Para pengunjung yang akan datang ke Museum Panji dikenakan tarif sesuai kategori. Kategori pertama untuk anak-anak, yang dikenakan tarif masuk sebesar Rp 15.000 / orang. Kategori kedua untuk dewasa, yang dikenakan tarif sebesar 25.000 / orang.[3]
Waktu Kunjungan
Pengunjung bisa datang ke Museum Panji pada hari:[3]
Senin, pukul 09.00-17.00
Selasa, pukul 09.00-17.00
Rabu, pukul 09.00-17.00
Kamis, pukul 09.00-17.00
Jumat, pukul 09.00-17.00
Sabtu, pukul 09.00-17.00
Minggu, pukul 09.00-17.00
Pengelolaan
Pengelolaan Museum Panji mengikuti konsep seni pertunjukan Topeng Malangan dalam Cerita Panji. Museum Panji didirikan oleh seorang arkeolog bernama Dwi Cahyono. Ia adalah salah satu anggota Asosiasi Museum Indonesia. Pembangunan museum dilakukan di atas lahan pribadi seluas kurang lebih tiga hektar. Benda-benda koleksinya dipamerkan dengan bentuk menyerupai diorama. Tata kelolanya menggambarkan sejarah Kota Malang sejak masa pemerintahanHindia Belanda pada tahun 1716. Ruang pameran diisi dengan berbagai koleksi seperti wayang, patung, golek dan boneka. Konsep pengelolaannya adalah mengenalkan kebudayaan lokal melalui cerita tentang budi pekerti dan sifat cintalingkungan.[4]
Fasilitas
Fasilitas yang ada di Museum Panji terdapat area berkemah. Pengunjung juga bisa bermain air dan bercocok tanam di area Museum Panji. Di luar musuem Panji juga pengunjung bisa melihat tanah lapang yang dikelilingi oleh pepohonan.[5]
Koleksi
Museum Panji mempunyai bangunan yang terdiri dari empat bagian. Empat bagian itu yaitu, sejarah Panji dalam seni pertunjukan, cerita yang memuat sejarah, bagian yang menampilkan diorama pada masa narasi populer Panji, yang terakhir bagian sejarah Panji pada masa sekarang. Koleksi Museum Panji memuat berbagai hal, dari mulai teks sastra, boneka, topeng, hingga peninggalan-peninggalan sejarah dari zaman Singosari hingga Majapahit yang pernah menguasai Malang.[6]
Ketika pengunjung masuk, akan disambut oleh bagunan yang menyerupai gerbang candi. Relief candi replika tersebut dibuat berdasarkand desain dari candi-candi yang ada di Jawa Timur. Di bawah bangunan tersebut ada kolam renang dan panggung untuk pertunjukkan. Pada dinding-dinding sebelum masuk ruangan, pengunjung akan melihat berbagai jenis wayang yang ditempel. Di ruangan berikutnya pengunjung akan melihat koleksi tentang kisah Panji. Ada ruangan khusus yang menampilkan patung Panji dan Sekartaji serta beberapa potret para penari topeng Panji yang menggunakan kostum penari.[5]
Di ruangan lain terdapat diorama yang menggamabarkan perang Genter, yaitu perang antara Kerajaan Kediri yang menyerang kerajaan Tumapel. Diorama tersebut berkisah tentang sosok Ken Arok yang berhasil mengalahkan ribuah pasukan Kediri. Ada ruangan yang masih kosong, rencananya ruangan ini akan digunakan untuk membuat diorama kerajaan Kediri-Majapahit. Konon pada masa itulah kisah Panji berkembang, pada abad ke-13 dan pada masa tersebut kerjaan Hindu berjaya.[5]
Pada ruangan lain, pengunjung bisa melihat koleksi keramik kuno dan replika prasasti. Para pengunjung juga bisa mendapatkan informasi tentang candi-candi yang memuat tentang cerita Panji. Koleksi lainnya dari Museum Panji yaitu replika dari peralatan pertanian dan peralatan masak.[5]
Koleksi kesenian di Museum Panji banyak menampilkan kebudayaan yang ada di Jawa Timur, seperti wayang-wayang, topeng wayang, topeng Malangan serta terdapat prasasti yang merupakan peninggalan kerajaan terdahulu. Selain itu, terdapat tempat yang khusus untuk menampilkan kesenian tarian wayang topeng.[7][8][9]