Wayang revolusiSalah satu tokoh (Sutan Syahrir) dalam wayang revolusiTokoh lain (Mohammad Hatta) dalam wayang revolusi ini
Wayang revolusi adalah bentuk modern dari wayang kulit Indonesia, yang dikenal juga sebagai Wayang Perjuangan, hasil karya dari seorang dalang Keraton Mangkunegaran Surakarta, Mas Sayid[1] , dan diciptakan pada tahun 1950-an untuk menggambarkan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Wayang Revolusi ini adalah wayang versi kontemporer yang diadaptasi untuk kepentingan penyampaian kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan menggunakan para tokoh kemerdekaan seperti Sukarno, Muhammad Hatta, jenderal Sudirman, RA Kartini, KH Alibasyah Sentot Prawiradirdja, dan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda dengan tokoh seperti Van Mook dan Schermerhon. Pada masa di mana tidak ada televisi dan akses yang sulit untuk mendengar siaran radio saat itu, Wayang Revolusi menjadi media yang berperan penting dalam upaya meningkatkan kesadaran persatuan dan kesatuan masyarakat untuk melawan Belanda pada tahun 1940-1949. Kebanyakan dari jenis wayang ini dibuat dari kulit kerbau, karena kulit kerbau berbentuk lebih tebal, kuat, dan tidak mudah melengkung sehingga wayang yang dihasilkan dapat bertahan lama.[2][3][4]
Wayang ini sering dipentaskan bagi para penduduk di seluruh Pulau Jawa. Dalang biasanya membawakan cerita tentang kisah perjuangan Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan, seperti cerita Proklamasi 17 Agustus 1945, Sumpah Pemuda, Perang Surabaya 10 November, Perjanjian Linggarjati, dan Perjanjian Renville. Koleksi dari wayang ini sangat langka, karena hanya beberapa set wayang yang tersisa. Tokoh-tokoh Wayang Revolusi merupakan tokoh-tokoh pahlawan nasional dan tokoh yang ada di dunia nyata lainnya (buruh, petani, guru, tentara, dan sebagainya). Hal menarik lainnya adalah karena dalam wayang ini terdapat beberapa figur tokoh perempuan yang turut terlibat dalam kisah perjuangan kemerdekaan.[2]
Pertujukan "Wayang Revolusi" di Pasar Malam Tong tong (negeri Belanda) misalnya, sebuah gedung pertunjukan berkapasitas lebih dari 1000 tempat duduk, mendapat sambutan dari penonton yang sebagian besar peranakan Jawa yang telah menetap puluhan tahun di Belanda. Wayang Revolusi kali ini berkisah tentang peperangan antara Kerajaan Mataram (Islam) yang dipimpin oleh Sultan Agung dengan Pasukan Kolonial Belanda, yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterzoon, ketika memperebutkan pengaruhnya di Tanah Jawa. Pada peperangan ini pasukan Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterzoon Coen menang telak, dan pasukan Mataram kocar kacir tetapi semangat pembebasan tidak pernah pudar. Generasi penerus beserta anak cucu Sultan Agung berupaya mengusir anak buah Jan Peterzoon Coen sehingga akhirnya Indonesia mendapatkan kemerdekaan dari mereka.[5]
Pada 1960 wayang ini dibeli oleh Museum voor Volkunde Rotterdam. Wayang revolusi yang berjumlah sekitar 150 buah tersimpan di World Museum Rotterdam Belanda. Setelah empat puluh tahun lebih disimpan di negeri kincir angin ini, pada 2005 wayang ini akhirnya dikembalikan ke Indonesia, dan kini tersimpan di Museum Wayang yang berlokasi di Kota Tua Jakarta.[6]