya perekonomian dan banyaknya lowongan yang belum terisi pada semua jenjang pekerjaan.[120] Namun, angka pengangguran antarnegara OECD tidak selalu dapat dibandingkan secara langsung karena masing-masing negara menggunakan metode pencatatan statistik pasar tenaga kerja yang berbeda.
Persentase penduduk yang bekerja juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir hingga mencapai 68,8%,[kapan?] dengan sedikit kenaikan pekerjaan penuh waktu dan penurunan pekerjaan paruh waktu. Peningkatan persentase penduduk bekerja dikaitkan[oleh siapa?] dengan kenaikan upah dan biaya hidup yang mendorong lebih banyak orang memasuki dunia kerja.[120] Rendahnya tingkat pengangguran juga menimbulkan kendala karena banyak perusahaan kesulitan mengisi lowongan.
Pengangguran kembali meningkat sejak krisis keuangan 2008. Tren tersebut berlanjut hingga mencapai 6,7% pada September 2012, kemudian berangsur pulih menjadi 3,9% pada Juni 2019.[121]
Pada akhir Juli 2025, Statistics New Zealand melaporkan bahwa jumlah pekerjaan yang terisi di sektor konstruksi dan manufaktur berkurang lebih dari 18.000 sepanjang 2024. Pengangguran kaum muda berusia 15–19 tahun juga meningkat sebesar 10%.[122]
Keterjangkauan perumahan
Shamubeel Eaqub, mantan kepala ekonom New Zealand Institute of Economic Research (NZIER), mengatakan pada 2014 bahwa tiga puluh tahun sebelumnya, harga rata-rata rumah di Selandia Baru setara dengan dua atau tiga kali pendapatan rumah tangga rata-rata. Harga rumah meningkat tajam pada tahun-tahun pertama abad ke-21. Pada 2007, harga rata-rata rumah telah melampaui enam kali pendapatan rumah tangga.[123] Survei internasional pada 2013 menunjukkan bahwa perumahan tidak terjangkau di delapan pasar utama Selandia Baru. Dalam survei tersebut, “tidak terjangkau” berarti harga rumah melampaui tiga kali pendapatan median regional.[124]
Permintaan properti paling kuat terjadi di Auckland. Pada 2014, harga jual rata-rata meningkat dari $619.136 menjadi $696.047 atau sebesar 12% dalam satu tahun.[125] Harga kembali naik sebesar 14% pada 2015.[126] Perkembangan ini menjadikan Auckland sebagai pasar perumahan paling tidak terjangkau di Selandia Baru dan salah satu kota termahal di dunia,[127] dengan harga rumah mencapai delapan kali pendapatan rata-rata.[124] Antara 2012 dan April 2016, harga rata-rata rumah di Auckland meningkat lebih dari dua pertiga menjadi $931.000, melampaui harga rata-rata rumah di Sydney.[128]
Akibatnya, semakin banyak orang tersingkir dari pasar properti karena harga yang terlalu tinggi. Dampak terberat dirasakan kelompok berpendapatan rendah, termasuk banyak warga Māori dan Pasifika. Tingginya suku bunga hipotek di Selandia Baru memperburuk keadaan[129] dan menyulitkan kaum muda dengan pekerjaan tetap untuk membeli rumah pertama.[130] Menurut pengajuan kepada Housing Affordability Inquiry pada 2012,[131] kenaikan harga rumah juga membebani banyak kelompok berpendapatan menengah, khususnya keluarga besar.[132] Penasihat hipotek Bruce Patten menyebut tren tersebut “mengkhawatirkan” dan memperlebar kesenjangan antara “kelompok berada dan tidak berada”.[133]
Perusahaan analisis properti CoreLogic menyatakan[kapan?] bahwa 45% pembelian rumah di Selandia Baru dilakukan oleh investor yang telah memiliki rumah, sedangkan 28% lainnya dilakukan oleh orang yang berpindah dari satu properti ke properti lain. Sekitar 8% pembelian dilakukan secara tunai oleh pembeli yang berbasis di luar negeri,[123] terutama dari Australia, Tiongkok, dan Britania Raya. Namun, sebagian besar[butuh kuantifikasi] ekonom menilai investasi asing saat ini[kapan?] terlalu kecil untuk berdampak besar terhadap harga properti.[134]
Baik pembelinya warga Selandia Baru maupun warga asing, sebagian besar properti di pasar umumnya dibeli oleh orang-orang yang telah berkecukupan. Keadaan ini menurunkan tingkat kepemilikan rumah warga Selandia Baru secara tajam hingga mencapai tingkat terendah sejak 1951 pada 2013. Pada 1991, sebanyak 76% rumah dihuni oleh pemiliknya sendiri. Angka tersebut turun menjadi 63% pada 2013,[135] yang menunjukkan bahwa semakin banyak penduduk harus menyewa tempat tinggal.[136] Raewyn Cox, kepala eksekutif Federation of Family Budgeting, mengatakan bahwa “harga dan suku bunga yang tinggi telah membuat semakin banyak warga Selandia Baru menjadi penyewa seumur hidup”, terjebak dalam biaya sewa mahal hingga memasuki masa pensiun.[129]
Ketimpangan

Antara 1982 dan 2011, produk domestik bruto Selandia Baru tumbuh sebesar 35%. Hampir separuh pertumbuhan tersebut dinikmati oleh sekelompok kecil penduduk yang sebelumnya telah menjadi golongan terkaya. Dalam periode itu, pendapatan rata-rata 10% penduduk berpenghasilan tertinggi, yaitu mereka yang memperoleh lebih dari $72.000,[137] hampir berlipat ganda dari $56.300 menjadi $100.200. Sebaliknya, pendapatan rata-rata 10% penduduk berpenghasilan terendah hanya meningkat 13%, dari $9.700 menjadi $11.000.[138]
Statistics New Zealand, yang mengukur kesenjangan pendapatan menggunakan rasio P80/20, membenarkan adanya peningkatan ketimpangan. Rasio tersebut membandingkan pendapatan rumah tangga tinggi pada persentil ke-80 dengan pendapatan rumah tangga rendah pada persentil ke-20. Rasio ketimpangan meningkat antara 1988 dan 2004, lalu menurun hingga dimulainya Resesi Besar. Angkanya kembali meningkat hingga 2011 sebelum kembali menurun. Pada 2013, pendapatan siap dibelanjakan rumah tangga berpenghasilan tinggi lebih dari dua setengah kali pendapatan rumah tangga berpenghasilan rendah.[139]
Pada 2020, OECD mencatat koefisien Gini Selandia Baru sebesar 0,320 dan menempatkannya pada urutan ke-25 dari 37 negara OECD.
Pensiun
Selandia Baru menerapkan skema pensiun universal. Penerimanya harus berusia sedikitnya 65 tahun, berstatus warga negara atau penduduk tetap Selandia Baru, serta menetap di negara tersebut ketika mengajukan permohonan. Mereka juga harus telah tinggal di Selandia Baru selama sekurang-kurangnya sepuluh tahun sejak berusia 20 tahun, dengan lima tahun di antaranya setelah berusia 50 tahun. Waktu yang dihabiskan di luar negeri dalam keadaan dan negara tertentu dapat diperhitungkan sebagai masa tinggal. Pensiun Selandia Baru dikenai pajak dengan tarif yang bergantung pada penghasilan lain penerima. Besarnya pembayaran juga ditentukan oleh keadaan rumah tangga. Bagi pasangan menikah, jumlah bersih setelah pajak menurut undang-undang tidak boleh kurang dari 66% upah bersih rata-rata.[140]
Seiring bertambahnya penduduk lanjut usia yang memenuhi syarat, biaya pensiun meningkat dari $7,3 miliar per tahun pada 2008 menjadi $10,2 miliar pada 2014.[141] Pada 2011, jumlah anak-anak di Selandia Baru dua kali lipat jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas. Namun, pada 2051 jumlah penduduk lanjut usia diperkirakan 60% lebih banyak daripada anak-anak. Dalam sepuluh tahun sejak 2014, jumlah warga Selandia Baru berusia lebih dari 65 tahun diproyeksikan bertambah sekitar 200.000 orang.[142]
Keadaan ini menjadi tantangan besar bagi sistem pensiun. Pemerintah secara bertahap menaikkan usia penerima dari 61 menjadi 65 tahun antara 1993 dan 2001.[143] Pada 2001, pemerintahan Partai Buruh di bawah Helen Clark membentuk New Zealand Superannuation Fund, yang dijuluki “Cullen Fund” menurut nama Menteri Keuangan Michael Cullen, untuk mendanai sebagian kebutuhan pensiun pada masa mendatang. Per Oktober 2014, dana tersebut mengelola NZ$27,11 miliar, dengan 15,9% diinvestasikan di Selandia Baru.[144]
Pada 2007, pemerintahan yang sama memperkenalkan skema tabungan individu bernama KiwiSaver. Skema ini terutama bertujuan meningkatkan tabungan pensiun, tetapi peserta yang lebih muda juga dapat menggunakannya untuk menabung uang muka pembelian rumah pertama. KiwiSaver bersifat sukarela, berbasis pekerjaan, dan dikelola oleh perusahaan swasta yang disebut penyedia KiwiSaver. Pada 30 Juni 2014, KiwiSaver memiliki 2,3 juta anggota aktif atau 60,9% penduduk Selandia Baru berusia di bawah 65 tahun. Kontribusi tahunannya mencapai NZ$4 miliar dan jumlah keseluruhan yang disetorkan sejak 2007 mencapai NZ$19,1 miliar.[145]
Konsumsi
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. (Mei 2021) |
Warga Selandia Baru memandang diri mereka sebagai konsumen Dunia Pertama dengan selera dan kebiasaan khas Dunia Pertama, meskipun keterpencilan negara tersebut dari produsen utama dunia sedikit membatasi pola konsumsinya.
