ENSIKLOPEDIA
Konflik Ambon
| Konflik sektarian Maluku | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Era Reformasi | ||||||
Pasukan militer Indonesia mengevakuasi pengungsi dari Ambon selama konflik tahun 1999. | ||||||
| Tanggal | 14 Januari 1999 – 13 Februari 2002 | |||||
| Lokasi | Kepulauan Maluku (dengan gangguan yang sangat serius terutama di Pulau Ambon dan Halmahera) | |||||
| Sebab | Konflik etnis Transmigrasi Jihadisme Separatisme Maluku Selatan | |||||
| Metode | Pengambilalihan wilayah, kerusuhan, pogrom, pengeboman, protes, pengusiran | |||||
| Hasil | Piagam Malino II | |||||
| Pihak terlibat | ||||||
| ||||||
| Tokoh utama | ||||||
| ||||||
| Jumlah | ||||||
| ||||||
| Jumlah korban | ||||||
| Korban jiwa | 5.000 tewas[1] | |||||
Konflik sektarian Kepulauan Maluku adalah konflik etnis-politik yang melibatkan kelompok agama di Kepulauan Maluku, Indonesia, khususnya Pulau Ambon dan Pulau Halmahera. Konflik ini bermula pada era Reformasi awal 1999 hingga penandatanganan Piagam Malino II tanggal 13 Febuari 2002.
Penyebab utama konflik ini adalah ketidakstabilan politik dan ekonomi secara umum di Indonesia setelah Soeharto tumbang dan rupiah mengalami devaluasi selama dan seusai krisis ekonomi di Asia Tenggara.[2] Rencana pemekaran provinsi Maluku menjadi Maluku dan Maluku Utara semakin memperuncing masalah politik daerah yang sudah ada.[3][4] Karena masalah politik tersebut menyangkut agama, perseteruan terjadi antara umat Kristen dan Islam pada Januari 1999. Perseteruan ini dengan cepat berubah menjadi pertempuran dan tindak kekerasan terhadap warga sipil oleh kedua belah pihak.[5] Dua pihak utama yang terlibat konflik ini adalah kelompok milisi agama dari kedua pihak,[6] termasuk kelompok Islamis bernama Laskar Jihad,[7] kelompok Kristen Dari Manado bernama Brigade Manguni dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.[8]
Penyebab
Penyebab utama konflik ini adalah ketidakstabilan politik dan ekonomi secara umum di Indonesia setelah Soeharto tumbang dan rupiah mengalami devaluasi selama dan seusai krisis ekonomi di Asia Tenggara.[2] Rencana pemekaran provinsi Maluku menjadi Maluku dan Maluku Utara semakin memperuncing masalah politik daerah yang sudah ada.[3][4] Berikut memperburuk situasi: Kecemburuan sosial antariman, tingginya penganguran, transmigrasi/migrasi lain yang membawa paham agama yang berbeda, pelemahan sistem adat, lemahnya institusi penegah, pembentukan Kecamatan Malifut dan kecenderungan meningkatnya Islamisasi dan Kristenisasi yang membatasi interaksi antariman[9][10]
Transmigrasi terjadi di Seram, yang dipilih sebagai kawasan pemukiman bagi para pendatang yang berasal dari pulau-pulau lain. Di Seram Barat, di mana Gunung Nunusaku yang merupakan bagian dari wilayah budaya Ambon, diambil alih untuk diberikan kepada para pemukim dari Maluku Tenggara, Sulawesi, dan bahkan dari Jawa. Kerugian besar akibat pengambilalihan lahan menciptakan api kebencian yang berkepanjangan di kalangan masyarakat asli.[10]
Pada 1970-an saat transmigrasi baru saja diterapkan, desa-desa disana sangat sepi dan hanya bisa dicapai melalui laut. Di akhir tahun 1990-an, semua desa tersebut telah dihubungkan oleh jalan yang di sekitarnya juga dibangun pusat-pusat bisnis dan pemukiman baru, yang hampir semuanya dimiliki oleh pendatang.[10]
Sejak awalnya, provokator yang sering dikatakan berhubungan dengan Orde Baru, dituduh sebagai biang kerusuhan. Lalu TNI dituduh memainkan peran kunci dalam memicu dan menggerakkan kekerasan dalam rangka menggoncang stabilitas negara Indonesia sebagai alat untuk mengembalikan kepentingan-kepentingan elit politik.[10]
