ENSIKLOPEDIA
Saṃyuktāgama
| Tripitaka Tionghoa berdasarkan Tripitaka Taishō |
|---|
|
Terjemahan teks India
|
|
Karya Tionghoa dan Jepang
|
Kitab Saṁyuktāgama (Sanskerta untuk "Koleksi Bertaut"; disingkat SA; Hanzi: 雜阿含經; Pinyin: Zá Āhán Jīng), juga ditulis sebagai Saṁyukta Āgama, adalah sebuah kitab buddhis India awal, yang saat ini hanya terjemahan bahasa Tionghoanya saja yang masih bertahan (Taishō 99).
Di antara empat kitab āgama, Saṃyuktāgama menghimpun banyak sutra pendek yang dikelompokkan berdasarkan tema-tema yang saling bertautan (saṃyukta), seperti lima gugusan, enam landasan indra, sebab musabab, nutrisi/makanan, empat kebenaran, unsur-unsur, dan 37 faktor pencerahan. Sementara itu, bagian syairnya (gāthā) disusun berdasarkan Delapan Kelompok Makhluk. Oleh karena itu, kitab ini juga dikenal sebagai "Āgama yang Berpadanan" (相應阿含). Oleh karena teks sutranya yang pendek-pendek, terperinci, dan terkadang sulit dihafal atau dihimpun secara majemuk, kitab ini dinamakan Zá Āhán (Āgama Majemuk/Campuran).[1][2] Terjemahan bahasa Tionghoa dari Saṁyuktāgama diperkirakan berasal dari versi resitasi aliran Mūlasarvāstivāda. Bersama dengan kitab berbahasa Pali yang paralel dengan kitab ini, yaitu Saṁyuttanikāya, kitab ini dipandang oleh kalangan akademis sebagai salah satu kumpulan sabda Buddha yang paling mendekati wujud asli ajaran Buddhisme awal.
Asal-usul dan sejarah
Penamaan
Nama "Zá Āhán" (Āgama Majemuk) kemungkinan diterjemahkan dari kosakata India yang sepadan dengan "Pali: saṃyuttāgama, Sanskerta: saṃyuktāgama", seperti "Sēngyùduō Āhán" (僧育多阿含)[3] atau "Sēngyùduō Āqiémó" (僧育多阿伽摩).[4] Āgama juga ditransliterasikan sebagai Āhánmù (阿含慕) atau Āhánmù (阿鋡慕);[5] Xuanzang dan Yijing menerjemahkannya sebagai "Āqiémó" (阿笈摩).[6]
Mūlasarvāstivāda-vinaya-kṣudraka-vastu menggunakan makna "berpadanan" (Sanskerta: saṃyukta), menyebut Zá Āhán sebagai Xiàngyìng Āqiémó (相應阿笈摩 / Āgama yang Berpadanan),[7] yang namanya persis sama dengan Saṃyutta Nikāya dalam Kanon Pali. Zá Āqiémó dan Xiàngyìng Āqiémó adalah dua terjemahan berbeda dari satu kata yang sama. Pada periode awal, kata ini diterjemahkan sebagai "Zá" (雜 / campuran; berasal dari karakter 襍 yang bermakna "berkumpul",[8] "saling melengkapi",[9] "pendek dan terpecah-pecah",[1] atau "disusun secara berselang-seling");[2] baru pada periode selanjutnya istilah ini diterjemahkan sebagai "Xiàngyìng" (相應 / Berpadanan).
Penerjemahan
Saṁyuktāgama diterjemahkan oleh Guṇabhadra pada masa Dinasti Liu Song dari era Dinasti Selatan pada periode Yuanjia (diperkirakan sekitar tahun ke-12 hingga ke-13 Yuanjia, yaitu tahun 435–436 M),[10] di Wihara Zhiyuan di Nanjing (ada yang menyebut di Wihara Waguan), berjumlah 50 gulungan, dengan Shi Baoyun bertindak sebagai penerjemah lisan, dan Shi Huiguan sebagai pencatat.[11]
Asal-usul naskah aslinya belum memiliki kesimpulan yang pasti. Dalam catatan Lidai Sanbao Ji, naskah ini disebutkan sebagai teks Saṁyuktāgama yang dibawa kembali oleh Faxian dari Sri Lanka. Namun, beberapa cendekiawan berpendapat bahwa naskah tersebut mungkin dibawa langsung oleh Guṇabhadra dari India atau Sri Lanka ke Tiongkok.[12][13] Penemuan fragmen berbahasa Sanskerta di Gaochang dan Khotan pada masa modern menunjukkan kesesuaian dengan naskah Saṁyuktāgama yang ada saat ini, sehingga versi terjemahan Tionghoa ini kemungkinan besar diterjemahkan dari naskah Sanskerta dan dipastikan berasal dari transmisi aliran Mūlasarvāstivāda.[14][15]
Selain itu, terdapat versi lain yang terdiri dari 20 gulungan berjudul Bieyi Zahan Jing (Sutra Saṁyuktāgama Terjemahan Lain). Nama penerjemahnya telah hilang, tetapi waktu penerjemahannya mungkin lebih awal dibandingkan dengan versi 50 gulungan.
