Hangudi Lakuning Urip adalah organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berkembang di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Organisasi ini didirikan oleh R. Soemarsono Dirjoseputro dan menekankan pembinaan kehidupan spiritual melalui laku prihatin, pengendalian diri, serta pengembangan budi pekerti luhur sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup lahir dan batin. Ajarannya mencakup pandangan tentang Tuhan Yang Maha Esa, alam semesta, manusia, budi luhur, dan kehidupan setelah kematian. [1]
Sejarah
Pendiri organisasi ini adalah R. Soemarsono Dirjoseputro, yang lahir pada 2 Februari 1926 di Sleman, Yogyakarta, sebagai putra pasangan R. Soediman Kartopawiro dan R. Ngt. Tjondrosari. Sejak usia sekitar sepuluh tahun, Soemarsono dibimbing oleh ibunya untuk menjalani berbagai bentuk laku prihatin, seperti puasa, tirakat, dan latihan pengendalian diri. Pendidikan terakhir Soemarsono adalah tingkat sekolah menengah atas (SLTA). Setelah menyelesaikan pendidikan, Soemarsono bekerja sebagai Mantri Kesehatan di Dinas Kesehatan Kotamadya Yogyakarta hingga pensiun pada tahun 1980. Dalam perjalanan spiritualnya, Soemarsono menjalani praktik tirakat dan semedi selama bertahun-tahun. Menurut penuturan dalam tradisi paguyuban tersebut, setelah menjalani laku spiritual tersebut Soemarsono menerima dhawuh atau wangsit yang kemudian menjadi dasar ajaran organisasi Hangudi Lakuning Urip. R. Soemarsono Dirjoseputro meninggal dunia pada Kamis Wage, 11 September 1997, pada usia 71 tahun.[2]
Ajaran
Ajaran organisasi Hangudi Lakuning Urip secara garis besar meliputi lima pokok ajaran utama, yaitu ajaran tentang Tuhan Yang Maha Esa, alam semesta, manusia, budi luhur, dan kematian. Ajaran tentang Tuhan Yang Maha Esa membahas keberadaan, kedudukan, sifat, serta kekuasaan Tuhan sebagai sumber kehidupan. Sementara itu, ajaran tentang alam semesta menjelaskan asal-usul alam, manfaatnya bagi kehidupan manusia, serta hubungan timbal balik antara manusia dan alam.[1]
Ajaran mengenai manusia menempatkan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki tanggung jawab menjalani kehidupan dengan kesadaran spiritual dan moral. Kesadaran tersebut diwujudkan melalui pengamalan budi luhur yang mencakup kewajiban manusia terhadap Tuhan, terhadap alam, serta terhadap sesama manusia dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Selain itu, organisasi ini juga mengajarkan pandangan tentang kematian dan kehidupan setelah mati. Kehidupan manusia di dunia dipandang sebagai hamung mampir ngombe, yaitu hanya singgah sementara, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya diyakini berlangsung di alam kekal (alam langgeng).[1][3][4]
Lambang
Lambang organisasi Hangudi Lakuning Urip berbentuk gunungan, yang terinspirasi dari simbol dalam pertunjukan wayang kulit. Di dalamnya terdapat berbagai unsur simbolis yang mencerminkan ajaran organisasi. Di bagian tengah terdapat rumah berbentuk joglo yang melambangkan tempat bernaung atau perlindungan bagi warga organisasi. Di bawahnya digambarkan seseorang yang duduk bersila dalam sikap semadi sebagai simbol praktik spiritual yang dijalankan oleh para anggota. Di sekitar gunungan terdapat pohon rindang dengan berbagai hewan yang melambangkan dunia beserta seluruh isinya. Pada puncak gunungan terdapat bintang bersudut lima yang melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa sekaligus mencerminkan nilai-nilai Pancasila sebagai asas kehidupan. Di sisi kiri dan kanan atap joglo terdapat kepala raksasa yang melambangkan berbagai nafsu manusia yang harus dikendalikan agar manusia dapat mencapai kehidupan yang lebih baik. Tulisan huruf Jawa “Hangudi Lakuning Urip” pada lambang tersebut merujuk pada ajaran utama organisasi. Hangudi berarti berusaha atau mencari dengan sungguh-sungguh, lakuning berarti jalan atau cara, sedangkan urip berarti kehidupan. Istilah ini menunjuk pada upaya manusia menempuh jalan hidup yang luhur melalui pengembangan budi pekerti, sikap welas asih terhadap sesama, serta kesadaran untuk senantiasa mengingat Tuhan Yang Maha Esa.[5][6]
Referensi
123Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi (2010) Ensiklopedi kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Jakarta.