Pada 2023, pengeluaran konsumsi akhir Selandia Baru mencapai 199,99 miliar.[146]
Industri
Pertanian, perikanan, dan kehutanan
Bagian ini kosong. Anda bisa membantu dengan melengkapinya. (Juli 2026) |
Perbankan dan keuangan
Bagian ini kosong. Anda bisa membantu dengan melengkapinya. (Juli 2026) |
Bir dan anggur
Bagian ini kosong. Anda bisa membantu dengan melengkapinya. (Juli 2026) |
Pendidikan
Hospitalitas
Bagian ini kosong. Anda bisa membantu dengan melengkapinya. (Juli 2026) |
Manufaktur
Bagian ini kosong. Anda bisa membantu dengan melengkapinya. (Juli 2026) |
Pertambangan
Bagian ini kosong. Anda bisa membantu dengan melengkapinya. (Juli 2026) |
Minyak dan gas
Bagian ini kosong. Anda bisa membantu dengan melengkapinya. (Juli 2026) |
Real estat dan perumahan
Perdagangan eceran
Bagian ini kosong. Anda bisa membantu dengan melengkapinya. (Juli 2026) |
Pariwisata
Bagian ini kosong. Anda bisa membantu dengan melengkapinya. (Juli 2026) |
Infrastruktur
Menurut National Infrastructure Unit di Departemen Keuangan, Selandia Baru “masih menghadapi berbagai tantangan dalam infrastrukturnya; semua bentuk infrastruktur merupakan investasi jangka panjang dan perubahan tidak dapat berlangsung dengan mudah atau cepat”.[147] Sebuah laporan yang disusun untuk Association of Consulting and Engineering New Zealand pada 2020 menyatakan bahwa negara tersebut mengalami defisit infrastruktur sebesar $75 miliar, atau sekitar seperempat PDB. Keadaan ini terjadi setelah kurangnya investasi selama beberapa dasawarsa sejak 1980-an.[148]
Transportasi

Infrastruktur transportasi Selandia Baru “secara umum telah berkembang dengan baik”.[149]
Jaringan jalan
Jaringan jalan raya nasional Selandia Baru mencakup jalan sepanjang 11.000 km, terdiri atas 5.981,3 km di Pulau Utara dan 4.924,4 km di Pulau Selatan. Jaringan tersebut dibangun dan dipelihara oleh Badan Transportasi Selandia Baru, serta dibiayai melalui penerimaan pajak umum dan cukai bahan bakar. Pengguna kendaraan berat juga diwajibkan membayar Road User Charges, sedangkan penggunaan jalan tol pada jalan raya nasional masih terbatas. Pemerintah daerah membangun dan memelihara jalan lokal sepanjang 83.000 km.[150]
Jaringan kereta api
Jaringan kereta api dimiliki oleh badan usaha milik negara KiwiRail. Jaringan tersebut terdiri atas jalur sepanjang 3.898 km yang menggunakan sepur sempit selebar 1.067 mm (3 ft 6 in).[149] Dari keseluruhan jaringan, sepanjang 506 km telah dielektrifikasi.[151]
Penerbangan
Selandia Baru memiliki tujuh bandar udara internasional dan 28 bandar udara domestik.[149] Air New Zealand, yang 52% sahamnya dimiliki pemerintah,[152] merupakan maskapai penerbangan nasional sekaligus badan usaha milik negara. Badan usaha milik negara lainnya, Airways New Zealand, menyediakan layanan pengendalian lalu lintas udara dan komunikasi.
Pelabuhan laut
Selandia Baru memiliki 14 pelabuhan laut internasional.[149]
Sains dan teknologi
Bagian ini kosong. Anda bisa membantu dengan melengkapinya. (Juli 2026) |
Telekomunikasi
Telekomunikasi modern di Selandia Baru mencakup penggunaan telepon, radio, televisi, dan internet. Persaingan di pasar telekomunikasi telah menurunkan tarif seluler hingga termasuk yang terendah di OECD.[153] Sebagian besar jaringan kabel tembaga dan serat optik dimiliki oleh Chorus Limited, sebuah perusahaan terbuka. Chorus menyediakan layanan grosir kepada penyedia jasa ritel, seperti Spark. Tiga operator melayani sektor seluler, yaitu Spark, One NZ, dan 2degrees.
Internet
Selandia Baru memiliki tingkat penggunaan internet yang tinggi. Pada Oktober 2014, terdapat 1.916.000 sambungan pita lebar dan 65.000 sambungan internet putar-nomor. Dari jumlah tersebut, 1.595.000 digunakan oleh rumah tangga dan 386.000 oleh perusahaan atau pemerintah.[154]
Pemerintah menjalankan dua program untuk menyediakan Ultra-Fast Broadband bagi 97,8% penduduk pada 2019. Pemerintah mengalokasikan NZ$1,35 miliar bagi kemitraan pemerintah dan swasta untuk membangun sambungan serat optik ke rumah di seluruh kota utama berpenduduk lebih dari 10.000 jiwa. Program ini bertujuan menyediakan pita lebar ultracepat dengan kecepatan unduh sekurang-kurangnya 100 Mbit/s dan unggah 50 Mbit/s bagi 75% penduduk Selandia Baru pada 2019.[155] Secara keseluruhan, 1.340.000 rumah tangga di 26 kota akan tersambung.
Chorus mengumumkan bahwa layanan internet gigabit dengan kecepatan unduh 1.000 Mbit/s tersedia di seluruh wilayah cakupan Ultra-Fast Broadband (UFB) sejak 1 Oktober 2016.[156]
Pemerintah juga memperkenalkan Rural Broadband Initiative (RBI) senilai A$300 juta. Program tersebut bertujuan menyediakan sambungan pita lebar berkecepatan sekurang-kurangnya 5 Mbit/s bagi 86% pelanggan di wilayah perdesaan pada 2016.[157]
Energi
Antara 1995 dan 2013, intensitas energi perekonomian per satuan PDB menurun sebesar 25%.[158] Salah satu penyebabnya ialah pertumbuhan industri jasa yang relatif tidak terlalu intensif energi.[159] Selandia Baru diperkirakan menjadi salah satu negara yang paling diuntungkan setelah peralihan global menuju energi terbarukan selesai. Pada 2019, negara tersebut menempati urutan kelima dari 156 negara dalam Indeks Keuntungan dan Kerugian Geopolitik setelah transisi energi (Indeks GeGaLo).[160]
Listrik
Pasar tenaga listrik diatur berdasarkan Kode Partisipasi Industri Ketenagalistrikan 2010 (bahasa Inggris: Electricity Industry Participation Code 2010code: en is deprecated ), yang dikelola oleh Otoritas Ketenagalistrikan Selandia Baru (EA).[161] Sektor ketenagalistrikan terutama menggunakan sumber energi terbarukan, seperti tenaga air, panas bumi, dan semakin banyak tenaga angin.