Susunan
Kitab Saṁyuktāgama ditulis secara ringkas dan dihimpun secara majemuk. Saat ini tersisa 1.359 sutra, yang merupakan prinsip-prinsip ajaran penting yang dibabarkan Buddha kepada murid-murid-Nya sewaktu Ia masih hidup. Kitab ini mengajarkan metode meditasi (dhyāna-vipaśyanā) dengan berfokus pada "lima gugusan", "enam landasan indra", dan "delapan belas unsur". Kitab ini juga menjabarkan tentang "sebab musabab yang saling bergantungan" dan "empat kebenaran mulia", guna memahami bahwa segala fenomena (Sanskerta: dharma) adalah "tidak kekal", "menderita", "kosong", dan "tanpa inti/diri", sehingga seseorang dapat mencapai pembebasan sejati. Dalam pengantar umum Sarvāstivāda-vinaya-vibhāṣā, disebutkan bahwa Saṁyuktāgama adalah kitab yang dipelajari oleh para praktisi Buddhisme Chan.[16][17]
Garis besar isi dari empat bab utamanya adalah sebagai berikut:
- Bagian Lima Gugusan: Menjelaskan bagaimana bentuk materi, perasaan, persepsi/pencerapan, bentukan kehendak, dan kesadaran bekerja, mengamati ketidakkekalannya, tidak melekat padanya sebagai "diri", sehingga pikiran berdiam dengan benar dalam pembebasan.[18][19][20]
- Bagian Enam Landasan Indra: Menjelaskan mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran; bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan, dan objek pikiran; ketika enam organ, enam objek indra, dan enam kesadaran saling bersentuhan, bersama-sama akan melahirkan perasaan, persepsi, dan kehendak.[21] Perhatian penuh berarti menjaga enam indra, dan berdiam dalam pikiran seimbang tanpa merasa menderita atau senang (keseimbangan batin).[22][23][24]
- Bagian Sebab Musabab Majemuk: Menjelaskan bahwa asal mula penderitaan bersumber pada ketidaktahuan, yang menyentuh enam organ indra (kontak), sehingga memicu timbulnya perasaan, yang melahirkan nafsu-keinginan (serta kebencian) dan kemelekatan, menuju proses keberadaan (serta pandangan akan ketiadaan), sehingga berujung pada kelahiran, penuaan, penyakit, kematian, kesedihan, ratap tangis, dan penderitaan.[25] Melepaskan diri dari dua ekstrem "ada" dan "tiada" dengan berada di jalan tengah merupakan pandangan yang benar.[26] Bagian ini juga menjelaskan empat jenis nutrisi/makanan,[27] empat kebenaran,[28] dan tiga jenis perasaan.[29]
- Bagian Faktor Pencerahan: Mengajarkan praktik sepuluh perbuatan baik,[30] upaya yang benar,[31] landasan perhatian-penuh,[32] tujuh faktor pencerahan,[33] jalan mulia berunsur delapan,[34] serta mempraktikkan pengamatan keluar-masuknya napas,[35] pengamatan kemenjijikan tubuh,[36] dan pengembangan pikiran cinta kasih.[37]
Lihat pula
- Āgama (Buddhisme)
- Dīrghāgama, paralel dengan Dīghanikāya
- Madhyamāgama, paralel dengan Majjhimanikāya
- Ekottarāgama, paralel dengan Aṅguttaranikāya
- Kṣudrakāgama, paralel dengan Khuddakanikāya
- Saṁyuttanikāya
Catatan
- 1 2 Fenbie Gongde Lun (Risalah Pembedaan Jasa Kebajikan): "Yang disebut campuran (Zá/雜), karena sutra-sutranya terputus-putus, sulit dilafalkan dan diingat, berisi hal-hal yang banyak dan terpecah-pecah, mudah membuat orang lupa, karenanya disebut campuran."
Zhuanji Sanzang Ji Zazang Chuan: "Hukum ini harus dihafal, jika dipelajari mudah lupa, ingin memutus belenggu, karenanya disebut campuran. Hukum ini memuat kesetaraan, makna dan rasa ada bersama-sama, mendengarnya dapat memutus keraguan, karenanya disebut 'padanan yang setara' (Saṃyukta). Ini adalah ranah praktik, tempat yang dituju oleh dhyāna dan kebijaksanaan, melihat semua hukum dengan setara, karenanya disebut 'padanan yang setara'."
"《雜阿含經》". Ensiklopedia Tiongkok Raya. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-12-21. Diakses tanggal 2018-05-09.Oleh karena sutra-sutra yang dihimpun berukuran pendek dan mencakup banyak hal yang terpecah-pecah, maka dinamakan demikian.
