Usaha (Pali: viriya; Sanskerta: vīrya), juga dikenal sebagai energi, semangat, ketekunan, kegigihan, dan antusiasme adalah sebuah istilah Buddhis yang dapat didefinisikan sebagai sebuah sikap senang hati untuk terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang bajik (bermanfaat), dan berfungsi untuk mendorong seseorang agar mampu menyelesaikan perbuatan-perbuatan yang bajik atau mulia.
Dalam ajaran Abhidhamma/Abhidharma, viriya diidentifikasi sebagai:
Dalam konteks ini, viriya didefinisikan sebagai sikap senang hati dalam melakukan hal-hal yang bajik; fungsinya adalah untuk mendorong seseorang menyelesaikan tindakan-tindakan positif.[1][2]
Etimologi
Viriya secara harfiah berarti "keadaan manusia yang kuat" atau "kejantanan."[3] Dalam literatur Weda, istilah ini dikaitkan dengan kepahlawanan dan kejantanan.
Dalam Buddhisme, viriya merujuk pada "energi" dari seorang praktisi,[4][5][6] "kegigihan",[6][7] "ketekunan,"[8] "semangat", "usaha", "kerajinan",[1][2] atau "pengerahan tenaga", dan berulang kali diidentifikasi sebagai prasyarat penting untuk mencapai pembebasan.
Dalam Kīṭāgiri Sutta (MN 70), Sang Buddha menginstruksikan para pengikut-Nya:
... Bagi seorang siswa berkeyakinan yang berniat untuk menyelami Ajaran Guru, wajar jika ia membimbing dirinya demikian: 'Dengan rela, biarlah hanya kulit, urat, dan tulangku yang tersisa, dan biarlah daging serta darah mengering di tubuhku, tetapi usahaku [Pāli: viriya] tidak akan mengendur selama aku belum mencapai apa yang dapat dicapai melalui kekuatan manusia [purisa-tthāmena], energi manusia [purisa-viriyena], dan kegigihan manusia [purisa-parakkamena]...."[4]
Sebab-terdekat: tergugah (saṃvegapadaṭṭhāna) atau adanya inisiatif untuk berusaha (vīriyārambhavatthupadaṭṭhāna).
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:
Kitab komentar mendefinisikan viriya seperti sifat heroisme atau perbuatan seseorang yang gagah berani dan energetik. Viriya juga didefinisikan sebagai usaha (ussāha) terhadap satu perbuatan yang harus dilakukan. Dengan deinisi seperti itu, maka viriya tidak muncul pada kondisi-kondisi yang lesu, lamban, dan tidak aktif (olīnavuttitā). Jadi, viriya mengatasi kelambanan batin dan diibaratkan seperti saka guru (upathambhana) yang menyokong rumah supaya bisa tetap berdiri tegak. Dengan disokong oleh viriya, maka dhamma-dhamma yang muncul bersamanya bisa berjuang keras dan pantang menyerah untuk melakukan fungsinya masing-masing demi mencapai apa yang dicita-citakan. Contoh penerapan viriya yang paling tinggi adalah viriya yang muncul pada saat Bodhisatta bertekad untuk tidak bangkit dari meditasinya sebelum tercapainya pencerahan — walaupun seandainya tubuhnya hanya tinggal tersisa kulit, otot, dan tulang saja serta
darah dan dagingnya mengering, Beliau tetap tidak akan bangkit dari duduknya![9]
Apakah viriya itu? Ia adalah batin yang berniat untuk selalu aktif, mengabdi, tak tergoyahkan, tidak berbalik arah, dan tidak kenal lelah. Ia menyempurnakan dan merealisasikan apa yang kondusif bagi hal-hal positif.[1]
Dalam konteks Abhidharma Mahāyāna, istilah ini umumnya diterjemahkan sebagai ketekunan.[1]
Bela diri
Viriya juga dapat menandakan keberanian serta kekuatan fisik, dan dikembangkan oleh para pelindung Buddhis termasuk para biksu Shaolin. Hal ini menandakan kekuatan karakter dan usaha gigih demi kesejahteraan orang lain, serta kemampuan untuk mempertahankan Triratna dari serangan.[butuh rujukan]
Bullitt, John T. (2005). A Glossary of Pali and Buddhist Terms. Tersedia dari "Access to Insight" (ATI).
Griffith, Ralph T.H. (1896). Rig Veda.
Guenther, Herbert V. & Leslie S. Kawamura (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding". Dharma Publishing. Edisi Kindle.
Ireland, John D. (penerj.) (1998). "Meghiya Sutta: Meghiya" (Ud. 4.1). Diakses 7 Februari 2011 dari "Access to Insight".
Kunsang, Erik Pema (penerj.) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books.