Sumber terbarukan menyumbang 83% pembangkitan listrik,[162] sehingga Selandia Baru termasuk salah satu perekonomian yang paling berkelanjutan dalam hal pembangkitan listrik.[163] Namun, energi terbarukan hanya mencakup 30% dari seluruh konsumsi energi dalam perekonomian Selandia Baru.[164] Negara ini mengalami ketidakseimbangan geografis antara produksi dan konsumsi listrik. Sebagian besar kapasitas pembangkitan, baik yang telah beroperasi maupun yang masih berpotensi dikembangkan, berada di Pulau Selatan dan, dalam jumlah lebih kecil, di bagian tengah Pulau Utara. Sebaliknya, permintaan utama yang terus tumbuh berada di bagian utara Pulau Utara, terutama Region Auckland. Akibatnya, listrik harus disalurkan ke utara melalui jaringan yang semakin sering mendekati batas kapasitasnya.
Air
Hingga 2021, hampir seluruh aset tiga layanan air, yaitu air minum, air hujan, dan air limbah, dimiliki oleh dewan lokal dan pemerintah teritorial. Secara keseluruhan terdapat 67 organisasi pemilik aset.[165]
Pemerintah daerah menghadapi tantangan dalam membiayai kekurangan infrastruktur dan mempersiapkan investasi ulang berskala besar, yang diperkirakan memerlukan $110 miliar selama 30–40 tahun berikutnya.[166] Tantangan besar lainnya ialah memenuhi persyaratan hukum mengenai keamanan air minum serta harapan lingkungan dalam pengelolaan air hujan dan air limbah. Adaptasi perubahan iklim dan kebutuhan untuk mengakomodasi pertumbuhan penduduk semakin menambah tantangan tersebut.
Kebijakan pemerintah
Perdagangan
Pada 2024, mitra dagang terbesar Selandia Baru adalah Tiongkok, Australia, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Kelima mitra tersebut menyumbang 63% perdagangan dua arah Selandia Baru, dengan Tiongkok sendiri mencakup lebih dari 30%.[167] Nilai ekspor tahunannya mencapai lebih dari US$44 miliar, sedangkan impornya melampaui US$49 miliar. Badan Perdagangan dan Pengembangan Usaha Selandia Baru (NZTE) memberikan nasihat strategis dan dukungan kepada perusahaan Selandia Baru yang hendak mengekspor barang dan jasa.
Perjanjian perdagangan
|
Selandia Baru Perjanjian perdagangan bebas yang berlaku Perjanjian perdagangan bebas yang telah disepakati tetapi belum berlaku |
Sejak dasawarsa 1960-an, Selandia Baru mengupayakan perjanjian perdagangan bebas dengan banyak negara untuk mendiversifikasi pasar ekspor dan meningkatkan daya saing produknya di pasar dunia.[168] Selain mengurangi hambatan perdagangan, perjanjian tersebut dirancang untuk mempertahankan akses yang telah tersedia. Perjanjian perdagangan menetapkan aturan transaksi serta memastikan regulator dan pejabat di Selandia Baru serta negara-negara mitra dagangnya bekerja sama erat.[168]
Tiongkok
Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Selandia Baru dan terutama membeli daging, produk susu, serta kayu gelondongan pinus. Pada 2013, nilai perdagangan kedua negara mencapai NZ$16,8 miliar.[169] Pertumbuhan tersebut terutama dipicu oleh lonjakan permintaan produk susu impor setelah skandal susu Tiongkok pada 2008. Permintaan terus meningkat sehingga dalam 12 bulan hingga Maret 2014, jumlah ekspor ke Tiongkok bertambah 51%.[170] Peningkatan ini didukung oleh Perjanjian Perdagangan Bebas Selandia Baru–Tiongkok yang mulai berlaku pada 1 Oktober 2008. Sejak saat itu, ekspor Selandia Baru ke Tiongkok meningkat lebih dari tiga kali lipat.[171]
Australia

Australia merupakan mitra dagang bilateral terbesar Selandia Baru pada 2013 sebelum kedudukannya diambil alih oleh Tiongkok. Nilai perdagangan kedua negara ketika itu mencapai NZ$25,6 miliar.[169] Hubungan ekonomi dan perdagangan Australia–Selandia Baru ditopang oleh perjanjian “Hubungan Ekonomi Lebih Erat” (CER), yang memungkinkan perdagangan bebas barang dan sebagian besar jasa. Sejak 1990, CER menciptakan pasar tunggal berpenduduk lebih dari 25 juta jiwa. Australia kini menerima 19% ekspor Selandia Baru, termasuk minyak mentah ringan, emas, anggur, keju, kayu, dan berbagai barang manufaktur.
CER juga membentuk pasar tenaga kerja bebas yang memungkinkan warga Selandia Baru dan Australia tinggal serta bekerja secara bebas di negara satu sama lain, disertai pengakuan timbal balik atas kualifikasi profesional. Seseorang yang terdaftar untuk menjalankan profesi di satu negara dapat mendaftarkan diri pada profesi yang setara di negara lainnya. Pengaturan dan pengawasan perbankan dikoordinasikan melalui Trans-Tasman Council on Banking Supervision. Kedua negara juga terus membahas penyelarasan hukum bisnis.[172]
Uni Eropa
Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar ketiga Selandia Baru. Semakin banyak perusahaan Selandia Baru menggunakan Britania Raya sebagai pangkalan untuk memasok produknya ke pasar Eropa.[173] Namun, perdagangan dengan Uni Eropa menurun seiring pertumbuhan permintaan dari Asia. Uni Eropa menerima 8% ekspor Selandia Baru dan memasok sekitar 12% impornya.[172]
Pada Juli 2014, perundingan Partnership Agreement on Relations and Cooperation (PARC) antara Selandia Baru dan Uni Eropa diselesaikan.[174] Perjanjian tersebut mencakup hubungan perdagangan dan ekonomi kedua pihak untuk melanjutkan liberalisasi perdagangan dan investasi. Perjanjian itu juga mengakui rencana Uni Eropa meningkatkan perwakilan diplomatiknya di Selandia Baru dengan menempatkan seorang duta besar tetap.[175] Pada 2024, perjanjian perdagangan bebas Selandia Baru–Uni Eropa mulai berlaku.
Amerika Serikat
Amerika Serikat merupakan mitra dagang terbesar ketiga Selandia Baru pada 2013 sebelum diambil alih oleh Uni Eropa. Nilai perdagangan bilateral pada tahun tersebut mencapai NZ$11,8 miliar.[169] Ekspor utama Selandia Baru ke Amerika Serikat meliputi daging sapi, produk susu, dan daging domba. Impornya mencakup mesin khusus, produk obat, minyak, dan bahan bakar. Kedua negara juga memiliki tingkat investasi perusahaan dan perseorangan yang tinggi. Amerika Serikat merupakan salah satu sumber utama wisatawan yang berkunjung ke Selandia Baru. Pada Maret 2012, nilai investasi Amerika Serikat di Selandia Baru mencapai $44 miliar.[176] Sejumlah perusahaan Amerika memiliki anak perusahaan di Selandia Baru. Banyak di antaranya beroperasi melalui agen lokal atau usaha patungan. Kamar Dagang Amerika Serikat aktif di Selandia Baru dengan kantor utama di Auckland dan komite cabang di Wellington.
Menurut Kementerian Luar Negeri, Selandia Baru dan Amerika Serikat “memiliki persahabatan yang erat dan telah berlangsung lama berdasarkan warisan bersama, nilai dan kepentingan yang sama, serta komitmen untuk mendorong dunia yang bebas, demokratis, aman, dan makmur”.[177] Meskipun demikian, latar belakang bersama tersebut belum menghasilkan perjanjian perdagangan bebas antara kedua negara.[178]
Jepang, Korea, dan perekonomian Asia lainnya
Jepang merupakan mitra dagang terbesar keempat Selandia Baru. Pertumbuhan pesat perekonomian Asia pada abad ke-21 menghasilkan permintaan yang besar terhadap ekspor Selandia Baru. Korea, sebagai mitra dagang terbesar kelima, merupakan salah satu sumber impor sekaligus pasar ekspor utama Selandia Baru.
Selandia Baru juga berdagang dengan Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand, India, dan Filipina. Negara-negara tersebut mencakup sekitar 16% dari keseluruhan ekspornya.[172] Selandia Baru mulai menerapkan perjanjian perdagangan bebas dengan Singapura pada September 2000. Perjanjian itu diperluas pada 2005 dengan menyertakan Chili dan Brunei, lalu dikenal sebagai Perjanjian P4.