- 1 2 Yin Shun, Zahanjing Bulei Zhi Zheng Bian (Penataan Ulang Kategori Saṃyukta Āgama): "Xuanzang dari Dinasti Tang dalam Yogācārabhūmi-śāstra (Bagian Vastu-saṃgrahaṇī) juga mencantumkan berbagai 'padanan' (saṃyukta), tetapi menyebutkan: 'Ajaran-ajaran yang berpadanan dengan berbagai hal tersebut dihimpun secara berselang-seling, karenanya disebut Zá Āgama (Agama Campuran).' Mengapa himpunan ajaran yang berpadanan tidak disebut 'Samyukta' (相應 - Xiàngyìng), melainkan 'Zá' (雜)? 'Zá' (雜) dan 'Samyukta' (相應) adalah terjemahan dari kata yang sama (Saṃyukta/Saṃyutta), hanya saja istilah terjemahannya yang berbeda. Dalam aksara Tionghoa, kata 'Zá' (雜) tidak selalu berarti kacau berantakan (雜亂 - záluàn), melainkan mengandung arti 'disusun secara berselang-seling' (相間雜 - xiāngjiān zá). Konsili awal mengenai sutra-sutra Saṃyukta, seperti yang disebutkan dalam Yogācārabhūmi-śāstra: 'Mereka yang menghimpun perbendaharaan Dharma murni dari Tathagata, mengumpulkan berbagai ucapan suci tersebut agar ajaran suci bertahan lama di dunia, dengan menggunakan kata-kata, frasa, dan kalimat yang indah, menyusun dan menghimpunnya secara berurutan sesuai dengan padanannya'. Konsili awal adalah: membagi teks yang maknanya sejenis ke dalam berbagai kelompok, menyusunnya secara berurutan, dan menghimpun berbagai padanan (saṃyukta). Sutra-sutra Saṃyukta tidak hanya berpadanan, tetapi juga disusun secara berurutan dan berselang-seling, sehingga para pendahulu sebagian besar menerjemahkannya sebagai Zá Āhán Jīng (雜阿含經)."
- ↑ Samantapāsādikā (Shanujian Lu Piposha) Bab Pendahuluan: "'Apa yang dimaksud dengan Āgama?' Guru Dharma menjawab: 'Ada lima Āgama. Apa saja yang lima itu? Pertama, Dīrgha Āgama; kedua, Madhyama Āgama; ketiga, Sengyuduo Ahan; keempat, Anguduo Ahan; kelima, Qutuojia Ahan.'" (CBETA, T24, no. 1462, p. 677, a18) CBETA 漢文大藏經; 簫齊 外國三藏 僧伽跋陀羅 譯. "大正藏 (T) » 第 24 冊 » No.1462 » 第 1 卷". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-04-16. Diakses tanggal 2018-04-16. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ Fan Fanyu Gulungan 1: "Sengyuduo Ahan (seharusnya 'Sengyuduo Aqiemo', yang diterjemahkan sebagai 'berlindung pada yang berpadanan')." (CBETA, T54, no. 2130, p. 984, b4-5) CBETA 漢文大藏經; Cendekiawan Jepang menganggap kitab Fan Fanyu disusun oleh "Sengyou" atau "Baochang" (tahun 516 M). "大正藏 (T) » 第 54 冊 » No.2130 » 第 1 卷". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-04-17. Diakses tanggal 2018-04-17. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ↑ Madhyama Agama Sutra 85: "Atau ada seseorang yang melafalkan sutra, memegang sila, mempelajari Abhidharma, menghafal Ahanmu (Āgama), banyak mempelajari kitab sutra, sedangkan yang lainnya tidak demikian." (CBETA, T01, no. 26, p. 561, b26-28)[6] Karakter 含 = 鋡 [Edisi Song] * [Edisi Yuan] * [Edisi Ming] *. CBETA 漢文大藏經; Diterjemahkan oleh Gautama Saṃghadeva, Tripiṭaka Master dari Jibin pada masa Dinasti Jin Timur. "大正藏 (T) » 第 1 冊 » No.0026 » 第 21 卷; 中阿含經卷第二十一". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-04-16. Diakses tanggal 2018-04-16. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ ⑴. Yogācārabhūmi-śāstra 〈Gulungan ke-85〉: "Sūtra Vastu merujuk pada Empat Āqiémó (Āgama). Pertama, Zá Āqiémó. Kedua, Zhōng Āqiémó. Ketiga, Cháng Āqiémó. Keempat, Zēngyī Āqiémó." CBETA 漢文大藏經; Diterjemahkan oleh Master Tripiṭaka dari Dinasti Tang, Xuanzang. "大正藏 (T) » 第 30 冊 » No.1579 » 第 85 卷". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-04-16. Diakses tanggal 2018-04-16. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) dan
⑵. Mūlasarvāstivāda-vinaya 〈Gulungan ke-7〉: "...Atau ketika akan melafalkan sila atau sedang melafalkan sila, atau ketika akan melafalkan Empat Āqiémó Jing atau sedang melafalkannya, jika ada sutra besar yang ingin dilafalkan atau sedang dilafalkan." (CBETA, T23, no. 1442, p. 662, a27-28) CBETA 漢文大藏經; Diterjemahkan oleh Master Tripiṭaka Yijing. "大正藏 (T) » 第 23 冊 » No.1442 » 第 7 卷". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-04-16. Diakses tanggal 2018-04-16. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) - ↑ Mūlasarvāstivāda-vinaya-kṣudraka-vastu Gulungan 39: "Jika sutra berpadanan dengan gāthā, maka disebut Xiàngyìng Āqiémó (dahulu disebut Zá/Campuran, mengambil maknanya)."
