Uniknya, Stasiun Magetan memiliki jalur buntu yang pada bagian ujungnya terdapat peron yang dapat digunakan secara langsung untuk menaikturunkan kendaraan bermotor yang diangkut menggunakan kereta bagasi.
Perubahan nama
Pada 12 Februari 2019, Pemerintah Kabupaten Magetan mengusulkan kepada Kereta Api Indonesia (KAI) supaya dapat mengubah nama Stasiun Barat menjadi Stasiun Magetan. Usulan tersebut bertujuan agar meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dan dapat memperkenalkan Kabupaten Magetan secara lebih luas.[6]
Selain itu, pemerintah setempat juga mengusulkan supaya stasiun ini dapat dijadikan stasiun pemberhentian bagi kereta api kelas eksekutif maupun bisnis.[7] Sebagai tanggapan atas usulan tersebut, maka KAI bersurat kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan RI. Usulan tersebut disetujui, dan Stasiun Barat resmi berganti nama menjadi Stasiun Magetan pada 1 Desember 2019.[8]
Bangunan dan tata letak
Bangunan lama Stasiun Barat beserta gudang telah dirobohkan, 2015
Stasiun Magetan memiliki empat jalur kereta api. Pada awalnya, hanya jalur 2 lama yang dijadikan sepur lurus ditambah sepur badug di sisi tenggara bangunan lama dan jalur 4 lama jarang digunakan.[9] Setelah jalur ganda ruas Babadan–Geneng dioperasikan sejak 16 Oktober 2019,[10] tata letak jalur di stasiun ini mengalami perubahan: jalur 1 yang lama diubah menjadi jalur 2 sebagai sepur lurus arah Surabaya, jalur 2 yang lama diubah menjadi jalur 3 sebagai sepur lurus arah Surakarta, jalur 3 yang lama diubah menjadi jalur 4, dan jalur 4 yang lama dibongkar.[11] Sistem persinyalan diubah dari sistem mekanik menjadi sistem persinyalan elektrik.[12] Dari emplasemen stasiun ini dahulu terdapat percabangan jalur rel menuju Pangkalan Udara Iswahyudi ke arah selatan untuk melayani angkutan bahan bakar pesawat dan juga terhubung dengan Pabrik Gula Purwodadi melalui jalur lori untuk melayani angkutan tebu dan gula, tetapi kedua jalur tersebut sudah dinonaktifkan.
Stasiun ini dibangun ulang seluruhnya oleh Balai Teknik Perkeretaapian Surabaya (dahulu BTP Jatim) Direktorat Jenderal Perkeretaapian sebagai paket dalam proyek jalur ganda segmen Madiun–Kedungbanteng yang beroperasi pada 2019.
Bangunan lama stasiun beserta gudang peninggalan Staatsspoorwegen telah dirobohkan karena terkena dampak pembangunan jalur 1 yang baru di bekas sepur badug lama dan digantikan dengan bangunan baru berukuran lebih besar yang dibangun di bekas lahan gudang.[13]
Pada 5 November 2019 pukul 21.52 WIB, kereta api Wijayakusuma tujuan Cilacap mengalami anjlok saat hendak masuk Stasiun Barat.[17] Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian ini. Akan tetapi lalu lintas pada jalur kereta api Kertosono–Solo Balapan mengalami gangguan, hingga menyebabkan 13 kereta api yang akan melintas pada jalur tersebut mengalami keterlambatan.[18]
Pada 19 Januari 2020 pukul 18.47 WIB, di perlintasan sebidang Nomor 08 di sebelah barat Stasiun Magetan, seorang kakek yang mengendarai sepeda motor meninggal dunia setelah ditabrak oleh kereta api luar biasa (KLB) dengan nomor KA 10148 yang menuju Madiun. Saksi mata menyampaikan bahwa, sebelumnya korban telah berhenti dan menungguu kereta api Gajayana dari arah Stasiun Madiun untuk melintas. Namun setelah Gajayana melintas, korban melintasi perlintasan tersebut, tanpa disadari, dari arah barat akan melintas KA 10148.[19]
Pada Senin, 19 Mei 2025, pukul 12.49 WIB, kereta api Malioboro Ekspres (nomor KA 170) relasi Purwokerto–Malang menabrak tujuh sepeda motor di perlintasan sebidang resmi Nomor 08 yang berada di KM 176+586 antara Geneng–Magetan, tepatnya di Mangge, Barat, Magetan, Jawa Timur. Palang perlintasan yang berada di dekat Stasiun Magetan tersebut dikelola oleh Kereta Api Indonesia (KAI). Saksi mata menyebutkan bahwa palang perlintasan sebelummya telah tertutup ketika KA 269 Matarmaja relasi Malang–Pasar Senen melintas setelah menaikturunkan penumpang di Stasiun Magetan. Setelah Matarmaja melintas, palang perlintasan tersebut dibuka, meskipun masih terdapat kereta api Malioboro Ekspres dari arah berlawanan yang hendak melintas. Hal ini menyebabkan tabrakan tidak dapat dihindarkan.[20] Tabrakan ini mengakibatkan empat orang meninggal dunia, yang terdiri dari tiga laki-laki dan satu perempuan. Selain itu, tiga orang mengalami luka berat berupa patah tulang dan luka robek pada kaki, sementara satu orang lainnya mengalami luka robek pada kaki kanan.[21] Seluruh korban dilarikan ke RSUD dr Sayidiman, Magetan, RS Angkatan Udara dr Efram Husada, dan RSUD dr Soedono, Kota Madiun.[22]
Galeri
Bangunan Stasiun Barat yang telah dirobohkan setelah dilakukan pengoperasian jalur ganda, 2009
Stasiun Magetan dilihat dari arah selatan, 2019
Stasiun Magetan saat masih bernama Halte Barat pada masa Hindia Belanda.
Menara penyimpanan tetes tebu (molasse) milik Pabrik Gula Purwodadi yang terletak di sebelah timur Stasiun Magetan.
Lokomotif Uap Pabrik Gula Purwodadi berjalan meninggalkan emlplasemen Stasiun Magetan kembali menuju Pabrik Gula.
Sebuah lokomotif uap milik Pabrik Gula Purwodadi terparkir di samping menara penyimpanan tetes tebu.
↑Spoor en Tramweg Gids Met Een Spoorwegkaart van Java en De plattegronden van Batavia, Semarang en Soerabaja. Batavia: Snelpers-Drukkerij Albrecht & Rusche. 1891. hlm.39.
↑Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobieldiensten op Java en Madoera. Staatsspoor en Tramwegen Particuliere Spoor en Tramweg-Maatschappijen. 1935. hlm.204. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑M. I, Utep., S, R. Adi., K, Danang. (2019). "Grafik Perjalanan Kereta Api: Walikukun–Kertosono–Mojokerto, Kertosono–Wlingi". Lampiran I: Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KP. 1781 Tahun 2019
Untuk melihat daftar stasiun secara lengkap, dapat mengklik "(Kategori/Daftar)" pada masing-masing daerah atau pranala artikel. Templat ini meringkas daftar stasiun yang dioperasikan oleh KAI (hanya stasiun utama yang diswakelola oleh perusahaan induk) dan operator KA lainnya (hanya pranala).