Objek yang disembah oleh para penganutnya adalah Dai Gohonzon sementara simbol agamanya adalah burung bangau bulat. Baik pimpinan maupun penganutnya mengklaim bahwa hanya praktik mereka yang merupakan "Agama Buddha Sejati" dan memberikan gelar kehormatan kepada Nichiren, sebagai "Buddha "Sejati" Asli yang Suci" (御本仏, Go-Honbutsu) dan Dai-Shonin (大聖人, "Guru Suci Agung") sembari mempertahankan bahwa satu-satunya penerus sah bagi pelayanan dan warisannya adalah Nikko Shonin dan para pendeta tinggi sekte tersebut secara berturut-turut, yang dipimpin oleh Pendeta Tinggi ke-68 saat ini, Hayase Myo-e Ajari Nichinyo Shonin, yang naik takhta pada 15 Desember 2005.[butuh rujukan]
Nama historis
Bangau bulat yang digunakan sebagai logo resmi agama Buddha Nichiren Shoshu
Setelah kematian Nichiren, perpecahan doktrinal selama berabad-abad muncul di antara berbagai aliran pengikut Nichiren. Selama Restorasi Meiji, banyak sekte Nichiren dikonsolidasikan oleh pemerintah kekaisaran menjadi beberapa aliran utama: Nichiren Shu pada tahun 1874, Fuju-fuse dan Fuju-fuse Komon pada tahun 1876, dan pada tahun 1891 lima aliran yang saling terkait yaitu Kempon Hokkeshu, Honmon Hokkeshu, Honmyo Hokkeshu, Hokkeshu, dan Honmonshu.[3]
Pada tahun 1900, kuil Taiseki-ji memisahkan diri dari Honmonshu dan mengubah namanya menjadi Nichirenshu Fuji-ha, atau Nichiren Shu (Aliran) dari daerah Fuji, cabang Kuil Taisekiji, yang menunjukkan penamaan umum sekte-sekte pada saat itu. Pada tahun 1913, nama sekte tersebut diubah menjadi namanya yang sekarang, “Nichiren Shoshu.”[4] Perubahan ini konon dilakukan oleh Kaisar Taisho sebagai rujukan pada klaim ortodoks sekte tersebut.[5] Sekte ini juga kadang-kadang disebut Nichiren Masamune, berdasarkan dialek lokal Jepang di Shizuoka.[butuh rujukan]
Nichiren Shoshu mulai berkembang luas di Jepang, setelah Perang Dunia II di bawah pendudukan tentara Amerika, yang membebaskan kehidupan beragama. Para penganut membentuk organisasi massa umat awan bernama Soka Gakkai dan kemudian menjadi wadah dan motor penggerak penyiaran agama ini.
Shintaro Noda, pegawai Nissho Iwai, sejak tahun 1920-an telah menetap di Indonesia, sempat menjadi tawanan tentara sekutu di Jawa dan Australia, dan karena itu menderita berbagai penyakit, akhirnya dipulangkan tentara sekutu ke Jepang. Di Jepang dia bergabung dengan Sokagakkai dan menganut Nichiren Shoshu berhasil sembuh dari penyakit.
Pada akhir tahun 1940 akhir Shintaro Noda, anggota Sokagakkai, pegawai Nissho Iwai kembali bertugas di Indonesia dan sekaligus menjadi penyiar agama Nichiren Shoshu sekaligus pimpinan Nichiren Shoshu di Indonesia sampai awal tahun 1970-an dan secara organisatoris berafiliasi kepada Sokagakkai dan kemudian hari membentuk Sokagakkai internasional.
Pemerintahan Orde Baru yang diskriminatif, mengkategorikan semua agama Buddha sebagai unsur-unsur budaya Tionghoa yang tidak boleh berkembang dan segala kegiataanya harus diawasi menimbulkan berbagai guncangan. Terpaksa dibuat Yayasan Nichiren Shoshu Indonesia pada tahun 1967, yang sebenarnya dipimpin oleh bukan umat Nichiren, melainkan saudara sepupu dari seorang penganut. Kondisi ini akhirnya menimbulkan kekacauan kepemimpinan karena pimpinan de facto Shintaro Noda yang berkewarganegaraan Jepang tidak dapat menjadi pemimpin de jure. Akhirnya pada awal tahun 1970-an Shintaro Noda disingkirkan dari kepemimpinan, dan munculah pimpinan baru, Senosoenoto, suami dari Keiko Sakurai..