- ↑ Academia Sinica. "Perbandingan makna karakter varian 'Zá' dan '襍'". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-05-06. Diakses tanggal 2018-05-05.
- ↑ "Zá - Basis Data Karakter Tionghoa Multifungsi". Diarsipkan dari asli tanggal 2021-01-25. Diakses tanggal 2018-05-05.
Berasal dari radikal 'pakaian' (衣), dengan komponen fonetik 'kumpul' (集), makna aslinya adalah berbagai warna yang dikombinasikan atau saling melengkapi.
- ↑ Fumio Enomoto (2004). Kegunaan Teks Buddhis Terjemahan Tionghoa dalam Kajian Buddhisme: Berfokus pada Saṃyukta Āgama (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2022-02-17. Diakses tanggal 2021-07-31.
Tahun penerjemahan Saṃyukta Āgama ke dalam bahasa Tionghoa... sebelumnya dianggap antara tahun 435 hingga 443 M. Namun, menurut 'Biografi Guṇabhadra' dalam Gulungan 14 dari Chu Sanzang Jiji, diketahui bahwa Guṇabhadra tiba di Tiongkok pada 'tahun ke-12 Yuanjia', yaitu tahun 435, dan teks pertama yang ia 'terjemahkan' adalah Saṃyukta Āgama, disusul oleh terjemahan Śrīmālādevī Siṃhanāda Sūtra. Di sisi lain, Chu Sanzang Jiji juga memuat 'Kata Pengantar Śrīmālādevī Sūtra' oleh Hui Guan, yang menyebutkan bahwa sutra tersebut diterjemahkan pada 'tahun ke-13 Yuanjia', yaitu tahun 436. ...Oleh karena itu, berdasarkan catatan-catatan ini, penerjemahan Saṃyukta Āgama dapat ditetapkan secara spesifik pada tahun 435–436 M.
- ↑ Chu Sanzang Jiji Gulungan 14: "Pada masa Kaisar Wen dari Dinasti Song. Master Dharma Mahayana dari India, Guṇabhadra. Pada era Yuanjia dan masa Kaisar Xiaowu. Menerjemahkan berbagai sutra. Śramaṇa Shi Baoyun dan muridnya Bodhi Fayong menerjemahkan bahasanya... Tahun ke-12 Yuanjia, tiba di Guangzhou... Setelah sampai di ibu kota... awalnya tinggal di Kuil Zhiyuan. ...Beberapa saat kemudian para biksu memintanya menerjemahkan sutra. Di Kuil Zhiyuan ia mengumpulkan para biksu terpelajar. Menerjemahkan Saṃyukta Āgama. Di Kuil Dong'an menerjemahkan Fagu Jing (Mahābherīhāraka Sūtra). Kemudian di wilayah Danyang menerjemahkan Śrīmālā Sūtra dan Laṅkāvatāra Sūtra. Pengikutnya berjumlah lebih dari 700 orang. Baoyun menerjemahkan secara lisan. Huiguan memegang pena. Mereka berdiskusi bolak-balik hingga mendapatkan esensi utamanya." (CBETA, T55, no. 2145, p. 105, c6-14).Disusun oleh Śramaṇa Shi Sengyou dari Kuil Jianchu, Dinasti Liang. "CBETA 電子佛典集成 » 大正藏 (T) » 第 55 冊 » No.2145 » 第 14 卷". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-04-17. Diakses tanggal 2018-04-17.
Gujin Yijing Tuji: "Guṇabhadra... pada tahun ke-12 Yuanjia masa Kaisar Wen dari Dinasti Song, tiba di Yangdu. Kaisar sangat menghormatinya, memerintahkannya tinggal di Kuil Zhiyuan. Hingga tahun ke-20 Yuanjia, ia menerjemahkan Saṃyukta Āgama (50 gulungan) di Kuil Waguan, Yangdu... Total 78 karya dengan 161 gulungan, dengan Huiguan dan lainnya sebagai pencatat, serta murid Fayong sebagai penerjemah lisan." - ↑ Qu Dacheng (2016). "Kajian Ulang Penerjemahan 'Saṃyukta Āgama'". Kajian Agama. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-02-17. Diakses tanggal 2018-05-09.
Saat Faxian melakukan perjalanan ke barat untuk mencari Dharma, ia membawa pulang naskah berbahasa Sanskerta. Teks yang ada saat ini mencantumkan Guṇabhadra sebagai penerjemahnya, tetapi para cendekiawan berbeda pendapat apakah naskah asli yang digunakan adalah yang ia bawa sendiri atau menggunakan naskah Faxian.