Kerusuhan Ketapang di Jakarta juga berpengaruh. Polisi Jakarta mengirim lebih dari 100 anggota geng yang ditangkap dalam kerusuhan tersebut menggunakan kapal penumpang dan kapal angkatan laut kembali ke Ambon. Informan Muslim dan Kristen secara luas meyakini bahwa mereka dibebaskan dan diberi dorongan untuk melanjutkan konflik Muslim-Kristen mereka di Ambon dan diberi bayaran untuk merekrut penduduk setempat sebagai 'provokator'. [11]
Konflik di Maluku Selatan
Kerusuhan Ambon I

Konflik ini dimulai pada 14 Januari 1999 di Dobo, Kepulauan Aru yang menewaskan 12 orang. [9]
Konflik utama baru mulai pada 19 Januari 1999 saat Idulfitri, menewaskan 43 sampai 65 orang, melumpuhkan Kota Ambon dan membuat ~20.000 orang mengungsi. Pemicunya adalah pertikaian yang terjadi antara seorang sopir minibus Bugis dan beberapa pemuda Kristen, seorang pemabuk, dan seorang kondektur Muslim, di dekat terminal bus di desa Batu Merah. Setelah muncul rumor pembakaran masjid, 600-700 massa Muslim bergerak ke kawasan Batu Merah dan Pasar Mardika pukul 16.00, membakar rumah dan tempat usaha. Akhirnya bentrok besar terjadi di Plaza Mardika, sekitar pukul 20.00[9][12]
Kelompok-kelompok mulai terorganisasi dan menggunakan simbol ikat kepala merah untuk Kristen dan kain putih untuk Islam. Kerusuhan menyebar dengan sangat cepat[9]
Kekerasan menyebar dengan cepat ke wilayah Silale, di mana 30 massa Islam dipukul mundur saat menyerang Gereja Silo, Silale dan Waihaong dibakar. Massa Kristen berkumpul sekitar pukul 22.00 dan membakar beberapa toko di pinggir jalan sebelum membakar becak-becak yang sebagian besar dimiliki oleh orang Buton dan Bugis. Umat Muslim yang tinggal di sekitar masjid al-Fatah kemudian bergabung dengan milisi Muslim setempat. Pasukan Kristen dan Muslim kemudian bentrok di sekitar Jalan A.M. Sangaji di Ambon.[12]
Massa Kristen berkumpul di Kudamati untuk membalas serangan Mardika, tapi terhalang karena bentrok dengan massa Muslim di Waringin. Di Kampung Paradeys, massa Kristen, dengan pipa dan batu sebagai senjata, menjarah banyak rumah.[12]
Di Batu Gantung
Sekitar pukul 5 sore, saksi mata melihat sebuah truk dengan sekitar lima puluh pemuda Kristen di dalamnya berhenti di Batu Gantung, Nusaniwe; semuanya membawa pisau panjang. Setelah itu Batu Gatung diserang dari segala penjuru, tetapi penduduknya tetap bertahan sampai aparat datang. Sayang, serangan terjadi 2 kali lagi sampai tanggal 20, dan 120 rumah terbakar. Salah seorang penduduk Batu Gantung berlari menghampiri aparat dan berteriak, “Mengapa kalian membiarkan mereka menyerang padahal kalian memerintahkan kami untuk mundur?” Aparat hanya menyuruhnya untuk tenang.[12]
Sekitar 240 keluarga mengungsi ke kampung-kampung Muslim terdekat, termasuk Talake Atas, Taman Hiburan Rakyat di Waihaong, dan barak polisi di Perigi Lima. Tidak ada korban jiwa, tetapi empat orang terluka dalam serangan itu, satu di antaranya luka berat.Pembakaran terjadi di beberapa pemukiman Muslim, membakar rumah, pasar, sekolah dan tempat ibadah migran Bugis, Buton, Jawa, dan beberapa orang Ambon. [9][12]
Kerusuhan meluas ke daerah Hitu, Wakal, dan Mamalang dengan sasaran orang-orang Kristen dan menghancurkan gereja.[9]
20-24 Januari
20 Januari 1999 dimulai dengan bentrok di Lapangan Merdeka. Paginya, massa Kristen membakar area perbelanjaan Pelita, pasar Gambus, Pasar Mardika, Pasar Buah Mardika, dan pasar makanan Cakar Bongkar, karena banyak toko orang Buton disana. Sebuah pemukiman Buton juga ikut terbakar. Sekolah dasar dan taman kanak-kanak Muslim al-Hilal juga dibakar, dan terjadi pembakaran selektif terhadap properti milik Muslim di sepanjang jalan utama Ambon. [12]
Benteng Karang

