Gayuh Urip Utami (disingkat: Gautami) merupakan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang didirikan pada 1 Oktober 1970 oleh R. Ng. Sriyati. Organisasi ini berkembang sebagai wadah pelestarian ajaran spiritual yang diwariskan secara turun-temurun dan kemudian dirumuskan dalam bentuk paguyuban. Ajarannya menekankan keyakinan terhadap Keesaan Tuhan serta pembinaan sikap moral dalam kehidupan pribadi dan sosial.[1]
Sejarah
Raden Nganten Sriyati lahir pada 15 Maret 1925 di Desa Sindurjan, Purworejo, Jawa Tengah, dan dalam silsilah keluarganya disebut sebagai keturunan Raden Surowijoyo yang dikaitkan dengan Raden Sutawijaya (Panembahan Senopati). Pada masa kanak-kanak Sriyati sempat berpindah tempat tinggal dari Purworejo ke Jember, kemudian ke Surabaya. Sejak usia muda Sriyati menjalani praktik laku spiritual, seperti puasa dan tirakat. Pada tahun 1942 di Surabaya, Sriyati menyatakan memperoleh wangsit atau dhawuh yang berkaitan dengan ajaran leluhur yang disebut berasal dari tradisi Majapahit. Pengalaman serupa yang diakuinya diterima kembali pada 29 September 1970 di Jakarta, yang kemudian menjadi latar belakang pendirian organisasi penghayat Gayuh Urip Utami pada 1 Oktober 1970.[2] Nama “Gautami” dikaitkan dengan simbol huruf Jawa “Ga” yang dimaknai sebagai angka satu, merujuk pada konsep Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar ajarannya.[3][4]
R. Ng. Sriyati wafat pada tahun 1987. Sebelum meninggal dunia, Sriyati disebut telah menetapkan putra ketiganya, Teguh Udiyono Wahyudi, sebagai penerus ajaran. Setelah wafatnya pendiri, organisasi mengalami masa nonaktif antara tahun 1987 hingga 1991, sebelum kemudian diaktifkan kembali di bawah kepemimpinan Teguh Udiyono Wahyudi. Pada periode awal perkembangannya, organisasi ini dikenal di sejumlah wilayah di Jawa, meskipun jumlah anggotanya tidak terdokumentasi secara pasti.[1][3]
Lambang
Lambang organisasi memuat simbol lima helai daun teratai yang melambangkan Pancasila sebagai dasar negara. Selain itu terdapat tiga lingkaran berukuran kecil, sedang, dan besar yang dimaknai sebagai tahapan kehidupan manusia: purwa (awal), madya (masa kehidupan di dunia), dan wasana (akhir kehidupan). Pada lingkaran terkecil terdapat huruf Jawa “Ga” yang diartikan sebagai simbol keesaan Tuhan. Secara keseluruhan, lambang tersebut merepresentasikan perjalanan hidup manusia dalam kerangka kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.[1]
Pokok Ajaran
Ajaran Gautami memuat nilai religius dan moral yang menjadi dasar pedoman hidup anggotanya. Dalam aspek religius ditegaskan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai satu-satunya sumber dan penguasa kehidupan. Penganutnya diajarkan untuk selalu eling (ingat), percaya, mituhu (taat), dan bertakwa sebagai bentuk kesadaran spiritual. Dalam aspek moral, ajaran ini mengatur hubungan manusia dengan diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Dalam kehidupan sosial ditekankan sikap urip lega legawa, yaitu hidup dengan ikhlas dan rela, sehingga tidak dikuasai oleh kepentingan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dalam hubungannya dengan alam, manusia dipandang memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara lingkungan demi keberlangsungan kehidupan. Kegiatan organisasi mencakup aktivitas sosial, termasuk pemberian bantuan spiritual dan praktik pengobatan tradisional, yang dipahami sebagai wujud pengamalan ajaran dalam kehidupan bermasyarakat.[5]
Referensi
123Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi (2010) Ensiklopedi kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Jakarta.
↑Hasil inventarisasi 3 aspek, Propinsi ... Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 1984.