Tanzania adalah negara Afrika pertama yang menjalin hubungan diplomatik dengan Denmark, pada tahun 1963. Hal ini terjadi tak lama setelah daratan Tanzania, yang disebut Tanganyika, merdeka.
Selama bertahun-tahun kerja sama, tujuan utama Denmark adalah untuk berkontribusi pada perjuangan Tanzania melawan kemiskinan yang masif: negara ini sekarang menjadi salah satu negara demokrasi yang paling stabil dan damai di Afrika dan merupakan salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.[4]
Segera setelah dimulainya hubungan diplomatik, Denmark dan Tanganyika (bersama dengan pemerintah Swedia, Finlandia, dan Norwegia) memulai proyek Nordik-Tanganyika (kemudian KEC) di Kibaha. Pada tahun 1970, Pemerintah Denmark menyerahkan proyek tersebut kepada Julius Nyerere, Presiden Tanzania.[5]
Proyek Kibaha menandai pengakuan oleh bangsa-bangsa Nordik akan kesatuan umat manusia. Ini menunjukkan pengakuan praktis bahwa negara-negara yang lebih kaya di dunia memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi pada pembangunan negara-negara yang lebih miskin dengan syarat-syarat yang mengakui kesetaraan dan martabat manusia.