Benteng Karang adalah desa Kristen yang berada didekat Kota Passo. Sebagian besar penduduk desa berasal dari Maluku Tenggara. Sekitar pukul 9:00 pagi dini hari, seorang polisi menghubungi seorang warga Benteng Karang dan mengatakan bahwa banyak massa dari Mamala, Morela, Hulana, Hitu-Missin, dan Wakal akan menyerang. Sebuah kendaraan patroli polisi kemudian datang dengan pesan yang sama dan mengatakan bahwa massa sudah di Telagakodok, di mana mereka menyerang secara selektif sebelum serangan ke Benteng Karang. Lebih dari 150 pengungsi ditempatkan di Detasemen Zeni Tempur 5.[12][13]
Saat siang, Desa Benteng Karang diserang. Warga Benteng Karang berkumpul di depan gereja mereka, tetapi kurang dari 20 menit massa sudah memasuki Benteng Karang. Mereka menggunakan bom ikan untuk mengebom gereja mereka, kemudian mereka menuangkan bensin ke tiga gereja lainnya dan membakarnya, tindakan ini menewaskan 16 orang. Sekelompok orang Hitu juga menyerang Passo, namun mereka pulang setelah didamaikan oleh tokoh masyarakat setempat.[12]
Tindakan lainnya
Pada siang tanggal yang sama, peserta perkemahan Alkitab dengan >100 peserta di Hila diserang, membunuh 4 orang dan merampok sisanya sebelum pergi. Ada 6 orang lain yang dibunuh di Hila oleh milisi Wakal. Hila juga diserang hari itu, tetapi penduduk desa mendapat bantuan dari orang-orang Muslim Kaitetu. Lebih dari 60 rumah hancur, 1 orang tewas dan 8 lain hilang. Gereja Imanuel dari tahun 1780 hancur. [9][13][14]
Di area Hative Besar, ketegangan antara Kristen dan Muslim makin menjadi. Ketegangan dimulai dari Desember tahun lalu saat seorang pemuda Kristen membunuh seorang polisi saat mabuk. Setelah negosiasi ataupun sosialisasi tidak jalan, mulailah 100 milisi Kristen Wailete merusuhi Kamiri dan membakar sebuah toko. Pertempuran terjadi di suatu masjid di mana Muslim Kamiri mempertahankan masjidnya. Subuh tanggal 21, Muslim Kamiri membakar selusin rumah dan Kristen membakar seluruh Kamiri. Seluruh warga Kamiri mengungsi ke markas militer Grup C Batalyon 733.[12]
22-24 Januari
23 Januari, bentrokan pecah antara massa dan aparat, di mana aparat diizinkan menembak. Ini memicu pelanggaran HAM dan dugaan keberpihakan aparat.[9] Hari itu juga, seorang perwira Kostrad, I Gusti Ngurah Hartawan, mati saat menjaga Desa Benteng yang sebagian besar Kristen. Menurut warga, saat sekelompok milisi Bugis sedang menyerang desa itu, Kostrad membantu para milisi dengan menembaki warga desa, membunuh satu orang dan melukai 5. Jadi sekelompok pemuda mencoba merebut senjata Hartawan, tetapi Hartawan dan seorang pemuda mati dalam perkelahian itu. 11 pemuda diadili karena ini.[12]
Setelah pasukan tambahan datang, konflik secara keseluruhan sempat mereda, tapi ini belum selesai. Kelompok-kelompok yang bertikai memblokade wilayah masing-masing.[9]
Februari-Maret 1999

Di Seram, Kerusuhan kembali terjadi pada tanggal 3 Februari. Umat Kristen dari Rumberu, Rambatu, dan Kairatu mengajak umat Muslim Kairatu untuk ikut serta. Tetapi ketika umat Muslim datang, mereka disambut oleh umat Kristen yang bersenjata panah dan tombak. Empat Muslim dari Kailolo menjadi korban pertama, tiga terkena panah, dan seorang imam, Jalil Useinahu, terluka oleh tombak. Dua belas rumah di dekat masjid dibakar, kemudian pasar, yang didominasi oleh pedagang Muslim, dibakar. Desa-desa Muslim Kailolo, Pelauw, dan Ori semuanya mengirimkan bantuan kepada Muslim Kairatu. Pertempuran berlanjut pada tanggal 4 Februari dan meluas ke Dusun Waitasi dan Waimitai. [12]
Di Pulau Saparua, pada 3 Februari jugalah orang Kristen membakar pesantren orang-orang Kulur. Saparua memiliki enam belas desa, tiga di antaranya Muslim: Sirisori, Iha, dan yang paling militan, Kulur. Sementara itu, pada tanggal 3 Februari massa dari desa Kristen Haria berkumpul di gereja dan bersiap untuk menyerbu kota Saparua. Milisi Kristen dari Ouw dan Ulat, yang secara tradisional bermusuhan, ikut menyerang Saparua setelah 8 orang desa diduga dibunuh orang Muslim di Hila. Untungnya kerusuhan berhasil dihindari setelah intervensi dari pemerintah setempat.[12]