- ↑ Lidai Sanbao Ji: "Sutra Agama 50 Gulungan (Diterjemahkan di Kuil Waguan. Dibawa oleh Faxian. Dilihat dalam Katalog Daohui masa Song dan Qi)"
Juga, Chu Sanzang Jiji Gulungan 2: "Śramaṇa Shi Faxian. Pada tahun ke-3 Long'an melakukan perjalanan ke Wilayah Barat. Di Kerajaan Singa (Sri Lanka) di India Tengah, ia memperoleh naskah asing. Kembali ke ibu kota dan tinggal di Kuil Daochang. Bersama dengan Guru Dhyāna Buddhabhadra dari India menerjemahkannya. Namun, teks sutra Dirgha dan Saṃyukta Āgama, serta kutipan Vinaya Mahīśāsaka dan Sarvāstivāda, masih dalam teks berbahasa Sanskerta dan belum sempat diterjemahkan." (CBETA, T55, no. 2145, p. 12, a10-14) - ↑ Imazu Kōgaku. "Analisis Judul Sutra Agama". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-08-01. Diakses tanggal 2018-05-08.
Penemuan fragmen-fragmen berbahasa Sanskerta di Gaochang dan Khotan sepenuhnya sejalan dengan teks Saṃyukta Āgama yang diturunkan saat ini, hal ini menjadi bukti kuat bahwa Saṃyukta Āgama yang ada diterjemahkan dari naskah berbahasa Sanskerta.
- ↑ Yin Shun. Kompilasi Risalah Saṃyukta Āgama.
Terjemahan Tionghoa dari 'Saṃyukta Āgama' adalah teks resitasi dari cabang Sarvāstivāda dalam tradisi Sthaviravāda. Misalnya, sutra-sutra yang ditransmisikan oleh Sarvāstivāda seperti 'Sutra Perumpamaan Tepuk Tangan' (Fuzhang Yu Jing) dan 'Sutra Shunbie Chu', semuanya dapat ditemukan dalam terjemahan Tionghoa 'Saṃyukta Āgama'. Aliran Sarvāstivāda adalah aliran yang menegaskan keberadaan tiga masa (masa lalu, sekarang, dan masa depan), karena itu teks ini secara khusus menyebutkan "bagaimana segalanya ada". Disebutkan dengan tegas: "Oleh karena wujud materi masa lalu ada", "Oleh karena wujud materi masa depan ada", maka siswa-siswa suci harus tidak terikat pada materi masa lalu, dan tidak mendambakan materi masa depan. Semua ajaran ini tidak terdapat dalam 'Saṁyuttanikāya' Kanon Pali yang ada saat ini (yang berasal dari akar yang sama dengan 'Saṃyukta Āgama', tetapi merupakan teks resitasi cabang Tamraśāṭīya dari tradisi Vibhajyavāda di bawah payung Sthaviravāda).
- ↑ Sarvāstivāda-vinaya-vibhāṣā·Pengantar Umum: "Membabarkan Dharma sesuai dengan waktu bagi para dewa dan manusia di dunia, dihimpun sebagai Zēngyī (Ekottara), ini adalah apa yang dipelajari oleh mereka yang membimbing orang lain. Membabarkan makna-makna yang dalam bagi makhluk dengan kapasitas tinggi, disebut Zhōng Āhán (Madhyama), ini adalah apa yang dipelajari oleh kaum terpelajar. Membabarkan berbagai macam metode yang sejalan dengan dhyāna, adalah Zá Āhán (Samyukta), ini adalah apa yang dipelajari oleh praktisi meditasi (dhyāna). Menghancurkan berbagai ajaran luar, adalah Cháng Āhán (Dirgha)."
Zhuanji Sanzang Ji Zazang Chuan: "Hukum ini harus dihafal, jika dipelajari mudah lupa, ingin memutus belenggu, karenanya disebut campuran. Hukum ini memuat kesetaraan, makna (artha) dan rasa (vyañjana) ada bersama-sama, mendengarnya dapat memutus keraguan, karenanya disebut padanan yang setara (Saṁyuktāgama). Ini adalah ranah praktik, tempat yang dituju oleh dhyāna dan kebijaksanaan, melihat semua hukum dengan setara, karenanya disebut padanan yang setara. Di seluruh sutra ini, mengumpulkan praktik dari dua sisi, pendengarnya akan banyak meragukannya, karena itu disebut padanan yang setara. Sutra-sutra campuran di luar divisi utama (Khuddakanikāya) serta gāthā pujian dari para dewa (resitasi delapan kelompok), semuanya dimasukkan ke dalamnya, sehingga dinamakan padanan yang setara." - ↑ Bhikkhu Bodhi (2006). "Pengantar 'Terjemahan Bahasa Inggris Saṃyutta Nikāya Baru'" (PDF). Fuyan Bulletin. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2016-08-04. Diakses tanggal 2018-05-22.
