Sejarah
Sebelum terjalinnya hubungan bilateral, pemerintah Korea Utara dilaporkan mendukung kelompok-kelompok gerilya yang melawan kediktatoran militer Brasil, seperti Ação Libertadora Nacional dan Vanguarda Popular Revolucionária, antara tahun 1968 dan 1971. Pada bulan November 1970, sebuah kamp pelatihan didirikan di Porto Alegre, meskipun ada juga dugaan bahwa kelompok yang lebih kecil dilatih di dalam Korea Utara sendiri.[2]
Hubungan secara resmi terjalin pada Januari 2001 di bawah pemerintahan Fernando Henrique Cardoso dan Kim Jong Il. Kedutaan besar Korea Utara di Brasília diresmikan pada tahun 2005, dan duta besar tetap pertama, Pak Hyok, menyerahkan surat kepercayaannya pada November tahun yang sama.[3] Empat tahun kemudian, kedutaan Brasil di Pyongyang dibuka pada Mei 2009.[4][5]
Meskipun pemerintah Brasil memiliki hubungan ekonomi dengan Korea Utara, pemerintah Brasil umumnya mengutuk tindakan kontroversial Korea Utara yang mengancam stabilitas di Asia Timur, seperti uji coba nuklir Korea Utara 2009, yang menyebabkan Kementerian Luar Negeri Brasil menyatakan bahwa Pemerintah Brasil dengan tegas mengutuk uji coba nuklir Korea Utara dan mendesak negara tersebut untuk menandatangani Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Coba Nuklir dan kembali ke perundingan enam negara sesegera mungkin,[6] dan tenggelamnya ROKS Cheonan pada tahun 2010, yang menyebabkan Kementerian Luar Negeri Brasil mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa pemerintah menyatakan solidaritas dengan Korea Selatan dan mendesak stabilitas di Semenanjung Korea.[7]
Sejak Juli 2016, kedutaan di Brasília tidak lagi memiliki duta besar, melainkan seorang kuasa usaha.[4] Kemudian pada tahun yang sama, Korea Utara ikut serta dalam Olimpiade Rio 2016, yang menunjukkan stabilitas yang lebih baik antara kedua negara.[8]