Daftar tokoh wayang menampilkan nama tokoh-tokoh yang muncul dalam wiracaritaRamayana dan Mahabharata yang sering dipentaskan dalam pertunjukan wayang.
Pertama munculnya Hyang Nur Cahya, bertempat tinggal di puncak gunung Mahameru. Hyang Nur Cahya menurunkan Nurasa, lalu menurunkan Hyang Wenang, lalu Hyang Tunggal dan berikutnya terciptalah dewata. Dalam hal ini, Sang Hyang Nurcahya ialah dewa pertama yang menurunkan para dewa-dewi di segala penjuru bumi, termasuk dewa-dewi dalam tradisi Hindu maupun Jawa.
Generasi awal ini terlahir dari bagian telur. Menurut R.A. Kosasih, urutannya dimulai dari Antaga, Ismaya, Manikmaya. Hanya kepada Manikmayalah Keturunan berikutnya di teruskan.
Sang Hyang Antaga, berasal dari kulit telur. Merasa dirinya lebih penting dari ketiganya, dia beradu ilmu dan sempat kalah. Tidak terima kekalahannya, dia menantang saudaranya beradu ilmu terakhir yaitu menelan gunung tetapi dia gagal dan berakibat dirinya seperti sekarang. Antaga kemudian diberikan nama Togog. Diberikan tugas untuk berada di sisi kejahatan dan mengayomi Kurawa.
Sang Hyang Ismaya, berasal dari putih telur yang nantinya akan menjadi Semar. Dia beradu ilmu dengan Antaga karena Togog atau Antaga yang bersifat sombong. Maka Semar dapat mengalahkan Togog atau Antaga ketika sayembara menelan gunung sehingga perutnya membesar seperti bentuknya sekarang. Dan tugas Semar yakni mengayomi Pandawa.
Sang Hyang Manikmaya, berasal dari kuning telur. Yang menjadi pemimpin dan bapak para batara-batara selanjutnya. Gelarnya banyak salah satunya batara Guru.
Walaupun dalam kehidupan nantinya mereka akan berpisah dan mengabdi pada orang yang berbeda, tetapi mereka memiliki satu tugas penting yaitu menjaga keseimbangan dunia. Pada masa depan akan banyak muncul ketidakseimbangan dunia seperti ulah Rahwana hingga perang Mahabaratha, tetapi semua itu adalah sebuah proses keseimbangan dunia yang sudah diatur.
Tokoh-tokoh era Mahabharata dalam budaya pewayangan Jawa diambil dan diadaptasi dari Kitab asli Mahabrata yang merupakan kitab peradaban Hindu. Namun, sebagian tokoh merupakan asli tokoh kreasi pujangga Jawa. Pada era Mahabharata dimulai dari leluhur Pandawa dan Korawa, sampai dengan putra-putranya.
Tokoh yang bertuliskan font tebal miring adalah tokoh asli Pujangga Jawa, dan tidak ada dalam naskah Mahabhrata
Tokoh dengan tanda ** belum diketahui gagrak aslinya
Tokoh dengan tanda *)) belum memiliki penggambaran bentuk wayang secara baku (berstatus srambahan, biasanya jika muncul dalam pedalangan selalu meminjam tokoh lain/yang serupa)
Era Peralihan
Pada era peralihan dari Mahabhrata menuju era Madya, terdapat beberapa tokoh tambahan yang tidak lain adalah para cucu dari Pandawa dan Korawa (dimulai dari Prabu Parikesit) serta para pasangan dari putra Pandawa
Punakawan adalah para pembantu dan pengasuh setia Pandawa. Dalam wayang kulit, punakawan ini paling sering muncul dalam goro-goro, yaitu babak pertujukan yang sering kali berisi lelucon maupun wejangan.
Dalam cerita lakon wayang versi Jawa, tiap tokoh yang terkenal mempunyai banyak nama menyesuaikan dengan alur cerita yang dipentaskan. Berikut ini nama-nama tersebut:[1]
Yudhisthira mendapat sebutan Dharmaputra (Damarputra), Dharmaatmaja (Darmaatmaja), Dharmawangsa (Darmawangsa), Punta, Puntadewa, Dermakusuma atau Darmakusuma.
Bima mendapat sebutan Bhima (Bima), Bhimasena (Bimasena), Pawanasuta, Bayusuta, Ballawa, Jagal Bilawa, Birawa, Sena, Arya Sena, Bratasena, Wejasena, Wrekodara, Wrekudara, Werkodara, Werkudara.
Arjuna mendapat sebutan Partha (Parta), Dhananjaya (Dananjaya), Wrehannala, Palghuna (Palguna), Palgunadi, Janaka, Pamade, Kombang Ali-ali, Kalithi dan Karithi.