Adi Dipa merupakan salah satu organisasi penghayat kepercayaan yang berkembang di Jawa Barat. organisasi ini mengajarkan pelestarian nilai-nilai ajaran warisan leluhur yang berkaitan dengan aspek kejiwaan, spiritual, dan kehidupan sosial. Kegiatan yang dilakukan meliputi sarasehan, anjangsana, dan anjangasih sebagai bentuk pembinaan terhadap anggota. Ajaran yang dikembangkan dalam Aji Dipa mencakup pemahaman tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, diri sendiri, dan alam semesta.[1]
Pengertian dan makna
Aji Dipa berasal dari dua kata, yaitu aji yang berarti ilmu dan dipa yang berarti papak (rata). Secara istilah, Aji Dipa diartikan sebagai “ilmu papak” atau ilmu yang sama. Pengertian ini merujuk pada ajaran kejiwaan yang membahas asal-usul manusia dan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, serta menekankan kesamaan hakikat manusia.[1]
Latar belakang
Ajaran Aji Dipa pertama kali diterima Mei Kartawinata yang lahir pada 1 Mei 1879 di Kampung Kebon Jati, Bandung. Setelah menyelesaikan pendidikan di Zendingschool, Kartawinata bekerja sebagai letterzetter di Aterlik dan aktif dalam organisasi kebangsaan. Keterlibatannya dalam aktivitas tersebut menyebabkan ia berada dalam pengawasan pemerintah kolonial Belanda. Selanjutnya, ia bersama keluarga dan beberapa rekannya mengasingkan diri ke kawasan hutan di daerah Subang. Di tempat tersebut, ia memperoleh ajaran kebatinan yang mencakup aspek kejiwaan, ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, dan keadilan. Ajaran ini kemudian diteruskan oleh Aji Suja’i dan dikembangkan dalam bentuk organisasi.[2]
Organisasi Aji Dipa didirikan pada tanggal 11 April 1979 di Bandung, Jawa Barat oleh Aji Suja’i. Pendirian organisasi ini bertujuan untuk melestarikan ajaran leluhur melalui berbagai kegiatan sosial dan spiritual. Pusat organisasi berada di Jalan Sukasirna No. 4, Cikutra, Cicadas, Bandung 40125. Pada saat pencatatan dilakukan, jumlah anggota tercatat sekitar 250 orang yang tersebar di beberapa wilayah seperti Subang, Pamanukan, Sumedang, Majalengka, Indramayu, serta Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan struktur kepengurusan organisasi meliputi Encar Suwarna sebagai pengurus, Yayat Rukhiyat sebagai ketua, Tatang Supriatna sebagai sekretaris, dan Ibu Tejaningsih sebagai bendahara.[3]
Konsep dasar ajaran
Ajaran Aji Dipa menekankan pemahaman tentang raga, rasa, dan aku sebagai satu kesatuan utuh dalam diri manusia. Ketiga unsur ini mencerminkan keterhubungan antara tubuh, perasaan, dan kesadaran yang tidak dapat dipisahkan. Dalam ajaran ini dijelaskan bahwa kemampuan manusia untuk merasakan, melihat, dan mendengar pada hakikatnya sama, karena semuanya bersumber dari kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yang tidak membeda-bedakan makhluk-Nya. Dengan pemahaman tersebut, manusia diharapkan mampu menjalani kehidupan dalam kebenaran dan kesucian, serta menyadari asal-usul dirinya sebagai ciptaan Tuhan.[3]
Lebih lanjut, Aji Dipa mengajarkan empat hubungan utama dalam kehidupan manusia. Pertama, hubungan dengan Tuhan, di mana setiap individu diwajibkan untuk menghayati dan mensyukuri nikmat yang diberikan serta senantiasa menjaga rasa eling (ingat) kepada Tuhan agar mampu mengendalikan diri dalam berbagai situasi. Kedua, hubungan dengan sesama, yang menekankan pentingnya sikap toleransi, saling menghormati, dan memandang orang lain sebagaimana memandang diri sendiri, terutama terhadap perbedaan keyakinan. Ketiga, hubungan dengan diri sendiri dan keluarga, yaitu menjaga kesehatan jasmani dan rohani serta menyayangi diri sendiri (nyaah ka diri), sekaligus menerapkan nilai silih asah, silih asuh, dan silih asih dalam kehidupan keluarga demi terciptanya keharmonisan. Keempat, hubungan dengan alam semesta, di mana manusia berkewajiban menjaga dan melestarikan lingkungan, karena manusia tidak terpisahkan dari alam. Dalam pemahaman yang lebih mendalam, Tuhan, manusia, dan alam merupakan satu kesatuan tri tunggal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.[3]
Ritual dan praktik keagamaan
Ritual utama dalam Aji Dipa adalah mujasemedi (semadi). Kegiatan ini dilakukan di tempat yang bersih dan rapi, dengan waktu yang dianjurkan sebelum dan sesudah tidur. Posisi semadi dilakukan dengan duduk bersila, bersedekap, dan menghadap ke arah timur. Tujuan dari mujasemedi adalah untuk menjaga kesadaran akan wiwitan atau asal-usul manusia, sehingga individu tetap terhubung dengan jati dirinya dan Tuhan Yang Maha Esa.[1]
Pengakuan dan status organisasi
Aji Dipa telah mendapatkan pengakuan dari pemerintah Indonesia. Pada tahun 1980, organisasi ini memperoleh tanda inventarisasi dari Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan nomor 1.159/F.3/N.1.1/1980.[4] Pada tahun 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mencatat keberadaan 187 organisasi penghayat kepercayaan diseluruh Indonesia, termasuk Aji Dipa. Pencatatan ini dilakukan sejalan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi terkait uji materi Pasal 61 ayat 1 dan Pasal 64 ayat 1 Undang-Undang Administrasi Kependudukan, yang menjamin hak bagi penganut kepercayaan untuk mencantumkan keyakinan mereka pada kolom agama di Kartu Keluarga (KK) maupun Kartu Tanda Penduduk (KTP).[5]
123Ensiklopedi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan, Asdep Urusan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Pelestarian Pengembangan Tradisi dan Kepercayaan. 2003. hlm.54–55. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)