Suttapiṭaka
Menurut sebuah khotbah dalam Saṁyuttanikāya yang berjudul "Bhikkhu Sutta" (SN 46.5):
- [Bhikkhu:] "Yang Mulia, dikatakan, 'faktor-faktor pencerahan, faktor-faktor pencerahan.' Dalam pengertian apa mereka disebut faktor pencerahan?"
- [Buddha:] "Faktor-faktor tersebut mengarah pada pencerahan, bhikkhu, oleh karena itu mereka disebut faktor-faktor pencerahan...."[6]
Selama meditasi, seseorang dapat merenungkan kualitas-kualitas tujuh faktor pencerahan serta kualitas-kualitas kebalikannya, yaitu lima rintangan batin (kesenangan indriawi, niat jahat, kemalasan-kelambanan, kegelisahan-kekhawatiran, keragu-raguan).[7] Selain itu, salah satu sutta Saṁyuttanikāya mengidentifikasi pengembangan setiap faktor pencerahan dengan disertai oleh masing-masing dari empat brahmawihara (cinta kasih, welas asih, simpati, keseimbangan batin).[8]
Dalam "Khotbah Api" Saṁyuttanikāya (SN 46.53), Sang Buddha mengidentifikasi bahwa sati (perhatian-penuh) itu "selalu berguna/bermanfaat" (sabbatthika); sedangkan, ketika pikiran seseorang sedang dikuasai middha (kelambanan), ia harus mengembangkan faktor pencerahan berupa dhamma-vicaya (penyelidikan), viriya (energi/usaha), dan piti (kegembiraan/kegiuran); dan, ketika pikiran seseorang sedang dikuasai uddhacca (kegelisahan), ia harus mengembangkan faktor pencerahan berupa passaddhi (ketenteraman), samādhi (konsentrasi), dan upekkhā (keseimbangan batin).[9]
Kembali menurut Saṁyuttanikāya, suatu ketika saat Sang Buddha sakit parah, Beliau meminta Yang Mulia Mahacunda untuk melafalkan Tujuh Faktor Pencerahan kepada-Nya. Dengan cara demikian, Sang Buddha sembuh dari penyakit yang diderita-Nya.[10]