Ambon terbagi menjadi bagian yang dikuasai milisi Kristen (60%) dan zona-zona yang dikuasai milisi Muslim (40%). Masjid pusat dan gereja Protestan pusat di Ambon menjadi pusat komando untuk saling bunuh antaragama, mengirimkan bala bantuan ke desa-desa yang berisiko diserang.[11]
Haruku
Di Pulau Haruku, kerusuhan dimulai tanggal 13 Februari, ketika seorang Kristen dari Kariu, membakar sebuah rumah tepat di perbatasan Kariu dengan desa Muslim Pelauw dengan tujuan membuat kerusuhan. Penduduk Aboru dan Kariu menuduh penduduk Muslim Pelauw sebagai pelakunya. Sekitar pukul 5:00 pagi keesokan harinya, rumah lainnya dibakar. Baik Kariu maupun Pelauw tegang. Di Pelauw, orang-orang bersiap untuk jihad.[12]
Tiba-tiba Kariu dikepung oleh militan dari Pelauw, Ori, Kailolo, dan Kulor & Tulehu dari Saparua.[12]
Ketika kedua pihak saling bunuh, aparat melepaskan tembakan ke arah milisi Pelauw. Milisi Kristen menembak pihak Muslim, dan kemudian milisi Muslim membakar Kariu. Lima belas milisi Muslim tewas akibat luka tembak.Selain itu, di Kariu empat orang lansia meninggal saat melarikan diri. Orang-orang dari Hulaliu mencoba membantu Kariu, tetapi mereka bentrok dengan tentara di dekat Ori membunuh antara 12 sampai 15 pemuda. Sore 16 Februari, semua penduduk Kariu telah mengungsi ke hutan atau ke desa Aboru. Mereka meninggalkan gereja mereka, yang dibakar habis walau dijaga tentara, dan yang tersisa hanyalah menara dengan bendera putih berkibar di atasnya.[12]
Anehnya, seminggu sebelum serangan Kariu, telah diadakan pertemuan di Pelauw, dan kaum pria mulai mencukur kepala mereka seolah-olah sebagai persiapan perang. Selain itu, pos militer antara Pelau dan Kariu dibongkar sebelum serangan dan dipindahkan ke tempat baru antara Ori dan Hulaliu. Jadi ketika Muslim Saparua datang, tidak ada yang menghalangi mereka.[12]
Setelah kerusuhan di Pulau Haruku, aparat mulai suka menembak (Dengan amunisi asli), dan akibatnya jumlah korban tewas meningkat tajam dan memperkuat ketidakpercayaan publik pada negara.[12][9]
Pada 13 Maret, Paus Yohanes Paulus II mengecam konflik ini sebagai yang "menjungkirbalikkan harmoni tradisional untuk hidup berdampingan antara umat Kristen dan Muslim"[15]
Kepulauan Kei, Maret-April
Pada Maret-April 1999, konflik menyebar ke Kepulauan Kei, dimulai dari pertengkaran bernuansa agama. membuat sekitar 200 orang mati di daerah Tual dan Kei Besar. Karena tentara di Kei sangat sedikit, sekitar 1000 tentara dikirim dari Ambon untuk mengamankan situasi. Puluhan ribu warga telah mengungsi.[9][16] Dari tanggal 30 Maret hingga 3 Mei 1999, sejumlah besar desa Muslim dan dua desa Kristen dihancurkan di Kepulauan Kei (di pantai barat Kei Kecil). [11]
Kerusuhan Ambon II
Kerusuhan ini dimulai dari 16 Mei saat Maluku sedang memperingati mulainya Perang Pattimura melawan Belanda. Biasanya hari ini diperingati dengan upacara obor yang dibawa dari Saparua ke Ambon. Upacara obor tahun ini juga digunakan untuk meresmikan pasukan baru: Komando Daerah Militer XV/Pattimura, yang akan bertugas di provinsi Maluku. Sebelumnya pasukan di Maluku di bawah pasukan yang berpusat dari Irian Jaya. Secara tradisional, penduduk desa Muslim Batu Merah membawa obor dari pulau Saparua ke Ambon. Tahun ini, tampaknya mereka disuruh oleh pihak berwenang untuk menyerahkan obor itu kepada penduduk desa Kristen Mahardika. Perdebatan pun terjadi. Sengketa tersebut meletus hanya beberapa hari setelah kesepakatan damai dibuat oleh para pemimpin kedua agama dan beberapa hari sebelum kampanye pemilu 1999 dimulai[17]. Aparat berada dalam keadaan siaga penuh di pulau Ambon pada hari Minggu, sehari setelah setidaknya tujuh orang tewas tertembak ketika tentara menembak ke arah massa yang beradu[17].
