ENSIKLOPEDIA
Wiranto
Wiranto | |||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan[a] | |||||||||||||||||||||||||||||
| Mulai menjabat 21 Oktober 2024 | |||||||||||||||||||||||||||||
| Presiden | Prabowo Subianto | ||||||||||||||||||||||||||||
| Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia ke-5 | |||||||||||||||||||||||||||||
| Masa jabatan 13 Desember 2019 – 20 Oktober 2024 | |||||||||||||||||||||||||||||
| Presiden | Joko Widodo | ||||||||||||||||||||||||||||
| Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia ke-6 | |||||||||||||||||||||||||||||
| Masa jabatan 27 Juli 2016 – 20 Oktober 2019 | |||||||||||||||||||||||||||||
| Presiden | Joko Widodo | ||||||||||||||||||||||||||||
| Masa jabatan 29 Oktober 1999 – 15 Februari 2000 | |||||||||||||||||||||||||||||
| Presiden | Abdurahman Wahid | ||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||
| Informasi pribadi | |||||||||||||||||||||||||||||
| Lahir | 4 April 1947 (umur 79) Yogyakarta, Indonesia | ||||||||||||||||||||||||||||
| Partai politik | PRI (2026–) | ||||||||||||||||||||||||||||
| Afiliasi politik lainnya | |||||||||||||||||||||||||||||
| Suami/istri | Rugaiya Usman
(m. 1975; meninggal 2025) | ||||||||||||||||||||||||||||
| Anak | 3 | ||||||||||||||||||||||||||||
| Orang tua |
| ||||||||||||||||||||||||||||
| Almamater | |||||||||||||||||||||||||||||
| Pekerjaan |
| ||||||||||||||||||||||||||||
| Karier militer | |||||||||||||||||||||||||||||
| Pihak | |||||||||||||||||||||||||||||
| Dinas/cabang | |||||||||||||||||||||||||||||
| Masa dinas | 1968–1999 | ||||||||||||||||||||||||||||
| Pangkat | |||||||||||||||||||||||||||||
| NRP | 22166 | ||||||||||||||||||||||||||||
| Satuan | Infanteri | ||||||||||||||||||||||||||||
| Komando | |||||||||||||||||||||||||||||
| Pertempuran/perang | Operasi Seroja | ||||||||||||||||||||||||||||
Wiranto (lahir 4 April 1947)[1] adalah seorang mantan perwira tinggi militer dan politikus senior berkebangsaan Indonesia. Saat ini, ia diberi mandat oleh Presiden Prabowo Subianto menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden bidang Politik, Hukum, dan Keamanan[2] (bernama Penasihan Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan 2024–2026)[3] Sebelumnya, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden pada dari 2019 hingga 2024.[4] Kiprahnya di politik di awali ketika dirinya ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan menjelang berakhirnya masa Orde Baru. Saat itu, Wiranto tergabung dalam Golongan Karya hingga akhirnya ia membentuk partai baru bernama Partai Hati Nurani Rakyat pada tahun 2006.[5]
Wiranto merupakan lulusan Akademi Militer Nasional 1968 berhasil meniti karier militer sampai puncak jabatan di ABRI (sekarang TNI) sebagai Panglima merangkap Menhankam[6].Jabatan rangkap sebagai Menhankam/Pangab, kecuali Wiranto juga pernah dijabat oleh Jenderal TNI (Purn.) M. Jusuf. Pada pergantian Orde Baru ke Orde Reformasi tahun 1998/1999, Wiranto sebagai Menhankam/Pangab memiliki peran yang sangat menentukan dalam mengawal proses pergantian tersebut.
Selain Menhankam, ia juga pernah dipercaya sebagai Menko Polhukam di era dua presiden, yakni Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Joko Widodo. Setelah merampungkan tugasnya sebagai Menko Polhukam, sejak 13 Desember 2019, ia dipercaya oleh Presiden Joko Widodo sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.
Di bidang politik, Ia memenangkan Konvensi Partai Golkar pada tahun 2003 dan kemudian pada tahun 2006 Ia mendirikan Partai Hanura (Partai Hati Nurani Rakyat) sekaligus menjadi Ketua Umum dan berhasil dihantarkannya mendapat jatah kursi di DPR-RI pada 2 periode. Ia juga pernah mencalonkan diri sebagai calon Presiden (2004) dan calon Wakil Presiden (2009) tetapi tidak berhasil sebagai pemenang.