Melihat urutan setiap 'padanan' (saṃyutta) dalam 'Saṁyuttanikāya', kita mungkin dapat menyimpulkan bahwa, berdasarkan karakteristik keseluruhan (bukan individu), tujuan penyusunan 'Saṁyuttanikāya' adalah berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan berbagai sutra ringkas yang mengungkapkan kebijaksanaan Buddha dan jalan pembebasan. Kitab ini dapat memenuhi kebutuhan dua tipe murid dalam Saṅgha: Pertama, pakar makna Dharma, yaitu biksu dan biksuni yang mampu memahami kebijaksanaan mendalam Buddha dan menjelaskannya kepada orang lain secara terperinci. 'Saṁyuttanikāya' pada bagian-bagian utamanya mengumpulkan banyak sutra mendalam yang merinci tentang sebab musabab, lima gugusan, enam landasan indra, faktor jalan, dan empat kebenaran mulia; hal ini paling cocok bagi para murid yang senang mengeksplorasi makna Dharma yang dalam dan menjelaskannya kepada teman se-dharma. Tipe pendengar kedua yang dituju oleh 'Saṁyuttanikāya' adalah para biksu dan biksuni yang telah menyempurnakan latihan dhyāna dasar dan ingin segera merealisasikan kebenaran mutlak. Hal ini karena sutra-sutra dalam 'Saṁyutta Nikāya' sangat penting bagi para praktisi meditasi yang ingin mencapai pengetahuan sejati; sutra-sutra ini dapat menjadi silabus bimbingan bagi para praktisi meditasi vipassanā.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-45". Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Siswa suci yang banyak mendengar, pada enam landasan kontak ini, meninggalkan ketidaktahuan dan menumbuhkan pengetahuan; tidak memunculkan kesadaran akan keberadaan, ketidakberadaan, eksistensi dan non-eksistensi, keunggulan, kesetaraan, kerendahan, serta kesadaran akan pengetahuan diri dan pandangan diri. Setelah mengetahui dan melihat demikian, sentuhan ketidaktahuan yang muncul sebelumnya akan padam, dan kesadaran akan sentuhan pengetahuan akan muncul.
- ↑ "Sutra Channa (Zahan 262)". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-16. Diakses tanggal 2024-01-05.
Mengenai segala bentukan yang sepenuhnya kosong, senyap, tak bisa digenggam, musnahnya keinginan, berpisahnya hawa nafsu, padam sepenuhnya, nirwana; pikiran dengan bahagia berdiam dalam pembebasan yang benar, tidak berbalik arah lagi, tidak lagi melihat adanya 'aku', hanya melihat Dharma yang benar.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-265". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-16. Diakses tanggal 2024-01-05.
Dengan merenungkan, membedakan, dan mengamati bahwa (semuanya) tidak ada, tidak kukuh, tidak nyata, tidak solid, bagaikan penyakit, bagaikan bisul, bagaikan duri, bagaikan pembunuhan; ia tidak kekal, menderita, kosong, dan bukan-aku. Mengapa demikian? Karena bentuk materi tidak kokoh keberadaannya...... Kesadaran tidak kokoh keberadaannya. ...Biksu rajin berlatih, merenungkan tubuh yang tersusun dari gugusan ini, siang dan malam memusatkan perhatian, pikiran terpusat dengan kebijaksanaan yang benar, perbuatan yang terkondisi beristirahat panjang, dan akhirnya mencapai tempat kesejukan yang abadi.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-273". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-19. Diakses tanggal 2024-01-05.
Demikianlah, bergantung pada mata dan bentuk objek, muncullah kesadaran mata. Tiga hal ini bersatu menghasilkan kontak (phassa), dan seiring dengan kontak muncullah perasaan, persepsi, dan kehendak.
- ↑ "Sutra Zahan ke-312". Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Ketika melihat, jadikan penglihatan sebagai takaran; ketika mendengar, jadikan pendengaran sebagai takaran; ketika mengindra, jadikan indra sebagai takaran; ketika menyadari, jadikan kesadaran sebagai takaran.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-1165". Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Jagalah pintu indra, kendalikan pikiran dengan baik; saat mata melihat wujud materi, jangan menggenggam wujud tersebut, jangan melekat pada ciri-ciri rincinya, dan menahan diri dari kemelekatan ekstra...... Jaga tubuh dengan baik, kendalikan seluruh indra, pusatkan pada satu titik perhatian.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-1171". Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Jika mempraktikkan pengamatan tubuh (kāyagatāsati) dengan baik, ada perhatian, jangan memperhatikan wujud materi; saat melihat materi yang indah tidak timbul kemelekatan, saat melihat materi yang tidak indah tidak timbul kebencian; (begitu pula terhadap) suara bagi telinga, aroma bagi hidung, rasa bagi lidah, sentuhan bagi tubuh, objek mental bagi pikiran; terhadap objek yang disukai tidak mengejar nafsu, terhadap objek yang tidak disukai tidak memunculkan rasa benci. Oleh karena itu, oh Biksu! Berlatihlah dengan giat, perbanyaklah berdiam pada pengamatan tubuh.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-57". Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Orang awam yang dungu dan tidak pernah mendengar ajaran, melihat wujud materi sebagai 'aku'. Jika melihatnya sebagai 'aku', itulah yang disebut bentuk perbuatan ... Kontak dari ketidaktahuan menghasilkan keinginan, dan karena keinginan muncullah bentukan perbuatan...