Hubungan dengan Kepulauan Pasifik
Wilayah Pasifik yang terdiri atas banyak pulau merupakan pasar perdagangan terbesar keenam Selandia Baru dan terus tumbuh setiap tahun. Pada 2011, nilai ekspor ke Kepulauan Pasifik melampaui $1,5 miliar, naik 12% dari tahun sebelumnya. Fiji menjadi pasar tunggal terbesar, disusul Papua Nugini, Polinesia Prancis, dan Kaledonia Baru. Barang yang diekspor meliputi minyak olahan, bahan konstruksi, obat-obatan, daging domba, susu, mentega, buah, dan sayuran.[179] Selandia Baru juga membantu negara-negara Kepulauan Pasifik dalam bidang pertahanan, keamanan regional, serta pengelolaan lingkungan dan perikanan.
Karena ukurannya yang kecil, Kepulauan Pasifik merupakan salah satu lingkungan paling rentan di dunia dan setiap tahun dilanda banyak siklon. Bencana sering menimbulkan dampak sosial dan ekonomi parah yang berlangsung selama bertahun-tahun. Sejak 1992, Selandia Baru bekerja sama dengan Australia dan Prancis untuk menangani bencana di Pasifik. Selandia Baru menyediakan perlengkapan darurat, transportasi, pendanaan pembangunan jalan dan perumahan, serta mengerahkan tenaga ahli ke wilayah terdampak.[180]
Melalui Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan, Selandia Baru juga memberikan bantuan internasional dan pembiayaan pembangunan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di negara-negara kurang berkembang. New Zealand Aid Programme mengalokasikan sekitar $550 juta per tahun dan terutama berfokus pada pembangunan di Pasifik. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 0,26% dari pendapatan nasional bruto (PNB) Selandia Baru.[181]
Investasi asing
Selandia Baru menerima dan mendorong investasi asing yang diawasi oleh Overseas Investment Office. Pada 2014, nilai investasi asing langsung mencapai NZ$107,69 miliar.[14] Antara 1989 dan 2013, investasi asing meningkat dari NZ$9,7 miliar menjadi NZ$101,4 miliar atau lebih dari 1.000%.[182] Kepemilikan asing di pasar saham Selandia Baru meningkat dari 19% pada 1989 menjadi 41% pada 2007, tetapi kemudian turun menjadi 33%. [butuh rujukan]
Pada 2014, sekitar 7% dari seluruh lahan pertanian produktif di Selandia Baru dimiliki pihak asing.[33] Pada 2011, ekonom Bill Rosenberg menyatakan angkanya mendekati 9% apabila kepemilikan asing atas lahan kehutanan turut dihitung.[183] Pada Maret 2013, nilai sektor keuangan, termasuk “empat besar” bank milik Australia, mencapai NZ$39,3 miliar. Jumlah tersebut merupakan bagian terbesar dari keseluruhan kepemilikan asing atas perusahaan Selandia Baru yang ketika itu bernilai NZ$101,4 miliar.[182]
Dampak
Antara 1997 dan 2014, investor asing memperoleh laba sebesar NZ$50,3 miliar dan 68% di antaranya dialirkan ke luar negeri. Kantor Investasi Asing Selandia Baru (CAFCA) menyatakan bahwa keadaan ini berdampak buruk terhadap perekonomian. Menurut organisasi tersebut, investor asing yang membeli perusahaan Selandia Baru cenderung mengurangi jumlah pekerja dan menekan upah.[33] Peningkatan kepemilikan asing juga dinilai tidak mengurangi utang luar negeri. Pada 1984, utang luar negeri swasta dan pemerintah mencapai NZ$16 miliar, atau NZ$50 miliar menurut nilai dolar Maret 2013, yang ketika itu kurang dari setengah PDB. Pada Maret 2013, keseluruhan utang luar negeri mencapai NZ$251 miliar atau jauh melebihi 100% PDB Selandia Baru.[182]
Dalam konferensi Singapore International Energy Week (SIEW), para pemimpin Selandia Baru dan Kamboja menyoroti kesulitan mempertahankan dukungan masyarakat terhadap transisi energi bersih akibat meningkatnya biaya listrik. Mereka menekankan pentingnya menyeimbangkan keterjangkauan dan keberlanjutan untuk menjamin keberhasilan jangka panjang.[184]
Data

Tabel berikut memuat indikator ekonomi utama pada 1980–2022, beserta perkiraan staf IMF untuk 2023–2026, berdasarkan laporan World Economic Outlook IMF edisi Mei 2023.[185] Inflasi di bawah 2% ditandai dengan warna hijau.
| Tahun | PDB (miliar US$) |
PDB per kapita (US$) |
PDB (miliar US$) |
PDB per kapita (US$) |
Pertumbuhan PDB (riil) |
Tingkat inflasi (%) |
Pengangguran (%) |
Utang pemerintah sebagai % dari PDB |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| (KKB) | (Nominal) | |||||||
| 1980 | 28,5 | 9.176,3 | 22,6 | 7.257,5 | ▲17,1% | 4,0% | t/a | |
| 1981 | ▲15,5% | t/a | ||||||
| 1982 | ▲16,1% | ▲4,4% | t/a | |||||
| 1983 | ▲7,4% | ▲6,2% | t/a | |||||
| 1984 | ▲ 6,1% | ▲ 7,2% | t/a | |||||
| 1985 | ▲15,4% | 64,1% | ||||||
| 1986 | ▲ 13,2% | ▲ 4,2% | ▲ 68,5% | |||||
| 1987 | ▲ 15,8% | |||||||
| 1988 | ▲ 6,4% | ▲ 5,8% | ||||||
| 1989 | ▲ 5,7% | ▲ 7,3% | ▲ 55,0% | |||||
| 1990 | ▲ 6,1% | ▲ 8,0% | ▲ 55,4% | |||||
| 1991 | ▲ 2,6% | ▲ 10,6% | ▲ 58,0% | |||||
| 1992 | ▲ 10,7% | ▲ 58,7% | ||||||
| 1993 | ||||||||
| 1994 | ||||||||
| 1995 | ▲ 3,8% | |||||||
| 1996 | ||||||||
| 1997 | ▲ 6,9% | |||||||
| 1998 | ▲ 7,7% | |||||||
| 1999 | ||||||||
| 2000 | ▲ 2,6% | |||||||
| 2001 | ▲ 2,6% | |||||||
| 2002 | ▲ 2,7% | |||||||
| 2003 | ||||||||
| 2004 | ▲ 2,3% | |||||||
| 2005 | ▲ 3,0% | |||||||
| 2006 | ▲ 3,4% | ▲ 3,9% | ||||||
| 2007 | ▲ 2,4% | |||||||
| 2008 | ▲ 4,0% | ▲ 4,0% | ▲ 19,0% | |||||
| 2009 | ▲ 2,1% | ▲ 5,9% | ▲ 24,3% | |||||
| 2010 | ▲ 2,3% | ▲ 6,2% | ▲ 29,7% | |||||
| 2011 | ▲ 4,0% | ▲ 34,7% | ||||||
| 2012 | ▲ 6,5% | ▲ 35,7% | ||||||
| 2013 | ||||||||
| 2014 | ||||||||
| 2015 | ||||||||
| 2016 | ||||||||
| 2017 | ||||||||
| 2018 | ||||||||
| 2019 | ▲ 31,8% | |||||||
| 2020 | ▲ 4,6% | ▲ 43,3% | ||||||
| 2021 | ▲ 3,9% | ▲ 47,5% | ||||||
| 2022 | ▲ 7,2% | |||||||
| Proyeksi | ||||||||
| 2023 | ▲ 5,7% | ▲ 3,7% | ||||||
| 2024 | ▲ 3,1% | ▲ 5,0% | ▲ 47,4% | |||||
| 2025 | ▲ 2,5% | ▲ 5,4% | ▲ 48,7% | |||||
| 2026 | ▲ 2,4% | ▲ 5,2% | ▲ 48,8% | |||||
Pertumbuhan PDB riil per kapita tercatat sebesar −2,0% pada 2024 dan −0,4% pada 2025.[186]
- Tingkat pertumbuhan produksi industri
- 5,9% (2004) / 1,5% (2007)
- Pendapatan atau konsumsi rumah tangga menurut persentase
- 10% terendah: 0,3% (1991)
- 10% tertinggi: 29,8% (1991)
- Produk pertanian
- Gandum, jelai, kentang, kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran, wol, daging sapi, produk susu, dan ikan
- Komoditas ekspor
- Produk susu, daging, kayu dan produk kayu, ikan, serta mesin
- Komoditas impor
- Mesin dan peralatan, kendaraan dan pesawat terbang, minyak bumi, barang elektronik, tekstil, serta plastik
- Listrik
- Konsumsi: 34,88 TWh (2001) / 37,39 TWh (2006)
- Produksi: 38,39 TWh (2004) / 42,06 TWh (2006)
- Ekspor: 0 kWh (2006)
- Impor: 0 kWh (2006)
- Tenaga air: 60% (2020)
- Panas bumi: 17% (2020)
- Angin: 5% (2020)
- Bahan bakar fosil: 17% (2020)
- Nuklir: 0% (2020)
- Lainnya: 3,4% (2010)
- Minyak
- Produksi: 42.160 barel (6.703 m3) pada 2001 / 25.880 barel (4.115 m3) pada 2006
- Konsumsi: 132.700 barel (21.100 m3) pada 2001 / 156.000 barel (24.800 m3) pada 2006
- Ekspor: 30.220 barel (4.805 m3) pada 2001 / 15.720 barel (2.499 m3) pada 2004
- Impor: 119.700 barel (19.030 m3) pada 2001 / 140.900 barel (22.400 m3) pada 2004
- Cadangan terbukti: 8.962 juta barel (1,4248×109 m3) pada Januari 2002
- Nilai tukar
- Dolar Selandia Baru (NZ$) per US$1, yaitu 1,4771 (2016), 1,2652 (2012), 1,3869 (2005), 1,5248 (2004), 1,9071 (2003), 2,1622 (2002), 2,3788 (2001), 2,2012 (2000), 1,8886 (1999), 1,8632 (1998), 1,5083 (1997), 1,4543 (1996), dan 1,5235 (1995)
Lihat pula
- Daftar perusahaan Selandia Baru
- Industri teknologi informasi di Selandia Baru
- Ekonomi Oseania
- Perdagangan luar negeri Selandia Baru
- Pendapatan rumah tangga rata-rata di Australia dan Selandia Baru
- Kementerian Bisnis, Inovasi, dan Ketenagakerjaan Selandia Baru
- New Zealand Council of Trade Unions
- Ngai Tahu Holdings dan perusahaan dagang Ngāi Tahu
- Reserve Bank of New Zealand
Referensi
- ↑ "Year End Financial Statements". NZ Treasury. Diakses tanggal 5 Maret 2017.