Kerusuhan Juli dan Agustus dari Poka
Warga setempat di Ambon, telah menyatakan kekhawatiran bahwa sebagian pasukan keamanan ditarik selama jeda kekerasan selama dua bulan. Banyak warga setempat masih takut akan serangan balasan dari orang-orang di kedua belah pihak.[18]
Dari Januari hingga 23 Juli 1999, desa Poka berhasil lolos dari kerusuhan. Kepala Desa (Raja) mengatur pertemuan rutin antara Muslim dan Kristen untuk membahas kebutuhan dan kekhawatiran bersama. Peronda malam gabungan Muslim-Kristen berjumlah 10 orang berpatroli setiap malam, sepanjang malam, untuk mencegah eskalasi dari perselisihan kecil. Ada kerukunan antara Kristen dan Muslim di Poka dan keyakinan bahwa mereka dapat menahan kekerasan yang tidak dapat dihindari oleh banyak desa lain.[11]
Pada pukul 8 malam tanggal 23 Juli 1999, perkelahian terjadi antara pemuda Kristen dan Muslim, beberapa di antaranya tampak mabuk. Lalu, banyak yang terlibat. Dalam waktu 5-7 menit setelah perkelahian dimulai, aparat tiba. Mereka berpura-pura mencoba menghentikan perkelahian dengan menembakkan banyak peluru ke udara. Hal ini menyebabkan kepanikan. Semua orang Kristen melarikan diri ke gereja. Menurut mereka, militer malah memperburuk keadaan, dalam situasi di mana tidak akan sulit bagi sekelompok tentara untuk menghentikan sekelompok pemuda mabuk dari perkelahian tanpa menembakkan peluru tajam. Seorang warga Jakarta-Ambon mempereparah situasi dengan menjadi provokator dan perakit bom. Seorang pendeta setempat menangkapnya. Pendeta itu membawanya ke kantor polisi. Dalam 2-3 hari, polisi membebaskan dia. Seminggu kemudian, seorang jemaat pendeta tersebut kembali menangkapnya. Jemaat ingin membunuhnya. Pendeta melarang hal itu, dan membawanya ke polisi lain. Sekali lagi, ia segera dibebaskan. Kerusuhan dimulai, Banyak bangunan di Poka dibakar, dan kerusuhan itu mulai menyebar kembali ke kota Ambon.[11].
Perusuh membakar mall terbesar di Ambon, dan bisnis Tionghoa mulai ditarget[11][18]. Insiden Galala pun terjadi, di mana aparat memasuki sebuah gereja di Galala dan membunuh 24 orang pengungsi[19].
Lihat pula
- Piagam Malino II
- Republik Maluku Selatan
- Konflik serupa: Kerusuhan Poso, Konflik Sampit
Catatan kaki
- ↑ "Saling bunuh, saling bakar sampai... 'sayang kamu semua': Mantan tentara anak Islam dan Kristen Ambon". BBC. 27 February 2018. Diakses tanggal 31 January 2022.
- 1 2 Bertrand 2004, hlm. 122
- 1 2 Duncan, Christopher R. (October 2005). "The Other Maluku: Chronologies of Conflict in North Maluku". Indonesia. Southeast Asia Program Publications at Cornell University. 80: 53–80. JSTOR 3351319.