Kehidupan awal dan pendidikan
Wiranto lahir pada 4 April 1947 di Yogyakarta. Ia adalah anak keenam dari sembilan bersaudara, putra pasangan R.S. Wirowijoto, seorang guru sekolah dasar, dan Suwarsijah. Saat baru berusia satu bulan, Wiranto beserta keluarganya pindah dari Yogyakarta ke Boyolali dekat Surakarta demi keamanan, menyusul rencana serangan Belanda ke Yogyakarta.[7]
Wiranto menempuh pendidikan dasar dan menengah di Surakarta. Ia menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 2 Surakarta pada tahun 1963, kemudian melanjutkan ke SMA Negeri 4 Surakarta dan lulus pada tahun 1965. Setelah itu, ia memutuskan untuk bergabung dengan Akademi Militer Nasional, dan berhasil menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1968.
Dalam rangka mengembangkan karier militernya, Wiranto mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) dan lulus pada tahun 1984. Tidak hanya itu, ia juga memperluas wawasan akademiknya di bidang administrasi publik dengan menempuh pendidikan di Universitas Terbuka, jurusan Administrasi Negara, dan lulus pada tahun 1995. Pada tahun yang sama, ia mengikuti pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) untuk memperdalam pengetahuannya di bidang ketahanan nasional.
Komitmennya dalam dunia hukum terlihat dari keberhasilannya menyelesaikan pendidikan di Sekolah Tinggi Hukum Militer AHM-PTHM pada tahun 1996. Tak berhenti di situ, ia juga meraih gelar Magister Manajemen dari STIE-IPWI Jakarta pada tahun 2006, serta gelar doktor di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dari Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2012.
Karier militer

Karier awal
Setelah lulus dari Akademi Militer Indonesia pada tahun 1968, ia menghabiskan bagian awal karier militernya di Sulawesi Utara, jauh dari pusat-pusat kekuasaan di Indonesia. Di sana ia meniti karier dari Komandan Peleton hingga menjadi Komandan Batalyon pada tahun 1982. Dari sana ia bertugas di markas besar Angkatan Bersenjata (sebelumnya dikenal sebagai Mabes ABRI, atau markas besar dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) selama dua tahun sebelum bergabung dengan Kostrad yang bergengsi (sebuah komando tingkat korps dan berlengkapan baik di dalam angkatan bersenjata Indonesia) pada tahun 1985 sebagai Kepala Staf Brigade di Jawa Timur. Pada tahun 1987, ia dipindahkan ke Jakarta di mana ia menjadi Wakil Asisten Operasi untuk Kepala Staf Kostrad.
Sebagai ajudan Soeharto
Setelah menduduki berbagai jabatan di lingkungan Satuan Tempur dan Pusat Pendidikan TNI-AD dari tahun 1968 - 1989, kariernya mengalami terobosan besar ketika ia terpilih untuk menjadi seorang ajudan bagi Presiden Soeharto pada tahun 1998.[8] Posisinya merupakan posisi yang bergengsi selama masa Orde Baru, karena menjadi batu loncatan bagi para perwira untuk memiliki karier militer yang sukses. Menurut pengakuan Wiranto sendiri, 2 Panglima Angkatan Darat, 3 Kepala Staf Angkatan, dan 2 Kepala Kepolisian,[9] telah menjabat sebagai ajudan presiden selama karier mereka.
Menjadi Kepala Staff
Pada tahun 1993, Wiranto menjadi Kepala Staf di Komando Daerah Militer Jayakarta dan menjadi komandan KODAM Jaya pada tahun 1994.[9] Dua tahun kemudian, ia menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) dan pada tahun 1997, ditunjuk sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad). Pada tahap kariernya ini, dispekulasikan bahwa Wiranto, bersama dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Agum Gumelar, A. M. Hendropriyono, dan Farid Zainuddin adalah lima perwira teratas dari faksi "Merah Putih" sekuler/nasionalis ABRI.[10] Kemudian, pada masa transisi politik nasional tahun 1998, Wiranto diangkat menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Panglima ABRI), dan melanjutkan pengabdiannya sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (Panglima TNI) pada tahun 1999.
Perannya pada kejatuhan Soeharto

Penunjukan Wiranto sebagai Panglima ABRI pada bulan Februari 1998 terjadi pada saat yang krusial. Indonesia sedang menderita dampak dari Krisis Keuangan Asia dan terdapat penolakan luas terhadap Soeharto. Meskipun demikian, Soeharto terpilih kembali untuk masa jabatan ketujuh sebagai presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sementara situasi terus memburuk. Dalam Kabinet baru Soeharto, Wiranto ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan.
Seiring memburuknya situasi, Wiranto mencoba menenangkan keadaan melalui dialog. Pada 18 April 1998, bersama dengan 17 menteri, Wiranto mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan organisasi mahasiswa.[9] Wiranto mengambil sikap hati-hati terhadap keresahan sosial yang sedang berkembang di seluruh Indonesia pada saat itu dan memperingatkan agar tidak terjerumus ke dalam anarki.