- 1 2 3 4 5 6 "IMF DataMapper: New Zealand". Dana Moneter Internasional. 2025. Diakses tanggal 31 Mei 2025.
- ↑ "Which industries contributed to New Zealand's GDP? | Stats NZWhich industries contributed to New Zealand's GDP? (2018)". www.stats.govt.nz. Stats NZ. Diakses tanggal 28 Oktober 2024.
- ↑ "Inflation". Reserve Bank of New Zealand. 17 Juli 2024.
- ↑ "Relative poverty rate at 50% of the median household income in OECD countries".
- ↑ "Household income and housing-cost statistics: Year ended June 2019". Statistics New Zealand. Table 9. Diarsipkan dari asli (Spreadsheet) tanggal 24 Februari 2020. Diakses tanggal 24 Februari 2020.
- 1 2 3 4 5 "Labour market statistics: June 2022 quarter | Stats NZ". www.stats.govt.nz. Stats NZ. Diakses tanggal 3 Agustus 2022.
- 1 2 3 4 5 6 "The World Factbook". CIA.gov. Badan Intelijen Pusat. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Januari 2021. Diakses tanggal 23 Oktober 2019.
- ↑ "Home". 9 April 2025. Diarsipkan dari asli tanggal 17 Mei 2023. Diakses tanggal 7 September 2023.
- ↑ Taxing Wages 2024: Tax and Gender through the Lens of the Second Earner | READ online.
- ↑ Taxing Wages 2024: Tax and Gender through the Lens of the Second Earner | OECD iLibrary.
- 1 2 3 4 "Overseas merchandise trade: June 2023". Stats NZ. Diakses tanggal 27 Oktober 2023.
- ↑ "Balance of Payments and International Investment Position – M7". Statistics New Zealand. Reserve Bank of New Zealand. 19 Desember 2018. Diakses tanggal 23 Februari 2019.
- 1 2 3 "Financial Statements of the Government of New Zealand for the eight months ended 28 February 2018". The Treasury New Zealand. New Zealand Treasury. 8 April 2018. Diakses tanggal 17 Februari 2019.
- ↑ "Sovereigns rating list". Standard & Poor's. Diakses tanggal 26 Mei 2011.
- 1 2 3 Rogers, Simon; Sedghi, Ami (15 April 2011). "How Fitch, Moody's and S&P rate each country's credit rating". The Guardian. London. Diakses tanggal 31 Mei 2011.
- ↑ "New Zealand Foreign Exchange Reserves, 2005–2023 | CEIC Data". www.ceicdata.com. Diakses tanggal 8 Agustus 2023.
- ↑ Hall, Peter A.; Soskice, David (2001). Varieties of Capitalism: The Institutional Foundations of Comparative Advantage. Oxford University Press. hlm. 570. ISBN 978-0191647703.
- ↑ "Gross domestic product (GDP)". www.stats.govt.nz. Stats NZ. 20 Maret 2025. Diakses tanggal 13 Juni 2025.
- ↑ Kenworthy, Lane (1999). "Do Social-Welfare Policies Reduce Poverty? A Cross-National Assessment" (PDF). Social Forces. 77 (3): 1119–1139. doi:10.2307/3005973. JSTOR 3005973. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 10 Agustus 2013.
- ↑ Moller, Stephanie; Huber, Evelyne; Stephens, John D.; Bradley, David; Nielsen, François (2003). "Determinants of Relative Poverty in Advanced Capitalist Democracies". American Sociological Review. 68 (1): 22–51. doi:10.2307/3088901. JSTOR 3088901.
- ↑ "Social Expenditure – Aggregated data". Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi.
- 1 2 3 "Gross domestic product: June 2024 quarter". Statistics New Zealand. Juni 2024. Diakses tanggal 20 September 2024.
- ↑ "Mineral resources potential". Badan Minyak Bumi dan Mineral Selandia Baru. Diakses tanggal 9 Februari 2024.
- ↑ "NZ Tech – About the Tech Sector". Diarsipkan dari asli tanggal 12 Desember 2021. Diakses tanggal 7 Januari 2020.
- ↑ "1. NZX Annual Report 2022 (including audited financial statements)" (PDF). NZX. 23 Februari 2023. Diakses tanggal 26 Oktober 2023.
- ↑ "Triennial Central Bank Survey, April 2013" (PDF). Triennial Central Bank Survey. Bank Penyelesaian Internasional. Diakses tanggal 25 Maret 2014. [hlm. 10 dalam PDF]
- 1 2 3 "Early pastoral economy". Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand. hlm. 4.
- 1 2 McKinnon, Malcolm, ed. (1997). New Zealand Historical Atlas. David Bateman.
- 1 2 "The introduction of refrigeration". NZ International Business Forum. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Mei 2015. Diakses tanggal 19 Oktober 2014.
- ↑ Drew, Aaron. "New Zealand's productivity performance and prospects" (PDF). Bulletin. 70 (1). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 8 Mei 2014. Diakses tanggal 10 Februari 2008.
- ↑ Evans, Lewis; Grimes, Arthur; Wilkinson, Bryce (Desember 1996). "Economic Reform in New Zealand 1984–95: The Pursuit of Efficiency". Journal of Economic Literature. 34 (4): 1856–902. Diakses tanggal 4 Oktober 2012.
- 1 2 3 4 McCarten, Matt (14 Januari 2007). "Foreign owners muscle in as New Zealand sells off all its assets". The New Zealand Herald.
- ↑ "New Zealand rated most business-friendly". International Herald Tribune. 14 September 2005.
- 1 2 "External diversification after 1966". Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand. hlm. 10. Diakses tanggal 9 Desember 2014.
- 1 2 "Early Māori economies". Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand. hlm. 2. Diakses tanggal 9 Desember 2014.
- 1 2 3 King, Michael (2003). The Penguin History of New Zealand. Penguin Books. ISBN 978-0-14-301867-4.
- ↑ "First European economies". Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand. Diakses tanggal 9 Desember 2014.
- ↑ Warwick Robert Armstrong. "Vogel, Sir Julius, K.C.M.G". Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand.
- ↑ "Boom and bust, 1870–1895". Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand. hlm. 5. Diakses tanggal 11 Desember 2014.
- 1 2 "Refrigeration, dairying and the Liberal boom". Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand.
