Kitab Mahabharata yang tersusun dari banyak cerita berbingkai memuat suatu legenda tentang Resi Sakti.[2] Dalam Adiparwa (Mahabharata jilid pertama) bab Caitrarathaparwa, diceritakan bahwa pada suatu hari, Raja Kalmasapada sedang berburu ke tengah hutan. Di sana ia berpapasan dengan Resi Sakti. Sang raja memerintahkan sang resi untuk minggir sejenak, tetapi sang resi menolak, karena menurut tradisi, seharusnya seorang kesatria (raja, pangeran, pejabat, prajurit) yang mengalah untuk memberikan jalan kepada brahmana (pendeta, rohaniwan, orang suci). Namun sang raja menolak secara arogan seperti raksasa. Maka dari itu sang resi mengutuk Kalmasapada menjadi raksasa.[3][4]
Pewayangan Jawa
Kisah Resi Sakti dalam pustaka Hindu diadaptasi ke dalam seni pertunjukan wayang di Jawa sebagai dampak dari penyebaran agama Hindu di Nusantara. Dalam pewayangan Jawa, Resi Sakti disebut Sakri atau Bambang Sakri, sedangkan orang tuanya bernama Resi Sakutrem dan Dewi Nilawati, dari pertapaan Retawu, puncak gunung Saptaarga. Dia lahir bertepatan dengan terjadinya telaga di gunung tersebut yang kemudian dikenal dengan nama Telaga Retawu. Bambang Sakri sangat gemar bertapa dan berburu, dia sangat sakti dan mahir mempergunakan senjata panah.
Bambang Sakri menikah dengan Dewi Sati, putri Prabu Partawijaya, raja negara Tabelasuket. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Palasara. Bambang Sakri mewarisi padepokan Retawu, sedangkan Resi Sakutrem sendiri kemudian menetap di pertapaan Girisarangan. Pada akhirnya, Bambang Sakri mewariskan padepokan Retawu kepada Palasara setelah anaknya tersebut sudah dewasa. Dia kemudian menetap di pertapaan Argacandi (arti: "gunung angker"), salah satu dari tujuh puncak gunung Saptaarga.
Bambang Sakri banyak berjasa kepada para Dewata dan Suralaya. Maka dari itu, dia mendapat anugerah gelar Bathara. Dia meninggal dalam usia lanjut. Jenazahnya dimakamkan di pertapaan Argacandi.