Sejarah
Hubungan diplomatik pertama antara keduanya terjalin pada tahun 1947, ketika Delegasi Apostolik Australia, Selandia Baru, dan Oseania dibentuk. Delegasi ini kemudian bercabang pada tahun 1968 dan menjadi Delegasi Apostolik Australia dan Papua Nugini.[1] Pada tahun 1976, delegasi baru dibentuk dan Papua Nugini berada di bawah yurisdiksi Delegasi Apostolik Papua Nugini dan Kepulauan Solomon.[2] Pada tanggal 7 Maret 1977, Takhta Suci memisahkan delegasi tersebut, membentuk Nunsiatur Apostolik Papua Nugini dan Delegasi Apostolik Kepulauan Solomon. Keputusan ini selanjutnya memungkinkan Papua Nugini untuk berinteraksi dengan Takhta Suci secara mandiri.[2][3] Takhta Suci mendirikan Nunsiatur Apostolik di Port Moresby, ibu kota dan kota terbesar Papua Nugini.[2]
Pada bulan Mei 1984, Paus Yohanes Paulus II melakukan kunjungan ziarah ke Papua Nugini dan Kepulauan Solomon.[4]
Paus Fransiskus mengunjungi Papua Nugini dari tanggal 6 hingga 9 September 2024, sebagai bagian dari turnya di kepulauan Indonesia. Beliau merayakan misa di Port Morseby, yang dihadiri oleh sekitar 35.000 orang. Kemudian beliau singgah di Vanimo, di wilayah barat laut negara yang terpencil.[5]
Nunsius yang menjabat untuk Papua Nugini dan Kepulauan Solomon adalah Uskup Agung Maurizio Bravi, yang diangkat pada 15 Januari 2025 untuk menggantikan Uskup Agung Mauro Lalli.[6]