Anggisrana (dalam tokoh pewayangan) adalah salah satu raksasa prajurit Alengka yang mempunyai kesaktian sanggup mengubah wujudnya sesuai keinginannya.[1] Termasuk anak buah dan kekasih Sarpakenaka, adik Rahwana.
[2] Dalam cerita pewayangan Anggisrana merupakan selingkuhan dari Sarpakenaka.[3]Sarpakenaka merupakan raseksi yang mempunyai libido sangat tinggi.[3] Bisa jadi, ketertarikannya kepada Rama didasari oleh hasratnya yang tinggi itu.[3]
Anggisrana merupakan salah satu tokoh prajurit Alengka dalam wiracaritaRamayana.[1] suatu ketika oleh Dewi Sarpakenaka, Anggisrana ditugaskan untuk menyusup ke markas musuh sebagai teliksandi 'mata-mata' di pasangrahan Suwelagari dengan beralih rupa menjadi kera.[1] Tugasnya sebagai telik sandi melengkapi namanya.[1] Anggisrana lebih dikenal dengan sebutan Telik Anggisrana.[1] Anggisrana merupakan kepala barisan raksasa di negara Awangga yang menjaga tapal batas negara.[4]
Tugas Menjadi Mata-mata
Raksasa Sakti Angisrana itu ditugasi membuat kekacauan (sabotase) di antara pasukan kera yang disiapkan menyerbu Alengka.[1] Namun, sebelum usahanya berhasil Anoman berhasil memergokinya.[1] Adegan ketika Anoman menjebak mata-mata ini sering menjadi adegan yang lucu di dalam pedalangan.[1] Anoman membuat test kepada pasukan kera untuk mere 'berteriak ala kera'.[1] Mere adalah kebiasaan bangsa kera untuk membuat dirinya lebih bersemangat dengan mengeluarkan suara melengking tinggi dari mulutnya.[1] Biasanya kera akan mere jika berperang.[1] suara yang melengking akan dibarengi deretan gigi yang menyeringai, pelototan mata dan hentakan bulu tubuh yang seperti landak.[1] Mere adalah pertahanan alami kera yang akan membuat lawannya gentar.[1] semua pasukan kera mendapat giliran mere.[1] Ketika tiba giliran Anggisrana, Anggisrana berdalih sedang radang tenggorokan sehingga lolos tes pertama.[1] Anoman lalu mengadakan tes kedua dengan mengadakan tes fisik. Semua pasukan kera disuruh menungging.[1] Satu persatu Anoman memeriksa buntuk kera.[1] Ketika tiba giliran Anggisrana, Anggisrana gemetar karena tidak mempunyai buntut.[1] Anggisrana lalu ditanggap dan segera dihadapkan kepada Sri Rama.[1] Anggisrana tidak dihukum tetapi justru diberi maaf dan diberi hadiah lalu disuruh kembali, melapor kepada Dasamuka.[1]
Bentuk Wayang
Dalam rupa Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta, Anggisrana diwujudkan mirip cakil, berambut udhalan, diurai sampai pantat.[1] Gerak dan perilaku Anggisrana dalam sabetan juga mirip dengan cakil.[1] Anggisrana berwujud raksasa dengan gigi tonggos, berpangkat tumenggung.[5]
Sifat-sifat Tokoh Wayang Anggisrana
Anggrisrana memiliki sifat pemberani, tangkas, trengginas, banyak tingkah dan pandai bicara.[5] Anggisrana berwatak kejam, serakah, selalu menurutkan kata hati dan mau menangnya sendiri.[5] Karena Anggisrana Sebagai tumenggung, Anggisrana pandai dalam olah keprajuritan, khsusunya memainkan senjata gada dan keris.[5] Anggisrana lebih banyak tinggal di perbatasan, sehingga Anggisrana memiliki jiwa yang liar.[5] Anggisrana juga suka merampas hartapenduduk, juga mengganggu ketenteraman hidup para Brahmana.[5] Akhir riwayanya diceritakan, Anggisrana tewas dalam peperangan melawan Arjuna, tatkala keluargaPandawa membantu Basukarna menyerbu negara Awangga dalam upaya merebut Dewi Surtikanti, putri Prabu Salya, raja Mandaraka yang diculik Prabu Kalakarna.[5]
Referensi
12345678910111213141516171819202122Heru S Sudjarwo, Sumari, Undung Wiyono (2010). Rupa & Karakter Wayang Purwa Dewa, Ramayana, Mahabarata. Jakarta: Kakilangit Kencana. hlm.227. ISBN9786028556262. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)