Dalam Buddhisme, lima kekuatan (Pali: pañcabala; Sanskerta: पञ्चबल pañcabala) adalah kekuatan-kekuatan yang didasarkan pada lima faktor mental yang menguatkan batin, yakni keyakinan, usaha, perhatian-penuh, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Lima kekuatan merupakan satu dari tujuh set bodhipakkhiyādhammā ("kualitas-kualitas yang kondusif untuk pencerahan"). Lima kekuatan diparalelkan dengan lima indra spiritual, yang juga merupakan bagian dari bodhipakkhiyādhammā. Dalam tradisi tafsir, lima kekuatan juga dianggap sebagai lawan atau penangkal pañca-nīvaraṇa (lima rintangan batin).
Pemaknaan
Pañca (Sanskerta dan Pali) berarti "lima."[1][2]Bala (Sanskerta, Pali) berarti "kekuatan (power)," "tenaga/daya (strength)," "kesanggupan/gaya (force)."[3][4]
Kekuatan energi/usaha (P.: viriya-bala; Skt: vīrya-bala)
Kekuatan perhatian-penuh (P.: sati-bala; Skt.: smṛti-bala)
Kekuatan konsentrasi (P.: samādhi-bala; Skt.: samādhi-bala)
Kekuatan kebijaksanaan (P.: paññā-bala; Skt.: prajñā-bala)
Penjelasan kitabiah
Hubungan dengan lima indra spiritual
Dalam Sāketa Sutta (SN 48.43), Sang Buddha menyatakan bahwa pañcabala dapat menjadi pañcindriya, dan pañcindriya dapat menjadi pañcabala.
“
“Ada metode penjelasan, para bhikkhu, yang dengannya lima indria (pañcindriya) menjadi lima kekuatan (pañcabala) dan lima kekuatan menjadi lima indria. Dan apakah metode penjelasan itu? Yaitu bahwa indria keyakinan (saddhindriya) adalah kekuatan keyakinan (saddhābala); bahwa kekuatan keyakinan adalah indria keyakinan. Bahwa indria kegigihan (vīriyindriya) adalah kekuatan kegigihan (vīriyabala); bahwa kekuatan kegigihan adalah indria kegigihan. Bahwa indria perhatian (satindriya) adalah kekuatan perhatian (satibala); bahwa kekuatan perhatian adalah indria perhatian. Bahwa indria konsentrasi (samādhindriya) adalah kekuatan konsentrasi (samādhibala); bahwa kekuatan konsentrasi adalah indria konsentrasi. Bahwa indria kebijaksanaan (paññindriya) adalah kekuatan kebijaksanaan (paññābala); bahwa kekuatan kebijaksanaan adalah indria kebijaksanaan.
Beliau kemudian menggunakan metafora sungai yang melewati pulau di tengah sungai; pulau ini menciptakan aliran sungai ganda, tetapi aliran sungai tersebut juga dapat dilihat sebagai satu aliran sungai tunggal dengan metode penjelasan tertentu.[5]
“
“Adalah, para bhikkhu, karena ia telah mengembangkan dan melatih kelima indria (pañcindriya) ini maka seorang bhikkhu, dengan hancurnya noda-noda (āsava), dalam kehidupan ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran yang tanpa noda (anāsavaṁ cetovimuttiṁ), kebebasan melalui kebijaksanaan (paññāvimutti), menembus untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung (abhiññā).”
Kitab komentar Pāli menyatakan bahwa kelima kualitas ini adalah "indra/kemampuan" (indriya) ketika digunakan untuk mengendalikan lingkup pengaruhnya, dan merupakan "kekuatan" (bala) ketika tidak tergoyahkan oleh kekuatan-kekuatan yang berlawanan.[6]