Sejarah dan hubungan yang bermusuhan
Denmark adalah salah satu negara pertama yang mengakui Korea Utara selama Perang Korea.[3] Hubungan diplomatik antara Denmark dan Korea Utara terjalin pada 17 Juli 1973.[4] Pada Oktober 1976, Denmark menutup perwakilan diplomatik Korea Utara di Denmark, dan menyatakan perwakilan diplomatik tersebut sebagai persona non grata, setelah adanya tuduhan impor pasar gelap, penjualan narkoba, alkohol, dan rokok. Kemudian Norwegia dan Finlandia mengikuti.[5] Korea Utara menutup kedutaan mereka di Denmark pada tahun 1998, karena pengurangan anggaran mereka.[4]
Denmark mendukung Resolusi 1695 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai program senjata Korea Utara. Kepala Departemen Asia Kementerian Luar Negeri Denmark, Susan Ulbæk, menyatakan bahwa Denmark tidak dapat menerima Korea Utara yang bersenjata nuklir.[6]
Pada bulan September 2009, sembilan warga Korea Utara tiba di kedutaan Denmark di Hanoi, Vietnam untuk meminta suaka.[7][8]
Setelah tenggelamnya ROKS Cheonan pada Maret 2010 akibat torpedo, Menteri Luar Negeri Denmark Lene Espersen mengutuk tenggelamnya Cheonan, dan menyatakan bahwa pihaknya meyakini Korea Utara bertanggung jawab. Menteri tersebut menyerukan kepada Korea Utara untuk mematuhi kewajiban internasionalnya.[9]
Setelah pengeboman Yeonpyeong pada bulan November 2010, Perdana Menteri Denmark Lars Løkke Rasmussen mengutuk serangan tersebut, dan menyebutnya sebagai "provokasi militer".[10]
The Mole: Undercover in North Korea, sebuah miniseri dokumenter yang disutradarai oleh pembuat film Denmark Mads Brügger, menyoroti ketidakpatuhan Korea Utara terhadap sanksi PBB. Menteri Luar Negeri Denmark Jeppe Kofod kemudian mengutuk DPRK atas keterlibatannya dalam perdagangan senjata ilegal.[11]