- ↑ "Sutra Zahan ke-301 - Sutra Katyayana". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-16. Diakses tanggal 2024-01-05.
Dunia ini bergantung pada dua hal: keberadaan (ada) atau ketiadaan (tidak ada), yang terikat pada kemelekatan terhadap objek sentuhan; karena tergenggam oleh objek sentuhan, maka ia bergantung pada ada atau bergantung pada ketiadaan. Jika tidak ada kemelekatan tersebut, batinnya tidak tergenggam dan tidak melekat pada objek pikiran. Tidak memegang atau mengukur pada gagasan 'akulah yang menderita saat derita muncul, derita padam saat penderitaan lenyap'. Ia tidak meragu tentang hal ini, tidak bimbang, tidak mengetahui melalui bantuan orang lain melainkan mengetahuinya sendiri; inilah yang disebut pandangan benar, inilah pandangan benar yang diajarkan oleh Tathagata. Mengapa demikian? Memahami kemunculan dunia sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar, berarti dunia ini bukannya sama sekali tidak ada; memahami padamnya dunia sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar, berarti dunia ini bukannya secara hakiki eksis ada. Inilah yang disebut meninggalkan kedua ekstrem dan menjabarkan Jalan Tengah.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-373". Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Ada empat jenis makanan yang menyokong makhluk hidup, memungkinkan mereka bertahan di dunia dan terus berkembang. Apakah yang empat itu? Yaitu satu, makanan kasar atau berwujud; dua, makanan dari kontak indra; tiga, makanan kehendak pikiran; empat, makanan kesadaran.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-384". Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Saat itu, Yang Bhagava berkata kepada para biksu: "Ada empat kebenaran suci. Apa sajakah empat hal tersebut? Yaitu Kebenaran Suci tentang Penderitaan, Kebenaran Suci Asal Mula Penderitaan, Kebenaran Suci Terhentinya Penderitaan, dan Kebenaran Suci Jalan Menuju Terhentinya Penderitaan. Jika seorang biksu telah mengetahui dan memahami Kebenaran Suci Penderitaan, telah mengetahui dan memutus Kebenaran Suci Asal Mula Penderitaan, telah mengetahui dan merealisasikan Kebenaran Suci Terhentinya Penderitaan, dan telah mengetahui serta mempraktikkan Kebenaran Suci Jalan Menuju Terhentinya Penderitaan. Biksu yang demikian disebut Arahat, yang nodanya telah habis, yang tugasnya telah usai, yang telah menanggalkan beban berat, meraih tujuannya, memutuskan seluruh belenggu kehidupan, dan telah terbebaskan secara menyeluruh melalui pengetahuan sejati."
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-468". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-16. Diakses tanggal 2024-01-05.
Ada tiga perasaan — perasaan menderita, perasaan bahagia, dan perasaan tidak menderita maupun tidak bahagia (netral). Mengamati perasaan bahagia, bertujuan untuk memutus dorongan keserakahan terhadap perasaan bahagia, maka seseorang mempraktikkan hidup suci padaku; untuk memutus kecenderungan kebencian terhadap perasaan menderita, maka mempraktikkan hidup suci padaku; untuk memutus pendorong kebodohan batin terhadap perasaan yang bukan derita maupun bahagia, maka mempraktikkan hidup suci padaku.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-791". Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Apa yang dimaksud dengan jalan yang benar? Yaitu tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, tidak berucap fitnah (mengadu domba), tidak berkata kasar, tidak berucap omong kosong, tidak serakah, tidak marah/benci, dan memiliki pandangan yang benar.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-622". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-16. Diakses tanggal 2024-01-05.
Bagaimana cara seorang biksu memusatkan pikirkannya dengan giat? Memusatkan pikiran dengan giat berarti jika kejahatan dan hal-hal yang tidak bajik telah timbul dalam diri biksu, ia harus memutusnya, dengan membangkitkan niat, menerapkan upaya terampil, dan berjuang keras mengendalikan pikiran. Kejahatan dan hal-hal yang tidak bajik yang belum timbul jangan biarkan muncul, kebaikan yang belum timbul agar dimunculkan, dan kebaikan yang sudah timbul dijaga agar tidak hilang dan dikembangkan hingga sempurna, dengan memunculkan kehendak, upaya terampil, dan pemusatan pikiran secara bersemangat; inilah yang dinamakan biksu yang giat menjaga pikirannya.