- ↑ Baten, Jörg (2016). A History of the Global Economy. From 1500 to the Present. Cambridge University Press. hlm. 287. ISBN 978-1107507180.
- ↑ "Inter-war years and depression". Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand.
- ↑ Liu, Shirley (13 Oktober 2015). "The history of the New Zealand dollar". finder.com US. Diarsipkan dari asli tanggal 10 Agustus 2019. Diakses tanggal 11 Agustus 2019.
- ↑ "Currency: A chronology of the kiwi's rises and falls". The New Zealand Herald (dalam bahasa New Zealand English). 24 Juli 2007. Diakses tanggal 20 September 2024.
- 1 2 Chris, Nixon; Yeabsley, John (11 Februari 2010). "Overseas trade policy – New Zealand, Britain and the EEC". Te Ara – the Encyclopedia of New Zealand. Diakses tanggal 20 September 2024.
- 1 2 "New Zealand's trade history". New Zealand International Business Forum. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Mei 2015. Diakses tanggal 19 Oktober 2014.
- ↑ "NAFTA signed". Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand. Diakses tanggal 8 Desember 2014.
- 1 2 "Britain, New Zealand and the EU after 1940". Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand. Diakses tanggal 8 Desember 2014.
- ↑ "New Zealand's Export Markets year ended June 2000 (provisional)". Statistics New Zealand. Juni 2000. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Mei 2010. Diakses tanggal 15 Juni 2008.
- 1 2 3 "Inflation". Reserve Bank of New Zealand. Diarsipkan dari asli tanggal 7 Desember 2014. Diakses tanggal 8 Desember 2014.
- 1 2 "In the shadow of Think Big". The New Zealand Herald. 31 Januari 2011.
- ↑ "Introduction". New Zealand Aluminium Smelter Limited. Diakses tanggal 8 Desember 2014.
- ↑ Jack H. Nagel (1998). "Social Choice in a Pluralitarian Democracy: The Politics of Market Liberalization in New Zealand". British Journal of Political Science. 28 (2): 223–67. doi:10.1017/s0007123498000155. JSTOR 194306. S2CID 154322735.
- 1 2 "20 years of a floating New Zealand dollar". Reserve Bank of New Zealand. Diarsipkan dari asli tanggal 25 Oktober 2014. Diakses tanggal 25 Oktober 2014.
- ↑ Russell 1996, hlm. 119.
- ↑ "Share Price Index, 1987–1998". Diarsipkan dari asli tanggal 25 Mei 2010.
- ↑ "Commercial Framework: Stock exchange, New Zealand Official Yearbook 2000". Statistics New Zealand. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Maret 2016. Diakses tanggal 8 Desember 2014.
- 1 2 3 4 Kelsey, Jane (9 Juli 1999). "Life in the Economic Test-Tube: New Zealand 'experiment' a colossal failure". Diarsipkan dari asli tanggal 2 November 2016. Diakses tanggal 26 Januari 2012.
- ↑ OECD (28 Januari 1988). "LFS by sex and age – indicators". Stats.oecd.org. Diakses tanggal 5 September 2018.
- ↑ "Reserve Bank statistics – Employment". Reserve Bank of New Zealand. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Januari 2016. Diakses tanggal 8 Desember 2014.
- 1 2 "New Zealand as it might have been: From Ruthanasia to President Bolger". The New Zealand Herald. 12 Januari 2007. Diakses tanggal 8 Desember 2014.
- ↑ Kementerian Kebudayaan dan Warisan Selandia Baru (29 Februari 2012). "The state steps in and out – housing in New Zealand". New Zealand history online. Diakses tanggal 9 Juli 2012.
- ↑ Dobbin, Murray (15 Agustus 2000). "New Zealand's Vaunted Privatization Push Devastated The Country, Rather Than Saving It". The National Post (Canada). Diarsipkan dari asli tanggal 24 Maret 2013.
- ↑ "Government and market liberalisation". Te Ara: The Encyclopedia of New Zealand. hlm. 11.
- ↑ "1. Gross domestic product (GDP)". OECD.
- ↑ "New Zealand Unemployment Data Set". OECD.
- ↑ "Survey ranks NZ in top six for economic freedom". The New Zealand Herald. 16 Januari 2008.
- ↑ Rudman, Brian (18 September 2009). "Government must plug those leaks". The New Zealand Herald.
- ↑ Weshah Razzak (Februari 2014). "New Zealand Labour Market Dynamics: Pre- and Post-global Financial Crisis" (PDF). New Zealand Treasury. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 Januari 2015. Diakses tanggal 13 Desember 2014.
- ↑ Joyce, Steven (3 Februari 2016). "Unemployment figure lowest in seven years". beehive.govt.nz. New Zealand Government.
- 1 2 3 4 5 "Recent Economic Performance and Outlook" (PDF). New Zealand Treasury. 2014. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 18 Januari 2015. Diakses tanggal 26 Desember 2014.
- ↑ "The Treasury: Learning from managing the Crown Retail Deposit Guarantee Scheme". Pengendali dan Auditor Jenderal Selandia Baru.
- ↑ Yahanpath, Noel; Cavanagh, John (2011). Causes of New Zealand Finance Company Collapses: A Brief Review. Social Science Research Network. SSRN 1906923.
- ↑ "Deposit guarantee scheme introduced". Reserve Bank of New Zealand. Diarsipkan dari asli tanggal 14 Oktober 2008.
- ↑ "Deep freeze list – Finance industry failures". Interest.co.nz.
- ↑ "Fran O'Sullivan: Treasury must front up over role in SCF debacle". The New Zealand Herald. 18 Oktober 2014.
- ↑ Krause, Nick; Mace, William (2 September 2011). "Nathans Finance directors jailed". Stuff. Diakses tanggal 22 Januari 2017.
- ↑ Fletcher, Hamish (31 Agustus 2012). "Capital + Merchant directors jailed". The New Zealand Herald. Diakses tanggal 22 Januari 2017.
- ↑ "Prison for Bridgecorp director". Stuff.co.nz. 17 April 2012. Diakses tanggal 22 Januari 2017.
- ↑ "Remorseless director Rod Petricevic jailed". Stuff.co.nz. 26 April 2012. Diakses tanggal 22 Januari 2017.
- ↑ "David Ross gets 10 years,10 months jail". The New Zealand Herald. 15 November 2013. Diakses tanggal 22 Januari 2017.
- ↑ "NZ economy could hit the rocks – economists". Stuff. 25 Agustus 2014.
- ↑ "New Zealand 2014's 'rock star' economy". Stuff. 7 Januari 2014.
- ↑ "Rock star economy or one hit wonder?". Komisi Produktivitas Selandia Baru. 17 April 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Januari 2019. Diakses tanggal 26 Desember 2014.
- ↑ "NZ's 'rock star' status dims". The New Zealand Herald. 19 Agustus 2014.
- ↑ Niko Kloeten (3 Desember 2014). "'Rock star' economy to play on". Stuff. Diakses tanggal 21 Januari 2015.
- ↑ "How New Zealand's rich-poor divide killed its egalitarian paradise". The Guardian. 12 Desember 2014. Diakses tanggal 21 Januari 2015.
- ↑ "Covid-19: GDP results show NZ officially in first recession in a decade". Radio New Zealand. 17 September 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 September 2020. Diakses tanggal 17 September 2020.
- ↑ Pullar-Strecker, Tom (17 September 2020). "NZ in recession as Covid shrinks GDP by 12.2%". Stuff. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 September 2020. Diakses tanggal 17 September 2020.
- ↑ Roy, Eleanor (16 September 2020). "New Zealand in Covid recession after worst quarterly GDP fall on record". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 September 2020. Diakses tanggal 17 September 2020.
- ↑ "GDP jump of 14 per cent completes NZ's 'V'-shaped recovery". Stuff (dalam bahasa Inggris). 16 Desember 2020. Diakses tanggal 9 Februari 2021.
- ↑ "A country with one of the strictest COVID lockdowns is seeing a V-shaped recovery". Fortune (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 27 Januari 2021.
- ↑ "Shock fall in unemployment to 4.9%". Stuff (dalam bahasa Inggris). 2 Februari 2021. Diakses tanggal 2 Februari 2021.
- ↑ "COVID-19: NZ to plunge into lockdown". Newshub (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 17 Agustus 2021. Diakses tanggal 20 September 2024.
- 1 2 "Covid-19 restrictions dropped: What you need to know". RNZ (dalam bahasa New Zealand English). 15 Agustus 2023. Diakses tanggal 20 September 2024.