Keterlibatan Wiranto dalam peristiwa Mei 1998 dimulai dengan memerintahkan sebagian besar komandan militer senior untuk pergi ke Malang di Jawa Timur (850 km dari Jakarta) untuk sebuah acara seremonial, saat kerusuhan terjadi di ibu kota Jakarta.[9] Kemudian ia memberikan wewenang kepada Panglima KODAM Jaya Sjafrie Sjamsoeddin dan Kapolda Metro Jaya Hamami Nata untuk menangani situasi di Jakarta.[11] Itulah hari ketika empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak. Wiranto menanggapi pada 13 Mei dengan memerintahkan Polisi Militer untuk melakukan mobilisasi. Wiranto juga merasakan bahwa kondisi akan segera lepas kendali dan memerintahkan bala bantuan berupa personel Marinir dan Kostrad.[12]
Pada 15 Mei, Wiranto bertemu dengan Soeharto yang sempat pergi ke Mesir untuk menghadiri KTT ekonomi namun terpaksa kembali untuk menangani situasi di dalam negeri. Soeharto memunculkan ide untuk mengaktifkan kembali Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) untuk menangani situasi tersebut. Akhirnya, pada 18 Mei, Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden (Instruksi Presiden No 16/1998) kepada Wiranto. Wiranto akan dijadikan Panglima Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional (KOPKKN).[13] Instruksi presiden ini telah dibandingkan dengan Supersemar, surat kewenangan kunci yang dikeluarkan mantan presiden Soekarno pada Maret 1966 yang memberikan wewenang luas kepada Mayor Jenderal Soeharto saat itu atas pemerintahan di Indonesia.[14] Instruksi Presiden Soeharto pada Mei 1998 dipandang memberikan wewenang luas kepada Wiranto untuk memilih apakah akan menggunakan kekuasaan barunya tersebut atau tidak.[15]
Pada 21 Mei 1998, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden. Wakil Presiden B. J. Habibie mengambil alih jabatan sebagai presiden. Wiranto mengambil kesempatan tersebut untuk menyatakan bahwa ABRI akan menjamin keselamatan pribadi mantan Presiden Soeharto dan keluarganya. Wiranto kemudian mengakui keterlibatan pasukan khusus Kopassus dalam Penculikan aktivis 1997-1998.[16]
Kepresidenan Habibie
Wiranto tetap dipertahankan sebagai Panglima ABRI sekaligus Menteri Pertahanan dan Keamanan dalam Kabinet Habibie. Ia segera mulai bekerja untuk mereformasi ABRI dan pada 11 Juni, memberikan kepada Habibie dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat/Ketua MPR Harmoko sebuah manifesto berjudul "Pokok-Pokok Pikiran ABRI tentang Reformasi Menuju Mencapai Tujuan Nasional".[17] Pada bulan Agustus, Wiranto mengambil langkah untuk meredam kemarahan rakyat Aceh dengan mencabut status Daerah Operasi Militer (DOM) dari provinsi tersebut.
Sidang Istimewa MPR diadakan pada November 1998 dan Wiranto menindak tegas para pengunjuk rasa yang menentang Sidang Istimewa tersebut, yang menewaskan 8 orang dan melukai 226 lainnya.[18] Terlepas dari kemunduran ini, Wiranto terus membangun citra sebagai seorang reformis. Pada Januari 1999, ia bertemu dengan para tokoh reformasi dan pada April 1999, mengawasi pembentukan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) sebagai entitas otonom, bukan lagi bawahan ABRI. ABRI juga mengalami perubahan nama dan dikenal sebagai TNI. Wiranto juga mengawasi keamanan selama Pemilu Legislatif 1999 di mana TNI dan POLRI mengadopsi peran netral daripada mendukung Golkar seperti yang terjadi selama rezim Soeharto. Sebagai Panglima TNI, Wiranto juga terlibat dalam penarikan pasukan dari Timor Timur ketika provinsi tersebut memilih untuk menjadi negara merdeka. Dalam prosesnya, ia dituduh berada di balik atau setidaknya membiarkan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh prajurit TNI selama penarikan mundur dari Timor.[19]
Pemilihan Legislatif 1999
Sama seperti pemilihan legislatif 1999, Wiranto bertanggung jawab atas keamanan pada Sidang Umum MPR 1999. Namun, ia segera terlibat dalam politik. Habibie, yang telah dicalonkan untuk dipilih kembali oleh Golkar, memilih Wiranto untuk menjadi wakil presidennya.[20] Namun, pidato pertanggungjawaban Habibie ditolak oleh MPR dan ia memilih untuk tidak mencalonkan diri lagi sebagai presiden. Meskipun demikian, Wiranto tetap lanjut sebagai kandidat wakil presiden, kali ini dengan Akbar Tandjung sebagai kandidat presiden dari Golkar. Namun, Akbar menarik diri dari pencalonan dan memberikan dukungannya kepada presiden terpilih, Abdurrahman Wahid. Wiranto akhirnya menarik diri dari pencalonan wakil presiden ketika menjadi jelas bahwa Megawati perlu menjadi wakil presiden untuk meredam kemarahan para pendukungnya yang kecewa karena Megawati kalah dalam pemilihan presiden.