- 1 2 Bertrand 2004, hlm. 129–131
- ↑ Hedman 2008, hlm. 50
- ↑ Sidel 2007, hlm. 181
- ↑ Sidel 2007, hlm. 184
- ↑ Bertrand 2004, hlm. 133
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 "Memahami Konflik Maluku 1999". Diakses tanggal 2026-06-18.
- 1 2 3 4 "Tuhanmu Bukan Lagi Tuhanku: Perang Saudara Muslim-Kristen di Maluku Tengah (Indonesia) Setelah Hidup Berdampingan dengan Toleransi dan Kesatuan Etnis yang Berlangsung Selama Setengah Milenium". Diakses tanggal 18-06-2026.
- 1 2 3 4 5 6 Braithwhite, John, dan Lean Dunn (Hal. 169). "Anomie and Violence: Non-truth and reconciliation in Indonesian peacebuilding" (PDF). Diakses tanggal 2026-06-22. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 "IV. THE CONFLICT". Diakses tanggal 2026-06-18.
- 1 2 "[INDONESIA_L] Ambon Update". Diakses tanggal 2026-06-22.
- ↑ Head, Jonathan. "World: Asia-Pacific Ambon runs short of food". Diakses tanggal 2026-06-22.
- ↑ "Paus menyerukan perdamaian atas Ambon". Diakses tanggal 2026-06-22.
- ↑ "31 Orang Mati". Diakses tanggal 2026-06-22.
- 1 2 "Ambon tense after riot deaths". Diakses tanggal 2026-06-22.
- 1 2 "Ambon violence flares again". Diakses tanggal 2026-06-22.
- ↑ Parry, Richard Llyod. "Troops killed '24' in church". Diakses tanggal 2026-06-22.
Daftar pustaka
- Bertrand, Jacques (2004). Nationalism and ethnic conflict in Indonesia. Cambridge University Press. ISBN 0-521-52441-5.
- Braithwaite, John; Leah Dunn (2010). "3. Maluku and North Maluku". Anomie and Violence: Non-truth and reconciliation in Indonesian peacebuilding (PDF). The Australian National University. hlm. 147–243. ISBN 978-1-921666-22-3. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2012-03-29. Diakses tanggal 2016-12-28.
- Duncan, Christopher R. (2013). Violence and Vengeance: Religious Conflict and Its Aftermath in Eastern Indonesia. Cornell University Press.
- Goss, Jon (2000). "Understanding the Maluku Wars: Overview of Sources of Communal Conflict and Prospects for Peace" (PDF). Cakalele (dalam bahasa English). 11. Honolulu: University of Hawaii, Center for Southeast Asian Studies: 7–39. ISSN 1053-2285. Diakses tanggal 22 November 2016. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- Hedman, Eva-Lotta E. (2008). Conflict, violence, and displacement in indonesia. Cornell South East Asia Program Publications. hlm. 29–231. ISBN 978-0-87727-775-0.
- Lindsey, Timothy (2008). "Adat law, conflict and reconciliation: the Kei Islands, Southeast Maluku". Indonesia, law and society. Federation Press. hlm. 115–146.
- Sidel, John Thayer (2007). Riots, pogroms, jihad: religious violence in Indonesia. NUS Press. ISBN 9971-69-357-7.
- van Klinken, Geert Arend (2007). Communal violence and democratization in Indonesia: small town wars. Taylor & Francis. hlm. 88–124. ISBN 0-203-96511-6.
- Wilson, Chris (2008). Ethno-religious violence in Indonesia: from soil to God. Routledge. ISBN 0-203-92898-9.
Sejarah konflik di Indonesia | |
|---|---|
| Konflik politik |
|
| Konflik sosial |
|
| Konflik sumber daya alam | |
| Kejahatan kemanusiaan |
|
| Terorisme | |
| Agama dan kepercayaan |
|
|---|---|
| Ireligiusitas | |
| Sejarah | |
| Kajian agama | |
| Hukum dan hak | |
| Bencana alam |
| ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Kecelakaan |
| ||||
| Kerusuhan |
| ||||
| Lain-lain | |||||
| Keluarga |
| |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Almameter | ||||||||||
| Masa Kekuasaan | ||||||||||
| Setelah kekuasaan | ||||||||||
← Didahului: Soeharto
Digantikan: Abdurrahman Wahid → | ||||||||||