- ↑ Bhattarai, Rahul (23 September 2021). "Covid 19 Delta outbreak: Restaurant Association unveils roadmap as industry loses 13,000 jobs". The New Zealand Herald. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 September 2021. Diakses tanggal 1 Februari 2022.
- ↑ Hall, Carmen (13 November 2021). "Gone: 26,774 businesses wiped off NZ Companies Office Register in eight months". Bay of Plenty Times. NZME. Diarsipkan dari asli tanggal 13 November 2021. Diakses tanggal 1 Februari 2022.
- ↑ Rutherford, Hamish (27 Januari 2022). "Inflation hits 30-year high of 5.9 per cent". The New Zealand Herald. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Januari 2022. Diakses tanggal 1 Februari 2022.
- ↑ "Border delays and a crash in house prices are the main risks facing the NZ economy – OECD report". Radio New Zealand. 1 Februari 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Februari 2022. Diakses tanggal 1 Februari 2022.
- ↑ "Second Recession in Less Than 18 Months Subdues New Zealand's Economic Outlook". International Banker (dalam bahasa Inggris (Britania)). 26 Juni 2024. Diakses tanggal 20 September 2024.
- ↑ "GDP: NZ's economy shrinks by 0.2%". 1News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 September 2024.
- ↑ "Social Progress Index – New Zealand". Social Progress Imperative. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Februari 2015. Diakses tanggal 5 Februari 2015.
Social Progress Index 87.08 (5th)
- 1 2 3 "National Accounts (Income and Expenditure): Year ended March 2014". Statistics New Zealand. 21 November 2014. Diakses tanggal 3 Desember 2015.
- ↑ "New Zealand". The World Fact Book. Central Intelligence Agency. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Januari 2021. Diakses tanggal 12 Desember 2014.
Public debt
31.7% of GDP (2017 est.)
33.5% of GDP (2016 est.)
country comparison to the world: 162 - ↑ Bertram, Geoff (Februari 2009). "The banks, the current account, the financial crisis and the outlook" (PDF). Policy Quarterly. 5 (1). doi:10.26686/pq.v5i1.4288.
- ↑ "Personal tax cuts". IRD. 1 Oktober 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Januari 2019. Diakses tanggal 9 Maret 2015.
- ↑ Dickison, Michael (12 Mei 2010). "NZ earners' tax burden second-lowest in OECD". The New Zealand Herald. Diakses tanggal 18 Juni 2011.
- ↑ Bill English (20 Mei 2010). "Fact sheet – Personal tax cuts". The Beehive. Diakses tanggal 9 Maret 2015.
- ↑ "GST rate increase". IRD. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Januari 2019. Diakses tanggal 11 Oktober 2014.
- ↑ Collins, Simon Collins (30 Januari 2010). "GST rise will hurt poor the most". The New Zealand Herald. Diakses tanggal 9 Maret 2015.
- ↑ "Transparency International Corruption Perceptions Index 2017". Transparency International. 21 Februari 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 21 Februari 2018. Diakses tanggal 25 Februari 2018.
- ↑ "2018 Corruption Perceptions Index – Explore the results". 29 Januari 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 27 April 2019. Diakses tanggal 18 April 2020.
- ↑ "2019 Corruption Perceptions Index – Explore the results". 24 Januari 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 27 Maret 2020. Diakses tanggal 18 April 2020.
- ↑ "Examples of Corruption in New Zealand – Transparency International New Zealand". Diarsipkan dari asli tanggal 30 Juli 2020. Diakses tanggal 18 April 2020.
- ↑ "Regional gross domestic product: Year ended March 2025". Statistics New Zealand. 25 Maret 2026. Diakses tanggal 25 Maret 2026.
- ↑ "New Zealand Business Figures". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 April 2020.
- 1 2 3 4 "How bad is the Current Recession? Labour Market Downturns since the 1960s". Kementerian Bisnis, Inovasi, dan Ketenagakerjaan Selandia Baru. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Desember 2014. Diakses tanggal 15 Desember 2014.
- ↑ "Household Labour Force Survey: December 2015 quarter". Statistics New Zealand. 3 Februari 2016. Diakses tanggal 4 Desember 2014.
- 1 2 Daly, Michael (7 Februari 2008). "Unemployment at record low as job growth surges". The New Zealand Herald. APN Holdings. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Juli 2013. Diakses tanggal 14 Juli 2026.
- ↑ "Unemployment Rate". Statistics New Zealand. Diakses tanggal 10 Oktober 2019.
- ↑ Weekes, John (28 Juli 2025). "Unemployment: Construction jobs down more than 12,000 in a year, more youth out of work". The New Zealand Herald. Diakses tanggal 31 Juli 2025.
- 1 2 "Why house prices are up and ownership is down". The New Zealand Herald. 18 Juli 2014.
Thirty years ago, an average house cost two or three times the average household income. But prices have rocketed since then, especially since 2001. By 2007, an average house cost more than six times household income.
- 1 2 "Housing affordability getting worse". Stuff. 20 Januari 2014.
- ↑ "Auckland house prices continue their relentless rise". National Business Review. 8 Januari 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Agustus 2020. Diakses tanggal 16 Oktober 2014.
- ↑ Gibson, Anne (18 April 2016). "2016 house price hikes tipped by economist". The New Zealand Herald.
- ↑ "House values soar in tight Auckland property market". The New Zealand Herald. 11 Juni 2014.
- ↑ Home truths: City of expensive sales tops Sydney, The New Zealand Herald, 26 April 2016.
- 1 2 "NZ mortgage rates: How we compare with rest of the world". The New Zealand Herald. 18 Oktober 2014.
- ↑ "Houses too far from reach?". The Dominion Post. 26 April 2014.
- ↑ "Housing Affordability Inquiry" (PDF). Komisi Produktivitas Selandia Baru. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2 Mei 2019. Diakses tanggal 16 Oktober 2014.
- ↑ Submission of the New Zealand Council of Trade Unions to the Productivity Commission on the Housing Affordability Inquiry, Februari 2012, hlm. 5
- ↑ "The fading dream of a first home in city". The New Zealand Herald. 15 Oktober 2014.
- ↑ "Chinese investment in NZ housing tipped to rise". The New Zealand Herald. 17 Oktober 2014.
- ↑ "Why house prices are up and ownership is down". The New Zealand Herald. 18 Juli 2014.
Home ownership has plunged since 1991. Back then, 76 per cent of homes were occupied by their owners, but by last year, that was down to 63 per cent.
- ↑ "Homeownership rate lowest in almost 70 years | Stats NZ". www.stats.govt.nz. Diakses tanggal 11 Februari 2026.
- ↑ "NZ income gap at crisis level". Stuff. 19 September 2013.
- ↑ "Paradise for a few". The New Zealand Herald. 22 Juni 2013.
- ↑ "New Zealand Progress Indicators:Income inequality". Statistics New Zealand. Agustus 2014. Diakses tanggal 22 Desember 2014.
- ↑ "New Zealand Superannuation and Retirement Income Act 2001 No 84 (as at 01 April 2022), Public Act – New Zealand Legislation". www.legislation.govt.nz. Diakses tanggal 10 Juni 2022.
- ↑ "National lacks courage on retirement age – Act leader". The New Zealand Herald. 24 Februari 2014.
- ↑ "Population aging in New Zealand". Statistics New Zealand.
- ↑ "Brian Gaynor: NZ badly behind times with age pensions". The New Zealand Herald. 5 November 2011.
- ↑ "October 2014 Monthly Report" (PDF). New Zealand Superannuation Fund. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 23 Januari 2019. Diakses tanggal 14 Desember 2014.
- ↑ "KiwiSaver annual statistics". Inland Revenue. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Januari 2020. Diakses tanggal 14 Desember 2014.
- ↑ "World Bank Open Data". World Bank Open Data. Diakses tanggal 27 Maret 2025.
- ↑ "Infrastructure 2013 National State of Infrastructure Report" (PDF). National Infrastructure Unit, New Zealand Treasury. 2013. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 14 Januari 2015. Diakses tanggal 22 Desember 2014.
- ↑ MacManus, Joel (6 September 2020). "Major report reveals $75 billion infrastructure deficit, warns of recession risks". Stuff. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- 1 2 3 4 "Connecting New Zealand – State of our infrastructure". Menteri Transportasi. 26 April 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Juli 2014. Diakses tanggal 14 Juli 2026.
- ↑ "Maintaining our network". Badan Transportasi Selandia Baru. Diakses tanggal 15 Desember 2014.