Karier politik
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (1999–2000)
Sebagai bagian dari upayanya membentuk kabinet yang mencakup seluruh unsur politik Indonesia, Gus Dur memasukkan Wiranto ke dalam kabinet sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Wiranto hanya menjabat selama tiga bulan ketika pada Januari 2000, saat melakukan kunjungan luar negeri ke Eropa, Gus Dur meminta Wiranto untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Tampaknya Presiden memandang Wiranto sebagai hambatan bagi rencananya untuk mereformasi militer, serta menanggapi secara serius tuduhan pelanggaran hak asasi manusia.[21] Wiranto menunggu hingga Gus Dur kembali sebelum bertemu dengan Presiden untuk menyampaikan pembelaannya. Wiranto sempat terlihat berhasil ketika Gus Dur memutuskan untuk tetap mempertahankannya, tetapi pada hari yang sama Gus Dur berubah pikiran dan Wiranto pun dicopot dari kabinet.[18]
Kepresidenan Megawati
Pada Januari 2003, Presiden Megawati terpaksa menaikkan harga bahan bakar, listrik, dan telepon.[21] Setelah itu, terjadi demonstrasi anti-Megawati dan muncul dugaan bahwa Wiranto terlibat dalam mengoordinasikan aksi-aksi unjuk rasa tersebut.[22]
Dakwaan pelanggaran hak asasi manusia
Pada 24 Februari 2003, Panel Khusus Pengadilan Distrik Dili mendakwa Wiranto dan menjeratnya dengan tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.[23] Wiranto claimed the move was an effort to discredit his political ambitions.[24] Namun, jaksa agung Timor Timur, Longuinhos Monteiro, menarik dukungannya terhadap dakwaan tersebut dengan alasan bahwa terdapat kemungkinan adanya “cacat” dalam prosesnya.[25] Sumber-sumber di Timor Timur meyakini bahwa Monteiro membalikkan posisinya setelah mendapat tekanan kuat dari tokoh-tokoh senior dalam pemerintahan Timor Timur.[25]
Surat perintah penangkapan tersebut tidak pernah diteruskan kepada Interpol.[21]
Kandidat Presiden pada Pemilihan Umum 2004
Pada Agustus 2003, Wiranto memutuskan untuk maju sebagai calon presiden setelah menyatakan niatnya mengikuti Konvensi Nasional Golkar.[21] Para pesaing Wiranto dalam konvensi tersebut antara lain Akbar, Prabowo, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Jusuf Kalla, Sultan Yogyakarta Hamengkubuwono X, dan Nurcholish Madjid. Pada April 2004, bulan pelaksanaan Konvensi Nasional, Hamengkubuwono X dan Nurcholish mengundurkan diri dari persaingan, sementara Kalla keluar dari Golkar untuk menjadi calon wakil presiden pendamping SBY. Pada 20 April 2004, Konvensi Nasional Golkar digelar. Dalam putaran pertama pemungutan suara, Wiranto berada di posisi kedua di bawah Akbar dengan perolehan 137 suara berbanding 147 suara.[26] Pada putaran kedua, Wiranto menang telak atas Akbar dengan perolehan 315 suara berbanding 227 suara dan menjadi calon presiden Golkar.[26]
Sebagai pasangan calon wakil presiden, Wiranto memilih Solahuddin Wahid, adik dari mantan Presiden Gus Dur. Pemilihan Solahuddin dimaksudkan untuk memperbaiki citra Wiranto terkait isu hak asasi manusia. Menurut Wiranto, “Karena Gus Solah (julukan Solahuddin) adalah figur yang bersih, tentu ia tidak akan mengaitkan dirinya dengan hal-hal kotor. Terlebih lagi ketika ia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Jadi saya bersih.”[22] Selain dukungan dari Golkar, Wiranto juga memperoleh dukungan dari Gus Duryang mengerahkan baik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) maupun Nahdlatul Ulama (NU) untuk mendukung Wiranto.[27]
Pada hari pemungutan suara, 5 Juli 2004, Wiranto dan Solahuddin menempati posisi ketiga di bawah pasangan SBY/Kalla dan Megawati/Hasyim Muzadi dengan perolehan 22,19% suara.[28]
Kandidat Partai Golkar, Pendirian Partai Hanura
Menjelang Kongres Nasional Golkar 2004, Wiranto menjadi salah satu kandidat Ketua Umum. Situasi berubah ketika Jusuf Kalla, yang saat itu menjabat Wakil Presiden dan didukung Presiden SBY, ikut mencalonkan diri. Wiranto menilai SBY tidak akan menghalangi Kalla untuk menjadi Ketua Umum.[21] Wiranto kemudian bersekutu dengan mantan lawannya, Akbar, tetapi keduanya gagal dan Kalla terpilih sebagai Ketua Umum.
