Dalam Buddhisme, keputusan (Pali: adhimokkha; Sanskerta: adhimokṣa, adhimoksha; WylieTibet: mos pa), juga dapat diterjemahkan sebagai "ketetapan," "resolusi", "minat", atau "minat yang mendalam", didefinisikan sebagai sikap memegang teguh suatu objek tertentu; fungsinya adalah untuk tidak kehilangan objek tersebut.[1][2]
Di dalam ajaran Abhidhamma Buddhis, adhimokkha diidentifikasi sebagai berikut:
Kitab Visuddhimagga (XIV, 151) memberikan definisi adhimokkha sebagai berikut:
Tindakan memutuskan adalah adhimokkha. Adhimokkha memiliki karakteristik kepastian. Fungsinya adalah untuk tidak meraba-raba. Adhimokkha dimanifestasikan sebagai kepastian/kebulatan. Penyebab terdekatnya adalah sesuatu yang harus dipastikan/diputuskan. Adhimokkha harus dianggap seperti tonggak/tiang pembatas karena sifatnya yang tidak dapat digoyahkan sehubungan dengan objek.[3]
Kata adhimokkha secara harfiah berarti pelepasan pikiran ke atas objek. Oleh karena itu, kata adhimokkha telah diterjemahkan sebagai "keputusan" atau "resolusi". Adhimokkha memiliki karakteristik kepastian, berfungsi untuk tidak meraba-raba, dan memanifestasikan dirinya sebagai ketegasan/kebulatan. Penyebab terdekatnya adalah sesuatu yang harus dipastikan/diputuskan. Adhimokkha diumpamakan seperti tonggak batu karena tekadnya yang teguh terhadap objek tersebut.[4]
Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan empat batasan pendefinisian adhimokkha:[5]
Karakteristik: adanya kepastian atau keputusan (sanniṭṭhānalakkhaṇa).
Sebab-terdekat: objek yang harus diputuskan (sanniṭṭhātabbadhammapadaṭṭhāna).
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa:
Adhimokkha adalah faktor-mental yang membuat kesadaran tidak goyah pada objek tertentu dan meyakininya secara penuh. [Oleh] karena keadaannya yang bergeming pada satu objek maka adhimokkha hendaknya dilihat seperti tonggak raja. Di zaman dahulu, biasanya di setiap kerajaan terdapat tonggak yang besar dan kokoh yang dipancang di depan gerbang kota. Tujuan meletakkan tonggak raja adalah untuk mencegah serbuan dari bala tentara lawan. Tonggak tersebut sangat kuat dan kukuh, tidak bisa digoyang oleh angin atau bahkan oleh tenaga apa pun. Demikianlah ciri dari faktor-mental adhimokkha yang tidak bisa “digoyang” oleh objek-objek lain.
[Jika] tanpa adhimokkha, maka kesadaran tidak bisa diam meyakini satu objek. Kesadaran seperti ini — yaitu kesadaran yang berasosiasi dengan keraguan (vicikicchā) — akan diam di satu objek tertentu tetapi secepat kilat dia akan lari mencari objek yang lain. Kitab komentar memberi perumpamaan untuk kesadaran ini seperti batu bulat yang didorong menggelinding dari atas bukit. Batu ini akan terus menggelinding dan hanya menyentuh “titik tanah” sesaat-sesaat saja. Demikianlah ciri dari kesadaran tanpa adhimokkha yang senantiasa dalam keadaan goyah dan bimbang. Jadi, hanya pada saat ada faktor-mental adhimokkha maka kesadaran akan menjadi kukuh, tidak meraba-raba dan ada keputusan yang pasti berkaitan dengan objek yang sedang ditangkap.[5]
Apakah adhimokṣa itu? Ia adalah sikap berpegang teguh pada hal yang telah ditentukan sebagaimana hal tersebut telah ditetapkan, dan fungsi dari adhimokṣa adalah bahwa hal itu tidak dapat disingkirkan.[1]
Adhimokṣa adalah sebuah kesadaran (awareness) yang melaluinya seseorang tetap bertahan dengan apa yang telah ditetapkan pikiran [yul-can] secara logis bahwa hal ini memang demikian adanya dan bukan sebaliknya.[1]
Bhikkhu Bodhi (2003), A Comprehensive Manual of Abhidhamma, Pariyatti Publishing
Guenther, Herbert V. & Leslie S. Kawamura (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" Dharma Publishing. Kindle Edition.
Kunsang, Erik Pema (penerjemah) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books.