Di kemudian hari Senosoenoto berhasil mengajak kawannya Ir Soekarno, seorang mantan menteri pada masa Orde Lama, menjadi penganut dan kemudian menjadi salah satu pucuk pimpinan NSI. Soekarno sangat aktif dalam organisasi agama buddha di Indonesia, mewakili NSI menjadi pendiri organisasi yang sekarang bernama WALUBI. Soekarno wafat pada tahun 1981.
Perpecahan Nichiren Shoshu di Indonesia
Sejak akhir tahun 1970 sampai pertengahan tahun 1980, NSI berkembang dan mencapai puncak kejayaannya. Sebagaimana umumnya pekembangan organisasi, bilamana telah berkembang pesat, maka pada tahap-tahap tertentu muncul masalah rule of the game, management asset/financial, dan mekanisme pertanggungjawabab kepemimpinan organisasi. Tahun 1986 muncul usulan dan tuntutan untuk membuat AD dan ART NSI, yang memang belum ada. Draf AD ART disusun dan dibuat oleh 9 orang atas permintaan Senosoenoto, yang dikemudian hari dikenal sebagai kelompok 9.
Inisiatif kelompok sembilan ini tidak terakomodasi, mereka disingkirkan, AD ART NSI tak kunjung terwujud, mereka lalu membuat Yayasan Visistacaritra pada tgl 16 Februari1987. Sehubungan dengan ketentuan undang-undang tentang yayasan di kemudian hari dibentuk yayasan Visistacaritra, yang dimaksudkan untuk melanjutkan kegiatan Visistacaritra sampai saat ini,dan secara subyektif berorientasi pada Sangha Nichiren Shoshu.
NSI sendiri sepeninggalan almarhum Senosoenoto, terpecah 2 karena adanya perbedaan pandangan mengenai siapa yang akan menjadi ketua umum berikutnya. Pada saat Senosoenoto meninggal, NSI merupakan organisasi agama Buddha terbesar di Indonesia dengan seluruh aset fisik (Vihara-vihara yang tersebar di seluruh Indonesia dan juga dan umatnya. Seluruh aset fisik yang dimiliki oleh NSI pada saat itu masih atas nama pribadi Senosoenoto sebagai ketua umum karena pada saat itu NSI belum menjadi organisasi yang berbadan hukum. Secara hukum ketika seseorang meninggal maka aset dan kekayaan yang dimiliki oleh orang tersebut akan jatuh pada ahli waris (dalam hal ini keluarga Senosoenoto / istri dan anaknya) hal ini lah yang menjadi awal mula perpecahan NSI.
Pada tahun 1992 terjadi pertikaian antara Sangha Nichiren Shoshu (di Jepang) dengan Soka Gakkai / Sokagakkai internasional, dan berakibat Sokagakkai membentuk sekte tersendiri dan diberi nama Nichiren Sekai Shu. Kejadian ini juga berimbas ke Indonesia, sebagian umat Nichiren Shoshu yang ada membentuk kelompok baru bernama Sokagakkai Indonesia yang berpusat di Kemayoran Jakarta, dan menjadi penganut sekte Nichiren Sekai Shu, yang tentu saja didukung oleh Sokagakkai internasional dan Shintaro Noda.
Referensi
↑"Ia (Buddha Shakyamuni) juga mengungkapkan bahwa ajarannya akan mempertahankan kapasitas untuk mencerahkan generasi penganut di masa depan hanya untuk jangka waktu yang terbatas, secara bertahap kehilangan kemanjurannya seiring dengan meningkatnya kebodohan umat manusia. Ia meramalkan bahwa 2000 tahun setelah kematiannya, ajarannya akan menjadi seperti resep medis yang kedaluwarsa untuk pasien yang penyakitnya telah berubah menjadi jauh lebih serius. Shakyamuni meramalkan bahwa pada saat itu seorang Buddha yang lebih besar akan lahir yang, setelah mengatasi penganiayaan yang parah, akan mengungkapkan penyebab sebenarnya dari pencerahan asli. Orang ini (Nichiren Daishonin) akan menjadi inkarnasi dari Buddha Sejati yang abadi dan menabur benih pencerahan dalam kehidupan semua makhluk." Pengantar Dasar Agama Buddha Nichiren Shoshu