Sejarah
Hubungan awal dimulai selama pemerintahan Shah Abbas Agung, ketika kedutaan Persia mengunjungi Paus.
Kedua negara telah memiliki hubungan diplomatik formal sejak tahun 1954, sejak masa kepausan Paus Pius XII. Hubungan tetap terjaga selama Revolusi Iran.[4] Iran memiliki korps diplomatik yang besar di Vatikan, dengan hanya Republik Dominika yang memiliki lebih banyak diplomat yang terakreditasi di Tahta Suci..[4] Paus Paulus VI disambut di Teheran oleh Shah Mohammad Reza Pahlavi selama kunjungan bandara pada 26 November 1970.
Pada tahun 1979, Paus Yohanes Paulus II mengirim utusan ke Iran untuk membantu menyelesaikan Krisis Sandera.
Pada tahun 2008, hubungan antara Iran dan Takhta Suci "menghangat", dan Mahmoud Ahmadinejad "mengatakan Vatikan adalah kekuatan positif untuk keadilan dan perdamaian" ketika ia bertemu dengan nunsius kepausan untuk Iran, Uskup Agung Jean-Paul Gobel.[5]
Menurut sebuah artikel berita online karya Carol Glatz dari Catholic News Service yang diposting di situs web CNS pada hari Kamis, 7 Oktober 2010, Presiden Ahmadinejad "mengatakan kepada Paus Benediktus XVI bahwa ia ingin bekerja lebih erat dengan Vatikan dalam upaya untuk menghentikan intoleransi agama dan perpecahan keluarga. Presiden juga menyerukan kepada agama-agama dunia untuk bekerja sama dalam memerangi sekularisme dan materialisme," lapor kantor berita Iran. Seruan tersebut disampaikan dalam sebuah surat yang diserahkan kepada Paus oleh Wakil Presiden Iran untuk Urusan Parlemen Sayyed Mohammad-Reza Mir-Tajeddini, selama pertemuan singkat pada 6 Oktober di Vatikan. Juru bicara Vatikan, Pastor Yesuit, Romo Federico Lombardi, mengkonfirmasi kepada Catholic News Service pada 7 Oktober bahwa surat tersebut telah diberikan kepada Paus dan isinya telah dipublikasikan oleh media Iran. Menurut laporan, surat tersebut memuji Paus dan Vatikan mengkritik ancaman seorang pastor AS untuk membakar salinan Al-Quran pada 11 September. Pada 3 November, Paus mengirimkan surat balasan kepada Presiden Iran, di mana beliau menyatakan bahwa pembentukan komisi bilateral Vatikan-Iran akan menjadi langkah yang diinginkan untuk menyelesaikan masalah Gereja Katolik Roma di Iran.[6]