- ↑ "Sutra Zahan (636)". Sutta Central. Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Mengamati bagian dalam tubuh sebagai landasan perhatian, dengan semangat berupaya keras, memiliki pengertian jernih dan kesadaran penuh, guna menaklukkan keserakahan dan kesedihan di dunia; begitu pula pada observasi pada sisi tubuh bagian luar, bagian dalam dan luar, pada perasaan, pikiran, dan fenomena kesadaran (dhamma). Demikianlah penjelasan mengenai biksu yang melatih Empat Landasan Perhatian.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-615". Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Hendaknya kalian berlatih memusatkan pikiran secara bajik pada Empat Landasan Perhatian, mengetahui fase peningkatan dan penurunannya secara runut. Mengapa demikian? Ketika pikiran mencari-cari hal di luar, kemudian kendalikanlah untuk kembali mencari ke dalam batinnya sendiri, sadari sepenuhnya kapan pikiran memencar atau ketika ia terbebaskan. Jika seorang biksu merenungkan landasan perhatian pada tubuhnya, dan setelahnya jika tubuhnya merasa ngantuk, dan semangat batinnya mengendur (malas), biksu itu harus membangkitkan keyakinan murni, mengambil objek murni; setelah membangkitkan keyakinan murni dan mengingat objek murninya, pikirannya akan merasa gembira, lalu setelah gembira akan timbul sukacita; setelah pikirannya merasakan sukacita, maka tubuhnya akan menjadi ringan (tentram); setelah tubuhnya menjadi ringan (tentram) ia akan merasakan kebahagiaan fisik; setelah mengalami kebahagiaan fisik, maka pikirannya akan tenang terpusat; dan saat batinnya berdiam dalam keterpusatan, maka siswa suci harus berlatih sebagai berikut: 'Untuk tujuan ini, saya telah menenangkan pikiran yang memencar ke luar, tidak memunculkan pikiran diskursif maupun perenungan. Bebas dari perenungan dan analisis konseptual, berdiam bahagia dengan penuh perhatian yang seimbang, dan setelah berdiam bahagia, memahami segala sesuatu sebagaimana adanya.'
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-784". 台大獅子吼佛學專站. Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Apakah Pandangan Benar itu? Yaitu mengakui adanya perbuatan dana (pemberian), ada khotbah, ada puasa uposatha, ada perbuatan baik dan buruk, serta akibat buah dari perbuatan tersebut. Ada kehidupan saat ini, ada kehidupan mendatang, ada ayah dan ibu, ada kelahiran makhluk hidup, ada para Arahat yang tiba dengan baik dan menuju tujuan yang baik, yang dalam kehidupan ini maupun masa depan menyadari serta merealisasikannya secara utuh dan berdiam di dalamnya: 'Kelahiranku telah habis, praktik kesucian telah kutegakkan, apa yang harus dikerjakan telah kuselesaikan, dan aku tahu diriku tidak akan menerima kelahiran kembali.' Apakah Tujuan Benar? Yaitu niat untuk melepaskan diri dari dunia, niat tanpa kemarahan, niat tanpa menyakiti. Apakah Ucapan Benar? Berarti menghindari ucapan bohong, menghindari adu domba, menghindari kata-kata kasar, dan menghindari omong kosong. Apakah Perbuatan Benar? Yaitu menghindari pembunuhan, pencurian, dan asusila. Apakah Mata Pencaharian Benar? Yaitu memperoleh jubah, makanan, tempat tidur, dan obat-obatan dengan cara yang sesuai hukum (Dharma), bukan dengan cara yang tidak benar. Apakah Daya Upaya Benar? Yaitu memiliki semangat kehendak untuk keluar (dari penderitaan), berupaya tak kenal lelah, kompeten dan teguh, maju tanpa mundur. Apakah Perhatian Benar? Yaitu memiliki kewaspadaan, selalu waspada, tidak salah dan tidak lengah. Apakah Konsentrasi Benar? Yaitu memfokuskan pikiran tanpa kekacauan, mengendalikan dengan teguh, penuh ketenangan, keseimbangan meditatif, dan keterpusatan pikiran.
- ↑ "Sutra Zahan ke-803". 台大獅子吼佛學專站. Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-741". 台大獅子吼佛學專站. Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Seseorang hendaknya melatih pengamatan objek tidak murni, bila memperbanyak praktik ini, maka akan mendapatkan hasil dan pahala (kebajikan) yang besar.
- ↑ "《雜阿含經》Sutra ke-743". 台大獅子吼佛學專站. Diarsipkan dari asli tanggal 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-01-05.
Pikiran penuh dengan cinta kasih, tanpa permusuhan atau kecemburuan, juga tanpa kebencian; meluas tanpa batas, dilatih dengan sempurna secara penuh; ke empat penjuru (mata angin), empat sudut, ke atas, dan ke bawah ke seluruh alam semesta. Batinnya menyatu dengan cinta kasih, bebas dari kebencian dan keirian hati, bebas kemarahan, tak terbatas luasnya; dikembangkan serta dipenuhi dengan sangat baik, demikianlah cara mempraktikkannya.
Referensi
- Yin Shun, Zahanjing Bulei Zhi Zheng Bian (Penataan Ulang Kategori Saṃyukta Āgama)
- Yin Shun, Yuanshi Fojiao Shengdian Zhi Jicheng (Kompilasi Kitab Suci Agama Buddha Awal)
- Wang Jianwei & Jin Hui, "Za Ahan Jing" Jiaoshi (Anotasi Kritis Teks Saṃyukta Āgama)