Citraksi adalah seorang tokoh dari wiracaritaMahabharata. Ia merupakan salah satu dari seratus Korawa. Dalam versi pewayangan Jawa, ia sering terlihat bersama-sama dengan dua saudaranya yang lain, yaitu Citraksa dan Durmagati. Dalam kisah Bharatayuda, Citraksi diceritakan gugur setelah terbunuh oleh Pandawa di medan perang. [1]
Karakteristik
Citraksi merupakan putra Prabu Dastarastra dari Hastinapura dan termasuk ke dalam jajaran Korawa. Wajah Citraksi digambarkan mirip dengan Raden Citraksa, sehingga keduanya kerap dianggap memiliki kemiripan fisik.[2]
Tokoh ini digambarkan memiliki sifat cerdik dan pandai, namun juga congkak serta keras kepala. . Ketika berbicara, ia sering mengalami gagap sehingga pembicaraannya terdengar tidak jelas dan membuat lawan bicara merasa tidak sabar. Kekurangannya tersebut kerap dijadikan bahan humor oleh para dalang dalam pementasan wayang.[2]
Salah satu senjata yang mahir digunakan oleh Citraksi yaitu Trisula
Meskipun memiliki kelemahan dalam berbicara, Citraksi adalah murid Resi Drona yang mahir dalam ilmu keprajuritan. Ia dikenal piawai menggunakan senjata gada dan trisula, menjadikannya salah satu prajurit Korawa yang cukup disegani.[2]
Cerita peperangan
Dalam perang Bharatayuda Citraksi pernah memimpin pasukan balatentara Korawa, dengan komando Prabu Salya raja negara Mandaraka yang bertindak sebagai senapati perang. Peperangan melawan Arya Utara, senapati perang Pandawa, putra dari Prabu Matswapati dari negara Wirata, Citraksi bersama lima orang saudaranya yaitu Adityaketu, Bimarata, Bimawega, Halayuda dan Jalasuma tewas dalam peperangan tersebut.[1]
Citraksi memiliki hubungan yang erat dengan dua saudaranya, Citraksa dan Citrayuda, yang juga terlibat dalam perang Bharatayuda. Pada awal pertempuran, Citraksa bersama beberapa saudaranya tampil sebagai komandan pasukan Korawa. Dalam jalannya peperangan, Citraksa mengalami nasib tragis. Ia gugur bersama Citrayuda, Surtayu, Citrakundala, dan Dirgalasara ketika berhadapan dengan Arya Wratsangka, senapati Pandawa yang merupakan putra Prabu Matswapati dari negara Wirata. Kematian Citraksa dan saudara-saudaranya menjadi salah satu peristiwa penting yang menandai pahitnya konflik besar antara Kuorawa dan Pandawa.
Kisah Citraksi menjadi bagian dari tradisi pewayangan di Nusantara. Cerita mengenai dirinya dan saudara-saudaranya sering dipandang sebagai refleksi atas nilai-nilai keadilan, persaudaraan, serta perdamaian, sekaligus menggambarkan konsekuensi dari ambisi dan pertentangan dalam keluarga besar Kuru. [3]