Pada Agustus 2005, Wiranto bersama mantan Presiden Gus Dur dan Megawati, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, serta Akbar bertemu untuk mengkritik kebijakan pemerintahan SBY. Pada 1 September, mereka menandatangani pernyataan bersama dan menamakan diri sebagai Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu.

Pada September 2005, Wiranto bergabung dengan Perhimpunan Kebangsaan, sebuah organisasi massa yang didirikan oleh mantan kader Golkar Marwah Daud Ibrahim.[22] Dalam Musyawarah Pimpinan Nasional pada Mei 2006, Wiranto menyatakan organisasi tersebut sebagai langkah awal menuju pembentukan partai politik baru.[27] Pada 22 Desember 2006, Wiranto mendeklarasikan pembentukan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan terpilih sebagai ketua umumnya yang pertama.[22]
Kandidat Wakil Presiden pada Pemilihan Umum 2009
Wiranto maju sebagai calon Wakil Presiden Indonesia mendampingi Jusuf Kalla dalam Pemilihan umum Presiden Indonesia 2009, tetapi tidak berhasil.[29]
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (2016–2019)

Pada Juli 2013, Wiranto mengumumkan pencalonannya sebagai presiden pada Pemilu 2014 dengan pengusaha media Hary Tanoesoedibjo sebagai calon wakil presiden.[21] Namun, setelah perolehan suara Partai Hanura yang rendah dalam Pemilu 2014, Wiranto memutuskan mendukung pencalonan Joko Widodo, yang kemudian memenangkan pemilihan presiden.[22]
Pada perombakan kabinet 27 Juli 2016, Presiden Jokowi menunjuk Wiranto sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam).[27] Pada Desember 2016, Wiranto menyatakan Partai Hanura mendukung Jokowi untuk pemilihan kembali pada 2019.[22]
Pada Oktober 2016, Presiden Joko Widodo dan Wiranto menggarap satuan tugas yang memberantas pungutan liar, satuan tugas ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo melalui Perpres 87/2016.[30] Wiranto melantik pimpinan dan angota Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar pada 28 Oktober 2016.[31] Satgas ini menggarap sistem dalam jaringan di mana masyarakat dapat memberikan pengaduan tentang praktik pungli.
Pada Mei 2017, pemerintah melalui Menkopolhukam memutuskan untuk membubarkan organisasi masyarakat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), karena aktivitas Hizbuth Tahrir Indonesia (HTI) dianggap mengancam kedaulatan negara, bertentangan dengan ideologi Pancasila.[32] Pada Juli 2017, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia resmi mencabut status badan hukum ormas HTI.[33]
Pada 2018, Wiranto meminta Komisi Pemberantasan Korupsi menunda penetapan calon kepala daerah sebagai tersangka dalam kasus korupsi.[34]
Pada Pertemuan Para Menteri Hukum ASEAN 2019, Wiranto mengajak negara-negara di Asia Tenggara untuk meningkatkan kerjasama MLA (Bantuan Hukum Timbal Balik) dalam perkara pidana internasional. Hal ini, ia ungkapkan karena kejahatan trans-nasional terus berkembang dan terorganisir sehingga memudahkan para pelaku kejahatan untuk bisa melarikan diri dari hukum.[35]
Penusukan

Pada 10 Oktober 2019, Wiranto ditusuk dua kali oleh seorang pria yang diduga berafiliasi dengan kelompok militan terkait Negara Islam Irak dan Syam (ISIS), yakni Jamaah Ansharut Daulah (JAD).[21] Serangan tersebut terjadi saat Wiranto keluar dari mobil di dekat Saketi, selatan Kota Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten, sekitar 100 km barat daya Jakarta. Wiranto selamat dan diterbangkan dengan helikopter ke Rumah Sakit Gatot Soebroto di Jakarta untuk menjalani operasi.[22] Tiga orang lain, termasuk seorang anggota kepolisian, turut terluka saat berupaya melindungi Wiranto dan menangkap pelaku.[27]
Setelah menjalani perawatan, kondisi Wiranto dinyatakan stabil dan membaik. Presiden Joko Widodo menjenguknya dan menyampaikan bahwa Wiranto ingin segera kembali beraktivitas. Sejumlah tokoh nasional turut menjenguknya, antara lain Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan, mantan menteri koordinator Tedjo Edhy Purdijatno, serta anggota Dewan Pertimbangan Presiden Agum Gumelar.[22]
Pelaku, Syahrial Alamsyah alias Abu Rara, ditangkap di lokasi kejadian bersama istrinya, Fitria Diana, yang juga menusuk seorang pejabat kepolisian setempat. Abu Rara mengaku tidak tergabung dalam sel teroris dan melakukan penyerangan secara spontan.[22] Aparat menyebut Abu Rara sebelumnya telah berada dalam pemantauan karena kepemilikan senjata tajam.[36] Meski demikian, sebagian tokoh politik konservatif Muslim menuding peristiwa tersebut direkayasa.[37]
Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (2019–2024)

Setelah Joko Widodo dilantik untuk masa jabatan kedua pada Oktober 2019, Wiranto — yang masih dalam masa pemulihan — tidak lagi menjabat sebagai menteri. Pada Desember 2019, ia diangkat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.[38] Sesuai ketentuan netralitas, Wiranto secara otomatis tidak lagi tercatat sebagai anggota Partai Hanura.[39]
Penasihat Khusus Presiden
Pada Oktober 2024, Wiranto dilantik menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan.[3] Nomenklatur jabatannya berubah menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan pada tahun 2026.[2]
Jabatan organisasi
Organisasi Politik

Dalam dunia organisasi politik, Wiranto aktif mengambil berbagai peran penting. Pada tahun 1998, ia menjadi Anggota Dewan Pembina Partai Golongan Karya (Golkar). Kemudian pada tahun 2004, ia dipercaya sebagai Penasehat SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia). Puncak karier organisasinya terjadi saat ia mendirikan sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dari tahun 2006 hingga 2019.
