Organisasi Cakramanggilingan merupakan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang didirikan pada 1 April 1979 di Bangkalan, Madura oleh Sang Hyang Sri Bharatawidjaja (SHS. Bharatawidjaja). Organisasi ini berfokus pada pengembangan spiritual dan etika anggotanya melalui ajaran yang disusun dalam lima wahyu pokok. Ajaran ini mencakup pandangan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, masyarakat, dan alam, serta penekanan pada tanggung jawab moral dan kehidupan yang harmonis.[1]
Sejarah
Pendiri organisasi Cakramanggilingan yaitu SHS. Bharatawidjaja, lahir dengan nama asli Iman Supangat pada 1 April 1936 di Desa Wonodadi, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo. Supangat menempuh pendidikan terakhir di APK Surabaya pada 1969 dan bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan sebagai Kepala Seksi Malaria di tahun yang sama.[2] Dalam perjalanan spiritualnya, SHS. Bharatawidjaja mengaku memperoleh serangkaian pengalaman spiritual yang menjadi dasar ajaran organisasi, antara lain yang disebutnya sebagai Paneasila nan Sejati (1960), Dwi Dasa Shara Paripurna Bahagia (1969), Dasa Wiweka Bijaksana Paripurna Bahagia Raya (1971), Ratna Sastra Jendra Hayuningrat (1972), dan Gelora Gloria Cakramanggilingan (1973). Berdasarkan pengalaman dan keyakinan ini, Supangat kemudian memprakarsai pertemuan pertama yang menandai pembentukan Organisasi Cakramanggilingan pada 1 April 1979 di Bangkalan.[2]
Istilah Cakramanggilingan berasal dari kata Cakra (Bahasa Sanskerta) yang berarti cakram atau roda, dan Manggilingan (Bahasa Jawa) yang berarti berputar atau menggiling. Secara keseluruhan, istilah ini dapat diartikan sebagai kehidupan ibarat roda yang berputar, sekali di atas sekali di bawah. Lambang organisasi berbentuk lingkaran bercahaya dengan cakra yang berputar, melambangkan kesinambungan dan keseimbangan.[3][4]
Filosofi
Organisasi Cakramanggilingan bertujuan untuk membimbing anggotanya dalam pengembangan etika, kemandirian, dan kesejahteraan. Anggota diajarkan untuk memahami kehidupan sebagai suatu proses yang berkelanjutan, di mana tanggung jawab moral dan kontribusi bagi masyarakat menjadi aspek penting. Selain fokus pada pengembangan individu, organisasi menekankan peran sosial melalui konsep memayu hayuning bawana, yang mencakup lima tingkatan, yaitu memperbaiki diri sendiri, keluarga, komunitas lokal, bangsa, dan lingkungan global. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara kepentingan individu, sosial, dan lingkungan secara keseluruhan. Dalam praktiknya, anggota diajarkan untuk menjalankan prinsip-prinsip moral dan spiritual secara konsisten. Aktivitas organisasi meliputi pembinaan diri, penguatan nilai-nilai etis, dan partisipasi dalam kegiatan sosial. Semua kegiatan diarahkan untuk mencapai keseimbangan antara pengembangan pribadi, kontribusi kepada keluarga dan masyarakat, serta kesadaran akan lingkungan dan alam semesta.[5]
Referensi
↑Hasil inventarisasi 3 aspek, Propinsi... Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 1984.
↑Manggilingan (Organization), Cakra (1985). Cakra Manggilingan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.