Kisah Prabakusuma
Dalam perjalanan ke Kerajaan Amarta untuk menghadap ayahnya, Prabakusuma berjumpa dengan Dewi Srikandi, salah seorang istri Arjuna yang sedang mengejar Dewi Mustakaweni.[2] Srikandi berjanji akan mempertemukan Prabakusuma dengan Arjuna, tetapi ia harus mau membantunya mengejar sekaligus menangkap pencuri Kyai Jimat Jamus Kalimasada.[2] Pusaka milik Kerajaan Amarta itu berhasil dicuri oleh Dewi Mustakaweni, putri Prabu Niwatakawaca dan mempunyai Kakak bernama Prabu Bumiloka dari Kerajaan Manimantaka.[2] Untuk mencurinya, Dewi Mustakaweni lenih dahulu menyamar sebagai Gatotkaca.[2]
Setelah menyatakan kesanggupannya pada Dewi Srikandi, Prabakasuma mengejar Dewi Mustakaweni dan karena permintaan Prabakusuma untuk menyerahkan Pusaka Kyai Jimat Kalimasada dikembalikan kepadanya tidak dipedulikan, merekapun berkelahi.[2] Sesungguhnya, pada saat perjumpaan pertama kedua manusia berlainan jenis itu merasa tertarik satu sama lain.[2]
Kemahiran Prabakusuma dalam membidikkan anak panah dingunakannya untuk mempermainkan dan menggoda lawannya yang cantik itu.[2] Satu persatu pakaian yang dikenakan Dewi Mustakaweni terlepas dari tubuhnya karena menjadi sasaran anak panah Prabakusuma.[2]
Akhirnya, Mustakaweni menyerah kalah.[2] Kyai Jimat Jamus Kalimasada dikembalikkan kepada Prabakusuma.[2] Mustakaweni juga menurut saja ketika Prabukusuma mengajaknya ke Kerajaan Amarta.[2] Dengan restu para Pandawa dan Kresna, Dewi Mustakaweni akhrinya menjadi istri Prabakusuma.[2]
Dalam kisah berikutnya, Prabakusuma menitipkan Kyai Jimat Kalimasada kepada Petruk.[4]
Jimat itu sangat kuat hingga bisa mengalahkan kerajaan mana pun yang menjadi sasaran.[4] Awalnya, Prabakusuma berpikir Petruk yang notabene merupakan anak Semar, pasti bisa dipercaya.[4] Sayangnya, Prabakusuma lupa bahwa Petruk adalah sosok yang usil.[4] Berbekal Kyai Jimat Kalimasada, Petruk mengambil alih kerajaan Lojitengara dan mengangkat dirinya sendiri menjadi raja dan menyematkan gelar belgeduwelbeh Tontongsot.[4]
Karena jadi raja, Petruk kumat lah isengnya.[4] Hidungnya dia pasangi cincin dan dia selalu duduk di singgasananya dengan kaki diangkat, karena tubuhnya yang terlalu tinggi sehingga kakinya tidak pas dengan singgsana.[4]
Namun Petruk tetap tidak kehilangan kebijaksanaannya.[4] Ketika menjadi raja, sudah pasti Petruk harus mencari seorang permaisuri.[4] Maka, iapun memerintahkan pada pengawalnya untuk mencarikan ia wanita yang layak untuk dipersunting.[4] Petruk memberikan kriteria untuk para pengawalnya tentang wanita yang ingin ia peristri.[4] “Aku tidak ingin istri yang cantik, kerjanya cuma berkaca saja tiap hari. Carikan aku istri dari kalangan jelata yang biasa saja”.[4] Akhirnya, Petruk menikah dengan juru masak kerajaannya yang gemuk dan tidak cantik.[4]
Waktu bergulir hingga suatu hari Petruk merasa capek duduk dengan kaki diangkat di atas singgasananya.[4] Maka ia pun meminta pengawalnya untuk mencarikan alas duduk untuk singgasananya, sehingga kakinya bisa pas saat menyentuh lantai.[4]
Akhirnya, pengawalnya menemukan bantalan yang dimaksudkan.[4] Namun, bantalan itu ternyata milik kerajaan yang kala itu dipimpin oleh Abimanyu.[4] Abimanyu yang sedang sakit, mempersilahkan Prabu Welgeduwelbeh mengambil alas duduknya.[4] Namun Abimanyu mengatakan, “aku sedang sakit, jadi bila engkau ingin alas duduk ini untuk engkau gunakan, engkau harus tetap memangkuku.”[4]
Petruk langsung sadar bahwa ini adalah tamparan keras baginya.[4] Kerajaan yang semula dipimpin Petruk, kemudian diserahkan pada Abimanyu untuk dipimpin.[4]
Dalam Bharatayuddha, seperti juga semua anak Arjuna, Prabakusuma gugur.[2] Pada hari ketujuh, ia terkena panah yang dilepaskan oleh Drona.[2]