Organisasi Masyarakat dan Olahraga
Selain aktif di dunia politik, Wiranto juga berkiprah luas dalam berbagai organisasi masyarakat dan olahraga. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Eksekutif Institute for Democracy of Indonesia, Ketua Dewan Pembina Pengurus Pusat Mathaul Anwar, serta Ketua Dewan Pembina Paguyuban Warung Tegal Indonesia. Ia juga menjadi Dewan Pembina Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia (FKPPAI), serta Pembina Pengurus Pusat Masyarakat Cinta Masjid Indonesia.
Di bidang akademik dan sosial, ia terdaftar sebagai Anggota Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Di dunia olahraga, kontribusinya pun sangat besar, termasuk menjadi Ketua Umum PB Federasi Karatedo Indonesia, Ketua Umum PB Gabungan Bridge Seluruh Indonesia, Ketua Umum PB Taekwondo Indonesia, dan Ketua Umum PP Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia serta Dewan Kehormatan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia.
Penghargaan
Tanda kehormatan

Wiranto mendapatkan sejumlah tanda kehormatan atas prestasi dan jasanya baik dari dalam maupun luar negeri, di antaranya:
Penghargaan lainnya
- Brevet Airborne Ranger
- Maggala/Wirakarya Kencana
Buku dan Karya
- Bersaksi di Tengah Badai Penerbit: Institute for Democracy of Indonesia, Jakarta. ISBN 979-96845-I-X
- Meluruskan Jalan Demokrasi Penerbit: Institute for Democracy of Indonesia, Jakarta. ISBN 979-97721-3-3
- Meretas Jalan Baru Ekonomi Indonesia Penerbit: Institute for Democracy of Indonesia, Jakarta. ISBN 979-97721-4-1
Catatan
- ↑ Bernama Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan dari Oktober 2024 hingga Januari 2026
Referensi
- ↑ "Wiranto". polkam.go.id. Situs web Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia. 26 September 1999. Diakses tanggal 29 Januari 2024.
- 1 2 Benni JP. "Penasihat Khusus Presiden Wiranto Audiensi dengan Menteri Hukum, Bahas Digitalisasi dan Posbakum Desa". jurnalpolisi.co.id. Diakses tanggal 7 Mei 2025.
- 1 2 "Presiden Prabowo Resmi Lantik para Penasihat Khusus, Utusan Khusus, dan Staf Khusus Presiden". Sekretariat Presiden Republik Indonesia. 22 Oktober 2024.
- ↑ Choirul Anwar, Muhammad (13 Desember 2019). "Sah! Jokowi Tunjuk Wiranto Jadi Ketua Wantimpres 2019-2024". CNBC Indonesia. Jakarta. Diakses tanggal 17 Februari 2023.
- ↑ "Wiranto - Fuad Bawazier Deklarasikan Partai Hanura". Detik.com. Jakarta. 21 Desember 2006. Diakses tanggal 17 Februari 2023.
- ↑ "Wiranto". Situs web Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia. 26 September 1999. Diakses tanggal 29 Januari 2024.
- ↑ "Wiranto Janjikan Perlindungan HAM - Biografi Tokoh Indonesiaz". Ensiklopedi Tokoh Indonesia. TokohIndonesia.com. 10 Oktober 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Februari 2010. Diakses tanggal 13 April 2017.
- ↑ "Wiranto". polkam.go.id. Situs web Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia. 26 September 1999. Diakses tanggal 29 Januari 2024.