- ↑ Bell, Mike. "New Zealand Transportation". move2nz. Diarsipkan dari asli tanggal 10 Mei 2017. Diakses tanggal 13 Desember 2016.
- ↑ "Frequently Asked Questions" (dalam bahasa New Zealand English). Diakses tanggal 12 September 2018.
- ↑ "2013 Annual Telecommunications Monitoring Report". Komisi Perdagangan Selandia Baru. 21 Mei 2014. Diakses tanggal 22 Desember 2014.
- ↑ "Internet Service Provider Survey: 2014". Internet Service Provider Survey. Statistics New Zealand. 14 Oktober 2014. ISSN 1178-0509. Diakses tanggal 14 Oktober 2014.
- ↑ "Ultra-Fast Broadband Initiative". Kementerian Bisnis, Inovasi, dan Ketenagakerjaan Selandia Baru. Diakses tanggal 6 Maret 2014.
- ↑ "Chorus launches gigabit wholesale broadband services nationwide | Chorus". www.chorus.co.nz. Diarsipkan dari asli tanggal 30 Oktober 2016. Diakses tanggal 30 Oktober 2016.
- ↑ "Rural Broadband Initiative contracts". Kementerian Bisnis, Inovasi, dan Ketenagakerjaan Selandia Baru.
- ↑ "Energy in New Zealand". MBIE. Juli 2014. Diakses tanggal 3 Agustus 2014.
- ↑ "Key Findings on New Zealand's Progress Using a Sustainable Development Approach". Statistics New Zealand. 2010. Diakses tanggal 21 April 2012.
- ↑ Overland, Indra; Bazilian, Morgan; Ilimbek Uulu, Talgat; Vakulchuk, Roman; Westphal, Kirsten (1 November 2019). "The GeGaLo index: Geopolitical gains and losses after energy transition". Energy Strategy Reviews. 26 100406. Bibcode:2019EneSR..2600406O. doi:10.1016/j.esr.2019.100406. hdl:11250/2634876.
- ↑ "The Code". Electricity Authority / New Zealand government. Diakses tanggal 11 November 2016.
- 1 2 nzcpe (18 Mei 2020). "Climate explained: why switching to electric transport makes sense even if electricity is not fully renewable". Planetary Ecology (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 20 Mei 2020.
- ↑ "New Zealand Commits to 90% Renewable Electricity by 2025". RenewableEnergyWorld.com. 26 September 2007. Diakses tanggal 11 November 2016.
- ↑ "MARKETS – EVIDENCE AND INSIGHTS: ENERGY IN NEW ZEALAND 2023". Kementerian Bisnis, Inovasi, dan Ketenagakerjaan Selandia Baru (MBIE). Diakses tanggal 11 Juni 2025.
- ↑ "Central/Local Government Three Waters Reform Programme". Te Tari Taiwhenua – Departemen Dalam Negeri Selandia Baru. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ Coughlan, Thomas (26 Maret 2021). "Government thinks $110 billion needed to fix broken water system". Stuff. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ "New Zealand Trade | WITS Data". wits.worldbank.org. Diakses tanggal 8 September 2024.
- 1 2 "Trade Relationships and Agreements". Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (Selandia Baru). 21 Agustus 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Desember 2015. Diakses tanggal 10 Desember 2014.
- 1 2 3 "Main trading partners, 2013". Statistics New Zealand. Diakses tanggal 3 Desember 2014.
- ↑ "Trade surplus widens as dairy drives exports into China". The New Zealand Herald. 29 April 2014.
- ↑ "China overtakes Australia as NZ's biggest export market". National Business Review. 26 April 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 25 Februari 2021. Diakses tanggal 13 Desember 2014.
- 1 2 3 "Principal Trading Partners". New Zealand Treasury. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Oktober 2014. Diakses tanggal 23 Oktober 2014.
- ↑ "United Kingdom". Badan Perdagangan dan Pengembangan Usaha Selandia Baru.
- ↑ "Joint statement on EU-New Zealand Partnership Agreement". Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (Selandia Baru).
- ↑ "Joint declaration by President Van Rompuy, President Barroso and Prime Minister Key on deepening the partnership between New Zealand and the European Union". The Hague. 25 Maret 2014.
- ↑ "The USA". Badan Perdagangan dan Pengembangan Usaha Selandia Baru. 20 Desember 2013.
- ↑ "United States of America". Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (Selandia Baru).
- ↑ "Why bother with a US FTA?". The New Zealand Herald. 23 Maret 2010.
- ↑ "Pacific Islands". Badan Perdagangan dan Pengembangan Usaha Selandia Baru. 20 Desember 2013.
- ↑ "Pacific". Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (Selandia Baru). Diarsipkan dari asli tanggal 27 Oktober 2014.
- ↑ "About the aid programme". Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (Selandia Baru). Diarsipkan dari asli tanggal 7 Oktober 2015. Diakses tanggal 26 Oktober 2014.
- 1 2 3 "Who Owns NZ? Foreign Control Key Facts Updated". Scoop.co.nz. 7 Januari 2014.
- ↑ Bill Rosenberg. "Overseas Ownership of Land".
- ↑ "New Zealand, Cambodia cite political risks due to high energy transition costs". Reuters. 23 Oktober 2024. Diakses tanggal 23 Oktober 2024.
- ↑ "Report for Selected Countries and Subjects: April 2024". World Economic Outlook Database. International Monetary Fund (IMF).
- ↑ "Gross domestic product: December 2025 quarter, Table 22". Stats NZ. 2024. Diakses tanggal 21 April 2026.
- ↑ "Electricity in New Zealand". NZ Electricity Authority/Te Mana Hiko. November 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Januari 2011. Diakses tanggal 19 Januari 2011.
Sumber
- Energy in New Zealand 2023. Kementerian Bisnis, Inovasi, dan Ketenagakerjaan Selandia Baru. Agustus 2023. eISSN 2324-5913. ISSN 2537-9372. Diakses tanggal 12 Juni 2024.
- Russell, Marcia (1996). Revolution: New Zealand from Fortress to Free Market. Hodder Moa Beckett. ISBN 1869584287.
Bacaan lebih lanjut
- Dalziel, P. (2002). "New Zealand's Economic Reforms: An assessment". Review of Political Economy. 14 (1): 31–45. CiteSeerX 10.1.1.512.8999. doi:10.1080/09538250120102750. S2CID 154808716.
- Easton, Bryan (1994). "Economic and other ideas behind the New Zealand reforms". Oxford Review of Economic Policy. 10 (3): 78–94. doi:10.1093/oxrep/10.3.78.
- Easton, Brian (1997). In Stormy Seas: The Post-war New Zealand Economy. Wellington: Bridget Williams Books. ISBN 9781877133084.
- Evans, L.; Grimes, A.; Bryce, W.; Teece, D. (1996). "Economic Reform in New Zealand 1984–95: The Pursuit of Efficiency". Journal of Economic Literature. 34 (4): 1856–902.
- Frezza, William (Juli 2015). New Zealand's Far-Reaching Reforms: A Case Study on How to Save Democracy from Itself. Universidad Francisco Marroquín (The Antigua Forum). ISBN 978-9929-602-41-0.
- Gould, John (1982). The New Zealand Economy, 1945–1981. Wellington: New Zealand Institute of Economic Research.
- Harcourt, T. (2005). Closer Economic Relations. Australian Trade Commission Website
- Hawke, G. R. (1985). The Making of New Zealand: An Economic History. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0521278694.
Artikel ini berisi bahan berstatus domain umum dari CIA World Factbook dokumen "2005 edition".
Pranala luar
- Laman negara Selandia Baru di OECD dan Survei Ekonomi OECD untuk Selandia Baru
- Kementerian Bisnis, Inovasi, dan Ketenagakerjaan Selandia Baru
- Statistics New Zealand
- Ringkasan Perdagangan Bank Dunia untuk Selandia Baru
| Sejarah | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Geografi |
| ||||||||
| Politik |
| ||||||||
| Ekonomi | |||||||||
| Masyarakat |
| ||||||||
| Anggota | |
|---|---|
| Pertemuan | |
| Lainnya | |
1. Wilayah administratif khusus Tiongkok, berpartisipasi sebagai "Hong Kong, Tiongkok"; 2. Nama resminya Republik Tiongkok, berpartisipasi sebagai "Tionghoa Taipei" | |
| Negara berdaulat | |
|---|---|
| Dependensi dan wilayah lain | |
| Berdasarkan wilayah | |
1 Terkadang dimasukkan ke Asia. | |