- 1 2 3 4 Wiranto (2003). Bersaksi Di Tengah Badai: Dari Catatan Wiranto, Jenderal Purnawirawan. Jakarta: Ide Indonesia. hlm. 6. ISBN 979-96845-1.
- ↑ "Kabar-indonesia] Indo News - 8/13/03 (Part 2 of 2)". 13 Agustus 2003. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Juli 2006.
- ↑ Wiranto (2003) p. 31
- ↑ Wiranto (2003) p. 55
- ↑ Wiranto (2003) p. 82
- ↑ "Berakhir Pekan dengan Jenderal Purn. TNI H. Wiranto: Orang Curi Ayam pun, Saya yang Dituduh". Pikiran Rakyat. 9 Mei 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Mei 2005.
- ↑ Wiranto (2003) p. 83
- ↑ Pike, John (13 September 1999). "KOPASSUS Army Special Force Command". Federation of American Scientists. Diakses tanggal 17 September 2014.
- ↑ Wiranto (2003) p. 99
- 1 2 Wiranto (2003) p. 143
- ↑ Soal Kivlan Zen, Wiranto Serahkan Proses Ke Pengadilan
- ↑ "Megwati Terjepit, Habibie-Wiranto Lolos". Indomedia.com. Diarsipkan dari asli tanggal 27 Januari 2004.
- 1 2 3 4 5 6 7 Conceicao, J.F (2005). Indonesia's Six Years of Living Dangerously. Singapore: Horizon Books. hlm. 18. ISBN 981-05-2307-6.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "[Kabar-indonesia] Indo News - 2/09/03 (Part 1 of 2)". 9 Februari 2003. Diarsipkan dari asli tanggal 12 Mei 2003.
- ↑ "Indonesia: Indicted General Unfit for Presidential Bid". Human Rights Watch. 22 April 2004. Diakses tanggal 17 Desember 2016.
- ↑ Aglionby, John (11 Mei 2004). "UN issues warrant for Indonesian general". The Guardian. Diakses tanggal 3 Maret 2021.
- 1 2 Moore, Matthew (13 Mei 2004). "Doubts on warrant lift Wiranto's campaign". The Sydney Morning Herald. Diakses tanggal 17 Desember 2016.
- 1 2 "Wiranto Capres Golkar - Berita Tokoh Indonesia". 6 Juni 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Februari 2010. Diakses tanggal 13 April 2017.
- 1 2 3 4 "Fatwa Gus Dur Warga NU-PKB Dukung Wiranto". Sriwijaya Post. 24 Juni 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Oktober 2005.
- ↑ "Hasil Akhir Pemilihan Presiden RI Putaran 1 tgl. 5 Juli 2004". InfoPartai. Diarsipkan dari asli tanggal 21 Februari 2005.
- ↑ "SBY-Boediono Pasangan Terpilih Pilpres 2009". Kementerian Dalam Negeri. 19 Agustus 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 17 Desember 2016.
- ↑ "Menteri Wiranto Siapkan Nama Tim Sapu Bersih Pungli". hukumonline.com. 17 Oktober 2016. Diakses tanggal 8 Mei 2026.
- ↑ "Menko Polhukam Lantik Pimpinan dan Anggota Satgas Saber Pungli". Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. 28 Oktober 2016. Diakses tanggal 8 Mei 2026.
- ↑ "Menko Polhukam: Pembubaran HTI Untuk Selamatkan Kedaulatan Negara". 12 Mei 2017. Diakses tanggal 8 Mei 2026.
- ↑ Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU-30.AH.01.08 tahun 2017 tentang pencabutan Keputusan Menteri Hukum dan HAM nomor AHU-0028.60.10.2014 tentang pengesahan pendirian badan hukum perkumpulan HTI.
- ↑ Dwinanda, Reiny (13 Maret 2018). "Wiranto asks KPK to postpone naming candidates as suspects". Republika.co.id.
- ↑ "Menkopolhukam Ajak Negara ASEAN Tingkatkan Kerjasama MLA dalam Masalah Pidana". Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum. 25 April 2026. Diakses tanggal 8 Mei 2025.
- ↑ Afila, Laila (11 Oktober 2019). "Intelligence Agency BIN Knew Wiranto's Attacker Collected Knives". Tempo.co.
- ↑ Pangestika, Dyaning (12 Oktober 2019). "Indonesian Military removes officers after spouses post Facebook comments on Wiranto's attack". The Jakarta Post.
- ↑ "Wiranto Returns to Gov't as Presidential Advisor". Jakarta Globe. 13 Desember 2019.
- ↑ "Hanura: Wiranto Sudah Keluar Sejak Jadi Wantimpres 2019". CNN Indonesia. 22 Februari 2023.
- ↑ Evandio, Akbar (2025-08-25). "Lengkap! Ini Daftar Daftar Peraih Bintang RI Utama dari Prabowo". Bisnis.com. Diakses tanggal 2025-08-25.
- ↑ Daftar WNI yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera tahun 1959 s.d. 2003 (PDF). Diakses tanggal 4 Oktober 2021.
- ↑ Departemen Pertahanan Keamanan, Staf Pembinan Karyawan, Indonesia (1994). Mimbar kekaryaan ABRI. Edisi 315-324. Indonesia: Indonesia. Angkatan Bersenjata. hlm. 67. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ "Profil Wiranto - VIVA". Viva.co. Diakses tanggal 20 Oktober 2019.
- ↑ Paridah Abd. Samad, Indonesia (1999). General Wiranto The Man Emerging from the Midst of Indonesian Reformation : a Political Analysis. Indonesia: Affluent Master. hlm. 6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ "Eingelangt am 23.04.2012 : Dieser Text wurde elektronisch übermittelt. Abweichungen vom Original sind möglich. Bundeskanzler Anfragebeantwortung" (PDF). Parlament.gv.at. Diakses tanggal 10 Februari 2019.
- ↑ "Pendidikan, Organisasi, dan Tanda Jasa Menko Polhukam Wiranto". initu.id. 13 Oktober 2019. Diakses tanggal 20 Oktober 2019.
- ↑ "MINISTER FOR DEFENCE, DR TONY TAN KENG YAM PRESENTING THE …". www.nas.gov.sg. Diakses tanggal 5 Februari 2023.
- ↑ Author (1997-12-23). "Anugerah tertinggi bagi jeneral Indonesia". NewspaperSG. Diakses tanggal 2024-07-10.
- ↑ "King confers Tan Sri award on Wiranto and Mongkon". New Straits Times. 21 Juli 1999. hlm. 2.
- ↑ "Disjarah-tniad.mil.id - Dinas Sejarah Angkatan Darat". disjarah-tniad.mil.id. Diakses tanggal 9 Januari 2023.
- ↑ "GROUP PHOTOGRAPH OF PRESIDENT ONG TENG CHEONG (CENTRE) WITH …". www.nas.gov.sg. Diakses tanggal 5 Februari 2023.
- ↑ "Wiranto vs Prabowo: Awal Persaingan Mantan Ajudan & Bekas Menantu …". Diakses tanggal 24 Oktober 2025.
Pranala luar
- (Indonesia) Bio Wiranto di Ensiklopedi Tokoh Indonesia Diarsipkan 2012-04-16 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Profile H. Wiranto. SH di pemiluindonesia.com Diarsipkan 2008-12-01 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Situs resmi Sahabat Muda Jusuf Kalla-Wiranto
- (Indonesia) Situs resmi Jusuf Kalla - Wiranto untuk Presiden dan Wakil Presiden 2009–2014 Diarsipkan 2009-10-08 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Berita tentang calon presiden Wiranto di pemilu 2014 Diarsipkan 2013-07-15 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Situs resmi Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif indonesia ( FKPPAI )
- (Indonesia) 21 tahun menjabat, Jendral TNI (Purn) Wiranto sambut baik FKPPAI
- Wiranto di Facebook
- Wiranto di X
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Sri Adiningsih |
Ketua Dewan Pertimbangan Presiden 2019–2024 |
Diteruskan oleh: TBA |
| Didahului oleh: Luhut Binsar Panjaitan |
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan 2016–2019 |
Diteruskan oleh: Mahfud MD |
| Didahului oleh: Feisal Tanjung |
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Indonesia 1999–2000 |
Diteruskan oleh: Soerjadi Soedirdja |
| Didahului oleh: Edi Sudrajat |
Menteri Pertahanan dan Keamanan Indonesia 1998–1999 |
Diteruskan oleh: Juwono Sudarsono |
| Jabatan partai politik | ||
| Posisi baru | Ketua Umum Partai Hanura 2006–2016 |
Diteruskan oleh: Oesman Sapta Odang |
| Jabatan militer | ||
| Didahului oleh: Feisal Tanjung |
Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia 1998–1999 |
Diteruskan oleh: Widodo A. S. |
| Didahului oleh: R. Hartono |
Kepala Staf TNI Angkatan Darat 1997–1998 |
Diteruskan oleh: Subagyo Hadi Siswoyo |
| Didahului oleh: Tarub |
Pangkostrad 1996–1997 |
Diteruskan oleh: Sugiono |
| Jabatan olahraga | ||
| Didahului oleh: Gita Wirjawan |
Ketua Umum PBSI 2016–2020 |
Diteruskan oleh: Agung Firman Sampurna |
| Didahului oleh: Rudini |
Ketua Umum PB FORKI 1997–2001 |
Diteruskan oleh: Luhut Binsar Panjaitan |
Pranala ke artikel terkait | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||



